
Satu Minggu kemudian Sindy pamit dari suaminya untuk kembali lagi ke tanah air karena tugasnya sebagai dokter, menuntutnya untuk tidak boleh melepaskan tanggungjawabnya begitu saja sebagai pemilik rumah sakit dan juga sebagai pemimpin di rumah sakit itu.
Walaupun rekan dokter lainnya sudah mahir untuk mengatasi masalah yang sangat rumit dalam menangani pasien yang memiliki berbagai kasus penyakit bawaan selama masa kehamilan mereka, namun kecintaannya pada pekerjaannya membuatnya tidak bisa berleha-leha walaupun itu untuk kepentingan keluarganya.
"Sayang jangan dulu pulang!" Pinta Farel manja pada istrinya.
"Sayang, jika aku mangkir dari janjiku untuk kembali tepat waktu sesuai dengan prosedur rumah sakit yang telah ditetapkan aturannya oleh saya sendiri, maka tidak menutup kemungkinan bawahanku akan seenaknya memperlakukan peraturan rumah sakit kita.
"Tapi kamu pemiliknya, bisa memberikan alasan yang bisa diterima oleh mereka.
"Sayang, justru aku pemiliknya, harus lebih menunjukkan integritas kita sebagai pemimpin yang akan menjadi panutan untuk bawahannya." Imbuh Sindy.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengantarmu pulang dan aku langsung balik lagi ke Jerman dan tidak mengantarkan kamu sampai mansion." Ucap Farel.
Sindy tersenyum bahagia karena suaminya menyempatkan diri untuk mengantarkan mereka pulang.
Tapi malam ini, kamu tidak bisa tidur, karena kita harus menghabiskan waktu sampai fajar tiba dengan terus bercinta." Ucap Farel membuat tubuh Sindy bergidik.
"Kamu akan tidur selama perjalanan menuju Jakarta karena itu adalah waktu istirahatmu." Lanjut Farel.
Ketika melihat anak-anaknya tidur dengan pulas, Farrel merasa paling bahagia saat ini, karena dia tidak akan melewatkan waktu yang tersisa begitu saja karena akan bertempur bersama sang bidadari di atas arena empuk yang menjanjikan kenikmatan.
Sebelum dimulainya pertempuran, Farel menyiapkan makanan yang banyak untuk istrinya yang sudah ia pesan di restoran langganannya.
Makanan khas Jerman yang saat ini sedang dinikmati oleh pasangan ini adalah,
Chicken Schnitzel adalah sajian ayam yang digoreng pipih dengan tepung roti yang populer di Jerman dan Austria.
Ada juga menu khas lainnya yang tidak jauh berbeda dengan menu makanan Indonesia adalah Rouladen.
Rouladen atau yang dikenal dengan rolade merupakan olahan daging sapi tipis yang digulung bersama bawang, acar, dan mustard, dan kemudian dipanggang. Makanan khas Jerman yang mudah dibuat ini secara tradisional disajikan untuk makan malam, dengan pangsit kentang atau kentang tumbuk dan acar kubis merah.
Dan masih ada lagi kue-kue yang bahan dasarnya yang terbuat dari keju dan susu.
"Sayang, pesananmu banyak sekali, hampir satu meja penuh dengan makanan, nanti tiba di tanah air, badanku bisa gendut sayang." Ucap Sindy seraya mencoba dulu kue-kue yang menggiurkan lidahnya.
Farel paling senang kalau lihat istrinya selalu ngedumel dengan mulut penuh dengan makanan, hingga kedua pipinya kelihatan menggelembung.
"Aku yang paling bahagia karena berhasil membuatmu gendut, apa lagi mendapatkan Farel atau Sindy junior." Farel menggoda istrinya sambil menikmati makanannya sendiri.
"Aku sampai bingung, mana duluan yang di makan." Ucap Sindy, memperhatikan tiap hidangan yang ingin ia cicipi berikutnya.
"Makanlah yang banyak sayang, karena kita butuh energi untuk bergulat di arena tempur kita nanti." Imbuh Farel.
"Yang ada aku ngantuk karena kekenyangan." Timpal Sindy membuat papa Farel langsung lemas.
Sindy tertawa geli berhasil membalas suaminya yang selalu membuat hatinya selalu menciut dengan urusan ranjang walaupun ia juga ikut menikmatinya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Farel benar-benar menghajar istrinya hingga menjelang fajar. Kaki Sindy seakan sulit untuk berjalan normal karena terlalu lama menikmati kenikmatan surga dunia.
__ADS_1
Bahkan di dalam kamar mandi, ayah dari dua anak ini tetap tidak ingin rugi. Kesempatan bercinta yang bisa ia manfaatkan untuk mereguk kenikmatan itu sesaat.
"Sayang, sholat subuhnya sudah kesiangan." Keluh Sindy karena tubuhnya juga sudah kedinginan.
"Sebentar lagi sayang, tanggung." Ujar Farel sambil mengayunkan tubuhnya pada milik istrinya yang sudah sangat lemas karena lelah.
Kegiatan percintaan panas pagi itu akhirnya terpuaskan. Farel merapikan tubuh istrinya dengan memakaikan baju untuk Sindy.
Sindy yang malas berdandan memilih untuk tidur lagi karena masih merasa lelah. Apa lagi kedua anaknya belum juga bangun karena udara dingin di luar apartemen hampir menusuk kulit mereka, walaupun belum datang musim salju.
*
*
Tidak lama, kemudian kedua anak Sindy juga ikut bangun. Sindy meminta Farel untuk mengurus keduanya karena tubuhnya masih begitu lelah.
"Mengapa hari ini aku sangat lelah sekali?" Ujar Sindy lalu memejamkan kembali matanya.
"Sayang!" Farel mencoba membangun Sindy karena kedua anak mereka sudah rapi dan sudah sarapan pagi.
Rupanya Sindy masih terlelap dan tidak mendengar suaminya yang sedang mengguncang tubuhnya untuk bangun.
Kaysan mencoba membangunkan mamanya dengan mencium pipi Sindy dan tiba-tiba anak ini berteriak memanggil papanya.
"Papa... papa!" Kaysan menangis mendapati tubuh ibunya saat ini sedang demam tinggi.
"Ada apa sayang?" Kenapa kamu menangis?" Tanya Farel sambil menggendong baby Afta.
"Badan mama hangat, sepertinya mama demam papa." Ucap Farel sambil terisak.
"Astaga!" Farel nampak panik dan mengambil ponselnya untuk menelepon dokter.
Kebetulan dokter yang tinggal satu lantai dengan Farel mudah dihubungi.
"Selamat pagi dokter Caroline!"
"Pagi Tuan Farel!"
"Bisakah anda mampir ke kamar apartemen saya sebentar?" Tanya Farel.
"Apakah anda sedang sakit?"
"Bukan saya, tapi istri saya yang lagi demam saat ini dokter.
"Baiklah kebetulan saya lagi off kerja hari ini, saya akan mampir ke tempat anda Tuan Farel." Ucap Caroline.
Sepuluh menit kemudian, dokter Caroline sudah berada di depan pintu kamar apartemennya Farel.
"Silahkan masuk dokter! istri saya berada di kamar." Farel mengantar dokter Caroline menemui Sindy.
Sindy yang baru saja mengerjapkan matanya ketika melihat ada seorang dokter sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa Farel?" Dan siapa dia?" Tanya Sindy dengan menggunakan bahasa Indonesia.
"Kamu sedang demam sayang, biarkan dokter Caroline memeriksa keadaan kamu." Ucap Farel.
"Permisi Nyonya! saya akan memeriksa keadaan anda.
Sindy mengijinkan tubuhnya di periksa oleh dokter Caroline.
"Anda sedang demam tinggi tapi ada hal yang menarik saat saya memeriksa nadi anda." Ucap dokter Caroline terhenti.
"Ada apa dengan nadi saya dokter?" Tanya Sindy yang belum mengerti ucapan dokter Caroline kepadanya.
"Sepertinya saat ini, anda sedang hamil muda Nyonya Sindy. Bukankah anda harusnya lebih tahu kondisi anda, apa lagi anda seorang dokter spesialis kandungan." Ucap dokter Caroline yang merapikan kembali alat medisnya ke dalam tas kerjanya.
"Apa?" Saya hamil dokter?" Tanya Sindy masih tak percaya walaupun ia tahu sudah dua bulan ini ia tidak mendapatkan siklus menstruasinya.
"Iya Nyonya Sindy sepertinya begitu, anda sedang hamil saat ini." Dokter Caroline lalu kembali kamar apartemennya setelah mengobrol panjang lebar dengan Sindy.
"Terimakasih dokter, mari saya antar." Ucap Farel lalu mengantarkan dokter Caroline sampai depan pintu utama.
Farel menemui lagi istrinya yang masih berbaring lemah.
"Selamat nyonya Farel Alfarizi atas kehamilan anda yang ketiga. Ternyata aku berhasil mendapatkan lagi momongan darimu." Ucap Farel lalu mengecup bibir istrinya.
"Aku masih lemas sayang." Sindy merengek manja pada suaminya.
"Tunda kepulanganmu sayang sampai kamu sembuh. Kabarkan kepada rekan kerjamu bahwa kamu saat ini sedang sakit dan hamil muda, supaya mereka tidak terlalu menunggumu di sana." Ucap Farel lalu meminta Sindy menuliskan resep obat demam yang aman diminum untuk wanita hamil.
Sindy melakukan perintah suaminya dan menyerahkan secarik kertas itu pada Farel untuk ia tebus.
Farel mengirim foto resep itu kepada asistennya Rendy untuk menebusnya, karena ia tidak bisa meninggalkan kedua anaknya dengan istrinya yang saat ini sedang sakit.
"Farel aku mau makan bubur." Pinta Sindy usai menghubungi dokter Kartika yang mengabarkan dirinya saat ini akan menunda kepulangannya dalam waktu yang tidak bisa ditentukan karena kondisi Sindy yang sedang hamil muda.
Farel yang memang sengaja membawa beras dari Indonesia, akhir membuat bubur dengan rice cooker pintar yang bisa membuat bubur dalam waktu satu jam.
Untuk bumbu yang lainnya Farel hanya melihatnya di aplikasi YouTube.
Satu jam kemudian, bubur itu sudah siap di hidangkan. Farel menyuapkan bubur itu pada istrinya.
Kaysan di minta papanya untuk mengajak adiknya bermain bersama karena saat ini dirinya sedang mengurus Sindy yang sedang sakit.
"Apakah kita perlu ke rumah sakit sayang?" Tanya Farel yang melihat keadaan Sindy yang sangat lemah.
"Tidak Farel, aku ingin istirahat saja karena tubuhku seakan remuk redam setelah bercinta denganmu sampai pagi tadi." Ucap Sindy sedikit menahan geram dihatinya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak tahu keadaanmu berakhir seperti ini." Ucap Farel.
Tidak lama Rendy datang membawa obat untuk istri bosnya. Farel segera memberikan kepada istrinya untuk segera diminum supaya demam Sindy berangsur membaik.
Farel menemui Rendy sebentar karena ingin membicarakan tentang pekerjaan mereka.
__ADS_1
"Rendy tolong gantikan aku untuk memimpin rapat lagi ini karena Sindy saat ini sedang hamil muda, aku harus menemaninya sekaligus menjaga anak-anak." Titah Farel pada asistennya Rendy.
"Baik Tuan!" Kalau begitu saya pamit kembali ke perusahaan. Selamat menjadi seorang bapak lagi." Ucap Rendy lalu meninggalkan apartemen bosnya.