Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
58. PART 58


__ADS_3

Malam itu Sindy dan Farel memilih untuk menginap di apartemen miliknya di Jakarta. Mengingat kehamilan Sindy yang tidak memungkinkan mereka kembali ke Bogor pada malam itu juga.


Karena hanya tinggal berdua, keduanya leluasa melakukan percintaan panas mereka di sudut ruang mana saja yang mereka inginkan meluapkan hasrat birahinya untuk terus menuntaskan kerinduan diantara keduanya.


Pukul tiga pagi keduanya baru menyerah dan tidur saling berdekapan hingga menjelang waktu subuh.


*


*


Usai sarapan pagi, keduanya kembali lagi ke mansion mereka di Bogor. Tapi di pertengahan jalan, Farrel mendapat telepon dari adik iparnya yang mengatakan keadaan Resti saat ini sedang hamil dan menderita kangker paru-paru.


Adik kandung Farel ini memang menetap di kota Sidney Australia. Kedua orangtuanya sudah berada di sana dan sedang menunggu putri mereka yang saat ini sedang sakit keras dan dalam keadaan hamil besar.


"Hallo bang Farel!"


"Hallo Reza!" Apa kabar!"


"Kabar aku Alhamdulillah sangat baik bang, tapi tidak dengan hatiku karena saat ini Resty sedang sakit parah dan dalam keadaan hamil tua."


"Apa?"


Karena menerima panggilan telepon dalam keadaan berkendara, hampir saja mobil Farel menabrak mobil di depannya hingga ia harus menginjak pedal rem mendadak, hingga membuat tubuh Sindy hampir membentur dasbor mobil.


"Akkkhh!" Teriak Sindy histeris.


Farel spontan melepaskan ponselnya lalu mengendalikan mobilnya yang sedikit lagi menabrak mobil yang ada di hadapannya.


Keduanya saling menatap dengan wajah yang terlihat menegang.


"Maaf sayang, aku hampir membuatmu celaka!" Ujar Farel menyesal.


"Apakah kamu tidak bisa menepikan dulu mobilnya dan baru menerima telepon?" Sindy merajuk kesal.


"Maaf sayang, tadi ada kabar tidak baik dari adikku Resty yang saat ini sedang sakit keras dan dalam keadaan hamil tua."


Farel mengemukakan alasannya hingga membuat ia kehilangan konsentrasi saat mengendarai mobilnya.


Sementara di seberang telepon, Reza masih saja memanggil nama kakak iparnya ini karena mendengar deritan ban mobil yang terdengar berhenti mendadak.

__ADS_1


Farel meraih benda pipih itu yang masih menyala di bawah kakinya.


Sambil mengusap perut istrinya, Farel menyambung lagi pembicaraannya dengan adik iparnya Reza yang masih terdengar kalut usai insiden kecil yang dialami Farel barusan.


"Abang, apakah Abang baik-baik saja?" Kenapa menerima teleponku ketika masih berkendara?" Tanya Reza dengan wajah sedih.


"Kami tidak apa-apa!"


Farel menenangkan adik iparnya yang kelihatan galau.


"Iya Reza, apakah Resty saat ini sakit keras?"


"Iya ka, jika ia nanti melahirkan, ada dua kemungkinan yang menjadi pertimbangan dokter yaitu menyelamatkan salah satu dari mereka dan itu membuatku sangat sakit bang.


Memang aku akui, saat ini aku menginginkan seorang anak laki-laki karena aku sudah memiliki tiga putri, tapi di saat kami mengetahui kalau kehamilan Resty kali ini adalah seorang putra, aku sangat gembira.


Namun sayangnya Allah menguji kami dengan sakitnya Resty saat ini bang...hiks...hiks!"


Tangis Reza pecah ketika mengenang kebahagiaannya yang harus diganti dengan kesedihannya saat ini.


Farel hanya termangu mendengar ucapan adik iparnya itu tentang adik perempuannya yang saat ini sedang sakit keras.


"Maaf bang, aku menelpon Abang ingin meminta tolong kepada Abang agar bisa mendiskusikan kasus penyakit istriku dengan kakak ipar Sindy. Mungkin beliau mampu mengatasi permasalahannya karena dokter di sini tidak bisa melakukan apapun kecuali menyuruhku memilih salah satu dari mereka dan itu membuatku sangat gundah."


Reza kelihatan frustasi menyampaikan kebenaran yang menyakitkan baginya.


"Saya akan membicarakan hal ini dengannya, jika dia bisa dibawa pulang ke Indonesia mungkin Sindy bisa menanganinya di rumah sakit miliknya. Tapi kalau tidak ada pilihan lain, mungkin Sindy akan menghubungi pihak rumah sakitmu untuk membicarakan hal ini lebih serius dengan dokter yang saat ini menangani kasus penyakit Resty."


Farel memberikan saran terbaiknya untuk kebaikan adik perempuannya yang saat ini terbaring lemah di rumah sakit.


"Terimakasih bang Farel, aku akan membicarakan ini dengan dokter."


Reza mengakhiri pembicaraannya lalu meminta Sindy untuk menghubungi rumah sakit yang saat ini merawat Resty.


"Apa yang terjadi dengan Resty Farel?"


"Adikku saat ini sedang sakit keras, Sindy dan harapan hidupnya tergantung pada pilihan Reza yang harus menyelamatkan salah satu dari mereka."


"Setidaknya selamatkan saja ibunya dari pada memilih anaknya. Insyaallah mereka bisa mendapatkannya lagi suatu hari nanti karena Resty masih sangat mudah."

__ADS_1


Sindy berdalih dengan memilih cara yang lebih efisien agar permasalahannya cepat diselesaikan karena menyangkut nyawa sang ibu.


"Jika itu mudah dilakukan, Reza tidak perlu menghubungi aku sayang. Justru dia saat ini sedang menginginkan seorang anak laki-laki yang belum ia dapatkan setelah kelahiran ketiga putrinya yang sudah mulai beranjak besar." Ujar Farel.


"Apa maksudnya Farel aku tidak mengerti arah pembicaraanmu."


"Reza ingin memintamu menolong Resty agar dua jiwa itu selamat agar tidak ada yang menjadi korban salah satunya." Ujar Farel


"Aku?" Mengapa harus aku jika rumah sakit hebat yang ada di Sidney bisa menangani kasus kesehatan Resty."


"Karena dokter di sana sudah menyerahkan pilihan terakhir pada suami adikku yang super egois itu sayang."


Kini Farel sudah menitikkan air matanya mengenang adik bungsunya itu.


Sindy tampak termangu, memikirkan apa yang harus ia lakukan untuk menolong adik dari suaminya ini.


"Minta Reza mengirimkan berkas riwayat penyakit Resty dari hasil medis rumah sakit yang saat ini sedang menangani keadaan istrinya." Titah Sindy.


"Baiklah, nanti kita akan menghubungi lagi Reza ketika sudah berada di mansion."


Farel menjalani kembali mobilnya agar cepat sampai ke mansion miliknya.


"Sebaiknya kita bawa saja Resty kembali ke tanah air bunda." Ujar Tuan Rasya pada istrinya yang sedari tadi hanya bisa menangis memikirkan nasib putri mereka.


Reza menghampiri kedua mertuanya dan menceritakan segalanya kepada keduanya, bahwa ia meminta agar kakak iparnya Sindy untuk ikut andil dalam menangani kasus penyakit istrinya agar dua orang yang sangat dicintainya itu bisa selamat dari maut.


"Mengapa harus berurusan dengan si ja**ng itu?" Sungut nyonya Alya yang tidak mau putrinya ditangani oleh menantunya Sindy.


"Demi Resty bunda, tolong singkirkan ego bunda itu. Aku hanya ingin melihat kedua orang yang aku cintai yang ada di ruang ICU saat ini selamat dari maut." Ujar Reza sarkas.


"Cukup!" Dengar Reza tanpa Sindy putriku pasti akan selamat dengan bayinya."


Nyonya Alya meninggalkan suami dan menantunya, namun dua dokter berlarian mendatangi kamar ICU milik Resty.


Ketiganya spontan panik melihat keadaan Resti.


"Apa yang terjadi suster pada putri saya?" Tanya Nyonya Alya kalut.


"Putri anda saat ini sedang drop, sepertinya keduanya sulit untuk diselamatkan." Ujar suster yang membawa peralatan medis lain untuk di bawa masuk ke ruang ICU.

__ADS_1


Duarrr...


__ADS_2