
Sejak mengenal Sindy dua hari yang lalu, nenek Leticia kerap mengirimkan makanan untuk Sindy iya tahu Sindy seorang muslim maka ia tidak sembarangan memasak masakan yang mengandung hal-hal yang haram dalam agama Sindy termasuk wadah yang digunakannya.
Sindy dan nenek Leticia sedang memasak bersama. Sindy sudah menganggap nenek Leticia seperti ibu baginya.
Karena ingin merasakan masakan Indonesia, nenek Leticia ingin belajar memasak dengan Sindy. Bagi nenek Leticia masakan Sindy tidaklah asing baginya karena waktu kecil neneknya sering membuat masakan Indonesia untuknya karena neneknya duluan pernah tinggal dan menetap di Indonesia.
"Apakah nenek tahu ini soto ayam?" tanya Sindy.
"Aku tidak tahu namanya, tapi aku tahu rasanya sama yang dibuat oleh nenekku saat aku masih berusia 10 tahun." Ujar nenek Leticia.
"Wah sepertinya nenek sudah merasakan berbagai macam masakan Indonesia." Ujar Sindy.
"Sepertinya begitu Sindy," ujar nenek Leticia.
Mereka pun sudah menyelesaikan masakan untuk makan malam.
Keduanya menikmati masakan mereka dan sama-sama saling mengagumi.
"Ini enak sekali rasanya, sangat segar dan gurih, apa namanya tadi Sindy dan ini yang dari kentang dan daging, itu apa? Nenek Leticia lupa nama masakan yang dibuat mereka.
"Ini soto ayam, ini perkedel daging yang dicampur dengan kentang dan ini adalah gorengan bakwan jagung." Sindy menjelaskan semua jenis masakan yang mereka masak.
"Nanti kalau anak-anakku mengunjungiku, aku akan membuat ini untuk mereka." Ujar nenek Leticia yang ingin pamer masakan Indonesia pada keluarganya.
"Aku akan membantumu nenek, jika anak-anakmu datang berkunjung ke rumahmu." Ujar Sindy.
"Benarkah Sindy?" Kalau begitu sebelumnya aku ucapkan terima kasih." Ucap nenek Leticia.
"Siap nenek." Sindy tersenyum pada nenek yang berusia 65 tahun ini.
"Sindy, nanti kalau kamu sudah merasa ingin melahirkan, hubungi nenek, tidak usah sungkan ya sayang," ucap nenek Leticia.
"Aku seorang dokter spesialis kandungan nenek, aku tahu apa yang bisa aku lakukan dan aku tetap ingin merepotkan nenek." Ujar Sindy lalu keduanya terkekeh.
"Oh ya? kamu seorang dokter?" kamu benar-benar hebat Sindy, nenek kira kamu seorang model karena tubuhmu sangat indah di lihat dari foto itu." Ucap nenek Leticia dengan menunjukkan foto Sindy yang masih langsing dengan gaya elegannya yang tergantung indah di ruang keluarga.
"Aku memang mantan model juga nenek," Timpal Sindy lagi.
"Kamu ini sangat mengagumkan, nenek senang bertemu dan berteman denganmu, keduanya terkekeh.
Setelah panjang lebar menceritakan kehidupan masing-masing, nenek Leticia pamit kembali ke rumahnya dengan membawa masakannya.
"Aku antar ya nek?" Sindy menawarkan dirinya mengantar nenek ini ke rumahnya namun ditolak oleh nenek Leticia.
Sindy hanya menunggu sebentar sampai nenek Leticia keluar dari gerbang pagar rumahnya.
Sindy masuk kedalam rumahnya dan mulai membereskan kembali dapurnya hingga rapi.
Ting tong...!" Bel pintu Sindy berbunyi. Sindy keluar menemui tamunya, ia mengira nenek Leticia kembali lagi.
"Apakah nenek Leticia ketinggalan sesuatu di sini?" Gumamnya perlahan.
"Iya sebentar nenek, tunggu!" Sindy melepaskan celemeknya lalu menghampiri pintu depan.
Ia membuka pintu itu dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Apakah ada yang ketinggalan...?" Sindy menghentikan perkataannya dan buru-buru mendorong pintu itu karena tamunya bukanlah nenek Leticia.
Karena tenaga Sindy yang kurang kuat membuat pintu itu di ganjal dengan kaki oleh si tamu itu dan mendorongnya hingga bisa terbuka. Sindy mundur ketakutan. Iapun mengambil bantal sofa untuk melindungi perutnya.
"Hai sayang!" Apakah kamu tidak merindukan aku?"
"Mau apa kamu ke sini Alan? pergi kamu!" Sindy melempar bantal itu ke arah dokter Alan.
"Aku tahu, suamimu pasti sudah meninggalkanmu karena ibunya sudah tahu kalau kau itu hanyalah seorang wanita ja***ng." Ucap dokter Alan dengan merendahkan harga diri Sindy.
"Keluar dari rumahku!" Teriak Sindy.
"Kita hanya berdua sayang, lagian yang memberi tahu ibunya Farel tentang skandal kita adalah aku sendiri, dengan begitu dia akan memaksakan putranya untuk meninggalkanmu dan ternyata tujuanku tercapai, kau pergi begitu saja meninggalkan suamimu yang tidak tahu apa-apa...ha...ha..!" Tawanya terdengar menggema di rumah kecil itu.
Sindy makin panik, tubuhnya gemetar dan sangat ketakutan ketika dokter Alan berusaha menangkapnya. Sindya jatuh tersungkur ke lantai saat dokter Alan hendak meraih tubuhnya. Karena ada bangku sofa iapun akhirnya jatuh. Sindy menghindar dan menendang wajah dokter Alan saat lelaki itu menangkap kakinya.
Tubuh Sindy sudah dalam posisi duduk sambil terus mundur dengan cara ngesot. Dokter Alan menerjangnya. Sindy berontak ingin melepaskan diri dari cengkraman bajingan itu.
"Lepaskan aku!" Pinta Sindy sambil menahan tubuh Alan untuk tidak menyentuhnya.
"Aku merindukanmu Sindy, aku merindukan tubuhmu, kamu makin cantik saat hamil." Ucap Alan dengan mengoyak baju Sindy.
Dalam sekejap pintu itu terbuka dengan suara dentuman keras. Dokter Alan dan Sindy sama-sama tersentak.
"Farel!" Ucap Sindy setengah memohon.
Farel menendang tubuh dokter Alan hingga terjengkang. Pria tampan itu memukul wajah dokter Alan bertubi-tubi hingga wajahnya memar dan darah segar keluar dari bibir dan hidungnya. Dokter Alan pingsan setelah mendapatkan pukulan terakhir dari Farel.
Anak buah Farel langsung menarik tubuh Farel. Sindy membalikkan tubuhnya karena baju bagian depannya sobek. Gadis ini menangis tersedu-sedu.
"Kamu tidak apa sayang?" Farel menghampiri istrinya yang masih gemetar ketakutan dengan menyembunyikan wajahnya dengan rambutnya yang panjang.
"Sayang, aku datang." Farel memeluk tubuh itu, tubuh yang membuatnya selalu merindu.
Sindy menangis kencang ketika kesadarannya telah pulih.
"Farel...hiks...hiks!" Sindy memeluk tubuh hangat itu, ia menangis di dada bidang suaminya.
Farel menggendong tubuh istrinya dan membawa ke kamar Sindy. Ia merebahkan tubuh itu dan membuka baju Sindy yang sudah sobek karena ulah dokter sialan itu.
Ia mengambil handuk kecil dan mengusap wajah Sindy dengan air hangat. Setiap inci tubuh Sindy di bersihkannya.
Rambut panjang itu diikat dengan rapi dengan karet rambut milik Sindy. Farel mengambil baju Sindy yang lain. Namun sebelumnya itu ia memegang perut Sindy yang makin membesar karena sudah tujuh bulan.
"Ini anak kita sayang?" Tanya Farel sambil menitikkan air mata haru.
Sindy hanya mengangguk dan tak mau berkomentar apapun karena masih sangat syok.
Farel mencium permukaan perut istrinya dari berbagai arah lalu merapatkan wajahnya sambil memegang perut Sindy.
Tiba-tiba ada respon dari dalam, gerakan bayinya menendang wajahnya. Farel tersenyum senang.
"Kamu kangen sama ayah sayang?" Farel mengecup perut Sindy seakan ia sedang mencium bayinya.
Farel memakaikan baju Sindy yang tadi di ambilnya lalu meminta wanitanya itu tidur agar pikiran dan tubuhnya kembali rileks.
__ADS_1
Walaupun Farel sangat merindukan istrinya saat ini, tapi dia tidak egois, karena Sindy baru mengalami trauma berat. Farel hanya mencium pipi istrinya dan membawa tubuh itu dalam pelukannya. Membiarkan wanitanya itu tertidur.
"Tidurlah sayang, lupakan semuanya yang terjadi, aku disini menjagamu selalu, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku tidak akan membiarkanmu hidup sendirian lagi tanpaku. Kau adalah hidupku kini dan selamanya. Temani aku sampai hari tua. Aku mencintaimu Sindy... sangat mencintaimu. Aku rela meninggalkan segalanya dan hidup bersama denganmu." Selamat malam sayang... muuacch.
Farel pun ikut memejamkan matanya dan mengembara dalam alam mimpi yang sama untuk bertemu bidadari yang sekarang ini sudah ada dalam pelukannya.
Di tengah malam, Farel bangun lagi untuk menghubungi anak buahnya yang saat ini sedang menahan dokter Alan.
"Apa yang kalian lakukan kepada bajingan itu?" Tanya Farel yang ingin keadaan dokter Alan saat ini.
"Kami lagi memberikan pelajaran kepadanya sedikit Tuan. Sudah lama aku tidak memukul orang dan dokter ini menjadi bulan-bulanan kami malam ini." Ujar anak buahnya Farel.
"Beri pelajaran sesuai dengan perbuatannya!" Setelah itu pastikan dia kembali lagi ke tanah air esok hari." Perintah Farel.
"Baik Tuan, kami akan melakukan dengan yang cara kita." Ujar Andi.
"Terserah kalian!" Yang jelas aku tidak mau orang itu berkeliaran lagi di Rotterdam." Ujar Farel lalu menutup ponselnya.
Farel kembali menemui istrinya. Malam ini ia tidak ingin melanjutkan tidur melainkan memperhatikan wajah cantik bidadarinya.
"Ya Allah, apakah tidak apa dengan janinnya setelah yang dilakukan oleh bajingan itu pada istriku?" Tanya Farel dalam hatinya.
Ia sangat kuatir dengan keadaan Sindy saat ini. Ia melihat di kamar Sindy ada alat USG portabel. Ada banyak obat dan vitamin. Ada buku-buku ilmu pengetahuan tentang kedokteran yang khusus untuk spesialis kandungan.
"Ya Tuhan, begitu banyak buku yang ia pelajari. Semoga anakku nanti secerdas dirimu sayang." Ucap Farel lalu mengecup perut Sindy sambil memegang permukaan perut istrinya.
Rupanya bayinya terus merespon Farel dengan liukan tubuhnya yang condong ke sana kemari.
"Kamu ternyata tidak ingin tidur di dalam sana, apakah kamu merindukan papamu ini, sayang?" Farel berbisik-bisik dengan bayinya yang masih dalam rahim istrinya.
"Tidak... tidak, ...jangan... jangan sakiti aku...pergi!" Sindy saat ini sedang mengigau mengingat kejadian tadi.
Peluh bercucuran membasahi wajahnya.
"Sindy.... sayang!" Farel menepuk pipi istrinya agar sadar dari mimpi buruknya.
Sindy mengerjapkan matanya dan mendapati suaminya berada di sampingnya.
"Farel,....dia datang lagi.. hiks..hiks!" Ujar Sindy sambil menangis.
"Sayang!" Kamu hanya mimpi buruk saat ini. Dia tidak akan berani lagi mengganggumu kalau ada aku disampingmu." Ucap Farel menenangkan istrinya.
"Aku takut Farel, aku sangat takut dan sangat benci melihatnya." Ucap Sindy dengan tubuh yang sangat gemetar.
"Sayang, jangan takut! jika kamu takut, maka anak kita akan tumbuh jadi penakut." Ujar Farel.
"Aku mau pipis!" Pinta Sindy yang ingin diantar Farel ke kamar mandi.
Farel menggendong tubuh istrinya, mengantarnya ke kamar mandi. Sindy merasakan kembali kasih sayang suaminya selama empat bulan terpisah dengan dirinya. Sindy menggosok giginya karena tadi langsung tidur. Farel menunggu istrinya dengan sabar.
Usai dari kamar mandi, Farel memeluk tubuh istrinya dan memberikan ciumannya pada wanitanya yang dari tadi belum ia sentuh bibir lembut itu.
Sindy menikmati luma***n itu yang ingin memasuki rongga mulutnya.
Harum nafas Sindy yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
Ciuman panas itu makin dahsyat diantara mereka. Farel menumpahkan semua kerinduannya malam ini, walaupun hanya sebatas ciuman, namun rasa rindunya sudah mulai berkurang.