Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
44. PART 44


__ADS_3

"Mengapa sekarang kamu jadi so jual mahal, dokter Sindy?" Bukankah kamu pernah mencintaiku?" Tanya dokter Alan yang masih berharap Sindy bisa kembali padanya.


"Mungkin dulu statusku masih gadis dan sekarang aku sudah memiliki suami, jadi tolong jaga sikap anda!" Ucap Sindy tegas.


"Suami?" Kamu bahkan tidak tahu apakah sekarang ini dia masih hidup atau sudah mati."


"Tutup mulutmu breng*sek!" Kecam Sindy dengan wajah nyalang.


"Sudahlah sayang! mengapa kamu tidak balik lagi sama aku?" Statusmu sekarang ini adalah janda dari Tuan Farel. Tanpa suamimu itu kamu bukan siapa-siapa Sindy, karena kecerdasan dan ketenaranmu saat ini, tidak akan mempengaruhi nilaimu di mata masyarakat. Karena koneksi, nama besar keluarga terpandang yang bisa menjamin dirimu tetap dilindungi.


Sekarang keluarga suamimu bahkan tidak mengakui dirimu sama sekali. Satu-satunya jalanmu untuk bertahan dengan rumah sakit sebesar ini adalah menikah denganku." Ujar dokter Alan dengan terus membully status Sindy yang belum jelas saat ini.


"Status aku akan berubah jika aku sendiri melihat jenasah suamiku. Jadi, selama dia belum ditemukan, aku tetap menganggapnya ada dan statusku tetap menjadi istri seorang Tuan Farel Alfarizi." Ujar Sindy, lalu membuka pintu kamar ICU milik nyonya Clara.


"Silahkan temui istri anda Tuan Alan dan berhentilah mengumbar omong kosongmu di hadapanku. Permisi!" Ucap Sindy lalu meninggalkan dokter Alan di ruang ICU dengan istrinya nyonya Clara yang saat ini sedang koma.


"Tunggu Dokter Sindy!" Bisa kamu jelas, mengapa istriku bisa koma dan mengapa dia memilih rumah sakit ini untuk bisa melahirkan anaknya?" Tanya dokter Alan.


"Saya rasa anda lebih tahu jawabannya Tuan Alan karena alasan dia datang dan ingin melahirkan di tempatku bukankah kamu yang lebih mengetahui mengapa dia memilih rumah sakit ini." Jawab Sindy.


"Sial!" Dokter Alan makin keki dengan jawaban Sindy yang tidak menghargai dirinya adalah suami dari pasiennya nyonya Clara.


Sepeninggalnya Sindy dari kamar ICU milik nyonya Clara, kini Dokter Alan yang begitu kesal dengan istrinya melampiaskan kekesalannya dengan cara menyakiti istrinya sendiri karena sudah berani kabur dari kediamannya dan berakhir di rumah sakit milik Sindy.


"Dasar wanita ja**ng!" Kamu kira aku akan menerima anak dari hasil perselingkuhan kamu dengan lelaki lain, hmm?" Entah apa yang kamu katakan kepada Sindy tentang diriku hingga ia bisa melindungi dirimu dari sepengetahuanku.


Jika saja aku tidak berhubungan dengan salah satu dokter di rumah sakit ini, mungkin aku tidak akan tahu di mana dirimu berada kini." Ujar dokter Alan pada istrinya yang masih dalam keadaan koma.


Di ruang kerjanya, dokter Sindy memanggil beberapa teman dokter untuk mengadakan meeting darurat hari itu.

__ADS_1


Ia tidak habis pikir, dari mana dokter Alan bisa tahu jika, nyonya Clara melahirkan di rumah sakit miliknya.


Tidak lama kemudian, satu persatu dari mereka masuk ke ruang kerja dokter Sindy.


Kesepuluh orang dokter yang saat ini sedang bertugas di interogasi dokter Sindy satu persatu.


"Terimakasih kehadiran kalian semua di ruang kerjaku malam hari ini.


Saya ingin tahu mengapa dokter Alan bisa mengetahui jika istrinya melahirkan di rumah sakit ini? apakah diantara kalian yang memberi tahunya?" Karena ketika nyonya Clara masuk ke rumah sakit ini, identitas pribadinya saya rahasiakan atas permintaan pasien yang tidak ingin suaminya mengetahui keberadaannya." Ucap Sindy dengan menatap mata teman-temannya satu persatu.


Tidak ada satupun yang hadir di situ, yang mengakui siapa diantara mereka yang sudah memberi tahu keberadaan nyonya Clara pada suaminya dokter Alan.


"Baiklah!" Jika diantara kalian tidak ada yang mengakuinya, maka teman-teman yang tidak bertugas malam ini akan mendapatkan pertanyaan yang sama dari saya. Jika ada di antara kalian yang sampai ketahuan mengkhianati saya, maka bersiap-siaplah untuk hengkang dari rumah sakit ini." Ucap dokter Sindy serius.


Wajah-wajah diantara mereka, yang ada hanyalah wajah-wajah yang menampakkan kebingungan atas pertanyaan yang diajukan dokter Sindy kepada mereka.


"Silahkan kalian kembali ke tugas kalian masing-masing karena saya akan kembali ke mansion." Ucap dokter Sindy lalu meninggalkan ruang kerjanya.


Sekitar jam dua pagi, sindy mendapatkan kembali panggilan diponselnya. Karena ponsel itu di silent suaranya, ia tidak mendengar sama sekali bunyi panggilan itu.


Tidak lama kemudian, pelayannya mengetuk pintu kamarnya berkali-kali, hingga membuat Sindy mengerjapkan matanya dan membuka pintu kamarnya.


"Ada apa bibi? ini masih jam dua pagi." Ujar Sindy dengan wajah bantal sambil menguap.


"Mohon maaf nona Sindy, itu di luar ada polisi. Mereka mencari nona Sindy." Ucap bibi Nurul dengan wajah panik.


"Baiklah bibi!" Saya akan segera menemui mereka." Ujar Sindy tenang walaupun hatinya saat ini sedang bertanya, mengapa polisi mendatangi kediamannya dini hari.


Sindy membersihkan tubuhnya dan berdandan seadanya, lalu menemui polisi yang sedang menunggunya di ruang tamu.

__ADS_1


"Selamat pagi dokter Sindy!"


"Selamat pagi!"


"Ada apa ya bapak-bapak bertamu di rumah saya di jam seperti ini?" Tanya Sindy yang belum mengerti, gerangan apa dua orang polisi datang ke rumahnya saat ini.


"Anda kami tangkap karena anda sudah menyalagunakan obat-obat terlarang pada tubuh pasien anda hingga tewas." Ujar polisi melaporkan kejadian yang saat ini terjadi di rumah sakit.


"Sebentar pak!" Saya belum mengerti dengan obat- obat terlarang itu. Siapa nama pasien yang terjadi tewas di rumah sakit saya?" Tanya Sindy yang mulai panik.


"Anda telah menyuntikkan jenis obat morfin yang melebihi dosis hingga menyebabkan Nyonya Clara meninggal ketika terakhir kali Anda menemuinya.


Degg...


"Nyonya Clara meninggal?" Tapi saya...?"


Sindy belum menyelesaikan perkataannya, dua polisi itu sudah memborgol kedua tangannya tanpa ingin mendengarkan penjelasannya.


"Anda bisa jelaskan semuanya nanti di kantor polisi dokter Sindy. Kami hanya diberi perintah untuk menangkap anda dan ini surat perintahnya." Ujar polisi Felix seraya memperlihatkan surat penangkapan Sindy pada ibu dua anak ini.


Tubuh Sindy yang sedang hamil tiga bulan dibawa paksa oleh polisi ke mobil polisi.


"Sebentar pak, ijinkan saya bicara dengan pelayan saya, agar menjaga kedua anak saya yang masih kecil dan bayi saya yang berusia tujuh bulan baru sembuh dari sakit." Ucap dokter Sindy dengan air mata yang sudah tercekat di kerongkongannya.


"Baiklah, waktu anda hanya lima menit untuk bicara dengan pelayan anda." Ujar pak polisi Felix.


"Bibi, masih ingat peringatan aku agar tidak membiarkan anak-anak dibawa oleh kedua mertuaku. Jika mereka memaksa tolong laporkan kepada KOMNASHAM." Ujar Sindy lalu meninggalkan rumahnya.


"Nona apa yang bibi jawab, jika tuan muda Kaysan menanyakan keberadaan anda?"

__ADS_1


"Bilang saja, jika saya sedang ke luar negeri menjemput papa Farel. Titip kedua anakku ya bibi!" Ujar Sindy.


__ADS_2