
Setelah melakukan ritual hubungan suami-istri, Farel dan Sindy saling berdekapan. Keduanya melupakan kemarahan mereka sejenak hanya ingin mendapatkan kepuasan batiniah diantara mereka.
Mungkin hati keduanya boleh merasakan kekesalan karena hadirnya orang ketiga di masalalu dalam hidup mereka, namun tubuh keduanya tidak bisa menafikan kebutuhan yang satu itu.
Farel mengecup kening istrinya lembut, lalu merapatkan lagi pelukannya pada tubuh polos istrinya.
"Maafkan aku sayang!" Aku telah menyakitimu berulang kali hari ini. Tolong lupakan semua yang pernah terjadi karena cintaku seutuhnya hanya untukmu dan juga anak-anak kita.
Jika hidup lebih memilih kita untuk tetap bersama dan saling mendukung, kuharap kamu bisa menerima bagian dari masa laluku yang penuh dengan dosa kemaksiatan." Ucap Farel dengan suara yang sudah serak menahan tangisnya.
"Bagaimana jika suatu saat anak itu tahu bahwa kamu adalah ayahnya?" Apa yang akan kamu lakukan padanya? Apakah kamu terus menghindarinya dan berpura-pura tidak mau tahu tentang dirinya?" Tanya Sindy ingin tahu perasaan suaminya pada putranya Luna.
"Luna tidak bisa menuntut aku harus menerima putranya, jika dia mengatakan aku adalah ayah dari putranya, aku tidak tahu cara menghadapi putranya yang mungkin sangat terluka jika tahu aku adalah ayah kandungnya.
__ADS_1
Tapi diatas segalanya, kamu adalah segalanya bagiku sayang, aku tidak mau keluarga kita hancur hanya karena kehadiran wanita itu." Ucap Farel.
"Apakah kamu ingin mengadopsi Farel?" Tanya Sindy dengan menatap mata suaminya lebih dalam.
"Aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu sayang. Biarkan semuanya berjalan apa adanya, karena Tuhan punya cara tersendiri untuk menyelesaikan kemelut rumah tangga kita." Farel tidak ingin memperpanjang masalah ini lebih lama karena ia tidak sanggup jika harus menghadapi amarah istrinya.
Sindy tidak mampu berpikir lagi, apa yang pernah terjadi di masalalu suaminya, semua sudah terlanjur terjadi. Dia hanya berharap agar suaminya tetap konsisten dengan janjinya untuk tidak berurusan dengan Luna dan putranya.
Farel mengerti keinginan istrinya yang ingin dilayani olehnya. Farel melakukan lagi dengan sangat baik. Kali ini Farel membiarkan Sindy mendapatkan kenikmatannya berkali kali walaupun hanya sebatas pemanasan awal.
Lenguhan dan erangan panjang keduanya terdengar erotis saat keduanya saling memberikan kenikmatan.
"Kamu makin hebat sayang." Puji Farel pada istrinya.
__ADS_1
"Siapa yang lebih hebat dari semua wanita yang pernah kamu tiduri?"
Pertanyaan Sindy yang terdengar sinis namun mampu membangkitkan gairah suaminya lebih dalam untuk menjajah tubuh yang masih indah dan tetap terjaga milik istrinya walaupun sudah melahirkan ketiga anaknya.
"Kamu segalanya bagiku, sayang. Tidak ada yang mampu menyaingi dirimu dirimu dalam hal apapun." Ucap Farel seraya menghentakkan tubuhnya berkali-kali pada milik istrinya.
"Benarkah?"
Tanya Sindy yang saat ini masih cemburu pada masa lalu suaminya.
"Tentu saja, aku tidak bisa mensejajarkan dirimu dengan para wanita yang pernah singgah dalam hidupku. Walaupun hanya berakhir pada gairah sesaat tapi cinta yang aku miliki hanya bisa aku berikan kepadamu."
Farel mempercepat pacuannya pada tubuh Sindy yang ikut mengimbangi permainan mereka hingga keduanya sama-sama melenguh dengan keras menikmati sisa-sisa puncak kenikmatan yang berakhir dengan kepuasan.
__ADS_1