
"Dokter Sindy!" Selamat atas keberhasilan wawancaranya pagi ini, kami sangat bangga dengan anda yang sangat hebat dalam menjawab setiap pertanyaan wartawan sesuai dengan jawaban yang dibutuhkan. Tidak melenceng ke sana kemari, semuanya tepat sasaran. Itulah yang membuat anda hebat.
Hanya saja pertanyaan yang sangat mendasar dari wartawan Dian Nitami, mengapa anda melemparkannya kepada suami? Apakah benar jika Tuan Farel sangat posesif pada anda, hingga membatasi jender untuk berkarya di rumah sakit ini?" Tanya dokter Kartika.
"Anda bisa mendapatkan jawaban yang anda butuhkan Dokter Kartika, karena Nara sumbernya sudah berada di sini." Ujar Sindy yang menunjukkan arah datangnya suaminya yang sedang menghampiri mereka di ruang loby rumah sakit.
Farel yang baru usai berbincang dengan wartawan yang tadi berdialog dengan istrinya ketika wawancara eksklusif hari ini menghampiri istrinya yang saat ini sedang bercakap dengan rekan dokternya.
"Sayang, aku ingin bicara denganmu sebentar" Ucap Sindy pada suaminya.
"Ada apa sayang?" Tanya Farel.
"Dokter Kartika ingin bertanya sesuatu kepadamu. Apakah kamu bisa meluangkan waktumu sebentar sebelum kembali lagi ke perusahaan?" Sindy menahan suaminya untuk tidak beranjak dulu dari rumah sakitnya.
"Silahkan dokter!" Sindy meninggalkan suaminya dan dokter Kartika yang terlalu kepo padanya.
"Sindy, aku ingin kamu tetap disini saat aku menjawab pertanyaan dokter Kartika." Farel tidak menyukai Sindy yang meninggalkannya sendiri dengan perempuan lain, walaupun itu adalah bawahan istrinya.
Dokter Kartika menelan salivanya dengan kasar, awalnya gadis ini sudah senang banget bisa berduaan dengan pria tampan, yang dielu-elukannya ketika bergabung di rumah sakit KAYSAN, kini ia harus menelan kecewa karena Farel tidak ingin berdua saja dengannya.
Sindy ikut duduk di sofa yang tersedia di lobby rumah sakit tersebut dan mendengarkan keduanya berbincang.
"Maaf Tuan Farel, sebenarnya pertanyaan dariku tidak begitu penting tapi karena anda sudah di sini saya akan menanyakannya.
Mengapa Tuan tidak mempekerjakan dokter laki-laki dalam mengembangkan rumah sakit ini?" Akhirnya dokter Kartika mau tidak mau bertanya juga pada Farel, suami dari bosnya Sindy.
"Aku lebih percaya dengan kemampuan wanita dan aku tidak ingin ada keterlibatan cinta lokasi dalam sebuah pekerjaan, jika anda ingin mendapatkan jodoh dengan rekan kerja yang seprofesi dengan anda, silahkan dokter bisa mencarinya di luar!" Apakah anda sudah cukup paham dengan penjelasan saya dokter!" Ucap Farel yang membuat dokter Kartika, seketika meremas celana kulotnya dengan sangat erat karena Tuan Farel membalas pertanyaan yang tidak ia butuhkan.
"Sayang, aku harus kembali ke perusahaan tapi aku ingin bicara denganmu sebentar." Ucap Farel bergegas bangun dari tempat duduknya dan meraih tangan Sindy.
__ADS_1
Dokter Kartika kami permisi dulu!" Farel mengajak istrinya ke ruang kerja Sindy dan di sana adu mulut pun terjadi.
"Ada apa denganmu sayang?" Mengapa kamu membiarkan aku berdua saja dengan dokter Kartika? jangan lagi-lagi melakukan itu! itu sama halnya kamu memberikan lampu hijau pada wanita lain untuk tebar pesona di hadapanku." Ucap Farel sarkas di hadapan istrinya.
"Lakukan saja jika kamu menginginkan dia juga! bukankah kamu yang merekrutnya untuk membantuku di sini?" Sindy seakan ingin menabuh perang dengan suaminya.
"Aku akan melakukan permintaanmu jika kamu sudah enggan untuk mencintaiku lagi." Farel balik menantang istrinya.
Sindy yang ingin menghukum suaminya malah berbalik menembak dirinya sendiri.
"Apakah kamu sudah bosan padaku sayang?" Farel menghampiri pintu dan menguncinya dengan rapat.
Sindy beringsut dari duduknya karena ia bakalan mendapatkan hukuman dengan mulut berbisanya barusan.
Tubuh Sindy di tarik paksa oleh oleh Farel untuk duduk diatas pangkuannya. Dengan nafas yang terdengar berat dan bola matanya mulai sayu, ia mulai beraksi pada tubuh istrinya.
Sindy mende**h saat jari nakal Farel memporak-porandakan lembah sempit miliknya dibawah sana, dengan mulut Farel yang sudah mengusai belahan dadanya.
Hanya dengan cara itu, suaminya menyiksanya, membuatnya bergetar dengan kakinya terjungkai setengah terbuka. Kelopak matanya tampak berat menerima permainan jari jemari Farel yang membuatnya berkali-kali melakukan pelepasan.
Lenguhan dan erangan itu tertahan karena tempat ini tidak mendukungnya untuk meracau karena nikmat yang saat ini ia rasakan.
Melihat nafas istrinya yang sudah menggebu, Farel menghentikan permainannya dan merapikan kembali busana istrinya.
"Aku tidak akan memberikan lebih dari ini sayang, karena hukumanmu cukup sampai di sini." Ujar Farel santai, lalu mengecup bibir itu sekilas dan pergi begitu saja.
Sindy langsung ke kamar mandi dengan menahan kesalnya karena Farel menangguhkan hasrat birahinya yang belum sempat tuntas.
Farel mempermainkan gairah istrinya dan tidak mempedulikan istrinya yang masih membutuhkannya untuk melakukan lebih.
__ADS_1
Farel mengendarai mobilnya sambil tersenyum puas. Ia puas telah membuat istrinya tidak bisa menikmati puncak kenikmatan yang lebih menggairahkan.
"Jangan pernah menantang suamimu ini sayang karena kau adalah satu-satunya wanita yang sudah membuatku mabuk dengan pesonamu setiap saat. Hukumanku padamu hanya dengan kenikmatan bukan dengan hal lainnya. Sindy... Sindy..
aku ingin kamu yang mengejarku bukan aku lagi, karena pasti kamu akan lebih membutuhkan suamimu ini, untuk menyelesaikan urusan ranjangmu.Ternyata mudah juga menghukummu." Farel bermonolog.
Di rumah sakit Sindy sedang melakukan tugasnya karena ada operasi darurat yang harus ia tangani. Gadis cantik yang telah memiliki satu putra ini, lupa akan sakit hatinya pada suaminya yang telah membuatnya sudah tersiksa hari ini.
"Dokter Sindy, pasien mengalami pendarahan hebat," ucap dokter Ines.
"Periksa lagi tekanan darahnya dan berikan transfusi darah secepatnya. Lakukan dengan cepat jangan sampai kita kehilangannya.
"Nyonya, tolong bertahanlah! kami akan menyelamatkanmu dan juga bayimu." Sindy menenangkan pasiennya yang saat ini sudah sangat lemas.
"Dokter Sindy, melihatmu saja aku kembali semangat, aku ingin kamu yang menangani persalinanku." Ucap pasien Resty sambil menatap wajah cantik dokter yang saat ini lagi viral di media sosial.
Sindy tersenyum, lalu mencium pipi pasiennya untuk memberikannya semangat. Nyonya Resty meresapi ciuman itu, seakan aliran darahnya seketika berubah menjadi lebih hangat memompa ke arah jantungnya sebelum kembali ke otak untuk mendapatkan oksigen.
Air mata harunya menetes dipipi pucatnya karena ia tidak menyangka mendapatkan perlakuan istimewa dari dokter Sindy, dokter kebanggaan masyarakat Indonesia saat ini.
"Apakah sudah lebih baik Nyonya Resty?" Tanya dokter Sindy melihat pasiennya yang saat ini sedang berbunga-bunga setelah mendapatkan ciuman semangat darinya.
"Aku jadi semangat dokter, sekarang lakukan tugas anda dokter! terimakasih untuk ciuman semangatnya. Keluargaku pasti senang mendengar cerita ini. Anda sangat hebat dokter." Nyonya Resty memuji dokter idolanya yang super cantik dengan otak canggih ini.
"Kalau begitu kami akan mempersiapkan anda untuk melakukan operasi sesar, kita bisa mulai sekarang?" Tanya Sindy lalu memberikan injeksi anastesi pada tubuh pasien agar bisa memulai operasi sesar pada pasien Resty.
Nyonya Resty seketika tidur dengan tenang dan sudah tidak sadarkan diri karena dokter Sindy memberinya bius total. Tim dokter siap ditempatnya masing-masing dengan pakaian operasi yang lengkap sebagai bagian prosedur dalam melakukan operasi pada pasien.
Satu persatu memegang alat bedah mereka, dalam melakukan operasi sesar sore itu. Sindy dengan pisau bedahnya mulai membedah perut pasien dari tujuh lapis kulit itu sampai mendapati bayinya.
__ADS_1