Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
23. PART 23


__ADS_3

Sindy sudah mulai melakukan aktivitasnya sebagai dokter spesialis kandungan di rumah sakit miliknya. Untuk persalinan normal, ia menyerahkan tugas itu pada dokter lainnya, sedangkan untuk operasi sesar bagi ibu yang mengalami permasalahan kehamilannya, ia sendiri yang turun tangan menangani pasien tersebut, itu berkaitan dengan riwayat penyakit yang diderita oleh si ibu atau anak yang di kandungnya.


Keahliannya dalam menyelesaikan setiap kasus ibu hamil dengan riwayat penyakit bawaan, membuat dirinya dan rumah sakit yang dikelolanya sudah viral di seluruh Indonesia.


Namanya cukup melambung tinggi di dunia kedokteran. Dokter Alan yang baru mengetahui bahwa mantan kekasihnya itu menjadi buah bibir di kalangan ikatan dokter Indonesia merasa sangat murka.


Rumah sakit yang dikelolanya saat ini, semakin sepi dari pasien. Hanya pasien-pasien tertentu dengan kelas ekonomi menengah yang masih mau memeriksakan kehamilan mereka di rumah sakit miliknya.


Beberapa media tabloid maupun elektronik menghubungi humas rumah sakit KAYSAN untuk diberi kesempatan mereka mewawancarai Sindy, sebagai dokter muda berbakat yang namanya sudah mulai merambah di negara tetangga.


"Selamat siang Dokter" Sapa Hadijah yang merupakan humas rumah sakit KAYSAN.


"Siang Hadijah!"


"Maaf dokter Sindy, ada beberapa media yang ingin mewawancarai anda. Apakah Anda bersedia untuk menerima permintaan mereka?


"Apakah ini suatu yang penting? Tanya Sindy yang sedikit enggan untuk menerima tawaran para pemburu berita itu.


"Di media sosial, nama anda sudah ramai diperbincangkan dokter. Bukankah dengan cara ini, kita bisa mendongkrak popularitas rumah sakit ini?" Ucap Hadijah serius.


"Aku akan mempertimbangkan kembali permintaan mereka, dua hari lagi aku akan memberikan jawabanku padamu, tapi jangan menjanjikan apapun pada wartawan," ucap Sindy tegas.


"Siap dokter, permisi!" Hadijah kembali ke ruangannya.


Sindy bergegas menuju ke perusahaan suaminya. Ia pun sengaja tidak mengabari dulu kedatangannya ke perusahaan tersebut.


Sindy turun ke lantai basemen di mana mobilnya diparkir. Ia tidak ingin menggunakan lift utama dan keluar melalui loby rumah sakit karena para pemburu berita sudah menantinya di halaman rumah sakit.


Mobilnya langsung menuju taman belakang arah mansion miliknya, jadi ia gampang kabur tanpa di ketahui oleh banyak orang.


"Alhamdulillah, ternyata suamiku sangat cerdas membangun rumah sakit ini satu area dengan mansion, jadi aku tidak repot jika pulang ke rumahku sendiri.


Sindy mengarahkan mobilnya ke pintu gerbang ketiga menuju jalan utama kota Bogor.


"Selamat pagi Nyonya!" Sapa satpam perusahaan milik Farel.


Sindy hanya mengangguk hormat lalu buru-buru menuju pintu lift utama tanpa melalui resepsionis.


Sindy hanya memberikan isyarat dengan menaruh satu jarinya di bibirnya kepada kedua petugas resepsionis perusahaan suaminya itu.


Tok...tok!


Cek lek..


Pintu dibuka oleh Farel sendiri.


"Selamat pagi Tuan Farel!"


"Saya datang untuk meminta pertanggungjawaban anda karena saat ini saya sedang mengandung bayi anda Tuan." Ucap Sindy dengan gaya nyeleneh.


"Apakah saya boleh memastikannya sendiri anda hamil nona Sindy?" Farel menggendong tubuh istrinya dengan berkoala.


"Silahkan!" Ucap Sindy.


"Aku mau bertanggungjawab padamu nona, jika aku sudah merasakan lagi milikmu." Farel membawa istrinya ke dalam kamar pribadinya.


"Farel, aku ingin bicara hal yang penting padamu." Sindy menahan tangan suaminya ketika tangan Farel sudah membuka satu persatu kancing blazer miliknya.


"Nanti saja sayang kita bahas permasalahanmu, saat ini aku menginginkan dirimu. Salahmu sendiri datang ke sarang mafia, maka kamu akan merasakan akibatnya." Ucap Farel yang sudah masuk dibagian bawah perut istrinya.


Sindy sudah tidak bisa berkata apapun kecuali menerima setiap serangan kenikmatan dari suaminya.


Pertempuran panas ini kembali terjadi pagi itu, keduanya telah meleburkan diri menjadi satu, menikmati setiap ayunan lembut namun makin liar untuk mendapatkan kenikmatan ragawi tersebut.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


"Apa yang ingin kamu bicarakan sayang, hmm?" Farel menyeka keringat di wajah istrinya dengan memeluk tubuh polos itu didadanya yang bidang.


"Ada beberapa media yang ingin melakukan wawancara eksklusif denganku dan ada juga beberapa televisi swasta yang sudah mengundangku dengan tujuan yang sama." Ucap Sindy.


"Aku bangga denganmu sayang, dalam waktu tiga bulan, rumah sakitmu sudah dibanjiri para pasien ibu hamil yang rata-rata diantara mereka memiliki riwayat penyakit bawaan.


Walaupun begitu aku juga takut kamu bisa mendapatkan masalah jika pasien tidak bisa ditangani dengan baik olehmu." Farel mengungkapkan kegelisahannya karena progres yang dicapai oleh istrinya dalam mengelola rumah sakit milik mereka cepat menanjak popularitasnya.


"Apakah aku harus menolak permintaan mereka sayang?" Tanya Sindy yang ingin mendapat ridho suaminya terlebih dahulu.


"Tidak ada salahnya dalam berbagi sayang, jika hal yang bermanfaat membawa kebaikan umat." Jawab Farel mantap.


"Berarti kamu setuju aku menerima tawaran mereka untuk melakukan wawancara sayang?" Sindy mendongakkan wajahnya menatap wajah suaminya.


"Lakukan sebaik mungkin, aku ingin melihat wajahmu di televisi sebagai seorang dokter spesialis kandungan bukan sebagai model yang berlenggak lenggok dengan baju yang kurang bahan." Ujar Farel lalu menarik tubuh itu kembali duduk dalam pangkuannya.


"Terimakasih Tuan suami, aku akan siap diwawancarai, jadwalnya akan diatur ulang oleh sekertarisku." Sindy mengecup bibir suaminya lembut.


"Aku akan mengantarmu lagi ke rumah sakit sekalian mau pulang menemani Kaysan." Farel menggendong tubuh istrinya membawanya ke kamar mandi.


Tidak butuh berapa lama, Sindy keluar dari ruang kerja suaminya dengan kostum yang sudah berbeda karena Farel selalu menyiapkan busana Sindy di kamar pribadinya bila wanitanya ini datang menemuinya setiap saat.


"Rendy, tolong handle meeting hari ini karena aku ada urusan penting dengan istriku." Ujar Farel ketika bertemu dengan asistennya di lobby perusahaan.


"Siap bos!" Ujar Rendy dengan bersikap hormat pada keduanya.


"Tuan permisi!" Sela seorang karyawan yang sedang berpapasan dengan bosnya.


"Ada apa Rita?" Tanya Farel heran ketika salah satu karyawannya nekat menghentikan langkahnya.


"Bolehkah kami minta foto dengan dokter Sindy?" Tanya Rita hati-hati.


"Rita, saat bersamaku dia adalah istriku bukan dokter." Ucap Farel.


Sindy merasa kesal dengan suaminya yang tidak juga mengabulkan permintaan karyawannya yang hanya meminta foto dengannya. Ingin rasanya dia menyanggupi permintaan Rita, namun ia tidak ingin mempermalukan suaminya karena bertindak seenaknya di perusahaan milik suaminya.


Rita masih berdiri dengan wajah tertunduk takut. Tapi gadis ini tetap berharap bisa foto bareng dengan istri bosnya ini.


"Apakah kamu bersedia foto dengannya sayang?" Farel meminta ijin pada istrinya terlebih dahulu.


"Dasar pelit!" Tidakkah kamu lihat, tubuhnya sudah gemetaran dengan peluh yang sudah mengembang di pelipisnya?" Bisik Sindy kesal.


"Silahkan nona Rita!" Aku mau foto dengan anda." Ucap Sindy lalu mengambil posisi yang tepat untuk foto bersama karyawan suaminya ini.


Baru dua kali jepretan, karyawan yang lain sudah ikut mengerumuni keduanya hingga posisi Farel seketika tersingkir.


"Aku juga tampan dan terkenal, tapi tidak satupun diantara mereka yang minta foto denganku." Gumam Farel membatin.


Melihat terlalu banyak karyawannya yang meminta foto dengan wanitanya, Farel meminta satpam untuk membubarkan karyawan yang sudah membuat istrinya tidak nyaman. Ada diantara mereka nekat mencium pipi Sindy membuat Farel makin gregetan dengan ulah karyawannya.


"Tolong bubar semuanya!" Teriak tiga orang satpam yang membubarkan kerumunan karyawan yang mengelilingi tubuh Sindy.


"Terimakasih nona Sindy, anda sangat cantik dan kami bangga padamu karena menjadi istri tuan Farel." Ucap Lea.


"Nona Sindy, semoga bahagia selalu. Anda hebat, aku ingin melahirkan ditangani oleh anda!" Ucap Ira yang saat ini sedang hamil empat bulan.


"Aku akan menunggumu nona Ira." Ujar Sindy ramah.


"Terimakasih dokter Sindy!" Semuanya melambaikan tangan mereka ke arah Sindy ketika dokter cantik ini dibawa pergi oleh suaminya.


"Sayang, cukup hari ini saja mereka memanfaatkan ketenaranmu, aku tidak akan mengijinkan mereka foto bersama lagi denganmu." Ujar Farel yang sudah mempercepat laju kendaraannya menuju mansion milik mereka.

__ADS_1


"Apa salahnya menyenangkan hati orang lain sayang." Timpal Sindy seraya menarik nafasnya.


"Mereka tadi nekat menciummu." Farel makin berang.


"Mereka hanya mencium pipiku dan semuanya adalah wanita Farel, tolonglah jangan terlalu posesif padaku sayang!" Ujar Sindy lalu meletakkan telapak tangannya diatas tangan Farel yang sedang mengover gigi mobil.


"Tetap saja aku tidak suka." Ujar Farel dengan wajah cemberut.


"Sayang aku mau makan dulu, aku lapar." Pinta Sindy.


"Baiklah kita akan cari restoran masakan Sunda." Ujar Farel.


Keduanya mengamati beberapa restoran yang ada di sepanjang jalan yang saat ini sedang mereka lewati.


Setibanya di restoran masakan Sunda, Sindy terlebih dahulu memesan minuman es kelapa muda, sedangkan untuk suaminya ia memilih es teller.


Sindy memesan ayam goreng, daging gepuk, udang goreng dengan teman menu pelengkap lainnya tahu tempe dan lalapan serta sambal yang menjadi selera utamanya di restoran Sunda tersebut.


Keduanya menikmati sambil membahas permintaan wartawan yang begitu banyak pada Sindy.


"Sayang!" Panggil Farel.


"Hmm!" Ujar Sindy.


"Hati-hati dengan wartawan. Mereka bisa membuatmu hebat seketika dan menjatuhkanmu begitu sakit demi sesuap nasi dengan menceritakan keburukan orang-orang hebat sepertimu.


Carilah wartawan yang bisa mempertanggungjawabkan informasi yang didapatkan darimu dengan legalitas perusahaan broadcast yang mereka miliki.


Setidaknya stasiun televisi swasta yang sudah memiliki nama besar ditanah air." Farel menasehati istrinya.


"Aku tidak begitu mengerti dengan sepak terjang wartawan tanah air. Aku kira kamu yang lebih paham dengan mereka sebagai pengusaha muda yang memiliki kerajaan bisnis yang sangat sukses di kota besar ini.


Lebih baik kamu yang menentukan kira-kira wartawan dari stasiun mana yang harus aku terima sesi wawancara nanti." Ucap Sindy yang ingin menyerahkan urusan wawancaranya pada suaminya.


Tidak lama dering ponsel milik Sindy bergetar, Sindy segera menerima sambungan telepon dari dokter Kartika.


"Ada apa dokter Kartika?"


"Tolong segera ke rumah sakit dokter Sindy, di sini ada pasien yang bermasalah dan dia adalah istri dari seorang artis terkenal ibu kota yang tinggal di Bogor.


"Apakah selama hamil ia datang memeriksa keadaan kehamilannya di rumah sakit kita?" Tanya Sindy.


"Justru itu, dia tidak pernah mengunjungi rumah sakit kita dan sekarang mau melahirkan di sini." Ucap dokter Kartika.


"Tolong tenangkan dirinya sebentar dokter, sepuluh menit lagi, aku akan tiba di rumah sakit." Ucap Sindy.


"Sayang, tolong percepat mobilnya karena ada pasien yang butuh penanganan serius dan ia meminta aku sendiri yang menanganinya." Ucap Sindy gugup.


"Sayang, tenangkan hatimu, jangan terlalu panik, aku tidak ingin kamu mendapatkan masalah menangani pasien itu." Ucap Farel yang sudah memasuki mobilnya di halaman rumah sakit.


Ketika Sindy ingin turun, para wartawan sudah berkerumun menanti kedatangannya. Satpam rumah sakit menahan para wartawan untuk memberikan jalan untuk Sindy dan Farel.


"Mohon maaf, tolong kasih jalan untuk dokter Sindy!" Pinta seorang satpam yang sedang mengawal bosnya.


Farel menggenggam tangan istrinya lalu berjalan memasuki ruang kerja istrinya.


Teriakan wartawan dengan sejuta pertanyaan yang diajukan mereka pada Sindy. Keduanya tetap melangkah langsung menuju lift utama.


Dokter Kartika langsung menemui bosnya itu untuk membahas keadaan pasien yang datang sudah dalam keadaan parah.


"Syukurlah dokter, anda sudah tiba, dari tadi saya tidak tenang menghadapi pasien yang menderita mag akut dalam keadaan hamil, yang usia kandungannya saat ini sudah memasuki sembilan bulan." Ucap dokter Kartika dengan wajah panik.


"Apakah berkas laporan medis kasus pasien itu sudah masuk ke file saya?" Tanya Sindy dengan menggerakkan jarinya memeriksa file-nya.

__ADS_1


"Semua data dan laporan medis pasien sudah di ada dokter." Sahut dokter Kartika.


"Tunggu sebentar, saya harus mempelajari kasusnya terlebih dahulu, sebelum kita mengambil tindakan." Ucap Sindy dengan wajah tetap tenang.


__ADS_2