Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
15. PART 15


__ADS_3

"Apa yang bunda lakukan kepada istriku? Mengapa istriku menuduhku dengan membuka aibnya? Sedangkan bunda tidak tahu apapun tentangnya. Siapa yang telah memberitahukan bunda tentang Sindy!" Farel berteriak kepada nyonya Alya yang sangat kaget dengan perlakuan kasar putranya terhadap dirinya demi seorang wanita.


"Dia sendiri tidak menyangkalnya, mengapa kamu yang harus marah? Bukankah lebih baik dia pergi dari hidupmu? daripada kamu harus hidup dengan wanita yang sudah hancur reputasinya, pernah menjalin hubungan kasih dengan suami orang lain.


Apakah wanita itu cukup pantas mendampingi hidupmu, hmm?" Nyonya Alya tidak mau mengalah, ia balik menyerang putranya dengan mengungkit masa lalu Sindy.


"Apakah hanya itu yang bunda ketahui tentangnya?" Tanya Farel yang sedikit lega karena ibunya tidak tahu banyak tentang Sindy apa lagi tentang aborsi yang pernah dilakukan oleh dokter Alan sialan itu pada istrinya.


"Yah, aku tidak suka dengan wanita pelakor dan aku benci seorang wanita yang tidak bisa menjaga dirinya dan harus terlibat dengan cinta segitiga pada suami orang lain." Ujar Nyonya Alya.


"Alhamdulillah, ternyata bundaku tidak tahu apa-apa tentang Sindy." Farel membatin dan menarik nafasnya lega.


Ia kemudian bangkit berdiri dari duduknya hendak meninggalkan bundanya.


"Sindy hanya korban dari rayuan pria brengsek itu bunda, tidak semua pelakor berniat mengusai suami orang lain, jika dirinya tidak terjebak dalam bujuk rayu seorang laki-laki yang ingin memanfaatkan keluguan seorang gadis seperti Sindy." Ucap Farel lalu keluar dari kamar hotel bundanya.


"Cih, pelakor ya tetap pelakor apapun alasannya." Ucapnya nyonya Alya ketika putranya telah pergi dari kamar hotelnya.


Farel menangis sepanjang jalan menuju apartemennya. Ia tidak menyangka perbuatan ibunya yang sudah membuat Sindy salah paham kepadanya. Ia sangat hafal dengan sikap Sindy kalau sudah tersinggung maupun marah, pasti akan kabur menyembunyikan dirinya dari siapapun yang mengenalnya.


"Sindy, aku tidak mungkin gila membuka aibmu pada keluargaku. Mengapa tidak menungguku sesaat saja, sekedar untuk mengklarifikasi semua berita buruk tentangmu yang telah diketahui oleh bundaku.


Siapa yang tega menyampaikan hal itu pada bundaku? bukankah Sindy mengatakan hanya dia dan bajingan Alan itu yang tahu hubungan mereka.


Lantas bunda tahu dari mana?" Apakah dari dokter Alan sialan itu yang telah meracuni pikiran orangtuaku. Bukankah dia yang mati-matian untuk menghilangkan jejak kemaksiatan yang sudah ia lakukan pada Sindy agar hubungan mereka tidak ketahuan oleh orang lain?" Ah, aku semakin pusing ya Tuhan, ku mohon padamu Ya Allah kembalikan istriku, aku tahu aku adalah hambaMu yang sangat tidak berguna karena tidak taat kepadaMu, tapi aku ingin menjadi orang baik setelah menikahinya. Dia yang telah menutup pintu dosaku Ya Allah, maka tolonglah aku!" Pertemukan kembali aku dengan istriku." Pinta Farel dengan air mata berderai.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Di Amsterdam Belanda, Sindy mencoba melamar pekerjaan di berbagai rumah sakit yang di ada di kota itu, namun ia sangat sulit mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan profesinya. Sudah satu bulan berlalu, ia tidak lagi tinggal di hotel melainkan menyewa rumah kecil di pinggir kota.


Ia sudah bosan dengan tinggal di apartemen, lagi pula menurutnya Belanda adalah kota yang bersih dari polusi, setiap karyawan diwajibkan menggunakan sepeda roda dua dalam melakukan mobilitasnya, kecuali yang tinggal jauh harus menggunakan Bus, Trem dan Metro


Yang unik di Amsterdam ini adalah transportasi Trem.


Trem adalah alat transportasi yang paling tepat untuk digunakan ketika kamu hendak menyusuri di kota-kota besar di Belanda ketika liburan.


Di Belanda sendiri memiliki total 16 jalur trem, dengan Kota Amsterdam yang mempunyai jumlah jalur trem terbanyak.


Selain Amsterdam, kota-kota seperti Rotterdam, Utrecht dan Den Haag juga mempunyai koneksi trem yang sangat baik, kamu bisa melakukan perjalanan dari Central Station Den Haag ke Scheveningen Boulevard dalam waktu 15 menit saja.


Karena belum mendapatkan pekerjaan sebagai dokter, Sindy ingin mencoba peruntungannya lagi menjadi seorang model. Tapi keinginannya itu harus tertunda karena ada hal lain yang saat ini sedang menghalangi dirinya untuk masuk lagi ke dunia yang pernah membesarkan namanya itu.


Pagi itu Sindy yang sudah rapi dan cantik ingin mendatangi salah satu perusahaan agensi yang terkenal di kota itu. Ketika ingin keluar rumah pandangannya terasa sangat kabur. Ia menghentikan langkahnya dan duduk di kursi teras rumahnya.

__ADS_1


"Perasaan aku sudah makan mengapa tiba-tiba menjadi pusing seperti ini?" Gumam Sindy lalu mengambil obat luar untuk mengoleskan keningnya.


Bau harum minyak kayu putih membuatnya kembali tenang, tapi perutnya tidak sabaran untuk mengeluarkan kembali makanan yang sudah diam di dalam sana.


Sindy buru-buru menuju kamar mandi, ia memuntahkan semuanya hingga tak tersisa. Tubuhnya terasa sangat lemas dan wajahnya kelihatan pucat.


"Ya Tuhan ini sama seperti yang pernah aku alami, apakah aku hamil?" karena hampir tiga bulan ini aku belum haid saat masih bersama dengan Farel." Sindy bermonolog.


Sindy ingat kalau ia memiliki alat tes kehamilan. Ia kemudian mengambilnya dan mencoba mendeteksi sendiri kepastian kecurigaannya.


Dalam waktu lima menit, ia melihat tes pack itu dan mendapati dua garis merah dan ternyata ia benar-benar hamil. Ia tersenyum bahagia, namun ia kembali sedih saat mengetahui ia harus merawat kandungannya dan akan membesarkan anaknya sendirian.


"Sayang, mama jadi nggak bisa jadi model lagi, kalau ada kamu di dalam sini." Gumamnya lirih sambil mengusap perutnya.


Sindy melepaskan kembali blazer yang tadi di pakainya dan menggantikannya dengan baju dress longgar. Ia kemudian mengambil buah apel dan kiwi untuk mengisi lagi perutnya yang kosong.


Rasa asam pada buah kiwi sangat membantunya agar tidak lagi mengalami mual lagi.


Karena ia seorang dokter kandungan, ia sangat mengerti apa yang harus dilakukannya tanpa harus ke dokter untuk berkonsultasi maupun memeriksakan keadaan kandungannya. Ia berniat untuk membeli alat USG portabel untuk bisa mengetahui perkembangan bayinya sendiri.


Ia juga mengetahui makanan apa saja yang harus dikonsumsinya selama masa kehamilannya.


"Kamu tidak akan kekurangan apapun sayang karena mama akan menjagamu dengan baik selama masih didalam rahim. Mama masih punya deposit untuk menghidupimu untuk dua puluh tahun ke depan tanpa membuatmu sengsara." Ucapnya seraya mengusap perutnya yang masih rata.


Dalam kesehariannya, Sindy melakukan aktivitas untuk membuang rasa jenuhnya. Ia mulai belajar menyulam switer untuk bayinya.


Kadang ia memasak apa saja, mulai dari makanan ringan hingga makanan berat yang dimakan oleh dirinya sendiri.


Ia tidak ingin bersosialisasi dengan para tetangga yang ada lingkungannya karena dia dari dulu sulit membuka hati untuk menjalin hubungan dengan kaumnya apa lagi dengan lawan jenis kecuali itu menyangkut pekerjaannya.


Dalam hidupnya, untuk pertama kali hanya dokter Alan yang bisa masuk di hidupnya yang sangat kesepian saat itu. Tapi dia terlalu terbuai dalam bujuk rayunya dokter Alan hingga membuat ia lupa diri.


Tapi ia sangat bersyukur setelah malam naas itu, ia dipertemukan lagi dengan pangeran hatinya yaitu suaminya Farel. Walaupun saat ini ia harus kembali dihadapkan dengan kenyataan pahit untuk kembali hidup dalam kesendiriannya.


"Sayang, ada kamu di rahim mama saat ini, mungkin empat bulan ke depan kita akan di pertemukan oleh Allah dan mama tidak perlu lagi hidup sendiri karena ada kamu yang akan menemani mama. Semoga selalu sehat sayang dan tolong jangan menyusahkan hidup mama karena kita saat ini tinggal sendirian, tidak ada papa Farel." Ujar Sindy sambil mengusap perutnya yang sudah mulai kelihatan membuncit.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Farel sudah berusaha mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Sindy. Karena belum bisa menemukan istrinya di manapun, ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta karena tugasnya menumpuk di sana.


Setiap kali pulang kerja, Farel hanya menghabiskan waktunya di apartemen miliknya di Jakarta. Ia tidak ingin ke manapun sejak kepergian Sindy dari hidupnya kecuali berhubungan dengan pekerjaannya.


Kadang ada wanita yang pernah di kencaninya, datang menemuinya di perusahaan miliknya, namun ia sedikitpun tidak tertarik lagi dengan apapun yang ada pada wanita itu. Seakan Sindy telah menyihir hatinya sampai beku dan sulit mencair dengan rayuan maut wanita malam yang menawarkan sejuta pesona dengan tubuh yang menggiurkan kaum Adam.

__ADS_1


Malam ini ia terus saja berkomunikasi dengan para anak buahnya yang sudah menyebar di berbagai wilayah di negara manapun. Sayangnya, Amsterdam terlewatkan olehnya karena ia berpikir Sindy tidak akan menetap di negara itu.


Sindy pernah mengatakan kepadanya bahwa ibunya pernah tinggal di Belanda namun suami ke dua ibunya mencoba membunuh ibunya ketika ibunya digoda oleh pria lain. Sindy yang saat itu masih kecil berusia tujuh tahun melihat pertengkaran itu hingga membuatnya sangat takut.


Beruntunglah ada tetangganya yang meleraikan pertengkaran mereka dan ibunya meminta cerai dari ayah tirinya itu akibat kesalahpahaman diantara mereka. Ibunya meninggal karena menderita kanker rahim saat Sindy berusia sepuluh tahun. Sindy akhirnya tinggal di panti asuhan karena keluarga ibunya tidak ingin merawatnya. Istri dari paman-pamannya menolak menerima dirinya.


Sindy sengaja mengecoh suaminya agar tempat yang pernah ia benci kini ia datangi dan menetap di negara kincir angin tersebut.


"Sayang, apakah kamu tidak merindukanku?" Mengapa sekarang kamu juga salah paham padaku?" Mengapa senang sekali kabur dariku?" Aku kira mengikatmu dengan pernikahan akan membuatmu belajar bertanggungjawab, tapi nyatanya sikapmu masih sama saja, jika sakit hati selalu pergi meninggalkan orang yang sangat mencintaimu terutama diriku.


"Sindy... Sindy, jika aku menemukanmu lagi, lebih baik aku membawamu ketika aku pergi ke mana saja, agar aku tidak lagi kehilanganmu sayang.


"Tolong aku Sindy, telepon aku atau setidaknya aku diberi tahu jika kamu pergi hanya ingin menenangkan diri saja. Aku tidak akan mencarimu seperti ini sayang." Farel hanya bisa menjerit dalam kesepiannya.


Pria tampan ini meratapi kehilangan istrinya hingga ia tertidur.


Keesokan paginya seperti biasa, Farel tetap melakukan aktivitasnya di perusahaan miliknya. Ibunya datang mengunjungi dirinya dengan membawa seorang wanita cantik yang merupakan putri dari sahabatnya.


"Farel, apakah bunda bisa menganggumu sebentar nak?" Tanya Nyonya Alya yang sudah berada di ruang kerja putranya.


"Bunda mau apa ke sini?" Tanya Farel dengan wajah datar.


"Masa anak bunda seperti itu jawabnya." Nyonya Alya pura-pura ngambek.


"Farel lagi sibuk bunda" Ucap Farel tanpa melihat wajah bundanya.


"Sayang, bunda ingin mengenalkan kamu pada seseorang, Silahkan masuk Renata!" Pinta nyonya Alya pada gadis muda yang menunggu di depan pintu.


Gadis cantik itu melangkah masuk ke ruang kerjanya Farel.


Farel melirik gadis itu sesaat lalu kembali melihat layar ponselnya.


"Renata, ini putra Tante, namanya Farel." Ucap Nyonya Aliya memperkenalkan Renata pada Farel.


"Maaf nona Renata, apakah bundaku sudah memberi tahumu bahwa aku sudah memiliki istri yang jauh lebih cantik, cerdas dan berkelas darimu." Ucap Farel sarkas.


"Farel!" Bentak Nyonya Alya yang tidak menyangka putranya begitu nekat mempermalukan putri sahabatnya sendiri.


"Aku lagi sibuk mencari istriku dan bunda datang menawarkan aku seorang gadis yang saat ini sedikit pun tidak bisa membuatku move on dari Sindy." Ucap Farel kesal.


Renata yang sangat malu diperlakukan oleh Farel, keluar dari ruang kerja Farel sambil menangis.


"Bunda sangat kecewa padamu Farel!" Ucap Nyonya Alya lalu meninggalkan ruang kerja Farel mengejar Renata.

__ADS_1


__ADS_2