
"Lepaskan Farel!" Aku mau ganti baju." Sindy mendorong tubuh suaminya namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melepaskan diri dari cengkraman erat lengan suaminya pada pinggangnya.
"Kamu mau ganti baju?" Aku yang akan membukanya untukmu." Farel membuka satu persatu kancing baju blazer Sindy dengan mengunci tangan Sindy ke belakang, hingga terlihat belahan dada itu membusung ke depan dan merekah diantara dua penutup berwarna hitam sebagai penyangga bukit kembar itu.
Busana itu dibuka dengan kasar dan kini terbebas dari tubuh mulus nan indah itu. Tubuh itu diangkat dan dihempaskan ke atas kasur. Amarah Farel terlampiaskan di arena tempur mereka.
Perbuatan Sindy yang merahasiakan kesalahan dokter Alan, yang membuatnya tidak bisa toleransi pada istrinya.
Tanpa ada pemanasan terlebih dahulu, tubuh itu sudah di masuki oleh benda pusaka sang suami yang sudah menghajarnya tanpa kenal ampun.
Dihimpit dari belakang oleh tubuh kekar itu, membuat Sindy hanya pasrah menerima hukuman dari sang suaminya karena sedang dikuasai oleh api cemburu.
Setelah menyalurkan hasratnya, Farel mengigit tubuh itu dan menghisapnya dengan kuat hingga bekas kepemilikan itu tertanda di sana.
Bulir bening yang jatuh menetes di atas kasur karena kekesalan suaminya, membuat miliknya sangat sakit dan perih karena tidak dilakukan dengan cara yang lembut, apa lagi mengawalinya dengan pemanasan ringan yang biasa mereka lakukan.
Setelah melampiaskan kekesalannya, Farel meninggalkan Sindy dengan bajunya yang sudah kembali rapih.
Sindy berlalu ke kamar mandi dengan menahan sakit pada bagian sensitifnya. Kakinya yang sangat gemetar karena menghadapi amarah Farel yang baru kali ini ia mengetahuinya.
Sindy duduk di dalam bathtub dan menyalakan air memenuhi setengah tubuhnya. Lama ia berendam di dalam air hangat itu sambil melamun, bahkan ia tidak sadar hingga tertidur karena seharian ia sudah terlalu lelah, ditambah hukuman kasar yang dilakukan oleh suaminya.
Farel kembali meneguk minuman vodka yang ada di ruang kerjanya. Sudah lama ia tidak pernah meminum alkohol, namun kini ia tidak mampu mengendalikan amarahnya dan melarikan diri pada minuman yang memabukkan.
Setelah amarahnya mulai reda, Farel kembali ke kamarnya.
Namun ia tidak mendapati istrinya di kasur maupun disofa yang ada di kamarnya.
"Sindy.... Sindy... sayang!" Farel mencari istrinya di walk in closet namun tidak ada. Ia membuka pintu balkon juga tidak terlihat Sindy, sedangkan putranya masih tertidur pulas di boks bayinya.
"Mungkin di kamar mandi." Gumam Farel yang mengira istrinya sedang buang air.
Ditunggu sekitar sepuluh menit, Sindy belum keluar juga dari kamar mandi, ia pun nekat masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati istrinya sudah hampir tenggelam di dalam bathtub.
"Sindy!" Teriaknya sambil mengangkat tubuh polos Sindy.
"Ya Allah, kenapa gadis ini selalu saja nekat." Ujar Farel panik.
Ia menekan dada Sindy dan memberikan nafas buatan pada istrinya.
"Tidak.... tidak...tidak Sindy! jangan menyiksaku seperti ini sayang! aku mohon!" Farel terus memompa dada Sindy berkali-kali sambil menangis menyesali perbuatannya.
Tidak lama kemudian air menyembur dari mulut Sindy dan gadis ini pun terbatuk beberapa kali.
"Alhamdulillah sayang!" Farel meraih handuk dan membawa tubuh istrinya ke kasur.
__ADS_1
Tubuh itu diusapnya lalu ia memeluk Sindy dengan ucapan beribu maaf pada kekasih jiwanya ini.
Sindy menangis sesenggukan, Farel makin merasa bersalah.
"Sayang, aku mohon maafkan atas sikapku yang keterlaluan padamu, aku terlalu cemburu padamu sampai aku tidak rela wajah lelaki itu ada dalam ingatanmu dan namanya ada dalam berkas file kerja milikmu.
Aku tahu sumpah seorang dokter, tapi membayangkan lelaki itu yang telah menganiaya dirimu sebanyak tiga kali, membuatku sangat kesal." Farel memohon maaf pada Sindy yang masih menangis.
Sindy hanya diam membisu dalam tangisnya dan tidak ingin bicara dengan suaminya. Bukan masalah cemburunya Farel saja yang membuat hatinya sakit, tapi ia sangat benci dengan cara Farel memperlakukan tubuhnya seperti perempuan malam.
"Apakah aku telah melukaimu?" Apakah terasa sangat sakit?" Tanya Farel seraya membuka selimut dan melihat milik istrinya.
Farel lalu memberikan lagi pelumasan dengan mengawali pemanasan yang biasa ia lakukan di awal permainan.
Sindy membiarkan suaminya menebus kesalahannya pada bagian tubuhnya yang tadi disakiti oleh suaminya.
Farel melakukannya dengan bibir lidahnya yang menjilati dan menghisap tempat yang sakit itu.
Sindy kembali merasakan kenikmatan, seakan sakit yang tadi telah diobati dengan sempurna oleh permainan lidah suaminya pada tempat sensitifnya.
Sindy mendesis dan melenguh nikmat. Sentuhan indah itu mampu menutupi rasa kecewanya pada suaminya.
Farel benar-benar penakluk hati wanita. Cinta yang diberikan oleh suaminya menghapuskan rasa kecewanya.
"Apakah sudah lebih baik?" Tanya Farel.
"Tidurlah sayang, kamu pasti lelah." Ucap Farel lalu mencium rambut istrinya.
Farel menutupi seluruh tubuh mereka lalu ikut berangkat tidur.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Seminggu kemudian, Sindy bersedia diwawancarai oleh salah satu wartawan stasiun televisi yang cukup bergengsi di tanah air, yang dipilih oleh Farel tentunya, itupun harus di ruang kerjanya Sindy di rumah sakit, tidak boleh di stasiun televisi tersebut.
"Selamat pagi dokter Sindy!" Terimakasih sudah bersedia menerima permintaan kami untuk mewawancarai Anda secara eksklusif pada pagi hari ini.
Perkenalkan nama saya, Dea Nitami. Saya adalah wartawan senior yang ditugaskan oleh direktur utama stasiun televisi yang saat ini saya sedang membangun karir saya di sana, dan sekarang tugas saya adalah mewawancarai Anda di pagi yang sangat cerah ini.
"Bagaimana awal mula rumah sakit ini di bangun? dan mengapa hanya karyawan wanita saja yang boleh bekerja di sini? kecuali satpam dan cleaning servis rumah sakit ini yang rata-rata anggotanya laki-laki.
"Semua yang anda tanyakan adalah keinginan suami saya bukan saya." Ujar Sindy apa adanya.
"Apa alasan suami anda membatasi jender?" Tanya Dea.
"Tanyakan saja padanya karena saya juga tidak tahu pastinya." Ujar Sindy santai.
__ADS_1
Farel yang ada di belakang layar sangat kesal dengan jawaban Sindy yang di nilainya terlalu polos.
"Baik, saya akan beralih kepada hal yang lain. Anda di nilai cukup lihai bahkan sangat hebat menurut saya pribadi, ketika anda melakukan tindakan operasi pada pasien yang mengalami beberapa riwayat penyakit bawaan, padahal rumah sakit lain sudah menyerah"
"Saya selalu mendiagnosa ulang penyakit para pasien yang sudah sangat parah sakitnya, yang datang pada rumah sakit saya, dengan membawa berkas laporan medis mereka dari rumah sakit sebelumnya. Dan ternyata saya mampu menanganinya dengan mudah." Ujar Sindy mantap.
"Apakah ada tips lain atau faktor lain? yang membuat anda sangat percaya diri melakukan tugas anda sebagai dokter, dalam menangani kasus penyakit pasien yang memiliki komplikasi?"
"Kasih sayang dan cinta suami tentunya. Dukungan dan doanya, yang membuat saya yakin dan sangat optimis bisa menyelamatkan pasien saya atas ijin Allah. Karena tugas saya mengobati pasien dan yang akan menyembuhkan pasien tersebut hanyalah Allah." Ujar Sindy lalu melirik suaminya.
Farel memberikan Kiss by dari jauh di sebelah kameraman.
"Bagaimana kalau suatu saat nanti rumah sakit anda di nobatkan sebagai rumah sakit teladan dan terbaik dalam menangani berbagai kasus pasien yang dalam keadaan hamil, yang memiliki penyakit bawaan?"
"Tentunya sangat bangga dan menjadi tantangan tersendiri untuk saya khususnya dan menjadi PR sendiri untuk bawahan saya, agar lebih giat lagi belajar buku-buku pengobatannya dan mencari solusi dengan banyak mencari tahu penyebabnya dan itu semua perlu kerjasama dengan pasien, yang mau mempercayakan keselamatannya pada kami, tanpa kepercayaan masyarakat seperti buih di lautan yang kelihatan sangat banyak tapi tidak bermakna." Ujar Sindy mengakhiri wawancaranya.
"Terimakasih atas kesempatannya dokter Sindy, kami akan menyiarkan wawancara eksklusif ini untuk masyarakat Indonesia khususnya dan semoga dunia juga membuka mata mereka, bahwa Indonesia memiliki putri bangsa yang hebat dalam menyelamatkan generasi penerus bangsa ini.
Ibu yang sehat dan kuat akan melahirkan anak yang cerdas, berkualitas dan berakhlak mulia. Sukses terus buat anda dan para karyawannya untuk membangun rumah sakit hebat ini. Sukses juga untuk keluarga, sekian dari saya Dea Nitami melaporkan langsung dari rumah sakit bersalin ibu dan anak yaitu, rumah sakit KAYSAN di ambil dari nama putra pertama pasangan dokter Sindy dan Tuan Farel Alfarizi. KAYSAN berarti Bijaksana.
Seperti nama rumah sakit ini, seperti itulah dokter Sindy yang selalu bijaksana dalam menempati semua kasus pasiennya dengan kecerdasan dan kesabarannya.
Kamera di matikan oleh kameraman. Tepuk tangan para kru dari wartawan stasiun televisi swasta tersebut begitu riuh. Wartawan Dea Nitami bernafas lega karena telah melakukan wawancara eksklusif dengan seorang tokoh hebat seperti dokter Sindy.
"Terimakasih Dokter Sindy sudah memberikan kesempatan kepada saya mewawancarai anda.
Jawaban yang anda berikan sangat dalam dan bermakna. Suamimu pasti bangga memilikimu, dokter Sindy." Ucap Dea Nitami.
"Lebih dari kata bangga Nona Dea." Ucap Farel lalu mengecup bibir istrinya tanpa malu.
Momen berharga itu sempat terekam oleh wartawan amatiran yang ikut dalam kru televisi swasta tersebut.
"Dia segalanya bagiku, aku akan mati jika terjadi sesuatu pada dirinya." Lanjut Farel.
"Apakah ada kisah yang unik dari pertemuan pertama kalian sebelum kalian menikah?" Tanya Dea Nitami.
"Kecerobohannya yang membuat aku jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia wanita yang saat itu mampu menggetarkan hatiku. Aku rela spion mobilku patah berulang kali, karena dirinya." Ucap Farel.
Farel menceritakan tentang perjalanan cinta mereka kepada wartawan Dea.
Tidak terasa air mata gadis ini menetes haru. Cinta yang besar yang dimiliki oleh Tuan Farel pada dokter Sindy membuat Dea sangat tersentuh.
Apa lagi pengusaha hebat ini begitu mengagumi sosok istri yang sudah memberikan satu putranya untuknya kini.
Dokter Sindy juga pintar mengatur waktu antara karier dan keluarga. Apalagi fasilitas yang diberikan oleh suaminya yang menunjang segala aktivitas dokter Sindy yang mampu menangani pasiennya dengan teknologi canggih, untuk dunia medis saat ini yang mampu mendeteksi penyakit pasien dengan cepat, akurat dan terpercaya.
__ADS_1
"Sayang, aku ingin ke dalam dulu menemui teman-teman." Ucap Sindy.
Dea Nitami bersalaman dengan Sindy sebagai ucapan terakhir darinya. Namun Farel melarang para pria lain yang merupakan para kru stasiun televisi tersebut bersalaman dengan wanitanya.