Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
20. PART 20


__ADS_3

Mobil itu berhenti, seorang pelayan membuka pintu mobil untuk majikannya. Sindy menatap lagi wajah suaminya. Farel mengangguk kecil. Sindy turun perlahan-lahan karena baby Kaysan saat ini sedang tidur pulas dalam pelukannya.


"Selamat datang Nyonya Sindy!" Sapa para pelayan yang berjejer rapi menyambutnya.


"Terimakasih!" Ucap Sindy dengan sedikit menundukkan kepalanya untuk membalas penghormatan para pelayan mansion kepadanya.


Farel mengajak istrinya masuk ke dalam mansion baru yang dibangun untuk istri dan anak-anaknya itu.


"Selamat datang di istanamu sayang!" Sapa Farel dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


"MasyaAllah sayang! terimakasih untuk kejutannya," Ucap Sindy yang sudah berlinang air mata haru.


"Ini hadiah untukmu, karena kamu telah memberikan aku seorang putra tampan." Farel merentangkan tangannya untuk mempersilahkan istrinya melihat-lihat setiap ruang yang ada dalam mansionnya.


"Farel aku tidak ingin diikuti pelayan." Bisik Sindy yang merasa risih karena langkanya terus di buntuti oleh pelayan.


Farel mengangkat satu tangannya ke arah dua orang pelayan yang mengikuti mereka.


Sindy butuh privasi bersama suaminya karena Farel selalu mengobral kemesraan tidak kenal tempat dan orang yang ada di sekitarnya.


"Sayang, mengapa kamu memilih Bogor sebagai tempat tinggal kita?" Tanya Sindy ketika sudah berada di taman belakang.


"Karena aku tahu, kamu senang dengan daerah yang sejuk, kamu senang rumah yang banyak pohon, tanaman dan hal-hal yang berbau alam, itulah sebabnya aku memilih Bogor sebagai tempat tinggal kita." Satu kecupan dilayangkan lagi ke pipi istrinya.


"Bagaimana dengan keluargamu, jika mereka tahu istana ini kamu berikan kepadaku, bukankah mereka akan tambah membenciku?" Sindy masih takut dengan ibunya Farel.


"Jika bunda nanti ke sini lagi, aku sudah meminta para penjaga di luar sana untuk tidak menemuimu tanpa aku disisimu, kalau dia datang hanya untuk menghinamu." Ujar Farel.


"Tapi tidak baik mengusir orangtuamu sayang, walau bagaimanapun juga ibu adalah ibu, apa pun yang buruk dalam dirinya, surgamu ada padanya dan surgaku ada padamu." Ujar Sindy menasehati suaminya.


"Aku tahu itu cantik, hanya saja seorang ibu memanfaatkan statusnya hanya untuk menghina dan merendahkan orang lain, dan aku tidak suka ibuku seperti itu, apa lagi dilakukan pada orang yang telah membahagiakan putranya. Bukankah itu tidak adil?" Farel masih sakit hati dengan Nyonya Alya yang sudah berusaha memisahkan dirinya dan Sindy.


"Bunda dan aku hanya butuh waktu untuk beradaptasi saja sayang, mungkin suatu saat nanti bunda akan menerimaku dengan senang hati." Ucap Sindy menghibur suaminya.


"Ini kamar utama kita sayang, ada dua kamar utama kita satu dibawah sini dan satu lagi ada di lantai dua," ucap Farel membuka pintu kamar utama mereka yang ada di lantai satu karena kamar itu menghadap langsung ke arah taman samping yang lebih privasi.


"Disebelahnya ada kamar bayi kita, tapi untuk saat ini, tempat tidur bayi bergabung dengan kita dulu sayang." Ucap Farel

__ADS_1


Sindy menidurkan putranya di tempat tidur Kaysan yang ada di kamar mereka, ia lalu membuka coat hitam yang masih menempel di tubuhnya. Melihat tonjolan yang menggiurkan yang terdapat dibelahan dada istrinya, tanpa ada izin dari istrinya, Farel sudah membuka dress panjang milik Sindy.


"Aku belum pingin ganti baju sayang, ini baru di pakai di hotel tadi" Ucap Sindy yang belum mengerti niat suaminya yang dikiranya hanya untuk membantu membuka pakaiannya.


Tanpa menjawab pertanyaan istrinya, Farrel juga melucuti pakaian dalam Sindy, membuat gadis ini baru mengerti jika suaminya menginginkan dirinya.


"Akkhh!" Farel." Ucap Sindy ketika bibir itu sudah bermuara pada miliknya ketika dia masih dalam keadaan berdiri dengan kakinya yang sedikit terbuka untuk memudahkan suaminya bermain di bawah sana.


Tubuh itu di bawah ke atas ranjang empuk yang menanti kedatangan mereka untuk tempat peristirahatan lelah atau pun menjadi arena permainan panas setiap saat.


Dalam sekejap penyatuan kedua tubuh itu saling memberi kehangatan, berguling ke sana kemari untuk lebih mengeksplor gejolak birahi yang menuntut jiwa keduanya.


Keringat bercucuran dengan diiringi nafas memburu, yang memacu dengan menembus puncak dari birahi yang telah terbang ke awan.


Erangan yang lolos langsung menyampaikan bagaimana rasanya. Saat lembah sempit mengisap ketat milik sang suami yang terus memacu sedari tadi.


"Uhhhhkk!"


Sindy tak mampu menahan gejolak jiwanya. Dia sangat menikmati setiap hentakan yang diberikan oleh sang pemilik tubuhnya saat ini.


Mereka bercinta untuk pertama kalinya di istana milik suaminya. Farel menyerangnya dengan segala macam gaya yang diinginkannya pada istrinya.


Tubuh itu seakan tidak lagi diperintah oleh otaknya, karena sang suami lebih mengusai arena permainan mereka siang itu.


Suasana alam sekitar yang tenang nan sejuk seakan mendukung percintaan panas mereka yang tiada kenal lelah walaupun sudah berkali-kali sang istri melakukan pelepasan.


keduanya melenguh keras, ketika untuk terakhir kalinya lahar panas itu sudah meluap dari tempatnya, melepaskan diri dari ribuan ketegangan yang bersumber pada milik sang suami.


Tubuh Sindy meringkuk perlahan kala getaran pada miliknya menjepit kuat senjata Laras panjang milik suami yang masih bersarang pada tubuhnya.


Farel jatuh pada tubuh istrinya dengan membiarkan miliknya tetap diam didalam sana merasakan sisa-sisa getaran yang mencengkram hangat miliknya


Keduanya bermandikan peluh dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Sindy tidak mau berkata apapun, walaupun bisikan pujian yang didapatkannya saat ini terus saja di lancarkan oleh suaminya, karena kelihaiannya yang mampu bertahan menerima serangan berkali-kali pada dirinya.


"Kamu hebat sayang, kamu sangat mengagumkan, bagaimana mungkin aku membiarkan orang lain menyakitimu, jika kamu memberikan sesuatu yang tidak bisa ku dapatkan dari wanita lain." Pujian terdengar indah oleh Sindy dari pangerannya.


Sindy hanya meraih tangan kekar itu lalu mencium telapak tangan itu dengan lembut.

__ADS_1


"Jangan takut sayang, aku akan tetap disisimu walau apapun yang terjadi." Ucap Sindy membalas pujian suaminya.


Farel bangkit dari tempat tidurnya menggendong tubuh polos istrinya membawanya ke dalam kamar mandi, untuk mandi bersama karena mereka harus makan siang bersama karena Sindy harus menyusui bayinya.


Ketika mandi bersama, Farel lebih intens mengurus tubuh istrinya. Tiap jengkal tubuh itu, di sabuninya dengan lembut.


Farel berhenti di tempat sensitif milik istrinya lagi. Menyabuni cukup lama di tempat dibawah sana. Dua jarinya sudah menyusup masuk memberikan lagi kenikmatan pada istrinya. Sindy juga seakan tidak pernah bosan menemukan itu karena ia sangat mendambakan sentuhan suaminya pada miliknya.


Puas bermain dengan tangan jarinya. Farel meminta Sindy untuk duduk di atas bathtub.


Kedua paha itu di renggang lebih lebar. Farel memainkan lidahnya di tempat yang sama. Erangan dan lenguhan Sindy makin menggema di dalam kamar mandi yang cukup luas itu.


Hisapan dan jilatan dari suami yang membuatnya kembali terbang ke angkasa. Sindy menekan kuat kepala suaminya untuk lebih dalam memberinya nikmat.


"Akkhhh!" Sindy tersenyum setelah mendapatkan lagi or****enya untuk terakhir kalinya.


Setelah memuaskan istrinya Farel meneruskan memandikan Sindy seperti anak kecil yang diurusnya dengan sangat telaten.


"Kenapa berhenti sayang? kenapa tidak dilanjutkan?" Tanya Sindy heran yang melihat suaminya tidak menuntaskan permainan mereka, padahal dia tahu Farel masih menginginkannya dirinya.


"Besok malam saja sayang, sekarang kamu harus makan yang banyak untuk menyusui baby kita." Ujar Farel.


"Baiklah, terimakasih sayang." Ucap Sindy yang ikut menyabuni suaminya.


"Mau makan di kamar atau di meja makan sayang?" Tanya Farel sambil mengeringkan rambut Sindy dengan hair dryer yang ada di kamar mandi.


"Di meja makan saja sayang karena ini hari pertama kali kita makan bersama di istana kita, aku ingin menikmati makanan di atas meja makan di ruang makan kita.


"Nanti sore kita traveling di istana sendirian karena masih banyak tempat yang belum kamu kunjungi." Ucap Farel seraya membantu Sindy memakaikan dress panjang yang sudah ia siapkan di walk in closet.


"Farel, apakah aku sedang bermimpi saat ini?" Tanya Sindy ketika mendapatkan surga pertamanya di dunia dari suaminya.


"Tidak sayang, ini nyata untukmu, asalkan kamu menjadi istri penurut, aku tidak segan-segan memberikanmu apa saja. Tugasmu hanya melayaniku dan merawat putra kita." Farel membalikkan tubuh Sindy menghadap dirinya.


"Aku takut jika suatu saat nanti membuatmu kecewa lagi." Ujar Sindy menatap manik mata Farel.


"Asalkan tidak meninggalkanku seperti yang pernah kamu lakukan dua kali padaku. Aku tidak tahu lagi cara mengikatmu agar kamu tidak pergi dariku." Farel mengucapkan kata-kata itu dengan penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2