
FLASH BACK
Pertemuan pertama kali Luna dan Farel dua belas tahun yang lalu di sebuah hotel di Jakarta.
Farel duduk di loby sedang menunggu kline. Ia melihat seorang gadis yang sedang duduk termenung sambil sesekali mengatur duduknya yang kelihatan gelisah karena rok yang dikenakannya begitu minim.
Tingkahnya yang sangat kaku bahkan terlihat bukan ahli penggoda lelaki. Wajah belianya ditimpa dengan makeup tebal yang disulap menjadi gadis dewasa. Ekspresi wajah yang ditampilkan ingin terlihat menarik di mata para lelaki yang menginginkan dirinya namun kesedihan nampak jelas diraut wajah malang itu.
Farel mencoba mendekati Luna yang nampak risih tapi tetap berusaha kelihatan menggoda.
"Apakah kamu sedang menunggu seseorang nona?" Tanya Farel pada Luna yang saat itu bingung.
"Aku tidak janji bertemu dengan siapa pun di sini. Aku hanya ingin seorang lelaki kaya yang mau membayar keperawanan ku dengan harga tiga milyar." Ucap Luna tanpa bas basi namun sangat tegas.
"Untuk apa kamu butuh uang sebanyak itu? dan apakah kamu tidak sayang dengan harga dirimu nona?" Farel mulai penasaran dengan Luna yang usianya terpaut dengannya saat itu sepuluh tahun.
"Aku tidak perlu menjelaskan alasan pribadiku pada anda Tuan, karena bagiku saat ini ingin menemukan orang yang tepat yang bisa aku jadikan dia harta Karun ku." Ungkap Luna tanpa tedeng eling.
"Apakah kamu jamin, bahwa kamu masih perawan? bagaimana kalau itu tidak terbukti." Farel meragukan kesungguhan Luna atas keaslian kegadisannya.
"Mudah saja permainan ini, anda tidak perlu membayarku dan anggap saja kita sedang menikmati gairah cinta sesaat." Luna nampak pasrah karena kurang lihai menarik peminat lelaki hidung belang untuk menjamah dirinya lebih cepat karena ibunya harus di operasi malam itu juga.
"Baiklah nona, kebetulan aku butuh seorang gadis perawan yang selama ini tidak pernah aku dapatkan diantara para perempuan penjajah se*s. Mungkin anda bisa memuaskan hasrat aku malam ini. Ikuti aku ke kamarku." Ujar Farel lalu berjalan menuju pintu lift.
Luna mengikuti langkah kaki farel dengan wajah tertunduk menatap tiap bidak lantai marmer di hotel mewah tersebut.
Di kamar hotel milik Farel, Luna merebahkan tubuhnya dan perlahan membuka bajunya namun di tahan oleh Farel.
"Tunggu nona!"
__ADS_1
Kita belum berkenalan dan belum melakukan transaksi." Cegah Farrel menghentikan tangan Luna yang sudah membuka dua kancing kemejanya yang sudah menampakkan dua benda sekal dan ranum dibalik kemeja itu.
"Luna, namaku Luna!" Ujar Luna.
"Berapa nomor rekening mu?" aku akan transfer terlebih dahulu jasamu." Luna menyebut setiap digit nomor rekening miliknya.
Farel mengeluarkan ponselnya dan mulai mengetik nomor rekening milik Luna di m-banking miliknya dan dalam waktu satu menit, uangnya sudah berpindah ke rekening gadis itu.
"Sekarang kamu cek dulu nomor rekening mu! apakah saldonya sudah bertambah?"
Farel memastikan terlebih dahulu uang milik Luna yang sudah masuk ke rekening gadis itu.
Senyum Luna mengembang sempurna walaupun cahaya matanya kelihatan redup karena sebentar lagi tubuhnya akan dieksekusi pada bagian yang paling berharga yang ia miliki.
"Sudah masuk Luna?"
"Apakah kamu sudah menggunakan pengaman seperti pil KB untuk mencegah kehamilan?" Aku tidak ingin di kemudian hari, kamu datang menuntutku dengan sebuah tanggung jawab.
Hubungan kita hanya sekedar teman partner ranjang dan itu hanya berlaku untuk malam ini, selebihnya kau dan aku tidak akan saling mengenal jika suatu hari kita bertemu lagi, anggap saja kita tidak pernah bertemu sebelumnya."
Farel memperingatkan Luna agar gadis ini jangan sampai menyimpan benihnya karena dia tidak ingin menggunakan ****** sebagaimana dirinya dengan wanita-wanita yang sudah wara wiri tidur dengannya karena saat ini yang sedang ia hadapi gadis yang masih suci.
"Tenang saja Tuan, aku tidak akan membiarkan diriku hamil karena aku masih sangat muda dan aku ingin melanjutkan pendidikan ku di perguruan tinggi." Ujar Luna mantap.
"Ok, sekarang, apakah kamu sudah siap Luna?" Kita bisa mulai?" Farel menangkup wajah Luna dan memperhatikan wajah cantik Luna yang masih begitu lugu.
Farel mulai aksinya dengan menanggalkan pakaian Luna satu persatu hingga terpampang miliknya yang begitu ranum dan indah di pandang mata.
Tubuh Farel begitu bergetar mendapati gadis muda yang baru berusia tujuh belas tahun ini. Tangannya sudah mulai berlabuh di belahan dada Luna yang terlihat sekal dengan aura yang menggiurkan matanya menatap dua gundukan kembar itu.
__ADS_1
Permainan itu dimulai. Luna tampak pasrah pada Farel yang sudah mengusai tubuhnya dengan nafas memburu menyentuh tubuh yang belum tersentuh oleh tangan pria manapun.
Luna melakukan itu bukan karena hasrat birahinya, tapi ia hanya ingin menyerahkan milik berharganya hanya untuk bertahan hidup.
"Akkhhh!" Pekik Luna yang merasakan sakit yang amat sangat, saat benda tumpul besar dan padat itu merangsak masuk ke dalam tubuhnya yang tersegel.
Darah segar mengalir menodai seprei putih. Air mata Luna merambah ke pipi mulusnya dengan mengigit bibir bawahnya menahan perih yang amat sangat.
Tidak ada kenikmatan yang ia rasakan karena ia hanya merasakan siksaan dari milik Farel yang terus menggempur miliknya yang masih sempit dan mencengkeram benda pusaka itu.
Puas menikmati tubuh Luna, Farrel tersenyum bangga mendapatkan kegadisan Luna.
"Terimakasih Luna!" Ucap Farel dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Jangan pergi dulu Luna karena aku tidak ingin melakukannya hanya sekali saja denganmu karena aku sudah membayarmu cukup fantastis nilainya.
Kita makan dulu, setelah itu melakukannya lagi." Pinta Farel sambil merebahkan tubuh Luna ke dalam dadanya.
Setelah beberapa kali melakukan percintaan panas sampai satu malam suntuk, akhirnya Farel tertidur dan Luna segera mengenakan lagi pakaiannya dan pergi dari kamar hotel milik Farel.
Gadis itu tidak ingin melibatkan hatinya agar tidak jatuh cinta pada Farel yang merupakan pria dewasa yang sangat tampan dan tajir itu.
Walaupun hatinya sangat bergetar ketika menatap manik hitam Farel yang menusuk ke dalam jantungnya. Pesona Farel telah mengikat hatinya yang masih suci itu.
"Ah, andai saja ini bukan masalah uang, mungkin aku akan mencintaimu sepenuh hatiku. Tapi, mana mungkin dia mencintai gadis miskin sepertiku?" Jangan bodoh Luna, kau dan dia ibarat air dan minyak yang tidak akan pernah menyatu." Busuknya dalam lirih yang terdengar pilu dan menyakitkan.
Luna berlalu pergi tanpa pamit pada Farel. Ia harus segera ke rumah sakit untuk melakukan transaksi dengan pihak administrasi rumah sakit untuk melakukan pembayaran penuh agar ibunya segera dioperasi.
Walaupun pada akhirnya ibunya meninggal juga di meja operasi. Luna pun menyalahkan dirinya karena menolong ibunya dengan harta haram yang diperolehnya dengan menjual dirinya.
__ADS_1