Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
8. PART 8


__ADS_3

Jadwal Sindy untuk sesi pemotretan di salah satu fashion baju terbaru, yang akan di launching pertama kali oleh desainer yang terkenal di Toronto.


Perjanjian kontraknya itu tidak bisa dibatalkan begitu saja karena dendanya lumayan mengerihkan jika ia lalai melakukannya.


Sindy membangunkan Farel yang masih tertidur lelap di sofa apartemen milik lelaki tampan itu.


"Hei bangunlah Farel! aku harus ke Toronto Canada sekarang, ada jadwal pemotretannya di sana." Ucap Sindy buru-buru.


"Aku akan mengantarmu." Ucap Farel yang tidak ingin kehilangan kekasihnya itu lagi.


"Terserahlah, yang penting aku tidak boleh terlambat." Ucap Sindy.


"Baiklah kalau begitu gunakan pesawat jet milikku saja jika kamu tidak ingin terlambat." Ujar Farel.


"Tidak perlu, aku tidak ingin memanfaatkan fasilitasmu." Tolak Sindy tegas.


"Inikan demi profesionalitas dirimu untuk selalu menjunjung kedisiplinan bukan?" Farel tetap pada pendiriannya.


"Kau ini selalu mencari alasan untuk menggertakku dan sekarang pekerjaan aku yang kamu jadikan untuk bisa bersamaku." Sindir halus yang terlontar dari mulut Sindy.


"Masih mau bicara atau bersiap-siap sayang?"


"Baiklah aku harus ke apartemenku sekarang."


"Aku ikut."


"Terserah!" Bentak Sindy.


Farel tersenyum senang karena ia bisa bersama sang kekasih ke manapun gadis itu mengikuti kegiatannya.


Tidak butuh waktu lama, Sindy sudah rapi dengan mengenakan celana jins dan t-shirt berwarna putih dibalut Coat warna hitam. Kaca mata hitam bertengger indah dihidungnya yang mancung.


"Baby, jangan terlalu cantik karena aku bisa saja khilaf padamu." Farel menggoda Sindy yang memang saat ini sangat cantik.


"Cepatlah ke bandara Farel, aku tidak ingin telat." Pinta Sindy yang kelihatan panik.


"Lebih telat lagi kalau kamu naik pesawat komersil." Timpal Farel


Farel makin mempercepat laju mobilnya agar cepat sampai ke bandara di mana pesawat jetnya siap mengantar sang ratu ke lokasi pemotretan.


Di pesawat jet pribadi milik Farel, Sindy nampak terpukau dengan pemandangan indah yang ada di dalam kabin pesawat.


Desain interior yang sangat elegan, menghipnotis mata yang sedang menikmati ruang kabin pesawat jet tersebut.


"Apakah ini orang sangat kaya?" Sindy menghela nafasnya lembut.


"Farel aku mau pipis." Ucap Sindy yang dari tadi sudah menahannya.


"Sini sayang di dalam sini." Farel menggandeng tangan wanitanya ke dalam kamar pribadinya yang ada di dalam pesawat tersebut.


Sindy masuk ke kamar mandi itu dan lagi-lagi, ia di buat tercengang dengan fasilitas kamar mandi yang juga sangat lux.


"Astaga!" Sindy sempat ia termangu sesaat lalu buru-buru pipis.


Ketika sudah selesai dan keluar dari kamar mandi, rupanya Farel menunggunya di atas tempat tidur.


"Ayo Farel kita keluar!" Ucapnya sambil berlalu.


Farel merangkul pinggang Sindy dari belakang hingga membuat Sindy spontan berontak.


"Farel lepaskan aku!" Pinta Sindy yang tidak enak hati dengan dua pramugari yang ada di luar sana.


"Pesawatnya masih lama sayang, kita beristirahat sejenak di sini." Titah Farel yang sudah menghimpit tubuh Sindy.

__ADS_1


"Tapi nggak enak dengan yang...,?"


Bibir itu langsung dibungkam dengan ciuman lembut.


Farel tidak bisa menahan dirinya karena wanita ini membuatnya mabuk setiap saat.


Hanya ciuman panas yang bisa ia lakukan kepada Sindy. Gadis itu menerima perlakuan Farel hanya sebatas ciuman dan tidak lebih dari itu karena mereka semalam sudah berkomitmen untuk menikah terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan terlarang itu.


Puas berciuman, Farel mengambil beberapa makanan yang ada di kulkas yang sudah di siapkan oleh pramugari jika ia ingin berpergian.


"Makan dulu srealnya sayang dan minum susu atau jus yang kamu inginkan. Kamu belum makan sejak tadi berangkat dari apartemen." Pinta Farel yang sudah menyiapkan semuanya untuk Sindy.


Kebetulan Sindy memang sangat lapar, makanya ia mau menikmati makanan itu dengan senang hati.


Farel tersenyum melihat wanitanya yang saat ini sedang melahap makanan dengan sangat cepat.


"Apakah kamu sangat lapar sayang?" Farel menggoda Sindy.


Sindy tidak pedulikan pertanyaan Farel yang sengaja menggodanya.


"Ya Tuhan, kamu sangat cantik dengan tingkahmu seperti anak-anak, sayang." Ucap Farel membatin sambil terus menatap wajah kekasihnya.


"Kamu tidak makan?" Apakah ada masalah dengan wajahku?" Tanya Sindy.


"Aku sudah kenyang hanya dengan melihatmu saja." Ucap Farel.


"Berhentilah menggombaliku, karena aku tidak akan tersanjung dengan pujianmu." Wajah Sindy memerah karena sangat malu ditatap Farel seperti saat ini.


Karena melihat Farel tidak menyentuh makanannya, akhirnya Sindy mengambil mangkuk Farel yang berisi sereal itu lalu menyuapkan makanan untuk Farel.


Farel tidak menyangka akan diperlakukan Sindy seperti ini. Ia memang tidak menyukai perempuan yang dikencaninya menyuapinya makan, tapi entah mengapa dengan Sindy, hatinya jadi kembang kempis seperti ini.


"Sindy!"


"Aku menyesal, mengapa Tuhan baru mempertemukan kita sekarang ini?" Mengapa tidak sejak awal saat kamu baru kuliah mungkin, karena usiaku denganmu hanya terpaut tiga tahun. Itu berarti aku bisa menikahimu saat kamu masih kuliah atau baru lulus SMA." Ucap Farel serius.


"Rencana Allah lebih indah Farel, jangan pernah mendahului ketentuan Allah." Sindy menasehati kekasihnya.


Tidak lama kemudian Pesawat mereka akan mendarat di bandara setempat, Toronto Canada.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Karena pemotretannya di outdoor, Farel meminta anak buahnya siapkan helikopter setelah mereka tiba di bandara Toronto.


Sindy yang tidak tahu apa yang dilakukan kekasihnya ini untuk menyelamatkan reputasinya di dunia modelling sangat terkejut, ketika mereka turun dari pesawat dan langsung menuju helikopter. Yang lebih mengejutkan Sindy ketika ia di turunkan di tempat tidak jauh dari lokasi pemotretan hingga mengundang teman-teman seprofesinya menengok ke arah helikopter itu turun di atas tanah lapang tersebut.


Farel yang turun terlebih dahulu dan membantu Sindy untuk turun.


Helikopter itu meninggalkan keduanya dan kembali ke bandara.


"Farel kenapa harus berlebihan seperti ini?" Sindy salah tingkah dengan perhatian Farel padanya.


"Lihatlah bukankah sesi pemotretan sebentar lagi akan dimulai?" Farel memperhatikan teman-teman Sindy sudah berada di lokasi dengan baju rancangan oleh desainer yang juga ikut dalam acara pemotretan tersebut.


"Tapi aku sangat tidak enak dengan teman-temanku, mereka akan membully diriku." Ujar Sindy cemberut.


"Jika ingin sukses, abaikan cibiran teman-temanmu karena setiap wanita akan cemburu jika ia tidak bisa mendapatkan apa yang diinginkannya sama seperti orang lain. Dan itu sifat yang sangat buruk." Imbuh Farel.


"Hai Sindy, siapa pria tampan itu? Tanya Jeniffer sambil menatap lekat wajah Farel.


"Aku tunangannya." Jawab Farel asal.


"Sejak kapan kalian bertunangan? Apakah kalian sudah lama saling mengenal?" Tapi kenapa aku baru melihat tunanganmu Sindy? apakah kamu sengaja merahasiakan hubungan kalian dari kami?" Tanya Jeniffer, gadis yang paling angkuh diantara mereka, yang ingin menaklukkan hati lelaki manapun untuk bisa ia ngeretin hartanya.

__ADS_1


"Bukan urusanmu." Sindy berlalu dari hadapan Jenifer karena gilirannya yang sebentar lagi akan melakukan sesi pemotretan.


Ia menuju ke ruang ganti di mobil yang sudah disiapkan semua baju yang akan diluncurkan bulan ini.


Sindy mulai melakukan gerakan sesuai arahan fotografer yang mengambil pose Sindy dari angel manapun.


Farel menikmati pose Sindy dengan wajah datarnya namun sangat elegan. Setiap gerakan Sindy, fotografer itu tidak sulit mengambil foto gadis ini.


Sekitar lima baju yang dipakainya disesi pemotretan itu. Farel menarik nafasnya karena sudah terlalu lama fotografer itu seakan sedang menikmati kecantikan Sindy.


"Apakah masih cukup lama?" Tanya Farel pada desainer tersebut.


"Sekitar sepuluh menit lagi Tuan, Sindy akan selesai pemotretannya. Hanya dia yang bisa melakukannya. Auranya sangat keren dengan gayanya yang membuat hasil rancanganku lebih kelihatan hidup. Kalau teman-temannya hanya buat pemanis saja. Karena model utama kami hanya Sindy yang kami percayakan keberhasilan penjualan baju rancangan kami ini." Ujar desainer itu sambil memperhatikan cara Sindy memperlakukan hasil rancangannya.


Bukan hanya memusatkan pada sesi pemotretan saja, tapi mereka juga mengambil video tiap gerakan pose Sindy untuk di upload ke aplikasi YouTube sebagai nilai jualan lanjutan.


🌷🌷🌷


Farel menarik tangan kekasihnya untuk cepat-cepat meninggalkan tempat tersebut setelah semuanya sudah tidak ada lagi kepentingan pemotretan dirinya dengan perusahaan desainer tersebut.


"Farel kenapa harus seperti ini, aku jadi tidak enak dengan desainernya pergi begitu saja.


"Berapa mereka membayarmu hingga kamu mati-matian memperjuangkan segalanya demi produk mereka." Farel tidak terlalu suka dengan gaya hidup Sindy yang lebih mengekspos tubuhnya didepan kamera dengan menggunakan baju-baju yang juga setengah terbuka hingga memperlihatkan bagian tubuhnya.


"Apa masalahmu dengan bertanya seperti itu?" Tanya Sindy kurang suka mendengar pertanyaan itu.


"Karena seluruh tubuhmu adalah milikku dan aku tidak mau kamu memperlihatkan kepada semua orang dengan baju-baju murahan itu." Farel mulai posesif dengan Sindy.


Sindy hanya diam, menyimak semua perkataan Farel padanya.


"Apakah dia serius ingin menikahiku, apakah aku hanya sedang mendengar hembusan angin surga yang datang sesaat kemudian menghempaskan aku ke jurang neraka lagi." Gumam Sindy dalam diamnya.


"Sekarang kita keliling kota Toronto, apakah kamu mau?"


"Baiklah!" Ucap Sindy lalu duduk di dalam mobil mewah milik Farel yang sudah menunggu mereka.


"Tolong tersenyumlah Sindy, jangan cemberut seperti itu." Farel melihat kekasihnya yang kelihatan menjadi pendiam.


Mobil itu memasuki salah satu tempat wisata yaitu Aquarium reply Canada. Farel sengaja membawa Sindy ditempat itu, agar gadis ini lebih rileks menikmati hidupnya dan tidak terbelenggu dengan masa lalu.


Sindy begitu menikmati pemandangan biodata laut yang terperangkap dalam kaca besar itu. Hari itu pengunjung hanya sedikit karena bukan hari libur.


Farel menggenggam erat tangan Sindy seperti gadis ini akan kabur darinya. Baru saja mereka ingin keluar dari tempat itu, tiba-tiba seorang ibu muda yang sedang hamil besar menjerit karena terserang kontraksi hebat pada perutnya.


"Oh, tolong aku perutku sangat sakit." Pekiknya membuat semua mata tertuju padanya karena wanita muda itu tidak kuat lagi berjalan dan suaminya kelihatan sangat panik.


Sindy melihat itu sangat bingung karena dirinya bukan lagi seorang dokter.


"Apakah kamu diam saja melihat wanita itu kesakitan? Lihatlah ketubannya sudah merembes di betisnya bercampur darah. Sindy kamu dengar aku!" Bentak Farel membuat Sindy sadar dari lamunannya.


"Tolonglah istriku, adakah diantara kalian dokter?" Teriak lelaki itu histeris.


"Istri saya yang akan menolong istrimu Tuan." Ucap Farel lalu menarik Sindy untuk menolong ibu muda itu.


"Baiklah, amankan tempat ini, saya akan membantunya melahirkan." Ucap Sindy berusaha tenang.


Petugas aquarium tersebut memberi penghalang agar lebih privasi saat Sindy membantu gadis muda ingin melahirkan.


"Nona, apakah ini anak pertama?" Sindy berusaha mengajak mengobrol pasiennya.


"Iya," jawab gadis itu singkat.


"Pembukaannya sudah sempurna, ikuti aba-abaku, dalam hitungan ketiga anda harus mengejan sekuat tenaga.

__ADS_1


__ADS_2