Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
41. PART 41


__ADS_3

Setelah dirawat dua hari di rumah sakit di daerah Jakarta. Sindy di jemput oleh mobil ambulans rumah sakitnya untuk membawa putrinya baby Afta yang masih lemah, untuk dirawat di rumah sakit miliknya di Bogor.


Dokter spesialis anak, yaitu dokter Amanda sudah siap menyambut kedatangan pasien, yaitu putri bos mereka itu.


"Apa yang terjadi sebenarnya dokter Sindy?" Mengapa baby Afta mengalami diare akut?" Tanya dokter Amanda pada Sindy yang juga terlihat menegang karena melihat kondisi putrinya yang masih lemah.


"Sebenarnya ia masih mendapatkan ASI dariku dan selalu makan bubur tim yang diolah sendiri oleh aku.


Tapi, ibu mertuaku yang sok pintar itu memberikan bayi ini susu formula dan makanan yang dibuat tidak sesuai ketentuan gizi yang diatur berdasarkan petunjuk dokter, di tambah lagi putriku mengalami setress karena tidak melihat diriku seminggu ini dokter Amanda....hiks..hiks!" Sindy menangis tersedu-sedu di ruang NIKU khusus untuk perawatan bayi.


"Aku sudah memberikan perawatan yang terbaik untuk baby Afta. Tolong jangan bersedih lagi karena kamu harus kuat untuk anak-anak mu termasuk bayi yang saat ini kamu kandung, sayang!" Dokter Amanda menasehati bosnya yang saat ini sangat labil karena kehilangan suami yang belum tahu keberadaan saat ini, setelah pesawat jet milik pribadi Farel jatuh di hutan Jerman ketika menuju Hamburg Jerman.


"Maafkan aku dokter Amanda!" Aku benar-benar merasa sendirian saat ini tanpa suamiku. Kasihan kedua anakku, bagaimana jika suamiku...ohh!" Tangisnya makin menjadi, membuat dokter Amanda ikut hanyut dalam kesedihan yang dirasakan dokter Sindy saat ini.


"Dokter Sindy, jangan pesimis seperti itu, jika kamu lemah bagaimana dengan kedua anakmu dan bagaimana dengan janinmu yang ada di dalam sana, bukankah kamu tidak kasihan padanya, jika kamu menangis seperti ini, emosinya juga ikut terpengaruh di alam rahimmu. Jangan berpikiran sempit pada sesuatu yang belum jelas kebenarannya, karena itu akan membuatmu makin terpuruk. Tetap yakin dan berdoa bahwa suamimu akan ditemukan dalam kondisi sehat walafiat." Dokter Amanda menasehati bosnya itu.


"Aku sangat takut mempersiapkan diriku pada hal yang buruk." Ucap Sindy.


"Untuk apa menduga sesuatu yang belum jelas, bukankah itu sangat menyakitkan untukmu." Timpal dokter Amanda.


"Maafkan aku dokter Amanda, karena telah melibatkan anda dalam urusan pribadiku." Ujar Sindy.


"Bukankah di rumah sakit KAYSAN adalah keluarga?" Selama ini, dokter Sindy sendiri yang mengumandangkan rasa persaudaraan dan kekeluargaan yang terjalin di sesama para petugas medis dan juga pasien yang harus kita bina dan kita jaga karena itu adalah modal utama dalam membantu sesama tanpa melihat tingkat sosial diantara kita.


Mengapa sekarang anda merasa sendiri di saat anda sangat membutuhkan motivasi moral dari kami sesama dokter di sini. Kesedihanmu adalah milik kami juga. Kami ikut merasakan kepedihan hatimu dokter Sindy." Ucap dokter Amanda yang terus menguatkan hati Sindy.


"Terimakasih banyak dokter Amanda!" Mungkin saat ini aku lebih membutuhkan perhatian kalian daripada sebelumnya untuk mengokohkan hatiku untuk tegar menerima ujian Allah yang saat ini menimpa keluargaku." Ucap dokter Sindy.


Keduanya saling berpelukan dan Sindy kembali menangis menumpahkan semua kegundahan hatinya yang saat ini telah merundungnya dengan kesedihan.

__ADS_1


Dokter Amanda mengantarkan bosnya itu ke ruang kerja Sindy. Para rekan kerja Sindy sudah ikut bergabung di ruang kerja Sindy untuk menyemangati istri Tuan Farel ini.


"Dokter Sindy, kami turut prihatin atas ujian dari Allah yang saat ini anda jalani." Ucap dokter Alea mewakili teman-temannya.


"Terimakasih atas dukungan kalian, bebanku sedikit berkurang saat ini, aku mohon doa dari kalian semua agar suamiku cepat ditemukan dalam keadaan sehat." Ucap Sindy haru.


Satu persatu dari mereka, memeluk Sindy sambil menguatkan hati dokter Sindy.


Tok...tok...


Cek lek..


"Dokter Sindy!" Nyonya Clara sudah mau melahirkan karena kontraksinya sudah terjadi setiap lima menit sekali . Pembukaannya sudah lima dokter." Ucap suster Lucy.


"Tunggu sebentar, saya akan segera ke sana suster!" Sindy pamit dari teman-temannya menuju ruang bersalin.


"Ayo, semua kembali ke ruang prakteknya masing-masing!" Titah dokter Kartika pada teman-temannya yang berada di ruang kerjanya Sindy.


Nafasnya tersengal dengan air matanya berlinang karena tidak kuat menahan rasa sakit pada perutnya.


"Apa kabar nyonya Clara!" Sindy menyapa pasiennya ini dengan lembut.


"Sangat sakit dokter Sindy!" Ucap Nyonya Clara sambil meringis kesakitan.


"Baiklah, saya lihat dulu ya, sudah berapa pembukaannya saat ini." Ucap dokter Sindy seraya menyibak selimut yang menutupi tubuh nyonya Clara untuk melihat jalur lahir yang saat ini sudah siap untuk melahirkan bayinya.


"Ikuti aba-abaku dalam hitungan mundur dan bacalah doa sebelum mengejan!" Titah dokter Sindy pada istri dari mantan kekasihnya ini.


"Tiga, dua, satu!" Dokter Sindy memberikan aba-aba pada Nyonya Clara untuk mengejan.

__ADS_1


"Bismillah!" Ucap nyonya Clara sambil mengejan.


Nyonya Clara sudah mencoba berkali-kali untuk mengeluarkan bayinya, namun tenaganya sudah terkuras karena tidak sanggup untuk mengejan.


Sindy hampir putus asa menangani pasien yang satu ini karena dirinya juga saat ini sangat labil.


"Nyonya Clara dengar aku!" Jika kamu lemah bayimu tidak akan bisa diselamatkan." Ancam Sindy.


Nyonya Clara mengangguk lemah untuk berusaha mencoba lagi. Lidahnya sudah sangat kelu untuk menyampaikan perasaannya saat ini.


"Kita bisa mulai lagi, jangan biarkan putramu berhenti bernafas di leher rahim!" Titah Sindy.


Dengan tenaga yang tersisa dan tekad yang kuat, Nyonya Clara akhirnya mengejan juga untuk menyelamatkan putranya.


Tangis bayi yang sangat tampan seperti wajah blasteran ini, membuat Sindy dan nyonya Clara menangis haru. Sindy meletakkan bayi itu dibelahan dada ibunya.


Dengan instingnya, bayi itu mencari put*ng ibunya. Tapi itu tidak berlangsung lama, nyonya Clara tiba-tiba pingsan karena terjadi pendarahan hebat dari dalam rahimnya.


"Astaga bagaimana ini dokter Sindy!" Ucap suster yang mengurus nyonya Clara untuk membersihkan darah pasca melahirkan usai ditangani Sindy.


Dokter Sindy yang sudah mencuci tangannya kembali lagi melihat nyonya Clara yang tiba-tiba pingsan.


"Nyonya.... nyonya Clara!" Dokter Sindy menepuk-nepuk pipi nyonya Clara agar bisa sadar.


Dokter Sindy meminta suster untuk memasang infus pada nyonya Clara dan suster yang lain mengambil kantung darah ditempat persediaan darah yang tersimpan rapi di rumah sakit itu.


Segala upaya yang dilakukan oleh dokter Sindy untuk menyelamatkan nyawa nyonya Clara yang saat ini makin drop.


Di luar sana, khususnya di ruang NIKU, baby Afta mengalami kejang-kejang karena demamnya kembali tinggi.

__ADS_1


Dokter Amanda yang bingung memberi tahukan kondisi putri dari bosnya itu karena sedang menangani Nyonya Clara yang saat ini hampir diambang kematian karena jantungnya sangat lemah.


__ADS_2