
Setelah kepergiannya Kartika mengikuti suaminya ke London Inggris, kini giliran Amanda yang akan meninggalkan rumah sakit KAYSAN yang akan mengikuti suaminya ke New Zealand.
Hal ini sangat berdampak pada kesedihan Sindy yang kehilangan dokter terbaik yang mereka miliki. Walaupun begitu, Farel tidak membiarkan istrinya larut dalam kesedihan karena kehilangan dua orang dokter kesayangan yang sekaligus menjadi sahabatnya.
Ayah dari tiga anak ini, kini fokus mencari kandidat dokter spesialis kandungan dan anak yang memenuhi kriteria yang diinginkan oleh istrinya Sindy.
Satu bulan memulai seleksi tahap awal untuk merekrut lagi dua atau lima orang dokter yang akan menggantikan tempatnya dokter Kartika dan dokter Amanda.
Kali ini dokter Sindy menginginkan dokter yang sudah berkeluarga dan menetap di kota Bogor atau Jakarta. Jika memilih yang masih muda, akan beresiko ditinggal lagi oleh mereka karena harus ikut ke tempat tinggal suami mereka kelak.
"Sayang, apakah dari sepuluh orang dokter yang kita seleksi, apakah ada diantara mereka yang sudah memenuhi syarat untuk ditempatkan di posisi yang lama milik Kartika dan Amanda?" Tanya Farel.
"Saya akan merekrut mereka semua karena loyalitas mereka sangat memenuhi kriteria dokter spesialis yang saya inginkan." Ujar Sindy sambil menyusui bayinya.
"Bukankah yang kamu butuhkan hanya lima orang dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis anak? kenapa sekarang berubah menjadi sepuluh orang dokter spesialis sayang?" Tanya Farel yang belum paham apa yang diinginkan oleh istrinya.
__ADS_1
"Hanya buat berjaga-jaga saja sayang, jika sewaktu-waktu ada dokter yang mengundurkan diri karena suatu alasan, aku sudah memiliki dokter hebat." Ucap Sindy.
Setelah mendiskusikan sepuluh tenaga medis yang sudah mereka rekrut, kini giliran keduanya membahas putra putri mereka yang sudah mulai masuk usia sekolah.
Kaysan yang sekarang duduk di kelas tiga SD, sudah memperlihatkan prestasi belajarnya yang memuaskan kedua orangtuanya.
Putra pertama Farel ini sangat halus dengan ilmu, walaupun masih duduk di jenjang kelas tiga SD, Kaysan selalu mempelajari buku-buku pelajaran yang satu tingkat di atas kelasnya.
Bahkan bahasa Inggrisnya sudah mencapai level grammar. Guru-guru di tempat les privatnya sangat memuji kejeniusan otak Kaysan yang menurut mereka lebih dari ambang batas di usianya yang masih menginjak sembilan tahun.
Saat malam tiba, Kaysan duduk bersama dengan kedua orangtuanya yang saat ini sedang menikmati tontonan dari layar televisi.
"Mama, papa, Kaysan punya masalah di sekolah." Ucap Kaysan membuat kedua orangtuanya beralih menatap putra mereka.
"Ada masalah apa sayang?"
__ADS_1
Farel ingin mencari tahu lebih dalam permasalahan yang sedang dihadapi putranya.
"Apakah kamu bertengkar dengan teman kelasmu?" Tanya Sindy yang sudah curiga dengan arah pembicaraan putranya.
"Belum bertengkar sih mah, tapi takutnya akan bertengkar benaran sama kakak kelas aku yang baru pindah dari luar negeri." Ujar Kaysan dengan raut wajah kesal.
"Lho ko, masalahnya sama kakak kelas?" Apa hubungannya kamu dan dia sayang?" Tanya Sindy dengan wajah serius.
"Awalnya biasa saja mama, tapi saat Kaysan berpapasan dengan Farel yang kebetulan namanya juga sama seperti papa, secara tidak sengaja kami saling menatap.
Kami baru tahu wajah kami ternyata sangat mirip. Teman-teman mulai menggoda kami kalau kami berdua saudara kandung. Kaysan tidak terima olok-olokan teman-temannya dan begitu pula dengan dia.
Degg...
Farel terkesiap mendengar ucapan putranya yang di kuatirkan dengan masalalunya yang gemar bercinta dengan perempuan manapun yang kadang-kadang tanpa menggunakan pengaman karena alasan si wanita penghibur itu sudah menggunakan alat kontrasepsi seperti pemasangan spiral.
__ADS_1