Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
39. PART 39


__ADS_3

"Dokter Sindy!" Ada banyak wartawan yang merangsak masuk ke lobby rumah sakit. Mereka meminta anda untuk segera menemui anda karena mereka ingin menanyakan sesuatu yang ada kaitannya dengan suami anda." Ucap dokter Wiwin yang kelihatan sangat panik.


"Kaitan dengan suamiku?" Emang ada apa ya, suamiku saja masih di luar negeri." Ucap Sindy heran.


"Tolong cepat temui mereka dokter Sindy, sebelum mereka datang ke ruang kerja anda." Ucap dokter Wiwin dengan sedikit memaksa Sindy.


"Tunggulah lima menit, jangan biarkan mereka lakukan apapun sebelum saya ijinkan untuk melakukan wawancara." Titah Sindy pada dokter Wiwin.


"Baik dokter!" Dokter Wiwin kembali ke tempat wartawan yang sedang menunggu kedatangan bosnya.


"Tunggu sebentar teman-teman wartawan, sebentar lagi dokter Sindy akan menemui anda." Ucap dokter Wiwin.


Sindy memejamkan matanya sesaat, lalu keluar menemui wartawan yang sedang menunggunya.


"Selamat sore dokter Sindy!" Sapa para wartawan serentak kepada Sindy yang sudah berdiri di hadapan para pemburu berita itu.


"Dokter Sindy, bagaimana anda bisa setenang itu setelah mengetahui pesawat jet milik pribadi Tuan Farel telah mengalami lost kontak dengan menara ATC di Jerman?" Tanya wartawan membuat mata Sindy terbelalak karena sangat syok.


Dengkul kakinya sudah sangat gemetar, wajahnya mendadak pucat, namun berita ini belum ada kebenarannya dari kedua perusahaan suaminya yang berada di Jakarta dan Hamburg Jerman. Sindy berusaha menetralisir suasana hatinya dan tidak ingin terpicu dengan berita yang masih simpang-siur kebenarannya.


"Maaf, sejauh ini saya belum mendapatkan kabar sama sekali dari pihak terkait, saya harap para teman wartawan untuk menelusuri kebenarannya dan saya tidak semuanya mendapatkan konfirmasi kebenarannya dari saya karena ini rumah sakit berarti saya tidak akan menerima kunjungan kalian yang menyangkut hal pribadi walaupun saya pemilik rumah sakit ini dan Tuan Farel adalah suami saya." Ucap Sindy tegas.


"Itu memang benar Sindy!" Suara itu datang dari Nyonya Alya yang saat ini sedang berdiri di belakang punggung Sindy.


"Bunda!" Sindy mencium punggung tangan ibu mertuanya.


Ibu dari dua anak ini berusaha tegar mendengar berita itu. Ayah mertuanya Tuan Rasya Alfarizi menggantikan posisi menantunya untuk melayani pertanyaan wartawan tentang keberadaan putranya saat ini.

__ADS_1


Sindy dibawa oleh kedua temannya ke ruang kerjanya saat tahu kabar buruk itu. Mereka memberikan segelas air putih untuk Sindy agar gadis itu bisa tenang.


"Maaf dokter, kami turut prihatin atas berita ini, tapi kami berharap tidak ada yang serius dengan apa yang terjadi saat ini." Ucap dokter Kartika.


"Bunda, apa yang terjadi sebenarnya pada suamiku?" Tanya sindy.


"Bunda di minta oleh asisten pribadi Farel yaitu Rendy, untuk memberi tahumu secara langsung kabar ini karena kondisimu yang saat ini sedang mengandung cucuku." Ujar Nyonya Alya.


"Bunda, semoga ini tidak benar, aku tidak ingin mendengarnya, aku tidak siap menerima hal buruk terjadi pada suamiku. Anak-anaknya sangat membutuhkannya....hiks..hiks!" Tangis Sindy pecah.


"Sindy, bunda lebih sedih darimu karena dia adalah putraku, tapi demi kenyamanan dirimu, tolong perhatikan juga anak yang sedang kamu kandung saat ini karena itu buah hati Farel, dia tidak akan memaafkanmu jika kamu tidak menjaga janinmu dengan baik." Ucap Nyonya Alya yang lebih peduli dengan kandungan Sindy dari pada perasaan menantunya saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang ini bunda?" Tanya Sindy.


"Tetap fokus dengan pekerjaanmu sebagai dokter dan biarlah kedua anakmu bunda yang mengurusnya, kamu perioritaskan bayi dalam kandunganmu saat ini." Ucap Nyonya Aliya tegas membuat Sindy tidak mengerti dengan ucapan ibu mertuanya ini.


"Kedua anakmu akan bunda bawa ke mansion bunda di Jakarta selama Farel belum ditemukan, dengan begitu kedua anak Farel akan terbiasa dengan kami karena bunda tidak menjamin Farel bisa selamat dari jatuhnya pesawat itu." Ujar Nyonya Alya sarkas membuat Sindy begitu geram.


"No..no...!" Mereka adalah anakku, aku masih hidup dan sanggup membesarkan mereka, jangan coba-coba bunda pisahkan aku dengan kedua anakku!" Ancam Sindy.


"Ha.....ha..ha!" Kamu bahkan tidak punya kekuatan untuk melawanku Sindy karena selama ini kamu dilindungi oleh putraku. Sekarang dia tidak bisa mendengar jeritan tangismu. Apapun yang kamu lakukan, sekalipun kamu sudah hebat saat ini, kamu tidak punya pengaruh apapun jika berurusan dengan kekuatan Alfarizi." Nyonya Alya keluar dari ruang kerja menantunya dengan tetap kelihatan angkuh.


Sindy meraih ponselnya dan menghubungi pelayan di mansionnya.


"Hallo Bibi Ima!" Jangan biarkan mereka membawa kedua anakku!" Titah Sindy.


"Maaf Nyonya mereka sudah membawa Kaysan dan baby Afta yang masih dalam keadaan tidur." Ucap bibi Ima membuat perasaan Sindy seketika luluh lantak.

__ADS_1


Sindy berusaha tetap tenang, dia mengendalikan perasaan amarahnya didepan kedua teman dokternya yang saat ini hanya menatapnya sedih.


Ingin rasanya dia menjadi orang gila saat ini, tapi ia adalah pemimpin rumah sakit ini. Ia tidak ingin terekspos di depan wartawan dengan keadaannya yang sangat terpuruk.


Kehilangan suami yang belum jelas kabar wujudnya yang belum ditemukan oleh tim SAR yang mencarinya keberadaan Farel saat ini di tambah lagi dengan kedua anaknya dibawa pergi secara paksa oleh mertuanya.


"Ya Allah kasihan banget dokter Sindy, aduh kalau aku di posisinya, mana sanggup aku setegar itu," keluh dokter Wiwin.


"Apakah dokter Sindy mau pulang?" Tanya dokter Lea.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang teman-teman?" Kalau kedua anakku juga dibawa oleh mereka.....hiks..hiks!" Dokter Sindy akhirnya menjerit juga.


"Dokter Sindy, setidaknya anda harus menenangkan diri anda terlebih dahulu, setelah itu memikirkan langkah apa yang harus anda ambil untuk mendapatkan kembali kedua anak anda dari kedua mertua anda itu." Ucap dokter Wiwin.


"Iya kamu benar dokter Wiwin, sebaiknya saya menenangkan diri agar bisa berpikir jernih. Saat ini pikiranku sangat kalut." Ucap Sindy lalu meraih tasnya dan pulang.


Setibanya di mansionnya, ia melihat CCTV bagaimana cara kedua mertua itu mengambil paksa kedua anaknya sebelum kedua mertuanya mendatangi rumah sakitnya untuk menemuinya.


"Ya Allah jadi mereka membawa pergi duluan kedua anakku oleh pelayan mereka, setelah itu baru menemuiku. Mengapa kalian memiliki hati iblis seperti itu?" Sindy mengumpat kedua mertuanya yang tidak punya hati nurani itu.


Sindy menghubungi asisten Rendy dan menanyakan kabar terakhir dari suaminya yang mungkin sudah didapatkan oleh Rendy.


"Hallo Rendy!" Akhirnya kamu mengangkat teleponku juga." Ucap Sindy dengan nada kesal.


"Maaf Nona Sindy, saya bingung cara untuk menyampaikan berita buruk ini pada anda karena kondisi anda yang tidak memungkinkan anda untuk mendengarkan kabar buruk ini." Ucap Rendy.


"Apakah kamu tahu gara-gara kebijakanmu yang bodoh itu yang meminta kedua mertuaku untuk menyampaikan berita buruk itu, malah berimbas kepada kedua anakku. Mereka mengambil kedua anakku saat aku tidak ada di rumah. Kasihan putriku yang masih berusia tujuh bulan dan masih membutuhkan Asi dariku...hiks.. hiks!" Sindy menceritakan perlakuan mertuanya yang sangat tidak berprikemanusiaan kepada dirinya yang saat ini sedang berduka.

__ADS_1


Rendy sangat kaget mendengar berita itu dan beribu-ribu kali meminta maaf kepada istri bosnya itu.


__ADS_2