
Seminggu berlalu begitu saja, perang dingin antara Farel dan Sindy masih terus berlangsung. Kini keduanya telah pisah ranjang. Sindy berpikir keras untuk bercerai dengan suaminya karena tidak mampu lagi memaklumi sikap suaminya yang kurang tegas dalam menyikapi keputusannya untuk tidak memperdulikan kehidupan Luna, wanita di masa lalunya.
Setiap upaya yang dilakukan oleh Tuan Farel untuk mempertahankan rumah tangganya, kini menemukan jalan buntu. Waktu terus berjalan, hingga akhirnya surat pengajuan gugatan cerai datang juga ke tangan tuan Farel saat dirinya sedang menyelesaikan pekerjaannya.
Tok...tok..
Cek lek...
Asisten Rendy masuk mengantarkan surat dari pengadilan itu kepada bosnya Tuan Farel.
"Tuan, ada surat untuk anda." Ucap Rendy seraya meletakkan surat itu di atas meja kerja Farel.
Farel yang tidak begitu peduli dengan surat itu memilih mengabaikan surat itu dan melanjutkan pekerjaannya.
"Tuan, sepertinya surat itu penting karena datang dari pengadilan agama negri." Ujar asisten Rendy mengingatkan Farel.
__ADS_1
Deggg...
Farel mengangkat wajahnya dengan mengernyitkan dahinya lalu mengambil surat tersebut.
"Apa-apaan ini Sindy, kenapa dia nekat mengajukan gugatan cerai padaku." Surat itu di sobek oleh Farel.
Ayah dari tiga anak ini, segera pulang ke mansionnya. Hatinya sangat terluka dengan sikap istrinya yang tidak bisa menerima keadaannya yang memiliki putra dari wanita lain.
Setibanya di mansion, Farel menanyakan keberadaan istrinya pada para pelayannya yang sedang melintas di depannya.
"Masih di kamar tuan, menyusui si kecil." Ujar bibi Lia hati-hati.
Farel menaiki anak tangga, lalu membuka pintu kamarnya dengan kasar hingga membuat Sindy tersentak.
"Ada apa denganmu?" Mengapa kamu tega mengajukan gugatan cerai padaku karena permasalahan yang tidak bisa dihapus begitu saja di muka bumi ini. Apa pun yang kau inginkan sempurna dalam pernikahan kita tidak bisa kamu dapatkan karena suka atau tidak, Farel adalah putra kandungku yang tidak mungkin aku hilangkan nyawanya untuk memuaskan ambisimu, dokter Sindy." Teriak Farel.
__ADS_1
"Aku tidak keberatan jika kamu memiliki anak dari wanita lain, tapi aku tidak suka jika kamu harus berhubungan dengan wanita masa lalumu dengan alasan adanya putramu Farel." Teriak Sindy tidak kalah sengitnya.
"Apakah kamu ingin, aku menjadi ayah yang tega mencampakkan darah dagingku sendiri karena reputasi atau keutuhan keluarga ini?" Di mana sisi keibuan mu, Sindy?" Bukankah kamu adalah seorang dokter yang siap menyelamatkan nyawa bayi tanpa harus tahu bagaimana cara dia hadir dalam rahim ibunya?"
Sindy terdiam ketika pertanyaan Farel sangat menusuk mata batinnya.
"Bagaimana jika itu terjadi padamu, andaikan dokter Alan tidak melakukan aborsi pada anaknya yang kamu kandung saat itu?"
"Diaaammm!"
Sindy tidak tahan masa lalunya ikut di kulik oleh suaminya. Air matanya tumpah saat mengingat malam buruk itu.
"Ketahuilah sayang, mungkin perjuangan Luna yang saat itu harus mempertahankan janinnya di saat usianya tergolong sangatlah muda. Entah kekuatan apa yang ia miliki sehingga ia mau menjaga janinnya dan melahirkan seorang diri tanpa ada keluarga di sisinya karena menjadi seorang yatim-piatu sama seperti dirimu.
Aku memang salah dan sangat bersalah menjalani masa mudaku dengan bercinta bersama wanita manapun yang aku suka, tapi tidak dengan Luna yang saat itu menjual kesuciannya demi menolong ibunya yang siap menjalani operasi karena kurangnya biaya. Walaupun saat itu, pengorbanannya sia-sia karena ibunya meninggal juga di meja operasi." Ujar Farel dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1