
Tiga hari kemudian setelah keadaan Resty membaik walaupun belum bisa diijinkan pulang oleh dokter karena harus melanjutkan pengobatan kemo kangker paru-paru yang dideritanya.
Sindy minta ijin untuk kembali ke Jakarta karena ia sendiri harus mempersiapkan dirinya untuk menanti kelahiran anaknya yang ketiga.
"Kak Sindy terimakasih sudah menyelamatkan kami berdua. Dari dulu aku ingin sekali bertemu dengan kak Sindy tapi tidak pernah diijinkan oleh bunda."
Resty begitu merasa serba salah dengan kakak iparnya karena selama abangnya Farel menikahi Sindy, tidak sekalipun mereka berkomunikasi.
Sekalinya butuh, baru bisa bertemu seperti sekarang ini.
"Tidak apa Resty, mungkin aku yang terlalu sibuk sehingga tidak pernah menghubungi kalian. Mulai sekarang kita bisa berkomunikasi tanpa ada hambatan lagi."
Sindy berusaha untuk memaklumi keadaan yang tidak berpihak padanya karena keangkuhan ibu mertuanya yang menutup semua akses untuk tidak bisa saling berhubungan satu sama lain.
"Resty, semoga cepat sembuh. Kami harus pulang ke Jakarta karena Sindy sebentar lagi mau lahiran."
Farel ikut nimbrung dalam obrolan kedua wanita yang sangat ia cintai ini. Sakitnya Resty secara tidak langsung membawa keberkahan untuk istrinya. Hubungan silaturahim mereka akan terjalin selamanya.
Mereka pun saling berpelukan dan berjanji akan kembali bertemu jika Resty sudah dinyatakan sembuh oleh dokter di rumah sakit setempat.
*
*
Setibanya di Jakarta, Sindy tidak lagi beraktivitas di rumah sakit KAYSAN. Seperti karyawan rumah sakit pada umumnya, ia juga mengambil cuti untuk masa menunggu kelahiran bayinya yang ketiga.
Farel juga tidak ingin jauh dari istrinya. Ia juga ingin menemani Sindy karena sewaktu-waktu istrinya membutuhkannya jika mengalami kontraksi mendadak. Setidaknya ingin menjadi suami siaga bagi Sindy walaupun memiliki rumah sakit sendiri yang jaraknya cuma lima menit dari mansionnya.
Di tempat yang berbeda, asisten Rendy yang sudah menikah dengan dokter Alea secara singkat yang hanya berlangsung di kantor agama di daerah Jakarta Selatan. Kini keduanya terlihat canggung dan sulit untuk beradaptasi.
Dokter Alea yang masih enggan tidur sekamar dengan sang suami membuat Rendy harus ekstra sabar.
__ADS_1
"Tidak apa de, jika kamu tidak ingin kita berhubungan intim layaknya suami istri, aku paham akan hal itu." Ujar Rendy penuh bijak.
"Mengapa kamu nekat menikahi wanita kotor sepertiku. Aku lebih hina dari pada perempuan malam yang terang-terangan menjajakkan tubuh mereka karena rupiah.
Tapi, aku hanya tergiur dengan harta dan nama besar lelaki sialan itu, memilih menjerumuskan diriku hanya dengan gairah cinta sesaat. Pada akhirnya aku hanya mencintai dan mendapatkan penghinaan terbesar dari keluarganya atas ketamakanku. Bahkan aku jijik mengandung anak keturunan bajingan itu."
Dokter Alea menumpahkan semua kekesalannya kepada Rendy yang hanya mendengar perkataan rutukan untuk mantan kekasih istrinya ini.
"Apakah kamu tidak berpikir baik buruknya saat kamu menginginkan sesuatu darinya dengan cara yang bodoh?" Sindir Rendy membuat hati dokter Alea makin terpelintir.
Begitu sakit dan terdengar kejam.
"Hah!" Ternyata kamu ketus juga menanggapi penderitaanku. Apakah kamu menikahiku hanya untuk menyampaikan kata-kata dendammu padaku?" Dokter Alea menarik sudut bibirnya dengan wajah yang makin masam memandang tampang lelaki yang menikahinya karena kecelakaan.
"Jika semuanya sudah terlanjur, mengapa harus mengeluh?" Sebanyak apapun yang kamu katakan, kau dan anak itu tidak bisa terpisahkan. Kesalahan yang kalian perbuat mengapa kamu timpakan itu pada bayi yang tidak berdosa?" Timpal Rendy sarkas.
"Berhentilah menyudutkanku. Aku menerima kesepakatan menikah denganmu bukan untuk mendengarkan bullyanmu padaku."
"Setelah anak ini lahir, mari kita bercerai karena aku tidak lagi membutuhkanmu setelah itu."
Pintu kamarnya kembali dibanting hingga membuat Rendy terperanjat dari duduknya.
"Apakah itu bawaan wanita hamil atau sifat aslinya seperti itu?"
Rendy menggeleng- nggelengkan kepalanya menyesalkan sikap dokter Alea kepada dirinya.
"Tahu kalau hanya hinaan yang aku dapatkan dari asisten sialan itu, mending aku tidak perlu menerima pinangannya. Di mana-mana semua lelaki sama saja."
Dokter Alea membanting apa saja yang ada di nakasnya, padahal kamar utama yang ia tempati adalah milik Rendy karena sejak menikah dengan Rendy, lelaki tampan ini memboyongnya ke apartemen miliknya.
Ia tidak bisa tinggal di apartemen kecil milik dokter Alea, apa lagi hanya hunian sewaan saja.
__ADS_1
Apartemen milik Rendy lebih mewah dari pada apartemen milik dokter Alan yang pernah ditinggali oleh dokter Alea. Memang dasar gadis ini yang tidak tahu berterima kasih kepada lelaki yang sudah menyelamatkan aibnya tetap saja meremehkan Rendy yang hanya sekedar asisten dari Tuan Farel.
Setiap curahan hati dokter Alea pada dua sahabatnya dokter Amanda dan dokter Kartika, Amanda justru merasa muak dengan sikap dokter Alea yang dianggapnya terlalu angkuh.
"Sudah syukur loe dinikahin sama Rendy, setidaknya martabat loe tidak diinjak olehnya, masih pakai acara belagu segala. Ih, amit-amit."
Dokter Amanda menyentuh makan siangnya dengan tatapan bergidik mendengar celotehan dokter Alea tentang lelaki pujaannya.
"Jadi kamu tidak ingin tidur sekamar dengannya?" Kartika mulai kepo.
"Aku tidur sekamar dengannya?" Pernikahan apa yang saat ini aku jalankan kalau bukan hanya sebagai status yang saat ini aku butuhkan." Dokter Alea membuang wajahnya dan beralih menatap taman bunga yang ada di dekat kantin rumah sakit KAYSAN.
"Setidaknya dia sudah berusaha membahagiakanmu Alea. Jangan terlalu jual mahal, karena yang menyukai Rendy juga masih banyak di luar sana. Ketika kamu ingin menyingkirkan dirinya dari hidupmu setelah bayimu lahir, di situlah kamu merasakan ketulusan akan cintanya padamu."
Dokter Kartika sengaja memanasi hati dokter Alea karena dia tahu jika dokter Amanda saat ini masih berharap akan cinta Rendy.
"Masih ada yang mau tampung laki loe, dokter Alea. Jangan terlalu so cantik kalau sudah jadi barang second." Gumam dokter Amanda membatin.
"Aku ingin bercerai dengannya jika anakku nanti lahir. Nyesal gue terima asisten itu menjadi suami gue."
Dokter Alea masih saja menggerutu membuat dokter Amanda makin bersorak kegirangan.
"Jadi orang tuh harus banyak bersyukur karena tidak semua lelaki berbesar hati untuk menerima anak orang lain menjadi anaknya."
Sindiran pedas dokter Amanda membungkam nyinyiran dokter Alea yang terus saja menjatuhkan harga diri suaminya di hadapan kedua sahabatnya ini.
Setelah berkata pedas pada dokter Alea, Amanda beranjak pergi meninggalkan kedua sahabat ini yang melongo mendengar perkataan dokter Amanda.
"Kenapa dia dokter Kartika?" Perasaan gue nggak bahas dia deh, ko jadi dia yang tersinggung saat gue ngomongin laki gue."
Alea tidak begitu suka dengan balasan komentarnya dokter Amanda pada nasib pernikahannya.
__ADS_1