
"Lepaskan aku Farel, ini sakit!" Sindy berusaha berontak karena kuatnya pegangan Farel pada pergelangan tangannya.
Tubuh itu dihempaskan di sofa. Sindy meregangkan tangannya yang masih terasa sakit. Kulit mulus itu sangat merah karena genggaman Farel yang tidak melepaskan dirinya.
"Aku akan memasung tubuhmu di kamar apartemenku jika kamu berusaha kabur." Ancam Farel yang kelihatan sangat serius.
Sindy tertunduk tanpa ingin menatap wajah Farel. Ia sangat gugup dan juga merindukan lelaki ini. Tapi mengingat dirinya yang kotor, ia tidak mau banyak berharap untuk masuk dalam hidup pria manapun termasuk lelaki itu adalah Farel.
"Apakah karena bajingan tadi yang telah menghancurkan hidupmu, hingga kamu rela meninggalkan tanah air bahkan kamu tidak ingin lagi meraih cita-citamu sebagai dokter, hmm?" Farel menuangkan minuman untuk Sindy.
"Aku tidak minum alkohol, tolong jauhkan itu dariku." Sindy menolak pemberian Farel.
"Apa?" Hampir setahun kamu menetap di sini dan kamu tidak mencicipi minuman enak ini?" Tanya Farel seolah tidak percaya dengan pengakuan Sindy yang tidak ingin tersentuh dengan alkohol walaupun sudah lama tinggal di Paris.
"Aku mau pulang, aku tidak ingin berurusan denganmu, jika kamu masih menagih utang karena spion mobilmu itu, aku bisa membayarnya sekarang, sebutkan berapa harganya." Sindy berkata dengan angkuh.
"CK, simpan saja uangmu, aku tidak butuh, yang aku butuh adalah tubuhmu." Ujar Farel makin membuat hati Sindy makin sakit.
Plak!"
Tamparan keras mendarat tepat dipipi Farel.
"Jaga mulut kotormu itu Tuan!" Kau merendahkanku demi memuaskan na*su bejatmu itu." Ucap Sindy dengan menatap tajam mata Farel.
Sindy bangkit dari duduknya dan ingin keluar dari kamar Farel apartemen Farel, tapi pintu itu sulit dibukanya karena Farel sudah menguncinya dengan sandi.
"Buka pintunya sekarang!" Perintah Sindy kesal.
"Siapa bilang aku akan membebaskanmu. Aku bersedia kamu tampar atau kamu bunuh sekalipun, aku tidak akan melepaskanmu lagi, hentikan pelarianmu. Jika kamu mengatakan alasan yang sebenarnya, aku tidak akan mengganggumu lagi." Farel memberi pilihan pada Sindy.
Sindy mengigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya. Pertanyaan Farel seakan mengulik kembali luka dihatinya. Antara malu dan juga ingin bebas dari lelaki ini yang saat ini sedang ia pertimbangkan.
"Apa yang sedang kamu kejar dari wanita sampah sepertiku Farrel. hidupku bahkan bukan milikku lagi apa lagi untuk berani bermimpi seakan itu adalah suatu hal yang mustahil bagiku." Sindy membuka kembali kisah yang menyakitkan untuk dirinya.
"Apakah karena lelaki itu, sehingga kamu melarikan diri dari kenyataan?" Pancing Farel.
Sindy mengangguk lemah tanpa ingin melihat Farel.
"Beri aku kesempatan Sindy, aku ingin membasuh luka dihatimu." Farel memohon dengan tulus.
"Tidak Farel, setahun terakhir ini, aku sudah bersusah payah membangun lagi hidupku dari kehancuran bahkan dari kematian karena aku pernah berusaha bunuh diri." Sindy tetap tidak ingin memulai suatu hubungan yang akan merugikan dirinya.
__ADS_1
"Apa yang telah bajingan itu lakukan padamu Sindy, hingga kau ingin mengakhiri segalanya?" Rasa penasaran Farel makin menjadi.
Sindy kembali menangis, hatinya makin sakit dipaksa untuk mengungkapkan kebenaran dari dua peristiwa yang sudah dikuburnya jauh dari dalam palung hatinya.
"Jawabbb!" Bentak Farel yang sudah tidak sabar mendengar pengakuan Sindy.
"Dia menjebak diriku. Aku menenggak minuman itu, yang ternyata sudah dicampur dengan obat perangsang, dia merenggut kesucianku saat aku dibawah pengaruh obat laknat itu.
Dua bulan kemudian, aku mengetahui diriku sedang hamil, aku mengatakan kepadanya jika saat itu aku sedang mengandung anaknya. Awalnya dia sangat senang dan berjanji akan menikahiku, aku masih berusaha percaya dan memberinya kesempatan untuk menebus kesalahannya padaku.
Tapi, diam-diam lelaki bejat itu dengan tega menjebakku untuk kedua kalinya, dengan memberikan makanan yang sudah tercampur dengan obat penggugur kandungan.
Setelah aku merasakan kontraksi hebat pada perutku, iapun malah menyuntikkan obat bius pada tubuhku hingga aku tidak sadarkan diri. Dan dimalam itu juga ia berhasil melakukan aborsi pada janinku hingga aku tidak sadar diri. Setelah kesadaranku kembali pulih, ia pun dengan tega meninggalkan aku begitu saja dan pulang ke rumahnya.
Yah, di malam itu dalam keadaan yang sangat lemah pasca aborsi, tubuhku hampir pingsan hingga aku tidak sadar menabrak kaca spion mobilmu hingga patah." Sindy mengisahkan semuanya tanpa ada yang ia tutupi dari Farel.
Farel yang mendengar pengakuan itu dari mulut Sindy, mengepalkan kedua tangannya lalu meninjunya ke tembok berulangkali hingga berdarah.
"Bodoh...bodoh!" Ucapnya sambil terus meninju tangannya ke tembok.
Sindy memeluk tubuh pria tampan itu dari belakang, berusaha menghentikan aksi Farel yang menyakiti dirinya.
"Hentikan Farel! jangan sakiti dirimu karena aku." Ucap Sindy sambil menangis.
"Farel, kamu tidak salah karena kamu tidak tahu. Tolonglah jangan seperti ini!" Sindy membujuk Farel agar tidak lagi merasa bersalah atas tindakannya setahun yang lalu, dengan meminta uang ganti rugi kepada gadis malang ini.
"Aku akan membunuhmu dokter Alan sialan, kau harus membayar semua perbuatanmu karena menghancurkan masa depan seorang gadis." Gumamnya membatin.
Sindy berhasil menenangkan hati Farel. Ia kemudian meminta Farel untuk membebaskannya sesuai kesepakatannya. Namun Farel bersikukuh tidak ingin membiarkan begitu saja Sindy pergi dari hidupnya lagi.
"Tetaplah di sampingku Sindy, kau tidak akan ke mana pun sekarang ini. Aku akan menikahimu dan aku tidak peduli dengan masa lalumu.
Tidak ada yang lebih bahagia selain berada disisimu, jangan pergi lagi sayang. Aku lelaki singel Sindy, aku akan menggantikan kesedihanmu dengan air mata bahagia. Jangan tinggalkan aku!" ku mohon kepadamu, tak sanggup hati ini untuk berpisah denganmu lagi.
Beri aku kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang sudah hilang dalam dirimu untuk kembali menjadi suatu hal yang bernilai. Aku yang bisa menyelamatkan kehormatanmu Sindy." Farel meraih dagu Sindy dan mengecup bibir itu dengan lembut.
Awalnya Sindy menolak, tapi Farel menahan tengkuk gadis itu untuk membalas ciumannya.
Sindy tidak bisa menolak ciuman hangat dari bibir Farel karena ia juga menginginkan sentuhan itu.
Ciuman ringan itu beralih pada ciuman panas, Farel makin memperdalam ciumannya dan berusaha masuk ke dalam rongga mulut Sindy.
__ADS_1
Pertahanan Sindy mulai melemah, karena ciuman ini sangat memabukkannya. Ia pun membalas ciuman itu dengan mengimbangi permainan lidah Farel yang sudah menghisap lidahnya dengan sangat kuat. Saling bertukar saliva dan mengecap serta bernafas seperti biasa hingga keduanya tidak sadar sudah berapa lama mereka menikmati ciuman panas itu.
Farel membawa tubuh Sindy ke kamarnya. Ia kemudian membaringkan tubuh itu. Ketika Farel ingin melakukan sesuatu yang lebih, Sindy menahan tangan lelakinya.
"Apakah kamu ingin menambah lagi kehancuran hidupku yang saat ini sedang aku bangun untuk kembali utuh?" Tanya Sindy membuat Farel menghentikan aksinya.
"Maafkan aku sayang, aku terbawa suasana, aku tidak akan menyentuhmu sampai kita menikah." Farel bangkit dari atas tubuh Sindy dan membebaskan gadis itu dari gairah yang sempat mengusai dirinya.
"Kamu hebat Sindy, kamu mempertahankan sisa-sisa kehormatanmu demi prinsip dan harga diri yang masih lekat dalam jiwamu, kamu tidak mudah goyah sekalipun dihancurkan berkali-kali, aku salut padamu sayang." Ucapnya membatin.
"Tidurlah sayang, kamu harus istirahat!" Aku akan menjagamu di sini, kamu tidak sendirian lagi. Ada aku yang akan melindungimu di setiap waktu.
Aku memang lelaki bre**gsek, tapi aku melakukannya atas suka sama suka dan selalu memakai pengaman.
Aku memang selalu bersama wanita dengan tipikal manapun. Tapi sejak bertemu denganmu, pandangan mataku tidak lagi bergairah pada bentuk tubuh yang menawarkan sejuta pesona.
Mereka memang sudah lihai di atas ranjang, tapi tidak ada yang bisa memuaskan hasratku karena aku tidak berhenti untuk terus berganti pasangan.
Anehnya, tidak satupun diantara mereka yang membuatku jatuh cinta walaupun berkali kali melakukannya dengan wanita yang sama.
Tapi malam itu, bertemu denganmu hanya sekali menatap matamu, kamu langsung mengunci mati mata dan hatiku. Aku terus memikirkanmu, mencarimu seperti orang gila. Entah mengapa tiba-tiba aku ingat kota Paris Perancis.
Aku tidak berpikir tempat pelarianmu adalah di sini. Andai bajingan itu tidak mengganggumu, mungkin aku dan kamu tidak saling kenal.
Walaupun pertemuan kita di saat yang salah tapi aku sangat bersyukur karena menemukan jodohku yang akan menghentikan petualanganku. Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu." Ucap Farel panjang lebar seperti jalan bebas hambatan itu.
Sindy mendengar penuturan lelakinya tanpa ada penghakiman sedikit pun. Ia menghargai perjalanan hidup Farel, karena setiap orang tidak memiliki jalan yang di inginkannya menjadi sulit.
Sindy juga tidak mau menanyakan mengapa Farel bisa menjadi seorang lelaki yang hobi berpetualangan cinta.
"Sindy, mengapa kamu diam saja sayang?" Apakah kamu kecewa padaku?" Tanya Farel yang bingung dengan sikap diam Sindy.
"Tidak Farel. Bagian masa lalu tidak bisa diperbaiki lagi karena waktu tidak akan berulang. Tapi kita bisa mengubah takdir baik kita untuk memperbaiki diri dengan masa depan yang akan memberikan kita banyak kesempatan untuk menebus masa lalu yang suram.
Pintu tobat selalu terbuka bagi hambaNya yang sungguh-sungguh ingin berlepas diri dari kemaksiatan yang pernah diperbuatnya, asalkan ia berjanji tidak akan kembali ke kubangan yang sama dengan lumpur dosa yang sudah lekat menghitam dan sulit untuk tertembus cahaya ilahi.
Kamu harus bersyukur, kamu memiliki segalanya, hanya dengan petikan jari semua tersedia. Seperti surga dunia tersedia untukmu dengan mudah. Namun kamu tidak menemukan ketenangan karena kamu melakukannya tidak dengan restu Allah.
Pasangan menikah tidak akan bosan dengan satu wanita dalam hidupnya karena keberkahan yang ia dapatkan dari ibadah dengan doa restu semua pihak yang menyaksikan pernikahannya. Kamu akan merasakan ketenangan itu jika kamu sudah menikah." Sindy menasehati Farel seperti orang tua, membuat Farel ingin tertawa tapi juga bersyukur karena gadis ini menyentuh hatinya dengan ilmu agama.
"Harusnya kamu jangan kabur supaya kita bisa langsung menikah saat itu." Ucap Farel membela diri.
__ADS_1
"Jika sesuatu yang didapatkan dengan mudah, cinta yang dikejarnya tidak akan membekas ke dalam jiwanya." Imbuh Sindy.
Keduanya sepakat untuk tidur. Farel tidur di sofa untuk menjaga wanitanya agar lagi kabur, walaupun Sindy sudah berjanji untuk tetap berada di sampingnya namun Farel tidak termakan lagi dengan janji manis yang terlontar dari bibir sensual milik Sindy.