Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
18. PART 18


__ADS_3

Karena kehamilan Sindy yang sudah memasuki usia delapan bulan, Sindy ingin melahirkan bayinya di Rotterdam Belanda. Farel mengerti keadaan istrinya dan dia hanya mengikuti kemauan istrinya.


"Kandunganku hampir mencapai delapan bulan, aku tidak mau melakukan penerbangan ke manapun atau kembali ke Paris Perancis aku ingin menetap di sini." Ucap Sindy manja.


"Tidak apa sayang, yang penting kamu merasa nyaman di manapun kamu berada." Timpal Farel.


Farel meminta Sindy untuk pindah lagi rumah karena istrinya masih trauma kejadian malam itu. Sindy mengangguk senang dan mereka pun akhirnya pindah dari rumah itu dan berpamitan dengan nenek Leticia.


"Aku sudah memilih rumah yang lain dan masih di wilayah Belanda. Kita akan langsung ke sana sekarang, semua barangmu biarkan anak buahku yang mengurusnya." Ucap Farel yang sudah menyiapkan semuanya untuk pindah dari rumah kontrakan Sindy.


"Tapi aku mau pamit dulu dengan nenek Leticia, dia satu-satunya temanku di sini." Pinta Sindy.


"Baiklah sekarang kita ke rumahnya." Ujar Farel.


Farel dan Sindy menemui nenek Leticia yang sedang merawat tanamannya.


Gonggongan anjing milik nenek Leticia menghentikan langkah Sindy yang sangat ketakutan dengan binatang yang satu ini.


Nenek Leticia memanggil anjingnya untuk kembali ke kandang.


"Sayang, apakah lelaki tampan ini suamimu?" Tanya nenek Leticia dengan senyum mengembang ketika melihat Sindy memeluk lengan suaminya dengan mesra.


"Benar nenek," ucap Sindy seraya mendongakkan wajahnya ke pangerannya sambil tersenyum.


"Kami ingin pamit untuk pindah rumah." Ucap Sindy dengan ekspresi wajah sedih karena harus berpisah dengan nenek Leticia.


"Kalau masih di sini rumahnya, nenek masih bisa mengunjungimu sayang." Ucap nenek Leticia seraya menggenggam tangan Sindy yang sudah ia anggap seperti putrinya sendiri.


"Aku akan menantikan kedatangan nenek" Ucap Sindy haru.


"Aku akan merindukanmu Sindy, aku sudah senang kamu di sini. Sekarang kamu ingin pindah lagi, tidak apa sayang. Semoga kamu selalu bahagia dengan si tampan ini." Ucap nenek Leticia kepada Sindy sambil melirik Farel yang merupakan keturunan Indonesia Turki ini.


"Selamat tinggal nenek!" semoga selalu sehat, sampai nanti." Keduanya saling menatap lalu kembali berpelukan.


Walaupun keakraban yang terjalin diantara mereka hanya sesaat namun keduanya sudah terikat satu sama lain. Sosok Sindy yang hangat dan sosok nenek Leticia yang penyayang membuat keduanya saling melengkapi karena kesepian tanpa pasangan hidup saat itu. Kini Sindy merasa dunianya kembali utuh setelah cintanya datang kembali mewarnai hidupnya yang sempat karam karena fitnah keji yang dilancarkan oleh bajingan seperti dokter Alan.


Keduanya saling melambaikan tangan lalu Sindy masuk ke mobilnya dan memberikan senyum terbaiknya pada nenek Leticia hingga mobil itu bergerak menjauh dari rumah nenek Leticia.


"Kita mau pindah di mana Farel? Tanya Sindy.


"Kejutan sayang, lihat saja nanti." Ujar Farel dengan melihat wajah istrinya sesaat karena sedang menyetir mobil.


Farel terus mengendarai mobilnya sampai di tempat tujuan di mana sebuah rumah yang menghadap ke sebrang kanal yang ditumbuhi berbagai aneka warna bunga tulip disepanjang kanal tersebut.


Setibanya di tempat itu, Sindy disuguhi pemandangan alam yang sangat cantik. Sebuah rumah mewah yang arsitekturnya minimalis yang ditumbuhi pohon Cemara dan bunga tulip serta masih banyak lagi tanaman hias lainnya yang menambahkan keasrian rumah itu.


Sindy mendatangi kamar utama yang menghadap langsung ke arah kanal. Saluran air yang bersih dan jernih mengalir tenang di kanal itu, membawa perahu-perahu sebagai alat transportasi yang mengantar penumpangnya dari satu desa ke desa lainnya.


"Farel ini seperti surga dunia yang aku lihat saat ini sayang, begitu tenang dan menyejukkan. Aku akan sangat betah disini, menghabiskan waktu berdua denganmu setiap saat." Ucap Sindy.

__ADS_1


"Rumah ini masih berada di wilayah desa Giethoorn sayang. Jika kamu ingin ke sana bisa berjalan kaki dari sini atau naik perahu di kanal itu." Ucap Farel yang sudah melingkar tangannya ke perut istrinya.


Desa Giethoorn memiliki aura magis yang biasanya kita temukan di cerita-cerita dongeng. Desa yang berdiri di tahun 1230 ini adalah salah satu tempat impian yang nggak disangka ternyata betul adanya.


"Farel aku senang berada di sini, ini sangat indah, menyejukkan dan membuatku sangat senang." Sindy mengusap tangan suaminya yang masih melingkar diperutnya.


"Kita akan menunggu baby sampai lahir sayang, aku sangat merindukanmu Sindy, aku akan memberikan apapun padamu, asalkan kamu tidak lagi pergi meninggalkanku di saat hatimu sedang gusar. Selesaikan semuanya secara dewasa!" Aku tidak sanggup kehilanganmu lagi sayang, rasanya pingin mati." Farel mengeluhkan sikap istrinya.


"Hmmm!" Sindy menjawab singkat permohonan suaminya.


Farel menggendong tubuh itu membawanya ke atas kasurnya. Merebahkan tubuh itu secara perlahan.


"Boleh aku mengunjungi bayiku?" Bisiknya dengan suara yang sudah berat karena menahan dahaga birahi yang belum sempat menembus gawang pertahanan istrinya selama mereka bertemu lagi Karena trauma Sindy pada kejadian itu.


Sindy mengangguk pelan, mengijinkan pangerannya menunaikan haknya pada tubuhnya. Bibir itu disentuh lembut dengan bibir Farel yang bermain gemas pada bibir sensual milik istrinya.


Ciuman Farel yang sudah merambah dibagian bawah perut istrinya, dengan melebarkan kedua paha mulus istrinya. Farel bermain dibawah sana dengan bibirnya dan juga satu tangannya yang bermain halus di tempat sempit milik sang istri.


Sindy mengerang nikmat kala, pemanasan awal itu telah membawanya kembali ke alam nirwana.


Matanya begitu sayu diiringi dengan desa***n lirih yang mengalun indah di dalam kamar sunyi itu.


Suara burung berkicau riuh membahana di setiap ranting pohon yang ada diluar kamar seakan menambah syahdu iringan erangan romantis di dalam kamar sana ketika dua insan sedang memadu kasih.


Puas menikmati biji kenyal istrinya dengan meneguk cairan hangat mengalir dari liang sempit itu, kini Farel mengarahkan senjata laras panjangnya menembus nirwana yang menawarkan sejuta sensasi nikmat membasahi lelahnya dahaga kerinduan pada milik sang istri yang sudah lama tidak dijamah olehnya.


Penyatuan tubuh keduanya yang sudah diawali dengan pemanasan ringan. Farel tidak bisa melakukan lebih garang di permainan kali ini, karena keadaan istrinya yang sedang hamil tua membuatnya sangat hati-hati.


"Akhhhh!" Erangan keduanya saat hentakan demi hentakan terpacu cepat karena hampir tiba gelombang kenikmatan itu menyapa getaran pada aliran bawah tubuh mereka.


"Faster baby!" Pinta Sindy yang sudah hampir sampai untuk melepaskan kembali cairan kenikmatannya.


"Oh baby, I like you honey." Farel menyemburkan laharnya menyiram kembali rahim istrinya untuk kesuburan calon babynya di dalam sana.


"Terimakasih sayang!" Farel mengecup lagi bibir istrinya yang sudah nampak bengkak karena perbuatannya.


Sindy tersenyum puas saat suaminya kembali menyenangkan raganya dan memberikan banyak cinta dalam jiwanya.


Tubuh polos keduanya dibiarkan terbuka, merasakan kesejukan alam sekitarnya menyusup kulit lembut yang terawat setiap saat.


Farel mengecup perut istrinya dan mendoakan keselamatan bayi dan istrinya agar saling menyelamatkan diri mereka, ketika bertarung di persalinan nanti.


"Jangan menyusahkan mamamu sayang! datanglah dengan cara yang baik seperti awal kamu hadir di alam rahim ini." Bisiknya lembut pada bayinya.


Sindy bangkit ingin ke kamar mandi, namun Farel mencegahnya, ia ingin menggendong ratunya itu ke kamar mandi.


"Kita mandi bareng sayang! oh iya kamu jangan masak lagi karena aku sudah menyewa pelayan yang akan melakukan semuanya." Ujar Farel.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Memasuki usia kandungan sembilan bulan, seorang perawat yang sudah datang menemani Sindy yang sebentar lagi akan melahirkan.


Nyatanya, para calon ibu di Belanda merasa lebih nyaman dan senang jika melahirkan di rumah. Jadi Negara kincir angin ini tercatat sebagai Negara dengan pelaku homebirth tertinggi di Eropa. Ada sekitar 33 persen bayi di Negara ini yang dilahirkan di rumah.


Usai melakukan persalinan, ibu akan dibantu oleh perawat untuk mengurus semua kebutuhan si kecil. Uniknya, perawat juga akan mengurusi kebutuhan ibu, termasuk pekerjaan rumah tangga, lho. Umumnya, perawat ini akan tinggal selama 10 hari di rumah setelah ibu melahirkan.


Karena melahirkan dirumahnya, Sindy ditemani Farel ketika melahirkan.


Walaupun seorang dokter spesialis kandungan, tapi Sindy baru menjadi seorang ibu. Dengan susah payah ia berusaha mengejan untuk mengeluarkan bayinya.


Tangan Farel digenggam sekuat mungkin ketika dirinya berusaha mengejan.


"Dorong terus nona, kepala bayinya sudah mulai kelihatan." Seru perawat itu menyemangati Sindy.


Farel berulang kali mencium pipi istrinya sambil membacakan doa apa saja pada telinga Sindy yang belum mampu melahirkan bayinya.


"Sayang, aku mohon maaf padamu aku telah berdosa padamu, aku telah meninggalkanmu, maafkan aku Farel." Sindy menyadari kesalahannya dan dia ingin suaminya ridho pada dirinya.


"Sayang aku sudah memaafkanmu." Ucap Farel yang tidak mengerti mengapa Sindy tiba-tiba meminta maaf kepadanya di saat berjuang melahirkan anak mereka.


Setelah meminta maaf kepada suaminya, Sindy akhirnya mengeluarkan bayinya dengan mudah.


"Bismillah!" Sindy mengejan sekuat mungkin.


Tangis bayi itu menggema di kamar itu. Suara indahnya menggetarkan hati kedua orangtuanya. Sindy berucap syukur dan menangis haru karena sudah berhasil melahirkan secara normal seperti impiannya.


"Bayinya laki-laki Tuan." Ucap perawat itu membawa bayi itu ke


belahan dada ibunya.


"Terimakasih istriku, sudah melahirkan putraku yang sangat tampan.


Farel tersenyum haru melihat bayinya yang sudah ada di dada istrinya yang saat ini sudah mendapatkan pu**ng ibunya.


"Auhhgt!" Pelan-pelan sayang." Ucap Sindy ketika babynya menyedot put*ngnya dengan rakus.


"Dia kelaparan sayang, jadi sangat rakus saat mendapatkan makanan pertamanya." Ucap Farel mencium kepala putranya.


"Dia mirip denganmu Farel. Dia persis sepertimu." Ucap Sindy sambil mengusap pipi lembut bayinya dengan telunjuknya.


"Benarkah dia mirip denganku?" Tanya Farel yang memperhatikan lagi wajah tampan putranya.


"Tiap sekilas dia mirip juga denganmu sayang. Mungkin dia ingin wajahnya kolaborasi antara kita berdua." Ucap Farel lalu tersenyum kepada istrinya.


"Kita bersihkan dulu babynya baru di gendong papanya." Ucap perawat Siska pada kedua orangtua bayi ini.


Farel meminta ijin istrinya untuk keluar sebentar. Sementara Sindy dan bayinya sedang dirapikan oleh dua perawat yang membantu persalinan Sindy.


"Sayang, aku mau keluar sebentar ya, karena aku ingin mencari nama untuk putra kita." Ucap Farel.

__ADS_1


Sindy hanya mengangguk dan mengijinkan suaminya yang menentukan nama untuk putra pertama mereka.


Di luar Farel sedang mencari nama terbaik untuk putranya. Nama yang belum sempat mereka siapkan.


__ADS_2