Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
50. PART 50


__ADS_3

Dokter Sindy menyalami para staffnya satu persatu yang sudah menunggunya di lobby rumah sakit. Dokter Sindy meminta kepada para staffnya untuk melakukan pertemuan di ruang rapat.


Di tempat pertemuan mereka membuat syukuran atas kebebasan Sindy dari jeratan hukum yang hampir membelenggu dirinya.


Sindy yang kelihatan sangat ceria hari ini, mengikuti prosesi doa bersama yang dipimpin oleh salah satu imam mesjid yang ada di rumah sakit miliknya.


Doa tulus yang nampak khusu terlihat jelas dari para wajah staffnya, yang hanyut dalam permohonan mereka kepada Allah yang telah mengembalikan keadaan seperti semula.


Setelah doa itu berakhir, semua menikmati makanan yang sudah di siapkan oleh Sindy, yang langsung didatangkan dari mansionnya. Sindy sengaja meminta para chef dan juga pelayannya untuk menyiapkan makanan prasmanan untuk mereka di rumah sakit.


Tapi ada yang mengganjal hati dokter Sindy saat ini karena tidak melihat dokter Alea.


"Dokter Kartika!" Panggil Sindy.


"Ada apa dokter Sindy?" Tanya dokter Kartika.


"Maaf, sejak tadi saya tidak melihat dokter Lea, padahal saya sudah meminta semua karyawan yang off hari ini, untuk tetap hadir dalam acara syukuran ini." Ucap dokter Sindy.


"Entahlah dokter Sindy, sudah satu Minggu ini, dokter Lea tidak praktek, tidak ada konfirmasi apapun darinya mengenai keadaannya." Ucap dokter Kartika.


"Apakah kamu sudah menghubunginya?"


"Aku sudah berulang kali meneleponnya dan juga mengirim pesan untuknya, namun tidak ada tanggapan darinya, jadi kerena kami sangat sibuk, kami tidak mengindahkan dirinya." Ucap dokter Kartika.


"Baiklah kalau begitu, nanti saya akan mengunjunginya, tolong siapkan alamat rumahnya untuk saya." Ucap dokter Sindy.

__ADS_1


Dokter Sindy menyampaikan rasa terimakasihnya juga rasa syukur yang sangat mendalam kepada semua para staffnya hari itu.


"Teman-teman mohon perhatiannya sebentar, sebelum kita bubar dari acara syukuran ini dan akan kembali lagi ke tugas kita masing-masing atau ada yang mau off hari ini, saya ingin mengatakan rasa terima kasih saya atas kesetiaan kalian, yang tetap bertahan selama tiga bulan ini. Walaupun dalam keadaan kondisi saya yang saat itu sangat mencekam karena kasus yang saya jalani kemarin.


Kalian masih mau bertahan, walaupun rumah sakit kita sempat sepi dari pengunjung karena fitnah yang dilancarkan oleh media yang begitu frontal hingga membuat keadaan rumah sakit ikut terpuruk.


Tapi setelah kebebasan saya, rumah sakit kita kembali dibanjiri oleh para pengunjung, hingga membuat kita lebih ekstra menyiapkan tenaga untuk melayani para pengunjung.


Singkat kata, saya dan suami ingin memberikan apresiasi kami kepada kalian dengan memberikan bonus dua kali lipat dari gaji kalian agar kalian tetap semangat dalam menjalani tugas.


Terimakasih untuk semuanya atas doa dan dukungan kalian yang tidak putus-putusnya untuk saya dan keluarga. Terimakasih kepada dokter Kartika, dokter Amanda dan beberapa dokter yang setiap hari bergantian bermain dan menemani kedua anak saya di mansion ketika kalian sedang off kerja.


Saya tidak memiliki saudara selama ini, karena saya dibesarkan di panti asuhan sejak kedua orangtuaku meninggal dunia. Tapi, di saat saya mengalami ujian dalam tiga bulan terakhir ini, saya merasa jalinan persaudaraan antara kalian dengan saya sangat kuat, membuat saya merasa tidak sendirian menjalani ujian hidup selama di masa tahanan kemarin. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih banyak, semoga Allah membalas kebaikan kalian dengan pahala yang setimpal. Aaamiin." Ucap dokter Sindy mengakhiri kata-katanya dengan perasaan haru biru.


Tepuk tangan meriah terdengar membahana di ruang meeting tersebut. Betapa seorang dokter cantik, cerdas dan berkharisma ini mampu merendahkan hatinya untuk memberikan apresiasi yang besar pada bawahannya dengan satu sentuhan untaian kata yang indah dari ucapannya yang terdengar sedikit parau karena menahan bulir bening yang ingin lolos dari mata indahnya.


Karena masih belum begitu pulih keadaan Sindy saat ini, ibu hamil ini ingin segera kembali ke mansionnya ditemani oleh suami tercinta.


Belum sempat mereka keluar dari dari rumah sakit, datanglah kedua orangtuanya Farel dengan segala drama yang disajikan secara dramatis menyambut putranya yang baru selamat dari kematian.


"Farel sayang, putraku. Alhamdulillah kamu telah kembali dengan selamat, nak." Nyonya Alya memeluk putranya sambil menangis.


"Mengapa bunda harus menemui aku di sini?" Di mansion kan bisa." Ucap Farel.


"Bukannya kami tidak ingin bertemu denganmu di mansion sayang, istrimu yang tidak mengijinkan kami datang ke mansion putra kami sendiri." Nyonya Alya sengaja mengadu domba Farel dan Sindy.

__ADS_1


"Maaf bunda, itu karena bunda ingin mengambil kedua anakku lagi, itu yang tidak diinginkan oleh istriku." Ujar Farel membela istrinya.


"Kami tidak bermaksud mengambil cucu-cucu kami dari dia, tapi kami hanya ingin merawat keduanya jika Sindy di tahan di polres sambil menunggu waktu sidang." Ucap bunda Farel membela diri.


"Tapi tindakan bunda yang salah, tidak minta ijin padanya apa lagi menjenguknya ketika dia berada di sel tahanan. Mencoba mendukungnya untuk tetap kuat selama menjalani proses hukumnya. Saya belum benar-benar mati, tapi kalian sudah memperlakukan keluargaku, terutama istriku sewenang-wenang." Ucap Farel.


"Apakah perempuan ini mengadu semuanya kepadamu?" Tanya Nyonya Aliya.


"Bukan Sindy yang mengadukan kelakuan Bunda yang tanpa perasaan itu, tapi putraku Kaysan yang menceritakan adiknya Afta hampir meninggal karena ulah bunda yang terlalu egois." Ucap Farel kesal.


"Apakah itu hasil didikan istrimu yang menjadikan cucuku seperti dirinya yang selalu mengadu domba?" Nyonya Alya mendengus kesal karena tidak ingin disalahkan oleh putranya.


"Bunda, cukup!" Ucap Farel lalu meninggalkan kedua orangtuanya dengan membawa istrinya pulang.


"Entah sihir apa yang sudah dilancarkan oleh wanita itu, hingga membuat putraku menentangku." Nyonya Alya makin frustasi karena keinginannya untuk memisahkan putranya dari Sindy tidak berhasil.


"Sayang, mengapa kamu harus kasar sama bunda?" Aku sudah melupakan semua perbuatan bunda padaku. Tolonglah!" Jangan membuat aku kelihatan lebih buruk di hadapan orangtuamu." Ucap Sindy ketika sudah berada di mobilnya.


"Aku sadar dia ibu kandungku, tapi yang aku tahu setiap ibu memikirkan kebahagiaan untuk anak-anaknya, tapi beda halnya dengan ibuku yang tidak sadar dengan apa yang ia perbuat karena terlalu egois." Ucap Farel.


"Setidaknya balas lah bunda dengan kelembutan dan tetap menghargai statusnya sebagai ibu yang telah melahirkanmu. Mungkin bunda lagi butuh perhatianmu sayang." Ucap Sindy.


"Mengapa kamu sangat naif Sindy?" Dengar sayang!" Bunda menginginkan menantu yang sesuai dengan kriterianya.


Kamu tidak tahu saat aku hampir mati di hutan balantara, yang ku ingat saat itu wajahmu. Aku begitu takut, jika aku mati, kamu akan di dzolim oleh kedua orangtuaku dan ternyata itu benar bukan?" Tanya Farel.

__ADS_1


"Jika kamu sangat sayang padaku, berhentilah melawan ibumu, walaupun itu sangat menyakitkan bagimu. Seorang ibu hanya mengenal kata benar, bukan kata yang salah dalam perlakuannya kepada siapapun." Ucap Sindy.


__ADS_2