
Flash back off.
Semenjak bertemu dengan Luna dua hari yang lalu, Farel tidak ingin lagi mengantar putranya Kaysan ke sekolah. Ia meminta asistennya Rendy untuk mengantar putranya itu ke sekolah, walaupun harus mendapatkan protes dari putranya.
"Papa kenapa sekarang tidak mau lagi mengantar Kaysan sekolah? kalau papa yang antar Kaysan, teman-teman tidak ada yang berani menganggu Kaysan papa." Keluh Kaysan saat mamanya memakaikan baju seragam padanya.
"Papa lagi banyak kerjaan Kaysan, kamu bisa di antar sama paman Rendy." Ujar Farel memberi pengertian kepada putranya.
"Tapi paman Rendy bukan ayah Kaysan papa." Protes Kaysan makin kesal kepada Farel.
"Kalau begitu mama saja yang antar Kaysan ke sekolah, lagian mama mau lihat kakak kelas Kaysan yang namanya Farel itu. Seberapa mirip wajahnya dia dengan kamu sayang." Ujar Sindy lalu meminta Kaysan untuk memakan rotinya.
Degg...
"Jangan... jangan sayang!"
Cegah Farel yang tidak ingin dosa masa lalunya diketahui oleh istrinya, jika Sindy melihat putranya Luna.
Sindy memperhatikan wajah gugup suaminya seolah menyimpan misteri dari larangan padanya.
"Kamu kenapa begitu sayang?" Apa ada yang kamu sembunyikan?" Sindy menaruh curiga kepada suaminya.
"Oh, maaf sayang!" Aku hanya tidak ingin kamu meninggalkan si kecil. Lebih baik Rendy yang mengantarkan Kaysan." Farel mencoba mencari alasan yang tepat untuk menjawab kecurigaan Sindy padanya.
Ia pun buru-buru menyusul putranya di ruang makan untuk menikmati sarapan paginya berupa nasi goreng.
"Aneh, kenapa dia begitu gugup saat aku ingin mengantar Kaysan ke sekolah." Gumam Sindy dalam hatinya.
*
*
Tidak berapa lama kemudian, mobil Kaysan sudah tiba di sekolahnya. Kaysan masuk ke kelasnya dan menaruh tasnya di meja. Karena bel sekolah belum berbunyi, Kaysan keluar lagi dari kelasnya menuju perpustakaan.
Karena letak perpustakaan itu melewati kelas Farel kakak kelasnya, Kaysan pun menjadi sasaran empuk oleh teman-temannya Farel yang menggoda dirinya dan Farel.
"Farel, saudara kembar loe lewat tuh." Cibir mereka bersamaan.
__ADS_1
Farel yang tidak tahan dengan godaan teman-temannya langsung menghampiri Kaysan yang sudah berusaha menghindar.
"Hei kau!" Serunya menghentikan langkah Kaysan.
Kaysan pura-pura tidak mendengar dan terus berjalan cepat menelusuri lorong kelas tersebut.
"Kaysan, berhenti!"
Panggil Farel sekali lagi membuat Kaysan makin gemetar ketakutan. Ia pun sudah bersiap-siap, jika mendapat serangan dari kakak kelasnya itu yang merupakan saudara kandungnya.
"Ada apa? Tanya Kaysan gugup.
"Aku harap jangan pernah kamu menunjukkan wajahmu itu pada teman-temanku, apa lagi lewat depan kelasku. Jika kamu lakukan sekali lagi aku akan membuat perhitungan denganmu." Ancam Farel pada adiknya itu.
"Kalau saya tidak mau, kamu mau apa?" Kaysan balik menantang Farel.
"Ini yang aku mau." Bogem mentah melayang di pelipisnya Kaysan.
Perkelahian pun tidak terelakkan. Teman-teman Farel malah menyemangati farel untuk terus memukul Kaysan hingga datang beberapa orang satpam melerai keduanya.
Kepala sekolah meminta wali kelas keduanya untuk menghubungi kedua orangtua mereka.
"Hallo selamat pagi ibu Kaysan!"
"Selamat pagi juga Bu Yuyun!"
"Maaf Bu Kaysan, ibu di minta oleh kepala sekolah untuk menghadap kepala sekolah. Mohon segera datang ya Bu!" Ucap Bu Yuyun.
Permintaan yang sama ditujukan juga kepada Luna, ibu dari Farel. Wanita muda ini yang saat ini genap berusia 29 tahun, begitu syok mendengar putranya bertengkar dengan adiknya sendiri.
"Ya Tuhan Farel kenapa kalian berdua sampai berantem sayang." Keluhnya sambil menyetir mobilnya menuju sekolah putranya.
Tidak lama Kedua wanita ini yaitu Luna dan Sindy memarkirkan mobil mereka bersebelahan. Sindy yang tidak tahu siapa Luna, tidak menyapa ibu dari Farel. Sementara Luna sangat mengenal Sindy karena wajah dokter cantik itu selalu ada di setiap media. Luna juga tahu jika dokter Sindy adalah istri dari Tuan Farel.
Tapi Luna tidak mengetahui jika Kaysan bersekolah di sekolah yang sama dengan Farel putranya.
"Ya Tuhan, bagaimana perasaan dokter Sindy jika melihat wajah putraku justru sangat mirip dengan suaminya Tuan Farel." Hati Luna makin gelisah karena sebentar lagi perang akan di mulai dan semua rahasia masalalu dia dan Tuan Farel akan terkuak.
__ADS_1
Sindy yang sudah berada terlebih dahulu di ruang kepala sekolah, sangat syok ketika melihat wajah Farel putra Luna yang tertunduk ketakutan.
"Astaga!" Dia..?" Mengapa wajahnya begitu sama persis dengan suamiku." Jerit Sindy dengan dadanya yang begitu gemuruh antara curiga dan cemburu melebur jadi satu saat ini.
Tidak lama kemudian, Luna masuk dengan wajah kusut menghampiri putranya.
"Silahkan duduk ibu Farel dan ibunya Kaysan!" Pinta kepala sekolah kepada kedua wanita cantik ini.
Sindy berusaha memberikan senyum pada Luna, namun Luna begitu kaku untuk menggerakkan bibirnya, menampakkan senyum terbaiknya pada ibu dari Kaysan ini.
"Kaysan dan Farel, sekarang kedua orang tua kalian sudah berada di sini dan sekarang jelaskan kepada bapak, mengapa kalian berdua sampai berantem saat pelajaran belum dimulai?" Apa masalahnya Farel? mengapa kamu tega memukul adik kelasmu yang masih kecil?"
Kepala sekolah memulai integrasinya kepada kedua anak didiknya ini.
"Itu karena dia selalu memancing teman-temanku untuk menggodaku pak." Ujar Farel dengan jujur.
"Menggoda dalam hal apa?" Tanya pak Angga.
"Karena wajah kami yang sangat mirip dan saya tidak suka dikaitkan dengan seseorang masalah kemiripan wajah." Ujar Farel.
"Apakah itu menyakitkan buat kalian?" Bukankah kalian masing-masing memiliki ayah?" Oh ya Bu Farel bisa saya bertemu dengan ayahnya Farel? dan juga ayahnya Kaysan?" Saya minta kalian menghubungi suami kalian untuk datang ke sekolah karena saya mau kedua ayah mereka juga tahu perlakuan kedua anak ini yang sudah membuat heboh pagi ini."
Duaarrr....
Jantung Luna hampir copot dari tempatnya ketika mendengar permintaan kepala sekolah kepadanya.
Sementara Luna yang sangat panik untuk menjawab permintaan kepala sekolah, sedangkan Sindy dengan santainya menghubungi Farel suaminya untuk datang ke sekolah Kaysan tanpa memberi tahukan alasan sebenarnya pada suaminya itu.
"Ibu Farel silahkan menghubungi suami anda!" Pinta kepala sekolah lagi karena melihat Luna tidak bisa berbuat apa-apa dengan bersikap diam.
"Maafkan saya pak, ayah Farel sudah meninggal." Ucap Luna dengan sangat gemetar karena sesaat lagi ia harus bertemu lagi dengan ayah dari putranya Farel.
"Oh, maafkan saya ibu Farel!" Ucap kepala sekolah merasa sangat bersalah ketika mengetahui Farel adalah anak yatim.
"Tidak apa pak!" Ujar Luna singkat.
"Ya Tuhan, apa jadinya jika putraku nanti melihat wajah ayah kandungnya?" Gumam Luna makin panik.
__ADS_1