Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
83. PART 83


__ADS_3

Tubuh Farel segera di bawa ke rumah sakit terdekat, Farel di tangani langsung oleh dua dokter. Keadaan farel yang saat ini sangat kritis membuat Luna sangat syok. Tangisnya tidak berhenti melihat kondisi anaknya yang tidak bisa bertahan walaupun banyak alat medis melekat pada tubuhnya.


Tuan Farel menenangkan Luna yang masih menangis histeris. Ia malah menyalahkan tuan Farel yang telah menolak keberadaan putranya sehingga Farel mendengar sendiri kata-kata itu dari mulutnya.


"Sekarang kamu puas sudah membuat anakku menderita. Kamu bisa bahagia dengan keluargamu sekarang bukan?" Sekarang pergilah dari hadapanku dan biarkan aku menemani putraku di sini. Kami tidak membutuhkanmu. Selama ini kami tidak mengalami masalah apapun hingga kami harus bertemu denganmu.


Pergi ..pergi!" Usir Luna yang tidak ingin melihat wajah dari ayah putranya ini.


"Luna, maafkan aku Luna!" Aku tadi hanya mengancammu saja, ucapanku itu tidak sungguh-sungguh. Tidak mungkin aku mengingkari darah dagingku Luna."


"Jika terjadi sesuatu pada putraku, aku tidak akan pernah memaafkanmu tuan Farel." Tegas Luna dengan wajah menyalang.


"Keluarga ananda Farel!"


"Iya suster!"


"Silahkan masuk Nyonya, putramu ingin berbicara denganmu." Ujar suster itu lalu membiarkan Luna dan Farel menemui putra mereka.


"Mami!" Maafkan Farel!" Farel tidak kuat lagi bertahan mami. Farel ingin pergi!" Ucap Farel terbata-bata.


"Sayang, apakah kamu tega meninggalkan mami sendiri?"


"Mami, menikahlah dengan lelaki lain!" Jangan ganggu keluarganya saudaraku Kaysan karena mami tidak akan bahagia dengan tuan ini. Dia tidak mencintaiku sebagai anak kandung, apa lagi mami." Ujar Farel dengan air mata berderai.


"Farel, aku mencintaimu nak, aku mengakuimu sebagai putraku saat pertama kali aku melihatmu di sekolah Kaysan. Hanya saja aku tidak tahu caranya untuk memberikan kasih sayangku padamu sebagai seorang ayah." Ujar Farel dengan tangisan yang tidak terbendung lagi melihat keadaan Farel.


"Dari awal kamu tidak mengakui aku putramu, mengapa sekarang kamu ingin menebus kesalahanmu itu tuan?" Bukankah kamu tidak ingin keluargamu hancur karena kehadiran aku dan mamiku.


Sekarang aku ingin pergi dan tidak akan menganggumu lagi Tuan, sampaikan salam ku untuk istrimu agar dia tidak perlu bercerai denganmu karena adanya aku dalam hidup kalian."


"Mami, pergilah dari kehidupan tuan ini, jika mami mencintai Farel. Farel tidak akan pernah menganggapnya ayah seperti dia tidak mengakui anak.


Jaga diri mami, Farel sangat mencintai mami, maafkan farel mami, selamat tinggal... akhhhh!"

__ADS_1


Farel menghembuskan nafasnya untuk terakhir kalinya dengan tenang.


"Tidak..tidak .. sayang, jangan tinggalkan mami, Farel... Farel!...Aaaaakkk!" Tangis Luna seperti orang gila di atas tubuh lemah anaknya yang baru saja meninggal dunia.


Tuan Farel mencoba memeluk Luna, namun gadis itu berontak dan menolak untuk tidak di sentuh olehnya.


"Permisi Nyonya, biarkan kami urus jenasah putra anda untuk di makamkan." Ucap dokter seraya menutup wajah Farel yang sudah tenang menuju ke alam baka.


"Tidak.. tidak dokter, putraku masih hidup, mungkin ia hanya pingsan, tolong selamatkan dia dokter, aku mohon!" Rengek Luna pada dua dokter yang tadi menolong putranya.


"Maafkan kami nyonya, kami turut berdukacita atas kepulangan putra anda." Ucap dokter Raffa.


"Kau..ini semua salahmu tuan Farel, putraku meninggal karena ulahmu!" Teriak Luna.


Farel pun merasa terpukul atas kepergian putranya yang belum sempat ia peluk selama bertemu dengan putranya itu karena ketakutannya pada istrinya Sindy.


Sementara Sindy yang ingin pergi dari mansion bersama ketiga anaknya dicegah oleh asisten Rendy.


"Untuk apa kamu mengurus urusanku Rendy, bukankah kamu adalah asisten suamiku?" Urus saja suamiku dan keluarga barunya. Bukankah saat ini dia bersama dengan Luna. Lagi pula kami akan bercerai dan dia bisa membawa wanita itu dan putranya ke rumah ini." Ucap Sindy dengan nada sinis.


"Tidak ada yang menempati mansion ini kecuali anda dan anak-anak anda nyonya."


"Minggir Rendy!"


Aku tidak akan mendengarkan omong kosongmu."


"Nyonya Sindy, saat ini Luna sedang berkabung karena putranya baru saja meninggal dunia karena tertabrak mobil."


Duaaarrr ....!"


Bagai di sambar petir, tubuh Sindy menegang ketika mendengar kabar kematian putra pertama suaminya itu.


"Mengapa bisa tertabrak Rendy?"

__ADS_1


"Kalau itu saya tidak tahu nyonya, saat ini tuan Farel sedang mengurus jenazah putranya untuk dikuburkan langsung di pemakaman umum besok pagi." Ucap asisten Rendy dengan wajah tertunduk sedih.


Dokter Sindy, hanya bisa menghembuskan nafasnya berat dan kembali masuk ke mansionnya bersama ketiga anaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini atas kepergian putranya Luna, seseorang yang menjadi duri dalam pernikahannya.


"Ya Tuhan, apakah aku terlalu egois pada anak itu hingga ia kehilangan kesempatan untuk merasakan kasih sayang dari suamiku sebagai ayahnya?" Sindy berkali-kali menyeka air matanya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Pemakaman putranya Luna Farel dilakukan pagi itu. Di pemakaman itu hanya hadir Luna, Farel dan sahabat dekat Luna.


Tuan Farel sendiri hanya menangisi kepergian putra pertamanya itu. Di atas pusara putranya, Tuan Farel baru mengakui Farel adalah putra kandungnya.


Sindy dan asisten Rendy ikut mengiringi pemakaman itu. Keduanya berdiri agak menjauh dari kerumunan orang-orang yang sedang mendoakan almarhum Farel.


Luna yang lebih dulu meninggalkan pemakaman itu dan ia harus berpapasan dengan Sindy yang ingin mengucapkan rasa prihatinnya atas kehilangan putranya Luna.


"Puas kamu sekarang?" Suamimu yang berengs*k itu datang padaku dan meminta aku dan putraku pergi dari negara ini karena kecemburuanmu.


Ia ingin mengusir aku dan putraku dari kehidupannya demi menjaga hatimu itu karena besarnya cinta tuan Farel padamu. Sekarang putraku bukan hanya di usir dari negara ini, tapi juga di usir dari dunia ini ketika suamimu tercinta itu menolak putraku sebagai anak kandungnya, hingga putraku harus melarikan diri dan tidak sadar tertabrak oleh mobil hingga merenggut nyawanya. Kamu memiliki tiga anak dan suami yang sangat mencintaimu, tapi sekarang apa yang aku miliki dokter Sindy?" Putraku satu-satunya telah meninggalkan aku...hiks...hiks ..hiks!" Luna meninggalkan Sindy begitu saja menuju mobilnya.


Sindy hanya termangu mendengarkan Luna yang baru saja melampiaskan amarahnya pada ibu dari tiga putra itu.


Sindy melihat ke arah suaminya yang sedang menatapnya.


"Sindy, putraku Farel tidak lagi menjadi penghalang kebahagiaan kita, sekarang apakah kamu masih ingin menceraikan aku?"


"Maafkan aku Farel!" Aku sangat menyesal atas kematian putramu Farel!" Ucap Sindy dengan air mata berderai.


"Aku terlalu mencintaimu Sindy, demi cintaku padamu, aku harus mengorbankan putra kandungku demi keutuhan cinta kita." Ujar Farel lirih.


Sindy menghamburkan pelukannya ke dalam tubuh kekar suaminya. Rasa bersalahnya membuatnya tidak lagi menuntut suaminya dengan kata perceraian. Ia hanya butuh suaminya saat ini, walaupun kabut duka itu masih ada di hati mereka.


TAMAT... karya terbaru aku, Ruang rindu untuk Ayana dan hembusan ayat cinta di Pucuk ramadhan. Mohon like dan komennya. Terimakasih 🤗

__ADS_1


__ADS_2