Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
56. PART 56


__ADS_3

Dokter Kartika dan dokter Amanda berangkat ke Jakarta di antar oleh sopir pribadinya Sindy.


Keduanya mampir membeli makanan dan beberapa jenis bunga untuk di hias di apartemen milik dokter Alea.


Dokter Kartika melakukan tugasnya sebaik mungkin, namun tidak dengan dokter Amanda yang lebih banyak bengong menatap berbagai jenis kue yang ada di etalase toko kue tersebut.


"Apa yang sedang kamu pikirkan dokter Amanda?"


Kartika menarik tubuh sahabatnya itu setelah membayar kue di meja kasir.


"Emang kuenya sudah di pilih semua?"


Tanya dokter Amanda ketika lima kotak besar kue sudah di bawa oleh pelayan toko ke mobil mereka.


Dari tadi ke mana saja pikirannya?" Sudah kelar baru ditanyakan."


Dokter Kartika sedikit heran dengan sikap temannya, seperti kelihatan ling lung.


Mobil itu kembali bergerak menuju apartemennya Alea. Hingga tiba di apartemen, dokter Amanda masih saja dengan diamnya.


Dokter Alea yang belum tahu bakalan ada acara lamaran untuk dirinya hari, bagiku santai membuka pintu kamar apartemennya ketika melihat kedatangan dua sahabatnya.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumuslam!"


"Astaga apa yang kalian bawa dan untuk apa dengan bunga-bunga ini?"


Dokter Alea makin bingung dengan melihat banyak kotak sepertinya akan ada pesta kecil untuknya.


"Aku lagi tidak ulang tahun hari ini, mengapa banyak sekali kue dan makanan."


Dokter makin keki saat tidak ada satupun diantara dua temannya ini menjelaskan apa tujuan dengan semua barang bawaan yang ada di kamar apartemennya.


"Hari ini loe bakalan di lamar oleh seorang pria yang akan menutupi aib loe."


Dokter Amanda menjelaskan apa yang saat ini mereka lakukan.


Daaurr...

__ADS_1


"Apa?" Lamaran?"


"Iya, sekarang kamu harus mandi karena sebentar lagi MUA akan datang merias wajahmu." Timpal Kartika.


"Siapa yang akan menikahiku dengan wanita hamil sepertiku."


Alea mulai merajuk karena merasa tidak berguna.


"Asistennya Tuan Farel yang bersedia menikahimu dokter Alea." Ujar dokter Kartika.


"Apa?" Dia yang akan ....?


"Iya benar Alea, kamu tidak perlu lagi merasa minder ataupun malu dengan keadaanmu karena dokter Sindy sudah menemukan lelaki yang cocok yang akan menikahimu karena asisten Rendy sendiri yang menawarkan dirinya untuk menikahimu." Sambung dokter Kartika.


"Tidak mungkin dia mau menerima aku begitu saja setelah apa yang pernah aku lakukan padanya ketika ia pernah menyatakan cintanya kepadaku setahun yang lalu." Gumam Alea membatin.


Tidak lama kemudian pihak MUA sudah menyambangi apartemen Alea dan merias wajah gadis itu secantik mungkin.


Di tempat yang berbeda, Farel dan istrinya sudah berada di apartemen miliknya asisten Rendy.


Mereka juga menyiapkan beberapa barang bawaan untuk hantaran lamaran untuk dokter Alea.


Farel tidak melepaskan pandangannya pada penampilan sang istri tercinta yang tidak pernah padam walaupun dalam keadaan hamil anak ketiga mereka.


"Sayang, mengapa kamu secantik ini?" Aku harap acara lamarannya tidak terlalu lama karena aku tidak sabar untuk memakanmu."


Farel kelihatan gemas dengan penampilan istrinya yang kelihatan tetap seksi saat ini, walaupun usia kandungannya sudah memasuki delapan bulan.


Sindy tersipu malu mendengar pujian suaminya yang tidak pernah bosan melihatnya. Sindy sengaja tetap tampil cantik dalam keadaan apapun ketika suaminya sudah bersama dengannya karena ia tidak ingin kelihatan jelek di depan suami tercinta walaupun saat ini tubuhnya makin tembem karena hormon kehamilan.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Rendy kelihatan makin gugup menunggu Alea yang belum juga muncul dari dalam kamarnya. Ibu Alea yang juga ikut menyambut kedatangan calon mantu kelihatan sangat bahagia mendengar ada laki-laki yang masih mau menerima putrinya walaupun dalam keadaan hamil anak orang lain.


"Nak Rendy, apakah kamu tidak menyesal nak, menikahi putriku yang saat ini sedang...?"


"Maaf ibu, mohon jangan membahas masalah ini lagi karena hatiku sudah mantap memilih dokter Alea menjadi istriku."


Rendy mencoba meyakinkan calon ibu mertuanya yang masih ragu dengan niat baiknya.

__ADS_1


"Baiklah nak, kalau begitu semoga kelak kalian berdua akan hidup bahagia.


Dokter Kartika keluar mendampingi Dokter Alea yang saat ini sudah memakai kebaya modern warna coklat susu. Wajahnya yang kelihatan sedikit tirus tidak mengurangi kecantikan gadis ini sama sekali.


Walaupun kehamilannya sudah memasuki empat bulan tidak begitu terlihat karena bagian MUA merias dirinya sebaik mungkin untuk tetap tampil anggun di acara lamaran itu.


Semuanya lancar sesuai rencana dokter Sindy. Kini yang mereka tunggu hanya keikhlasan dokter Alea yang siap atau tidaknya menerima pinangan dari Rendy yang akan mendampingi hidupnya kelak.


Sebagai wali dari Rendy, Farel mewakili asistennya ini memulai dengan acara lamarannya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokatuh. Saya dari pihak calon mempelai pengantin laki-laki sengaja datang melamar dokter Alea untuk asisten setia saya yaitu Rendy Wijaya yang ingin mempersunting dokter Alea menjadi istrinya, mohon diterima lamaran kami." Ucap Tuan Farel dengan penuh kewibawaan.


"Bagaimana nak Alea, apakah kamu mau menerima Rendy menjadi suamimu, nak?" Tanya ibu Munarti kepada putrinya yang masih tertunduk malu karena dihadapkan dengan lelaki yang pernah ia tolak cintanya.


Lama para tamu undangan yang hadir di acara lamaran itu menunggu gadis ini yang tidak ada jawabannya sama sekali.


Mereka mulai gelisah dan sangat gugup jika dokter Alea menolak lamaran Rendy, maka pengorbanan mereka untuk gadis ini sangat sia-sia.


"Dokter Alea, apakah anda mau menerima Rendy menjadi suamimu?"


Dokter Sindy sudah tidak sabar dengan diamnya dokter Alea.


Dokter Alea hanya menggenggam tangannya karena terlalu bingung untuk menjawab lamaran lelaki tampan yang ada dihadapannya ini.


"Dokter Alea, aku tidak keberatan menerima keadaanmu saat ini, jadi jangan memikirkan hal yang sangat menganggu pikiranmu."


Rendy mengerti perasaan dokter Alea yang kuatir akan cintanya.


Dokter Alea menelan salivanya dengan kasar, dengan mengumpulkan kekuatannya dan mengendalikan rasa gugupnya, ia pun hanya bisa mengangguk pasrah menerima lamaran Rendy.


Semua yang hadir menarik nafas lega karena dokter Alea akhirnya menerima pinangan Rendy.


Dada mereka rasanya plong ketika dokter Alea menyatakan sikapnya menerima pinangan Rendy.


Tapi tidak dengan dokter Amanda yang langsung bangun dari duduknya menuju ke balkon apartemen itu sengaja menghindar dari acara itu karena air matanya sudah tidak bisa tertampung karena rasa sedihnya menerima kenyataan bahwa lelakinya yang sangat ia cintai ternyata selama ini mencintai sahabatnya sendiri.


"Masih banyak cara untuk meraih cinta dari lelaki lain, dokter Amanda."


Dokter Amanda terperanjat mendengar penuturan dokter Sindy yang sudah ada di sampingnya dengan membawa minuman untuk dokter Amanda.

__ADS_1


__ADS_2