
Sindy yang baru pulang dari rumah sakit, langsung membersihkan dirinya, usai membantu pasiennya melahirkan secara sesar. Karena suaminya belum pulang, Sindy membersihkan tubuhnya dengan terburu-buru. Ia tidak ingin suaminya pulang kerja mendapati dirinya masih berada di dalam kamar mandi.
"Kalau mandinya kelamaan, pasti aku dihajar lagi, lebih baik diselesaikan secepatnya." Sindy bermonolog.
Baru saja masuk ke walk in closet, untuk berpakaian, ia dikejutkan dengan kedatangan Farel yang sudah berada di sana dengan lengerie Sindy yang sudah dipilih olehnya.
"Hai sayang!" Aku ingin melihat kamu memakai lengerie se*si ini." Ujarnya seraya menyerahkan lengerie hijau tosca itu pada Sindy.
"Kenapa harus mengenakan lengerie, kalau nanti juga dibuka lagi olehmu, jadi untuk apa dipakai." Sindy protes akan sikap suaminya.
"Tapi aku ingin melihatmu memakainya sayang." Farel tetap memaksa istrinya untuk mengenakan lengerie pilihannya.
Sindy hanya menarik nafas panjang lalu memakai juga lengerie pilihan suaminya.
"Apakah seperti ini menjadi seorang istri?" Tidak boleh mengeluh capek? harus siap setiap saat untuk melayani suaminya?" Gerutu Sindy sambil mengenakan lengerie warna hijau tosca itu.
Sindy keluar dari walk in closet untuk memperlihatkan penampilannya malam ini kepada sang suami tercinta. Ia dengan anggun melangkah menghampiri sang suami yang menatap wajah cantik dan juga tubuh indah itu tanpa berkedip. Kecantikan Sindy yang setiap saat membakar birahinya hingga ke ubun-ubun.
Dirumah sakit tadi siang, Farel sudah membuat istrinya cukup tersiksa karena dirinya, yang menangguhkan hasrat istrinya dan juga dirinya hanya karena ingin menghukum sang istri tercinta, namun kali ini, ia ingin memberikan lagi hak istimewa itu pada istrinya.
"Sayang!"
Farel menggendong tubuh indah itu, berkoala di atas tubuhnya. ********* bibir sensual itu yang sudah menjadi candunya, mengabsen gigi Sindy satu persatu dengan menyapu bersih bibir itu hingga bengkak.
Lidah itu di hisapnya kuat, kini ia sudah berpindah di bagian ceruk leher jenjang sang istri, meninggalkan kecupan di sana. Dua bukit kembar tak terlewatkan olehnya lalu turun mengecup perut dan pinggang ramping sang istri yang tanpa lemak itu.
Dua paha mulus tak terlewatkan oleh bibirnya. Rasa geli yang dirasakan Sindy, kala lidah itu sudah mulai masuk ditempat sempit nan menggoda tanpa penghalang agar sang suami bisa membuka pangkal paha itu selebar mungkin.
Menatap dan mengagumi kecantikan milik sang istri yang saat ini sedang ia berikan kenikmatan.
Lenguhan panjang Sindy, kala lidah Farel sudah masuk ke dalam liang sempit itu. Bermain di sana dalam tempo yang cukup lama, hingga menghisap cairan bening yang sudah meleleh dipermukaan itu. Sampai jeritan Sindy makin menjadi. Dua tangannya mengacak rambut milik suaminya, untuk menyudahi permainan lidah itu pada miliknya.
Sekarang sudah berganti posisi, untuk melakukan penyatuan tubuh mereka. Memacu tubuh itu dengan ritme yang cukup kencang hingga derit ranjang cukup menganggu namun diabaikan pasangan ini.
Dendam tadi siang terbalaskan sudah. Farel menuntaskan hasrat yang tertunda itu, dengan membuat istrinya melakukan pelepasan berkali-kali.
"Akkhhh...sssshh!" Lenguhan panjang keduanya saat hentakan suami pada miliknya sudah terasa semburan lahar yang menyirami rahimnya.
Dua tubuh itu terkapar, lalu tersenyum puas usai mencapai titik puncak kenikmatan bersama. Wajah merah keduanya terlihat jelas, di tengah cahaya lampu yang cukup temaram menyinari sepasang tubuh tanpa sehelai benangpun, di biarkan tergeletak begitu saja karena peluh masih bercucuran yang keluar di setiap pori-pori kulit keduanya.
__ADS_1
"Terimakasih, papa Farel." Ucap Sindy dengan senyuman tulusnya.
"Terimakasih juga mama sayang!" Balas Farel atas penghargaan yang diberikan istrinya barusan.
"Maaf sudah membuatmu kesal tadi siang, sayang!" Ucap Farel.
"Aku tahu, kamu akan menyelesaikan konflik itu di dalam sini, di arena perang kita." Ujar Sindy sambil tersenyum manis.
"Sindy, aku bangga padamu karena kamu begitu hebat hari ini. Kamu menjawab pertanyaan wartawan Dian Nitami, dengan begitu lugas dan sangat tenang.
Kamu tahu beberapa kameraman yang memuji dirimu setiap kali kamu menjawab pertanyaan yang diajukan oleh ibu Dea Nitami.
Mereka puas dengan jawabanmu sayang. Mereka mengatakan padaku," Tuan Farel, istri anda sangat cerdas, menarik dan elegan. Bukan saja kecantikan yang terlihat dari wajahnya itu, tapi ia memiliki sesuatu energi positif dalam dirinya yang mampu memikat hati orang lain yang menatapnya." Itu yang mereka katakan kepadaku sayang." Ucap Farel mengulangi lagi perkataan wartawan yang ditujukan pada istrinya.
Sindy tersenyum mendengar ulasan papa Farel tentang sanjungan wartawan pada dirinya.
"Apakah kamu menyukainya sayang, saat aku tampil di depan kamera televisi?" Tanya Sindy pada suami posesifnya ini.
"Sangat suka sayang, karenamu aku hari ini menerima telepon dari berbagai relasi perusahaan yang memujimu." Ucap Farel.
"Apakah diantara telepon yang masuk ke ponselmu hari ini, adakah keluargamu yang menghubungimu dan mengomentari diriku, saat mereka menyaksikan wawancara eksklusif itu di televisi?" Tanya Sindy hati-hati pada suaminya.
"Sayang, maafkan kekuargaku yang masih bersikap apatis terhadapmu. Mungkin jauh di lubuk hati terdalam milik mereka, pasti mengagumi bahkan sudah memujimu, apa lagi mereka pasti dengan bangga menjadi bagian dari dirimu. Walaupun aku belum mendengar secara langsung pengakuan dari lisan mereka sendiri kepadaku.
Namun aku terus menanti dari detik, menit dan jam hingga saat ini, tidak ada satu nomor kontak mereka yang masuk ke dalam ponselku untuk sekedar memberikan selamat kepadaku." Ucap Farel yang saat ini, sedang merasakan kesedihan yang sama seperti istrinya.
"Tidak apa sayang, tidak usah terlalu dipikirkan, biarkanlah mengalir apa adanya, jangan menahan aliran itu jika kamu tidak sanggup melihatnya meluap dan menghancurkan dirimu." Ucap Sindy yang tidak ingin suaminya merasa bersalah dengan pertanyaan yang diajukannya tadi.
"Terimakasih istriku sayang, atas pengertiannya. Kita tetap berdoa agar Allah mengabulkan permohonan doa kita, agar keluargaku mau menerimamu dan juga putra kita Kaysan." Ujar Farel lalu keduanya memilih untuk tidur, untuk melepaskan kepenatan pada pikiran dan hati mereka untuk semua aktivitas hari ini yang sudah mereka lewati.
Dalam hati Sindy, ia tidak peduli pengakuan keluarga suaminya atas keberadaan dirinya disisi putra mereka Farel, tapi yang ia inginkan kedua mertuanya melihat putranya Kaysan sedikit saja, itu sudah membuatnya lega.
"Ya Allah, semoga Engkau memberiku kesempatan agar bisa membahagiakan keluarga suamiku karena hanya itu yang aku harapkan saat ini." Gumam Sindy dalam hatinya lalu benar-benar memejamkan matanya, untuk mengistirahatkan otaknya.
Di tempat yang berbeda, kedua orangtua Farel menonton wawancara eksklusif menantu mereka dengan wartawan senior milik stasiun televisi swasta yang sangat bergensi di tanah air.
Tayangan itu membuat keduanya begitu bangga dengan Sindy, walaupun saat ini, keduanya masih angkuh hati yang belum mau mengakui Sindy sebagai menantu mereka.
"Hebat juga wanita itu, sekarang dia makin tersanjung dengan setiap pujian yang datang pada dirinya.
__ADS_1
Lihatlah cara dia berbicara seperti wanita yang berkelas dari kalangan ningrat. Cih, dasar tidak tahu malu. Setinggi apapun dirimu kini, aku tidak akan pernah mengakuimu sebagai menantuku." Ucap Nyonya Alya yang menatap wajah Sindy di televisi.
Keesokan harinya, Sindy yang saat ini sedang off dari tugasnya mengajak Farel ke rumah orangtua suaminya itu.
Awalnya Farel menolak keras ajakan sang istri yang ingin mengunjungi kedua orangtuanya yang ada di Jakarta.
"Sayang, mungkin kita sebagai anak yang harus lebih dulu mengunjungi kedua orangtuamu daripada menunggu mereka datang menghampiri kita." Ucap Sindy.
"Untuk apa sayang, jika pada akhirnya kamu hanya mendapatkan hinaan sinis dari mulut bundaku. Aku sangat mengenal bundaku itu, mulutnya sangat tajam seperti silet." Ujar Farel.
"Kita coba saja dulu sayang, setiap hinaan tidak akan berakhir dengan kematian, paling capek hati dan lelah pikiran." Lanjut Sindy.
"Tolong jangan nekat sayang!" Pikirkan baik-baik bagaimana dirimu akan berakhir duka setelah sampai di mansion itu. Aku anaknya saja paling malas berhubungan dengan bundaku itu.
Kehidupannya yang dari kecil hingga besar selalu dilimpahi harta dan nama besar kakekku, hingga membuatnya besar kepala dan sulit menerima orang rendahan seperti anggapannya pada dirimu." Ucap Farel.
"Akan lebih salah, jika kita akan terus menjauh dari mereka. Mungkin mereka makin membenciku. Lagian sekarang mereka sudah memiliki cucu Kaysan. Jika kita membawa putra kita ke sana, siapa tahu hati bundamu akan luluh sayang." Ucap Sindy yang masih belum menyerah.
"Sekarang begini saja, jika kamu terlalu bersikeras mengunjungi orangtuaku, kamu harus siap menerima semua cercaan mereka kepadamu tanpa mengeluh dan menangis dihadapanku karena bukan aku yang mengajakmu ke sana tapi kamu sendiri yang menginginkan untuk bertemu mereka." Farel mengingatkan istrinya yang harus siap mental bertemu dengan singa betina itu.
"Terimakasih sayangkuh, aku sangat mencintaimu." Sindy menghamburkan pelukannya ke dalam dada bidang milik suaminya.
"Saya harap kamu tidak akan pernah menyesal dengan keputusanmu. Bersiaplah untuk terluka sayang." Farel seakan masih keberatan dengan permintaan istrinya.
"Aku sudah sering merasakan terluka, hingga aku lupa bagaimana rasanya untuk membalas sakit hatiku. Aku bahkan tidak tahu cara menyakiti orang lain yang sudah menyakiti diriku." Ucap Sindy.
"Apakah kamu tidak sadar jika pernah menyakiti diriku sayang?" Farel mengingatkan istrinya.
"Aku sudah minta maaf sayang karena kesalahpahaman aku padamu saat itu." Ucap Sindy.
"Jika kamu tahu sakitnya, Tolong jangan lakukan itu lagi walaupun kamu hampir mati dibunuh dengan penghinaan orang lain pada dirimu sayang." Ujar Farel.
"Ya Allah, kamu ternyata pendendam sekali sayang." Sindy makin keki dengan sikap suaminya yang terus menodongnya dengan kenangan buruk mereka.
Keduanya saling berpelukan dan ingin melupakan kenangan buruk itu untuk selamanya.
Farel terus berdoa semoga istrinya tetap sabar jika bertemu dengan ibunya yang pernah menyakiti istrinya hingga wanitanya itu kabur darinya.
"Maafkan aku Farel sudah membuat hatimu terluka. Sudah menjauhkanmu dari Kaysan saat dia baru tumbuh dirahimku. Tolong jangan mengingat lagi kesalahan yang pernah aku perbuat kepadamu karena itu membuatku dibayangi rasa bersalah tanpa henti." Ucap Sindy.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan kamu sayang, hanya saja aku takut kamu terluka lagi." Ujar Farel.