
Rupanya hari dimana Farel bertemu dengan Sindy, lelaki tampan itu baru habis bercinta dengan Luna.
Walaupun saat itu Luna masih suci, namun pesona Sindy lebih menggetarkan hatinya dan mampu menghentikan jiwa petualangnya.
Farel lebih mencintai Sindy yang saat itu sempat mencuri perhatiannya, padahal dua gadis itu sama-sama menghadapi kemelut hidup walaupun memiliki kisah hidup yang berbeda.
Keduanya sama-sama cantik, tapi entah mengapa Farel saat itu lebih melihat Sindy yang dingin, mandiri dan tidak begitu mempedulikan dirinya walaupun Farel sangat tampan dan tajir.
Kehadiran dua gadis secara bersamaan dalam hidup Farel tapi Sindy yang mampu membuat Farel tidak bisa tenang saat mengetahui Sindy telah meninggalkan tanah air dan hijrah ke negara Paris Perancis untuk mengejar mimpinya menjadi seorang model dari pada cita-cita mulianya menjadi seorang dokter spesialis kandungan saat itu.
Luna yang masih muda saat itu, belum begitu paham dengan namanya obat kontrasepsi. Setelah tiga hari kematian ibunya, tiga hari kemudian ia pun meninggalkan Indonesia dan memilih kuliah di Amerika.
Kesibukan Luna di semester pertama kuliahnya membuat gadis ini tidak menyadari benih dari Farel telah tumbuh subur di dalam rahimnya. Hingga suatu hari ia pun pingsan di pintu lift apartemennya.
Beruntunglah tetangga kamar apartemennya, adalah seorang dokter spesialis kandungan, ia pun di tolong oleh tetangganya itu.
"Ya Tuhan, di mana saya?" Tanya Luna ketika melihat di sekitar kamar itu bukan miliknya dan iapun berusaha duduk.
"Pelan-pelan saja nona." Ucap Caroline seraya memberikan air putih pada gadis itu.
__ADS_1
"Siapa anda dan ini..?" Luna merasa asing dengan tempat ini dan juga pemiliknya yang tidak ia kenal walaupun mereka adalah tetangga.
"Namaku Caroline, aku adalah tetanggamu, tadi kamu pingsan saat ingin membuka pintu apartemenmu, aku meminta suamiku membawa ke sini." Caroline menjelaskan keadaan Luna.
"Apa yang terjadi denganku, mengapa aku tiba-tiba pingsan, padahal aktivitas aku tidak begitu banyak." Ujar Luna sambil menahan mual.
"Anda saat ini sedang hamil nona, usia kandunganmu sudah memasuki tiga bulan."
Duaarrr...
"Apa??" Saya hamil." Ujarnya dengan bibir gemetar.
"Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dokter." Ujar Luna berbohong.
"Kalau begitu rawatlah anakmu, negara ini akan menjamin bagi ibu-ibu muda sepertimu yang ingin melahirkan anak mereka tanpa ayah." Ujar dokter Caroline yang takut jika Luna nekat menggugurkan kandungannya.
"Aku akan merawat anak ini dokter walaupun tanpa ayahnya." Jawaban Luna membuat dokter Caroline sangat senang.
"Kamu bisa mengandalkan aku nona. Oh iya, kita bahkan belum berkenalan. Namaku Caroline." Ujar Caroline dengan bersikap manis pada Luna.
__ADS_1
"Namaku Luna dokter, apakah di usiaku baru tujuh belas tahun ini aku harus memiliki seorang anak?"
Antara takut dan senang bisa mengandung anak dari pria tampan seperti Farel yang sempat ia kagum itu.
"Bagaimana kalau Farel tahu jika aku saat ini sedang mengandung anaknya? dan dia akan sangat murka padaku karena berani menampung benihnya." Gumamnya dalam hati.
"Apa yang kamu kuatirkan Luna?" Jika kekasihmu tidak mengakui anak itu, maka lupakan lah dia dan anak itu adalah milikmu sendiri dan jangan memberi tahukan dia, jika anak itu adalah anaknya karena dari awal dia tidak menginginkan anakmu bukan?" Nyonya Caroline mengetahui apa yang saat ini Luna pikirkan karena dirinya sudah berpengalaman dalam menangani gadis muda yang hamil di luar nikah tanpa ada komitmen pernikahan.
"Apakah dokter Caroline seorang cenayang? bagaimana dia bisa tahu kalau saat ini aku sedang memikirkan sesuatu yang di tebaknya adalah suatu kebenaran." Gumamnya membatin.
"Kamu bukan satu-satunya gadis muda yang hamil di luar nikah. Di Amerika tidak begitu peduli dengan ikatan resmi jika mereka ingin memilki seorang anak. Sekarang fokus lah pada kehamilanmu hingga kamu bersalin."
Dokter Caroline memberikan semangat kepada Luna yang saat ini lebih banyak melamun.
"Kalau begitu aku pamit pulang dulu ya dokter, terimakasih banyak." Luna meninggalkan kamar apartemen milik dokter Caroline menuju kamar apartemennya sendiri.
"Baiklah, hati-hati nona Luna, jika butuh sesuatu, hubungi saja di nomor ini, saya akan merawat anda selama Anda hamil." Ujar dokter Caroline seraya memberikan kartu namanya pada Luna.
"Terimakasih dokter Caroline, saya beruntung bisa bertemu anda di sini, jadi saya merasa memiliki keluarga. Mohon maaf jika saya sudah menyusahkan anda. Kalau begitu saya pamit dokter Caroline."
__ADS_1
Luna mengambil tas dan bukunya di nakas, lalu meninggalkan dokter Caroline yang saat ini berusia 40 tahun seperti usia mendiang ibunya saat ini.