
Lembayung jingga bergelayut di langit senja bersama dengan datangnya petang yang akan menenggelamkan sinar redup mentari, untuk kembali terbenam ke dalam tempatnya bernaung dan menunggu gilirannya sesuai ketetapan waktu yang sudah ditakdirkan padanya dari Sang Pencipta.
Sindy dan Farel menatap laut lepas menikmati matahari terbenam itu sambil mengagumi keindahan pesonanya yang menampilkan warna kuning keemasan yang mulai tertutup kegelapan.
Enam bulan pernikahan yang telah mereka jalani, sambil menunggu masa kontrak kerja sang istri yang masih terikat dengan agensi modeling, yang saat ini masih menuntutnya untuk menyelesaikannya.
Walaupun sang suami sudah tidak betah menunggu sang istri menyelesaikan kontrak itu dan ingin mengganti rugi dengan sejumlah uang yang menjadi konsekwensinya jika ia keluar dari agensi tersebut sebelum habisnya masa kontrak kerjasamanya.
"Sayang, aku sedang membangun rumah sakit untukmu mungkin kalau kontrak kerjamu sudah selesai, rumah sakit itu akan selesai juga." Ucap Farel kepada istrinya.
"Jangan seperti itu Farel, aku tidak ingin kamu menghamburkan semua uangmu hanya untukku, keluargamu akan membenciku karena merasa aku telah memanfaatkanmu." Ujar Sindy gusar.
"Aku suamimu, apapun milikku akan menjadi milikmu, lagipula itu uangku hasil kerja kerasku selama ini, aku tidak mengambil sepersenpun dari uang orangtuaku untuk menyenangkanmu sayang, ku mohon terimalah hadiahku untuk menyelamatkan generasi muda yang ingin hidup di dunia ini ketika mereka dilahirkan dengan selamat dengan bantuanmu." Timpal Farel.
Sindy berpikir sejenak, ia membenarkan perkataan suaminya, namun ketakutannya pada keluarga Farel yang suatu saat nanti akan menuduhnya dengan banyak hal yang menyakitkannya.
"Apakah aku harus menerimanya, bagaimana nanti kalau orang tuanya datang menyerangku dengan tuduhan yang menyakitkan yang akan aku terima. Bukankah mereka tidak menyukai perempuan yang tidak jelas seperti aku ini?" Setiap pertanyaan yang berkecamuk dalam rongga dadanya tidak satupun jawaban yang ia temukan di dalam sana.
"Jawab sayang, jangan diam saja" Farel menangkup wajah istrinya lalu mengecup bibir itu dengan lembut.
"Baiklah sayang, aku akan menerimanya, tapi di mana lokasi rumah sakit itu?" Tanya Sindy selanjutnya.
"Kalau itu rahasia, aku akan memberi tahukan kamu nanti setelah semuanya sudah siap diresmikan oleh kamu sendiri." Ujar Farel membuat Sindy merengut kesal.
"Kamu makin cantik dengan cemberut seperti ini." Ucap Farel.
"Gombal!" Sudah ah, aku mau tidur." Sindy menyelimuti seluruh tubuhnya.
Farel ikut masuk ke dalam selimut itu namun tangan nakalnya menggerayangi area sensitif milik istrinya. Melucuti apa yang ada di bawah sana dan mulai bermain ditempat yang menjadi candunya kini.
Sindy pun tidak mampu menolaknya walaupun lelahnya tak dapat terbantahkan, rasa ini yang menjadikan dirinya ketagihan setiap saat. Entah itu menjelang pagi maupun di malam sunyi seperti ini, Farel selalu melakukannya, memberikan sentuhan-sentuhan ringan untuk memulai percintaan panas mereka.
Dalam sekejap tubuh keduanya sudah polos, permainan makin memanas. Setiap kenikmatan menjadi penyemangat hidup untuk keduanya.
"Akkhhh!"Jerit manja dari mulut wanitanya makin merangsang tubuhnya untuk melakukan lebih lama. Hingga keduanya mengerang bersamaan, kala tercapai pada ujung permainan yang menghasilkan kenikmatan.
Kelelahan ini telah memporak porandakan tubuh keduanya namun terkalahkan dengan kenikmatan yang dirasakan keduanya. Keduanya tertidur dengan saling mendekap satu sama lain melewati malam panjang, menanti fajar pagi untuk memulai kembali aktivitas ranjang sebelum melakukan aktivitas selanjutnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Berakhirnya masa kontrak kerjasama Sindy dengan agensi tempatnya bernaung, membuat agensi tersebut merasa kehilangan model terbaik mereka. Mereka baru tahu kalau Sindy adalah seorang dokter spesialis kandungan. Antara rasa bangga dan juga kehilangan mewarnai pemilik agensi tersebut.
"Saya mohon maaf Nyonya Stefany karena harus menghentikan karierku ditengah popularitasku sedang menanjak. Tapi permintaan suamiku yang membuat aku tidak bisa meneruskan perjalanan karier saya di dunia modelling karena saya harus kembali ke rumah sakit bergabung dengan dokter lain untuk menyelamatkan para ibu yang akan melahirkan anak mereka." Ujar Sindy yang menjelaskan kondisinya saat ini.
"Maksudmu kamu adalah seorang dokter?" Tanya pemilik agensi tersebut membuat teman sesama modelnya yang mendengar itu langsung tercengang.
"Iya Nyonya, dokter adalah cita-cita saya dan menjadi seorang model adalah impian saya dari kecil. Terimakasih sudah mempercayakan saya dan memberi kesempatan pada saya untuk mewujudkan impian saya menjadi kenyataan.
Tapi bagaimanapun juga, kodrat wanita hanya sampai pada usia mudanya untuk bisa berkarier di dunia modelling ini, selebihnya pengabdian kepada suami itu lebih utama." Ungkap Sindy dengan penuh kerendahan hati.
__ADS_1
"Baiklah Sindy, aku menghormati keputusanmu. Semoga kamu sukses dengan kariermu yang selanjutnya." Ucap Nyonya Stefany lalu memeluk Sindy, melepaskan kepergian gadis yang telah memberikan banyak kontribusinya dalam satu tahun ini pada agensinya.
Sindy meninggalkan perusahaan agensi itu sambil menyeka air matanya. Suaminya dengan setia menunggunya di lobby menyambut nya dengan pelukan.
"Terimakasih baby, akhirnya kamu rela meninggalkan kariermu demi permintaanku. Aku sangat mencintaimu." Ujar Farel seraya mengecup bibir istrinya.
Ia memeluk wanitanya dengan erat lalu keduanya menuju mobil dan pergi entah kemana untuk menghilangkan kesedihan hati Sindy.
"Kamu tahu sayang, hari ini aku sangat bahagia karena kamu sebentar lagi akan menjadi seorang dokter." Ucap Farel tertawa riang.
Sindy hanya tersenyum kecut, hatinya belum bisa menerima sepenuhnya bahwa dirinya sudah meninggalkan dunia modelling yang telah membesarkan namanya.
"Sayang, besok aku ada tugas ke Italia, apakah kamu mau ikut." Tanya Farel.
"Untuk saat ini, aku tidak ingin berpergian dulu Farel, aku mau istirahat, tubuh dan pikiranku sangat lelah, aku mohon pengertianmu sayang." Sindy menolak ajakan suaminya.
"Ok, no problem baby come on, smile for me honey." Farel menggenggam tangan istrinya yang terasa sangat dingin sambil mengendarai mobilnya.
"Aku ingin kita pulang Farel, aku ingin tidur." Sindy masih galau dengan keputusannya.
Farel mengerti akan hal itu. Memutuskan sesuatu untuk meninggalkan hal yang paling kita sukai itu sangat menyakitkan apa lagi karena paksaan orang lain.
Setibanya di apartemen milik Farel, Sindy masuk ke dalam kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya dan farel melihat perubahan wajah cantik istrinya yang menjadi mendung kelabu.
"Apakah kamu menyesal meninggalkan pekerjaanmu sayang?" Tanya Farel sambil membelai rambut panjang Sindy.
"Nggak apa sayang, aku memahami dirimu sayang, yang penting jangan terlalu lama sedihnya karena besok aku sudah meninggalkanmu ke Italia." Ujar Farel.
"Apakah kamu mau makan sesuatu, biar aku yang ambilkan?" Farel sengaja merayu istrinya agar tidak terlalu memikirkan hal yang sudah berlalu.
Sebenarnya Sindy hanya butuh waktu sendiri, membiarkan hatinya larut dengan perasaan kehilangan yang amat mendalam dalam hidupnya.
Tapi karena telah memiliki suami, ia harus tunduk dan patuh pada permintaan suaminya yang lebih nyaman ketika ia sudah meninggalkan pekerjaan sebagai modeling dan itu hak yang mutlak bagi wanita untuk menyenangkan hati suaminya. Ridho suami adalah ridho Allah.
Farel sudah datang membawa beberapa makanan untuk mereka makan bersama. Sindy meminta suaminya untuk membukakan bajunya karena ia malas untuk beranjak ke walk in closet.
"Sayang tolong bukain!" Pinta Sindy manja.
"Nanti ada upahnya lho sayang kalau kamu meminta aku membuka bajumu." Farel menggoda istrinya.
Sindy tersipu malu. Farel menanggalkan blazer coklat muda yang dipakai istrinya. Semuanya ia tanggalkan tanpa terkecuali.
"Sayang, pakaian dalamnya nggak usah." Pinta Sindy.
"Semuanya saja sayang, tanggung." Ujar Farel nakal.
"Cih, kamu!" Tidak boleh melihat ini, langsung saja kepincut." Sindy meledek suaminya.
"Siapa suruh kamu meminta tolong padaku?" Kamu sudah tahu godaan terbesar aku saat melihat tubuh polosmu." Ujar Farel yang sudah ikut menanggalkan baju yang dipakainya.
__ADS_1
"Farel semalam kita sudah habis-habisan lho bercinta dan tadi pagi mau jalan ke agensi model, kita juga sudah melakukannya, masa harus melakukannya lagi?" Gerutu Sindy yang tak habis pikir dengan keinginan gila suaminya yang tidak mau melihat dirinya istirahat sejenak.
"Itu tadi pagi sayang, waktunya sudah berlalu dan sekarang sudah mau menjelang siang." Ucap Farel.
"Menjelang siang mikirin makan siang bukan bercinta." Timpal Sindy.
"Bercinta dulu baru makan siang, itu malah lebih nikmat lho sayang." Farel langsung melu**t bibir istrinya agar Sindy tidak lagi banyak mengeluh.
Sindy menyambut ciuman suaminya, karena saat ini ia juga butuh refreshing untuk memulihkan jiwanya agar terbebas dari kesedihan yang membelenggu hatinya.
Farel beralih ke leher jenjang istrinya mengecup di setiap ruas leher jenjang itu dan beralih ke belahan dada Sindy.
Lu***an pada ujung coklat muda itu membuat Sindy sudah makin men***sah.
Farel makin menjadi, ketika erangan Sindy yang tercipta dari mulut sang wanitanya.
Pangkal paha istrinya yang saat ini menjadi pelabuhan terakhir bibirnya, menjilati tiap tempat yang menjadi kesukaan istrinya karena bagian yang paling Sindy nantikan adalah suaminya lebih lama memberikan pemanasan ringan dibawah sana yang membuatnya berkali-kali melakukan pelepasan.
Kicauan dari mulut Sindy yang membuat Farel terus memberikan rangsangan yang berkali-kali lipat pada tempat sensitif itu.
Sindy berteriak saat hisapan pada biji kenyalnya yang dilakukan oleh Farel membuat Sindy terbuai dalam kepuasan.
"Farel sayang.... akkkhhh!" Teriak Sindy, ketika lelakinya makin tenggelam dibawah sana mengambil setiap tetesan bening yang ia keluarkan.
"Sindy!" Farel bangkit lalu secepat kilat membenamkan benda pusakanya ke dalam milik Sindy dengan hentakan kasar.
Auhhgt!" Sindy ikut mengimbangi gerakan tubuh suaminya, agar bisa mendaki untuk mencapai kenikmatan bersama.
Keduanya saling memberikan kenikmatan hingga pencapaian itu berhasil pada titik tujuannya.
"Akhhkk..... Sindy!" Farel menghentikan gerakannya dan merasakan cengkraman kuat di bawah sana pada miliknya.
Keduanya lalu beristirahat setelah melakukan percintaan panas mereka.
Keesokan harinya, Sindy mempersiapkan segala sesuatunya untuk suaminya yang sedang menjalankan bisnisnya ke Italia.
Farel meninggalkannya dengan bercinta terlebih dahulu seakan memberikan kenangan terakhir untuk istrinya.
Pagi itu Farel berangkat dengan hati yang teramat berat, seakan ada beban berat yang mengganjal hatinya. Di dalam pesawat yang saat ini sedang menuju ke landasan pacu, Farel masih saja memikirkan Sindy.
"Harusnya dia ikut supaya aku lebih tenang dan tidak segelisah ini." Gumamnya dalam hati.
Di apartemen Sindy merapikan kamarnya hingga terlihat kembali tertata rapi seperti semula.
Iapun beristirahat sejenak melepaskan lelahnya. Namun baru saja ia ingin ke kamarnya ada yang memencet bel apartemennya. Ia merasa heran karena tidak ada satu pun yang pernah mengunjunginya selama ia menikah dengan Farel.
Bel itu berbunyi lagi, ia buru-buru membukanya tanpa melihat layar kamera di balik pintu itu.
Betapa terkejutnya Sindy ketika melihat tamunya yang datang pagi ini.
__ADS_1