Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
60. PART 60


__ADS_3

Operasi sesar segera dilakukan oleh dokter Sindy dan tim dokter Edward. Sekitar sepuluh jam Sindy berusaha menyelamatkan kedua nyawa yang ada di hadapannya saat ini.


Semua prosedur operasi sesar itu berjalan dengan baik. Tekanan darah dan jantung pasien tidak bermasalah, hingga akhirnya bayi itu bisa di selamatkan.


Kini keadaan pasien tetap stabil tidak ada yang perlu lagi dikuatirkan oleh tim dokter dan juga dokter Sindy.


Mereka saling bersalaman ketika sudah merapikan kembali perut Resty usai operasi sesar.


"Selamat dokter Sindy, ternyata anda benar-benar sangat hebat menangani kasus pasien hamil yang mengalami sakit kronis."


Dokter Edward memberikan pujian kepada dokter Sindy.


"Ini sudah bagian tugas saya dokter Edward."


Sindy berusaha merendahkan dirinya dihadapan para tim dokter.


"Justru kehadiran anda disini membuat kaki bisa belajar langsung ke mata sumbernya tampa harus ikut seminar anda, dokter Sindy."


Semuanya terkekeh mendengar ocehan dokter Edward tentang kerja keras ibu dua anak ini.


"Baiklah, kalau begitu saya ingin menemui keluarga adik ipar saya agar mereka tenang mendengar kabar baik ini."


Dokter Sindy melepaskan masker dan penutup kepalanya.


"Silahkan dokter Sindy!" Karena anda orang yang tepat menjelaskan hasil operasi sesar ini pada keluarga pasien yang kebetulan itu keluarga suami anda sendiri." Timpal dokter Edward.


Sindy melangkah keluar dengan wajah berbinar karena sudah mendapatkan ridho dari mertuanya.


Keluarga besar suaminya menghampiri pintu kamar operasi itu dengan menatap wajah Sindy dengan perasaan cemas.


"Bagaimana Sindy?" Apakah semuanya baik-baik saja?"


Nyonya Alya tidak sabaran mendengar hasil akhir operasi sesar pada putrinya Resty.


"Alhamdulillah bunda. Resty melahirkan bayi laki-laki dengan berat 3,8 kg dan panjang 55 cm. Keadaan Resti sangat baik saat ini, sebentar lagi dia akan siuman. Sekarang suster sedang merapikan lagi keadaannya sebelum dibawa ke ruang inap."


Nyonya Alya langsung memeluk menantunya itu dan menangis dalam pelukan Sindy.


Farel dan lainnya nampak tertegun ketika melihat adegan yang tidak biasa itu bagi mereka.


Walaupun demikian, Farel sangat bahagia melihat ibunya sudah menerima kehadiran istrinya sebagai menantu Alfarizi.

__ADS_1


"Setidaknya tidak sia-sia pengorbanan istriku pada keluarga ini. Terimakasih sayang, kamu benar-benar hebat dalam menempatkan dirimu pada siapa saja yang berusaha membencimu." Gumam Farel membatin.


"Terimakasih kakak ipar, aku sudah yakin kakak pasti bisa menolong istri dan putraku."


Reza begitu bahagia sambil menyalami tangan Sindy.


"Selamat Reza, atas kelahiran putramu. Sekarang kamu bisa mengazankan putramu!"


Titah Sindy lalu menyapa suaminya dan tersenyum bahagia. Farel mengecup kening istrinya lembut.


"Di mana anak-anakku sayang?"


Ini sudah malam, jadi Reni mengajak mereka menginap di apartemen miliknya.


"Sindy, menginaplah di apartemen Reni, karena tadi dua meminta kalian untuk menginap di sana. Ayah dan bunda akan menginap di rumah Resty karena anak-anaknya sendirian di apartemennya."


"Baik bunda, kalau begitu Sindy pamit istirahat dulu." Ucap Sindy lalu berjalan berdua bersama suaminya ke tempat parkir mobil milik Reza yang sudah disiapkan oleh lelaki itu untuk kakak iparnya.


Tidak lama kemudian, Resty dan putranya dipindahkan ke kamar inap VVIP.


"Sayang!" Terimakasih sudah melahirkan putra kita dengan selamat." Reza mengecup pipi istrinya lalu diikuti oleh kedua mertuanya menyalami Resty yang baru sadar pasca operasi sesar.


"Di mana bayiku, apakah dia baik-baik saja?"


Tidak lama suster datang membawa bayinya Resty untuk disusui ibunya.


"Ini bayimu nyonya!"


Suster Anna meletakkan bayi laki-laki itu di sisi ibunya.


Resty menangis haru ketika melihat putranya yang sangat tampan sedang menatap wajahnya.


"Akhirnya mami bisa menyelamatkanmu nak, dan bisa melihat wajah malaikatmu yang sangat lucu."


Resty mencium kening putranya.


"Sayang, semua ini atas kerja keras kakak ipar terbaik kita."


Reza memberitahukan bagaimana ia bisa mendatangkan kakak iparnya ke Sidney dalam keadaan hamil besar.


"Maksudnya mas Reza, istrinya bang Farel?" Tanya Resty tidak percaya dengan apa yang ia dengar.

__ADS_1


"Iya sayang."


"Di mana dia sekarang mas?" Reni ingin berterimakasih kepadanya."


"Dia sudah pulang ke apartemen Reni karena dari tiba di kota ini, ia langsung menanganimu dengan tim dokter yang lain." Imbuh Reza.


"Mungkin besok pagi dia akan ke sini lagi sebelum meninggalkan negara ini kembali lagi ke Jakarta."


Nyonya Alya menghibur putrinya.


"Aku kira bunda tidak mengijinkan kak Sindy merawat diriku. Mengapa disaat aku dan putraku hampir mati, bunda baru memintanya datang, bunda egois sekali. Tidak semua menantu berjiwa besar seperti kakak Sindy. Tidak memikirkan status dan harta seseorang bunda karena kita hidup di jaman milenial bukan lagi jaman kolonial yang memperdebatkan nilai seseorang di mata masyarakat."


Ucap Reny sengit pada ibunya yang sangat keterlaluan di saat ia sudah memohon untuk pulang ke Indonesia dan melahirkan di rumah sakit milik kakak iparnya yang ada di kota Bogor itu.


"Maafkan bunda Resty, bunda tahu bunda salah dan telat menyadarinya."


Nyonya Alya sangat menyesal dengan perbuatannya yang terlalu angkuh pada menantunya Sindy sehingga mengabaikan keselamatan putrinya yang saat itu sangat mengharapkan Sindy bisa menyelamatkan hidupnya.


Keesokan harinya, Kaysan meminta papanya untuk berkunjung ke kebun binatang kota itu untuk melihat binatang berkantung itu yang hidup di satwa liar Australia.


"Papa kita jadikan melihat kanguru" Rengek Kaysan manja.


"Iya sayang, nanti kita ke sana, tapi mama lagi lelah tidak bisa ke sana sekarang."


Farel mencoba memberi pengertian kepada putranya.


"Temani anak-anak saja sayang, kasihan kalau kita sudah jauh kemari tidak mengabulkan permintaannya Kaysan." Ujar Sindy.


"Bagaimana kalau sama paman Agam dan Tante Reni yang menemani Kaysan melihat binatang kanguru."


Reni membujuk ponakannya agar tidak menganggu kedua orangtuanya yang masih sangat lelah karena semalaman berada di rumah sakit.


Kaysan mengangguk sedih karena ia hanya ingin bersama kedua orangtuanya melihat satwa liar itu.


"Ok deh!"


Kaysan mengangguk setuju lalu berangkat bersama paman dan tantenya dan juga kedua sepupunya yang sudah lebih besar darinya. Dewa dan Dita.


Di kamar tamu, Farel memeluk tubuh istrinya dengan perutnya semakin gendut.


"Kamu hebat sayang. Aku sangat bangga kepadamu. Kamu bisa mendapatkan hati kedua orangtuaku setelah sekian lama mereka tidak mengakuimu sebagai menantu."

__ADS_1


Farel memuji istrinya sambil membelai perut gendut milik Sindy.


"Allah menguji hambaNya dengan cara yang tidak diketahui hikmah dibalik setiap ujian itu. Dan sekarang saatnya Allah membalas kebaikan kita dengan apa yang kita tanamkan kepada orang lain. Kuncinya hanya sabar dan sholat seperti janji Allah dalam ayat-ayat cintaNya." Ujar Sindy.


__ADS_2