Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
30. PART 30


__ADS_3

Usai menyelesaikan seminarnya, Sindy ijin untuk ke toilet. Melihat Sindy bergerak menuju toilet, Tuan Alan menyusul Sindy dan berpura-pura ikut ke toilet.


Tuan Alan yang memang ingin berbicara dengan Sindy, menunggu gadis itu di luar toilet wanita.


"Hai sayang!" Sapa dokter Alan pada Sindy.


Sindy tersentak mendengar dokter Alan menegur dirinya. Sindy pun hanya melihat bajingan pengganggu itu sesaat, lalu meneruskan langkahnya.


Dokter Alan menghalangi langkah Sindy.


"Minggir!" Bentak Sindy tanpa menatap wajah dokter Alan.


"Ternyata presentasimu hari ini sangat bagus Sindy. Kecerdasanmu membuat kami terpukau selain dengan kecantikanmu, juga didukung dengan tubuh yang begitu mempesona.


Apakah kamu tidak merindukanku cantik?" Dokter Alan mendekati wajah Sindy dengan senyum menyeringai seperti iblis.


"Kau tidak lebih dari sampah dokter Alan, pria menyedihkan yang hanya mengandalkan reputasi keluarga dan koneksi. Kau hanyalah pria pecundang yang melakukan segala cara demi memuaskan syahwatmu.


Aku sangat menyesal pernah berada dalam hidupmu dan tergila-gila pada lelaki biadab sepertimu. Tapi aku merasa berada bersamamu saat itu tidak lebih hanya suatu kebetulan yang ku anggap sebagai gairah cinta sesaat.


Setelah itu, aku berusaha melupakanmu dan membenamkan semua masa lalu itu ke dasar hatiku, hingga aku sulit untukku kenang kembali, jadi kau tidak lebih dari sampah yang sudah aku singkirkan Tuan Alan." Ucap Sindy sarkas.


"Ha...ha...!" Kau,.. bukankah kamu sampah itu? yang aku pakai lalu aku buang dan tak berharga lagi bukan?" Sindir Tuan Alan membuat wajah Sindy seketika merah padam.


"Wanitaku lebih mulia daripadamu bre**k!" Satu bogem mentah secara tiba-tiba melayang ke rahang Dokter Alan dari suami Sindy.


"Dan ini sekali lagi karena berani menghina wanitaku yang sangat berharga untukku bahkan untuk dunia yang sudah mengakuinya. Jangan sekali-kali mengatai istriku Sindy dengan mulut kotormu itu!"


Karena awal kehancurannya adalah terjebak oleh tipu muslihatmu. Bersyukurlah aku tidak mengirimmu ke penjara waktu berada di Amsterdam Belanda saat itu, hanya ingin melihatmu bertobat.


Tapi, tobat saja tidak cukup bagimu, kau masih mengincarnya dengan terus merendahkannya. Jika aku melihatmu seperti itu lagi, maka aku tidak akan mengirimmu lagi ke jeruji besi tapi, aku akan langsung mengirimkanmu ke neraka." Ayo sayang kita pulang!"


Farel merengkuh pundak istrinya dan membawa Sindy pulang. Tapi ketika ia baru keluar dari gedung pertemuan itu, ia langsung di kawal oleh anggota BEM kampus.


Wartawan dari berbagai media dan juga bercampur dengan wartawan media asing, sudah menunggu Sindy untuk melakukan sesi wawancara sesaat.


"Dokter Sindy, boleh minta waktunya sebentar?" Pinta wartawan asing yang sangat mengenal Sindy.


Sesaat Sindy menatap wajah wartawan yang menegurnya dengan bahasa Perancis itu. Sindy tersenyum pada wartawan senior yang sangat dikenalnya, karena wartawan itu yang sering meliput berita tentang dirinya ke manapun ia melakukan show ke berbagai negara yang ada di Eropa.

__ADS_1


"Mr. Gustav, Are you here for interview?"


"How are you Sindy!"


"I'm great and you!?"


"I'm fine!"


"Doctor Sindy I didn't know that you were an obstetrician, I thought you were just a model." Ucap wartawan Gustaf.


Ketika mendengar obrolan singkat, antara dokter Sindy dengan wartawan asing, wartawan lokal dan para fansnya Sindy, termasuk mahasiswa di universitas tersebut, langsung tercengang karena mereka baru tahu, jika dokter sindy sebelumnya mantan model.


"Dokter Sindy!" Apakah yang dikatakan wartawan Perancis ini benar, bahwa anda adalah mantan seorang model?" Tanya seorang wartawan yang penasaran dengan profesi dokter Sindy sebelumnya.


"Mohon maaf, saya tidak melayani pertanyaan sekitar dunia modelling, tapi saat ini profesi saya adalah seorang dokter spesialis kandungan. Jadi kalau kalian mau bertanya, harus ada hubungannya dengan profesi saya yang sekarang." Ucap Sindy sambil menuruni tangga.


"Dokter Sindy, apakah ada keinginan anda yang belum tercapai saat ini?" Tanya wartawan lagi.


"Istriku ingin mengandung anak kami yang ke dua." Ujar Farel yang mewakili istrinya.


Sindy tersentak mendengar perkataan suaminya yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaan wartawan. Demi menghormati pendapat suaminya Sindy hanya tersenyum datar pada wartawan.


"Dokter Sindy, apa harapan anda untuk rumah sakit yang saat ini anda kelola? apakah anda ingin membangun rumah sakit umum untuk ke depannya?"


Sindy hanya mengundang beberapa wartawan asing ke rumah sakitnya termasuk wartawan senior Gustav.


"Silahkan anda mengunjungi rumah sakit saya tuan Gustav!" Ajaklah teman seprofesi anda!" Ucap Sindy yang sudah masuk ke dalam mobil.


Tuan Gustaf menutup pintu mobil Sindy.


"Terimakasih dokter Sindy untuk kesempatannya, sampai jumpa!" Ucap tuan Gustaf.


"Dengan senang hati Tuan Gustaf!" Ucap Sindy dengan senyum cantiknya.


"Sayang, kamu tidak keberatankan, jika aku mengundang mereka mengunjungi rumah sakit kita?" Tanya Sindy pada suaminya.


"Jika itu untuk kepentingan pekerjaaan, aku tidak marah Sindy, aku tahu kamu dan wartawan itu sudah lama saling kenal. Yang penting dia tidak menyukaimu." Ucap Farel.


"Terimakasih sayang...aku akan menjaga amanah darimu dengan baik." Ujar Sindy.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Sindy menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan lembut, air matanya tiba-tiba turun mengingat lagi perkataan dokter Alan yang telah menghinanya tadi di depan toilet wanita.


"Kamu masih mengingat kejadian tadi sayang?" Tanya Farel sambil memeluk istrinya.


"Terimakasih sayang karena kamu datang tepat waktu." Ujar Sindy.


"Tadi usai meeting, perasaanku sangat tidak enak, entah mengapa wajahmu terus terbayang, seakan kamu sedang memanggilku. Karena tidak lagi ada urusan di tempat meeting. Aku langsung cabut untuk ikut menghadiri seminarmu, tapi ketika aku sampai di tempat itu, semuanya sudah bubar dan aku menanyakan salah satu profesormu yang perempuan. Ia mengatakan kalau kamu sedang ke toilet.


Awalnya aku menunggumu di ruang seminar itu, tapi kamu sangat lama di toilet itu. Karena nggak sabar menunggumu, jadi aku menyusulmu dan melihatmu sedang di intimidasi sama bajingan terkutuk itu." Farel mengumpat dokter Alan yang selalu saja menganggu istrinya.


"Aku tidak tahu Farel, ia nekat menemuiku di toilet dan mengatakan kata-kata yang sangat menyakitkan diriku...hiks...hiks..! Sindy menangis sesenggukan.


"Aku akan membuat perhitungan dengan bajingan itu, kalau ia masih saja menganggumu. Sekarang tolong lihat aku dan lupakan dia dengan segala omong kosongnya!" Ucap Farel lalu menangkup kedua pipi istrinya dan mencium dua mata itu lalu kedua pipi Sindy dan berakhir di bibirnya.


"Apakah kamu ingin kita langsung pulang sayang?" Tanya Farel yang melihat kondisi istrinya yang sedang kacau saat ini.


"Rendy, tolong antarkan kami ke mansion!" Pinta Farel.


"Siap bos!"


Setiap kali melihat maupun mengingat nama dokter Alan, hati dan pikiran Sindy langsung terganggu. Hal yang menyakitkan Sindy adalah mengingat aborsi yang dilakukan oleh dokter Alan padanya.


Di mansion, Farel membawa istrinya ke kamarnya dan meminta pelayannya untuk menyeduh teh herbal untuk menenangkan pikiran Sindy.


"Aku ingin tidur Farel karena semalam sibuk membuat power poin untuk seminar hari ini." Sindy melepaskan semua pakaiannya dan masuk ke dalam selimut.


"Di saat seperti ini, kamu sempat-sempatnya menggodaku sayang." Gumam Farel dalam hatinya lalu ikut membuka bajunya.


Sindy tersenyum melihat suaminya yang sudah menyusulnya ke dalam selimut.


"Bagaimana bisa aku tidur kalau kamu menggodaku sayang." Ucap Sindy.


"Kamu tidak akan bisa tidur sebelum aku memberikan obat tidur padamu sayang." Farel membungkam mulut istrinya dengan ciuman panas darinya.


"Saat ini aku lebih membutuhkanmu Farel." Ucap Sindy dengan satu tangannya sudah menggenggam benda pusaka yang sudah mengeras dibawah sana.


Ciuman panas terus berlangsung lama dengan des*h nafas memburu. Gelombang kenikmatan mulai menjalar ketika Farel sudah memanjakan lidahnya di tempat sensitif milik istrinya.

__ADS_1


Sindy menekan kepala suaminya lebih dalam, ia ingin merasakan sentuhan lembut itu lebih lama pada miliknya dibawah sana.


"Akkkkhh.. auhhgt..... sssstttt!" Farel, liukan tubuh Sindy yang sudah menggeliat ke sana ke mari saat suaminya membuat dirinya sudah mencapai puncak kenikmatannya.


__ADS_2