Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
19. PART 19


__ADS_3

Sekitar satu jam Farel mencari nama bayi laki-laki yang ada di google, akhirnya ia mendapatkan juga nama yang cocok yang sesuai dengan harapannya.


KAYSAN PARVES : Bijaksana yang mendamaikan.


Farel kembali lagi ke kamarnya karena istri dan putranya sudah selesai di tangani oleh dua orang perawat yang mengurus mereka.


"Sayang, aku sudah menemukan nama yang cocok untuk putra kita." Ujarnya seraya menyerahkan secarik kertas yang sudah ia tuliskan nama putranya.


"Jadi panggilannya KAYSAN?" Tanya Sindy ketika membaca nama itu.


"Bagaimana sayang? apakah kamu menyukainya?" Farel melihat wajah istrinya yang masih mempertimbangkan kembali pilihan nama yang diberikan olehnya.


"Bagus, aku setuju," sahut Sindy tersenyum manis pada suaminya.


"Apakah ada yang ingin kamu rubah?" Tidak apa sayang jika kamu tidak menyukainya." Ujar Farel karena takut istrinya tidak menyukai pilihan nama yang diberikan olehnya.


"Kamu sudah mantap dengan pilihanmu jadi pertahankan apa yang kamu sudah tetapkan, jangan mudah terkecoh karena aku atau siapapun." Ujar Sindy yang menyakini suaminya.


"Baiklah sayangkuh, ku harap nama bayi kita merupakan hasil dari kesepakatan kita bersama yaitu Kaysan." Ujar Farel lalu mengecup bibir istrinya lembut.


Keseharian Sindy dan Farel hanya mengurus baby Kaysan. Kadang bergantian tidur karena baby Kaysan selalu bangun malam dan mengoceh sendiri.


"Sayang, ada yang mengganjal di pikiranku sampai saat ini. Mengapa di saat kamu melahirkan putra kita, kamu meminta maaf kepadaku?" Tanya Farel yang masih penasaran dengan momen berharga saat melahirkan baby Kaysan.


"Itu karena aku merasa saat itu aku merasa sangat kesulitan untuk mengeluarkan baby kita. Aku ingat jika seorang istri durhaka pada suaminya, ia harus meminta maaf agar suaminya ridho padanya.


Nah, kesalahanku banyak padamu, meninggalkan rumah tanpa ijin darimu tanpa memberi kabar dalam pelarianku, sampai kamu sendiri yang menemukanku.


Itu yang membuatku saat itu harus berpikir lagi, jika aku tidak bisa melahirkan dengan selamat dan mati saat itu tanpa ridho dari suamiku, neraka akan menungguku.


Sebab itulah aku meminta maaf padamu dan alhasil aku bisa melahirkan baby kita dengan selamat karena kamu sudah memaafkan aku." Jelas Sindy panjang lebar pada suaminya.


"Jika kamu sudah tahu itu adalah dosa, mengapa kamu nekat meninggalkan aku disaat aku sedang mencari nafkah untukmu?" Farel kembali bertanya alasan kepergian istrinya yang begitu saja tanpa meninggalkan penjelasan untuknya saat itu.


"Karena amarahku, karena kesalah pahamanku, aku nekat pergi dengan menumpangi kereta api menuju Amsterdam Belanda. Karena saat itu, aku sangat kecewa padamu karena kamu tega membongkar aibku pada bundamu, dan belakangan aku baru tahu bahwa kamu tidak melakukannya, melain bajingan itu yang sudah memberi tahu sendiri ibumu. Itulah sebabnya aku sangat menyesal karena telah meragukanmu dan membuatmu kalang kabut mencari diriku." Ucap Sindy dengan penuh penyesalan.


"Apakah kamu tidak sadar, aku hampir gila karenamu, mencarimu ke mana saja tetap saja hasilnya nihil. Dan kamu mendatangi Belanda di mana kenangan buruk tentang ibu dan ayah tirimu yang membuatmu enggan untuk mengunjungi negara ini lagi." Sungut Farel kesal.


"Jika aku mendatangi negara lainnya, pasti kamu dengan mudah menemukanku, makanya aku memilih sesuatu yang ku benci tetapi aman untukku." Timpal Sindy tersenyum manis pada suaminya seakan ia berhasil mengelabui suaminya saat itu.


"Setelah ini, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja, kamu dalam pengawasanku 24 jam." Farel mengancam balik istrinya membuat Sindy mengerucutkan bibirnya.


Melihat istrinya seperti itu Farel langsung melu**t bibir yang sudah membuatnya ketagihan. Keduanya saling mengecap, merasakan setiap sentuhan saling membelit lidah mereka. Mengisap dalam pergumulan nuansa hangatnya rongga mulut mereka.


Keduanya tidak bisa melakukan lebih dari itu karena Sindy saat ini belum menghabiskan masa nifasnya pasca melahirkan baby Kaysan.


Dua bulan berada di Belanda, Farel yang begitu setia menemani baby Kaysan dan istrinya, sangat menikmati hari-harinya menjadi seorang ayah.


Wajah putranya yang sangat mirip dengannya membuatnya makin sayang dengan baby Kaysan.

__ADS_1


Bentuk tubuh Sindy yang kembali ramping seperti sediakala, menggoda suaminya untuk merasakan kembali tempat kenikmatannya itu.


Farel memperhatikan Sindy yang saat ini sedang menyusui putra mereka menatap gemas belahan dada istrinya.


Sindy melirik suaminya yang saat ini lebih fokus menatap belahan dadanya.


"Maaf papa, ini adalah tempat makan aku dulu, dipinjam ya." Ucap Sindy meniru suara anak kecil mewakili putranya.


"Semoga nggak lama ya sayang." Timpal Farel yang merasa iri dengan putranya yang sedang menikmati ASI eksklusif dari sang istri.


"Sayang, mungkin dua bulan lagi kita harus kembali lagi ke Indonesia. Aku tidak bisa terlalu lama di sini karena pekerjaanku yang tidak bisa hanya dilakukan dari jarak jauh." Ucap Farel.


"Tapi aku masih betah tinggal disini sayang." Ucap Sindy manja.


"Tidak sayang!" Aku tidak ingin berjauhan denganmu apalagi putraku sudah lahir. Kamu harus ada disampingku." Pinta Farel.


"Bagaimana dengan orangtuamu, pasti mereka tidak ada menyukaiku." Ucap Sindy.


"Kita tidak tinggal bersama mereka sayang. Kita akan tinggal di apartemen milikku." Ucap Farel.


"Bagaimana kalau bundamu datang dan mengangguku lagi." Sindy belum siap bertemu dengan ibu mertuanya itu.


”Aku akan mengurus itu nanti, yang penting saat ini aku ingin pulang bersamamu ke Indonesia." Titah Farel dengan mimik wajah serius.


"Baiklah sayang, aku akan menurutimu untuk kembali ke tanah air." Ucap Sindy yang akhirnya mengalah untuk kebahagiaan putra mereka Kaysan.


Sebelum meninggalkan negara yang terkenal dengan sebutan negara kincir angin tersebut, Farel mengajak keluarga kecilnya mengunjungi Kanal Amsterdam dan taman bunga Keukenhof.


Taman bunga yang disebut-sebut sebagai salah satu taman bunga terindah di dunia ini terkenal dengan ladang tulip terbesar di Belanda.


Sebagai informasi bunga tulip di Belanda adalah bunga tulip dengan kualitas terbaik di dunia.


Pada bulan Maret sampai Mei pedesaan di Belanda akan berubah menjadi padang bunga yang sangat luas dan indah yang tentunya akan memanjakan mata.


Jenis bunga yang di tanam di taman bunga keukenhof ini antara lain tulip sakura anggrek mawar lavender dan tumbuhan subtropis lainnya.


Puas berwisata menikmati indahnya alam negeri kincir angin tersebut. Kini keluarga kecil itu berkunjung ke restoran untuk menikmati makan siang.


"Apakah kamu puas sayang menikmati taman bunga Keukenhof?" Tanya Farel sambil mengunyah makanannya.


"Tentu saja sayang. Keindahan taman bunga Keukenhof merupakan salah satu bagian dari kemewahan batin yang tidak bisa dinikmati semua orang di dunia ini.


"Coba aku lihat foto-foto lucu kita tadi di taman bunga Keukenhof!" Pinta Sindy yang ingin melihat hasil jepretan kamera milik suaminya.


Farel menyerahkan kameranya pada Sindy. Iapun gantian menggendong baby Kaysan dan membiarkan istrinya menikmati foto-foto momen bahagia mereka hari ini.


"Wah!" Ternyata kamu punya bakat menjadi fotografer handal sayang. Hasil fotomu sangat bagus. Aku sangat menyukainya.


"Kalau mengambil foto gadis secantik kamu dan merupakan mantan model, kamera jelek pun tidak akan iri karena mereka senang memberikan hasil terbaik untuk foto-foto yang sangat cantik itu." Ujar Farel.

__ADS_1


"Huh, gombal!"


🌷🌷🌷🌷


Empat bulan kemudian, Farel memboyong keluarga kecilnya ini kembali ke Jakarta. Ia ingin sekali memberi kejutan untuk istrinya karena sudah lama ia janjikan untuk Sindy.


Karena pesawat jet pribadi mereka tiba di malam hari, Farel meminta Sindy untuk menginap di hotel dekat dengan bandara mengingat putra mereka yang masih bayi.


"Malam ini kita istirahat dulu di hotel, besok pagi kita akan ke apartemen kita." Ucap Farel.


"Padahal ke apartemenmu hanya sebentar sayang dari sini." Ujar Sindy.


"Bukan jaraknya sayang, tapi babynya yang harus kita pikirkan. Tubuhnya lebih lelah dari pada kita orang dewasa, bukankah kamu lebih tahu itu dari padaku, dokter Sindy." Ujar Farel.


"Iya papanya Kaysan kamu yang selalu menang tiap kali mengajak aku berdebat." Ucap Sindy lalu tidur di samping putranya.


"Kamu tidur duluan ya sayang, aku mau bicara sesuatu dengan Rendy di lobby hotel, ada urusan pekerjaan yang harus kami selesaikan malam ini." Farel mengecup bibir istrinya lalu meninggalkan Sindy yang sudah memejamkan matanya.


"Hmm!" Jawab Sindy singkat.


Keesokan harinya, sekitar jam sepuluh pagi, Rendy sudah siap dengan Limosionnya untuk mengantar ratu bosnya dan pangeran kecil Farel ke kediaman baru mereka.


Sindy sangat terkejut melihat mobil mewah itu sudah bertengger di depan lobby hotel di mana Rendy sudah membukakan pintu untuk mereka.


Sesaat Sindy menatap wajah suaminya yang kelihatan pura-pura acuh dengan mengedikkan bahunya pada istrinya.


Sindy bak artis hari itu. Ia mengenakan dress coklat dipadukan dengan Coat hitam dan membiarkan rambut panjangnya yang berwarna coklat tergerai indah. Kaca mata hitam yang dipakainya saat ini menambah kesan glamor walaupun tidak ada perhiasan ditubuhnya kecuali jam tangan branded yang menghiasi pergelangan tangannya.


"Silahkan nona muda, selamat pagi Tuan Kaysan!" Sapa Rendy


Dengan menggendong bayinya Kaysan, Sindy duduk nyaman dalam mobil itu.


"Kita hanya ke apartemen saja, kenapa harus menyambutku seperti ini." Ujar Sindy yang sangat malu dengan perlakuan suaminya.


"Mulai sekarang, kamu adalah Ratu dari Farel Alfarizi, jadi tidak ada alasan bagimu untuk menolak semua kemewahan yang aku siapkan untukmu. Ini bukan tawaran, tapi ini perintah." Ucap Farel.


Mobil itu terus membelah jalanan ibukota Jakarta, namun arah mobil itu tidak menuju ke apartemen milik Farel tapi mobil itu terus bergerak di atas jalan tol menuju arah Bogor.


"Sayang, ini arah menuju Bogor bukan apartemen kamu, sebenarnya kita mau ke mana Farel?" Sindy makin bingung dengan Farel yang saat ini membuatnya makin penasaran.


"Kamu akan tahu setelah kita sampai ke tujuan sayang, kalau aku memberi tahumu dalam perjalanan, tidak ada lagi yang seru yang kamu rasakan." Farel tetap bungkam.


"Rendy, apakah kamu juga tidak ingin memberitahuku rencana bosmu ini?" Sindy beralih pertanyaannya ke asisten pribadi suaminya.


"Aku, bagaimana perintah bosku nona muda, aku tidak berwenang memberitahu apapun pada anda nona." Jawab Rendy dengan melirik kaca spion dalam mobilnya.


"Kalian ini sangat membuatku kesal, sama-sama kompak membuatku mati penasaran." Gerutu Sindy sambil mencium aroma tubuh babynya.


"Jangan dulu mati sayang, sebelum kamu sampai tujuan." Ujar Farel dengan mengedipkan matanya pada wanitanya ini.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mobil itu berhenti sesaat untuk menunggu dua orang yang sedang membuka pintu gerbang yang tingginya sekitar tiga meter.


Di depan sana sudah terlihat mansion yang bercat putih di kombinasikan dengan warna gold di ujung tiang-tiang pemancang di depan teras itu. Ada danau buatan di pinggir jalan masuk ke arah istana itu. Sindy memperhatikan semua itu sampai tiba di depan halaman utama mansion.


__ADS_2