
Sindy mendatangi salah satu kedai makanan langganannya semasa ia masih kuliah dulu. Ia kepingin mencicipi bubur ayam yang sangat terkenal di dekat kampusnya itu.
Saat Sindy masuk semua mata menatap wajahnya. Karena menggunakan kacamata hitam, ia berlalu melewati para pengunjung dan mencari tempat yang paling pojok untuk duduk di salah satu meja makan yang sering menjadi tempat favoritnya.
Setelah memesan buburnya pada pelayan, Sindy membuka file yang masuk melalui email-nya, untuk melihat jadwal show yang akan dilakukannya tiga hari lagi.
"Dokter Sindy!" Sapa pemilik kedai bubur ayam itu.
"Eh Bu Wulan, apa kabar!" Sapa Sindy ramah lalu menyalami Bu Wulan.
"Sekarang praktek di mana neng?" Tanya Bu Wulan yang sudah lama tidak melihat Sindy.
"Saya bekerja di rumah sakit luar negeri Bu Wulan." Ucap Sindy membohongi Bu Wulan.
"Tapi gaya dokter seperti model." Ucap Bu Wulan sekenanya.
"Kebetulan saja jadi model-modelan Bu Wulan." Keduanya terkekeh.
"Apakah dokter sudah menikah?"
"Sudah bibi?"
"Dengan dokter itu?"
"Tidak bibi, dengan orang lain." Sindy menggeleng lemah lalu menyesapkan teh manis hangat miliknya.
"Syukurlah kamu tidak jadi dengan dokter itu, saya nggak suka melihatnya. Ya sudah kamu makan dulu bubur ayamnya, nanti keburu dingin." Ucap Bu Wulan lalu kembali ke tempat kasir.
Di perusahaan milik Farel, pria tampan ini memimpin rapat hari ini berjalan dengan lancar. Tuan Rasya kagum dengan kemimpinan putranya. Ia kemudian menghampiri putranya di ruang kerjanya usai meeting.
"Apa kabarmu nak!" Tanya Tuan Rasya lalu memeluk putranya.
"Baik ayah!" Ucap Farel.
Cek lek!" Pintu dibuka.
Rupanya nyonya Alya yang datang.
"Farel sayang, putraku..!" Nyonya Alya mengecup kening putranya.
"Tumben, ayah dan bunda menemuiku di sini."
"Kapan lagi bertemu denganmu, kamu selalu saja menghilang." Ucap bundanya dengan wajah kesal.
"Berarti pasti ada hal yang penting yang ingin kalian sampaikan padaku." Farel merasa curiga pada kedua orangtuanya.
Farel adalah putra pertama dari keluarga Tuan Rasya Alfarizi. Ia memiliki dua adik perempuan yang sekarang menetap di Australia mengikuti suami mereka. Hanya Farel yang saat itu belum memikirkan untuk berkeluarga.
"Itu kamu tahu, kamu pasti bisa menebaknya apa keinginan kami sayang, selain berharap kamu menikah secepatnya. Kedua adikmu sudah memberikan kami cucu. Tinggal kamu yang belum." Ucap bundanya.
"Cucumu entar lagi datang bunda, sekarang lagi otw." Ucap Farel frontal.
"Kalau dengan perempuan nggak benar, bunda tidak mau Farel, bunda membebaskanmu berkencan dengan perempuan mana saja, tapi bukan berarti kamu menikahi mereka." Ujar bundanya tegas.
"Dia perempuan baik-baik mommy, dia juga seorang dokter kandungan, putramu ini tidak mau salah pilih." Ucap Farel yang mulai memperkenalkan Sindy pada orangtuanya.
"Apakah orangtuanya memiliki perusahaan?" Sindir Nyonya Alya sinis.
"Dia gadis yatim-piatu, dia berjuang mendapatkan bea siswa dengan kepintarannya." Farel mulai emosi.
"Kalau gadis dari panti asuhan belum tentu memiliki kejelasan status, bisa jadi mereka itu adalah anak hasil hubungan zina orangtuanya." Nyonya Alya sengaja mempengaruhi putranya.
"Bunda!" Apakah bunda sudah menelusuri setiap kehidupan anak-anak itu?" Siapa kedua orangtuanya, apakah mereka semua berstatus yang sama?" Farel makin geram.
"Pasti dia punya niat jahat untuk mendapatkan kehidupan yang nyaman di keluarga kita." Timpal nyonya Alya.
"Sayangnya bunda salah dalam hal ini. Bunda tidak mengenal siapa dia. Aku yang mengejarnya, mencarinya sampai satu tahun baru ketemu dengannya sejak dia menabrak kaca spion mobilku, aku melihatnya pertama kali, langsung jatuh cinta padanya, namun sayang keesokan harinya dia menghilang. Setelah menemukannya lagi tanpa di sengaja, aku tidak ingin melepaskannya." Farel menjelaskan keadaan sebenarnya kepada orangtuanya.
__ADS_1
"Tapi ayah sudah menerima perjodohanmu dengan putri sahabat ayah yang sederajat dengan kita Farel." Ucap Tuan Rasya.
"Aku tidak butuh derajat ayah, aku butuh cinta dan kebahagiaan ayah, tolong jangan menolaknya atau aku akan mengakhiri hidupku." Farel mengancam kedua orangtuanya.
Setelah itu ia meninggalkan kedua orangtuanya yang belum selesai bicara dengannya.
"Farel tunggu sayang, bunda belum selesai bicara denganmu." Nyonya Alya memanggil putranya yang sudah kabur dari mereka.
"Siapa gadis itu sebenarnya, beri dia uang dan minta dia meninggalkan putra kita." Ucap Tuan Rasya pada istrinya.
"Farel akan membuktikan kebenaran ucapannya, sayang. Aku tidak mau putraku satu-satunya nekat mengakhiri hidupnya." Nyonya Aliya menutup wajahnya sambil menangis.
"Dia tidak akan melakukannya sayang." Tuan Rasya menghibur istrinya.
Keduanya juga sudah meninggalkan perusahaan putranya.
Diperjalanan, Farel mencari keberadaan istrinya dengan menggunakan sinyal JPS. Ia sengaja memasang semua mobilnya dengan penyadap.
"Rupanya kamu di Mall sayang." Farel mempercepat laju kendaraannya agar bisa bersama sang istri.
🌷🌷🌷🌷
Sudah sekitar jam satu siang, Sindy ingin sekali nonton di bioskop, tapi waktunya untuk kembali ke Paris Perancis sebentar lagi.
Ia duduk disalah satu food court dan memesan beberapa jenis makanan kesukaannya.
"Hallo sayang!" Sapa Sindy.
"Apakah kamu sedang merindukanku sayang?" Tanya Farel yang sudah berada di balik punggung istrinya.
Farel tersenyum dengan merentangkan kedua tangannya, Sindy langsung menghamburkan pelukannya kepada pria tampan yang seharian ini membuatnya sangat rindu.
Adegan itu membuat pengunjung lain merasa iri, dan tak di sangka diantara pengunjung itu ada dokter Alan yang sedang menikmati makanannya bersama teman dokter lainnya.
"Sindy?" Ucap dokter Alan yang melihat sosok Sindy yang semakin cantik.
"Tahu kalau gadisku itu disini, aku akan menghampirinya, ah sial!" Ucapnya membatin.
"Kenapa dokter Alan, apakah anda baik-baik saja?" Tanya teman sejawatnya ketika melihat wajah dokter Alan sangat merah padam karena menahan amarah.
"Ayo kita tinggalkan tempat ini!" Ucap dokter Alan.
Farel ikut mencicipi makanan yang dipesan Sindy.
"Mengapa pesananmu banyak sekali sayang?" Tanya Farel melihat lima macam makanan yang ada di atas meja.
"Oh, aku sengaja aja pesan banyak makanan siapa tahu kamu akan menjemputku disini." Ucap Sindy bohong.
"Alhamdulillah, terimakasih cantik, kamu sangat pengertian sayang." Farel memakan makanan yang Sindy pesan untuknya.
"Jam berapa kita otw Paris sayang?" Tanya Sindy.
"Kita langsung ke bandara setelah kamu menghabiskan makananmu sayang, aku tidak betah lama-lama di Jakarta." Farel menghindari orangtuanya yang ingin menjodohkannya.
"Baiklah, ayo sayang, aku juga ingin cepat ke Paris Perancis karena ada kerjaan yang sedang menungguku." Ucap Sindy.
Keduanya meninggalkan food court menuju tempat parkir.
"Dokter Sindy!" Teriak seorang wanita yang mengenali Sindy.
"Dokter Inka!" Sindy memeluk teman kuliahnya itu.
"Kamu ke mana saja, mengapa kamu belum mengambil ijazah S2-mu?" Tanya Inka.
"Aku sudah mengambilnya nona Inka." Ucap Farel membuat Sindy sangat kaget.
Farel hanya mengangkat kedua pundaknya lalu mengulurkan tangannya pada Inka.
__ADS_1
"Aku suaminya Sindy." Farel memperkenalkan dirinya pada teman istrinya.
"MasyaAllah, kamu Sindy, diam-diam mancing cowok setampan ini." Seloroh INKA yang suka bercanda dengan Sindy.
"Maaf ya, Inka, aku harus segera pergi karena ada pekerjaan yang menungguku." Sindy mengecup pipi temannya tanpa menjelaskan apapun pada Inka.
"Oh iya silahkan!" Inka hanya termangu menatap kepergian Sindy.
"Apakah kalian akrab saat masih kuliah dulu?" Tanya Farel kepada istrinya.
"Aku tidak pernah memberikan kesempatan kepada teman-temanku untuk menjalin keakraban diantara kami." Ucap Sindy sambil menggenggam tangan suaminya.
"Mengapa begitu, bukankah wanita sangat identik dengan persahabatan." Ujar Farel.
"Aku tahu, tapi tidak semua kehidupan pribadi kita diumbar di depan sahabat. Jika seseorang terlalu dekat maka apapun urusan pribadi temannya, dia ingin selalu mau tahu terlebih temannya memiliki kelebihan ini dan itu, mereka yang paling sibuk untuk mengorek informasi sampai mendetail dan aku tidak suka akan hal itu." Timpal Sindy.
"Jadi selama ini, kamu. hidup seorang diri tidak membutuhkan mereka?" Tanya Farel.
"Enak juga begitu, makanya aku selalu belajar lebih keras dan berdoa lebih kuat serta mengetahui segala hal agar aku tidak perlu mengandalkan orang lain untuk membantuku."
"Ya Tuhan, kamu ini sangat mandiri sayang. Aku suka dengan cara berpikirmu, kamu tidak mudah cengeng dalam hidupmu yang serba sulit."
"Walaupun begitu, aku tetap membutuhkan seseorang yang harus melindungiku dan aku telah menemukan kamu cinta." Imbuh Sindy, membuat Farel tersenyum bangga karena dirinya sangat penting untuk wanitanya ini.
"Sayang, kamu memiliki segalanya yang tidak dimiliki oleh wanita lain. Kamu memiliki kecerdasan, percaya diri, bakat, kecantikan dan wawasan ilmu pengetahuan sangat berkualitas. Itu sudah menjadi modal utama untuk membawamu kepada kesuksesan. " Farel memuji sang istri tercinta dengan sangat bangga.
"Sayang!"
"Hmmmm!"
"Apakah kamu tidak ingin menjadi dokter lagi?"
"Tolong jangan bahas itu dulu sayangku, karena saat ini aku harus menyelesaikan satu persatu urusanku di dunia modelling.
"Ok, maaf sayang!"
"Apakah kita tidak ke rumah orang tuamu sayang?" Tanya Sindy.
"Tolong jangan bahas itu dulu karena suasana hatiku lagi berbunga-bunga saat ini."
Farel sepertinya menghindari pertanyaan Sindy yang sudah menyangkut orangtuanya.
Dia tidak ingin Sindy tahu kalau ibunya sedang menjodohkan dirinya dengan wanita lain.
"Jika kamu tahu saat ini, orang tuaku sedang mencarikan calon istri untukku, pasti kamu akan kabur lagi dariku sayang." Gumam Farel membatin.
"Farel, aku ingin membeli dulu makanan khas Indonesia untuk dibawa ke Paris Perancis." Pinta Sindy saat mereka toko yang menjual melewati pusat oleh-oleh yang berada di daerah Jakarta Selatan.
"Baiklah sayang!" Ucap Farel.
"Apakah saat ini dia sedang mengidam?" Gumam Farel membatin.
"Sayang, apakah kamu saat ini sedang hamil?" Tanya Farel.
"Aku lebih tahu dengan diriku sayang, jika aku hamil maka aku harus mengganti rugi kontrak perjanjian saat pertama kali masuk agensi model." Ucap Sindy.
"Tapi aku ingin sekali punya anak darimu sayang." Farel seakan sangat kecewa dengan jawaban Sindy yang lebih memikirkan karirnya saat ini.
Pesawat jet pribadi milik Farel itu, kembali lagi ke kota Paris Perancis. Farel dan Sindy masih ingin menghabiskan waktu kebersamaan mereka karena Sindy akan kembali melakukan show ke beberapa negara Eropa sebagai model.
Farel tidak ingin menghalangi keinginan istrinya yang saat ini. masih terikat kontrak dengan agensinya.
Bagi Farel bersama dengan Sindy adalah suatu keberkahan yang harus ia syukuri saat ini. Ia ingin membahagiakan wanitanya walaupun dia harus menentang kedua orangtuanya.
"Sayang, apakah kamu tidak ingin tidur?" Tanya Farel yang melihat istrinya masih membuka email yang masuk.
Sindy melihat semua jadwal pemotretannya untuk seminggu ke depan.
__ADS_1
"Sebentar lagi sayang aku akan tidur." Ucap Sindy lalu mengecup bibir suaminya.