
Keesokan paginya, usai sarapan bersama kedua orangtuanya, Farel membawa pulang kembali keluarganya ke Bogor. Tuan Rasya yang masih menginginkan cucunya berada di mansionnya, harus merelakan cucunya di bawa pulang putranya Farel ke kediamannya di kota Bogor.
"Nanti Kaysan main lagi ya ke rumah Opa." Ucap Tuan Rasya mengantarkan cucunya sampai ke mobil.
"Iya Opa!" Jawab Kaysan sambil menganggukkan kepalanya.
"Kami pulang dulu ya bunda." Sindy mencium punggung tangan kedua mertuanya.
"Bye... Kaysan!" Nyonya Alya melambaikan tangannya ke arah mobil cucunya yang sudah meninggalkan mansionnya.
Tuan Rasya menyimpan kesedihannya, setelah cucunya pulang lagi ke Bogor.
"Bagaimana sayang?" Apakah kamu senang bertemu dengan kedua orangtuaku?" Tanya Farel ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya sayang, aku merasa lebih baik, setidaknya kita sudah berkunjung duluan ke mereka, walaupun aku tahu bundamu belum begitu menyukaiku." Ucap Sindy dengan wajah sendu.
"Lambat laun mereka akan mencintaimu sayang. Kita hanya butuh waktu untuk menunggu keajaiban itu datang sayang." Ucap Farel menghibur istrinya.
"Semoga saja sayang, aku tidak ingin semuanya hanya kelihatan klise oleh orang lain. Mereka akan mengira hubungan aku dan bunda sangat mesra, nggak tahunya hanya memperlihatkan kemunafikan masing-masing pihak." Ucap Sindy.
"Insya Allah, kita hanya mengandalkan Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia, tugas kita hanya berdoa dan tetap berharap dalam kebaikan, maafkan bunda aku sayang." Farel mengecup tangan istrinya.
"Apakah ada sesuatu yang ingin kamu beli sayang?" Tanya Farel ketika mereka sudah keluar tol dan masuk ke kota Bogor.
"Mau beli makanan ringan, hanya saja aku takut akan lebih lama berada di keramaian karena semua pasti melihatku dan mereka akan mudah mengenaliku." Sindy ragu untuk belanja.
Farel menanggalkan syal yang selalu di pakai Sindy di lehernya. Ia menjadikan syal itu sebagai hijab untuk Sindy. Memakaikan kaca mata dan masker, hingga Sindy tidak mudah lagi untuk dikenali orang lain.
"Kalau gayaku seperti ini, aku benar-benar sudah menjadi seorang istri mafia." Ucap Sindy lalu mengecup bibir suaminya.
"Dasar bodoh, kamu memang seorang istri mafia sayang." Gumam Farel dalam hati.
Sindy membuka pintu mobil lalu menuju ke tempat makanan ringan dan membelinya cukup banyak untuk diberikan juga kepada para pelayan mansion.
Farel tidak bisa menemani istrinya karena si jagoannya sedang tidur lagi di car seat miliknya.
Tidak lama kemudian, seorang penjual membantu Sindy memasukkan belanjaannya ke bagasi mobil.
Sindy pun masuk lagi ke mobilnya dengan memberikan tip pada tukang parkir yang ikut membantunya. Ketika sudah selesai dengan belanjaannya, Sindy membuka semua atribut penyamarannya dan mengucapkan terimakasih kepada tukang parkir itu.
Tukang parkir baru menyadari wajah Sindy yang cukup familiar yang ia kenal, menatap wajah cantik Sindy dan menyadari sosok yang sudah memberikan tip untuknya selembar uang merah.
__ADS_1
"Lho, I-itu kan dokter Sindy!" Ucapnya dalam keadaan gagap.
Tukang parkir itu berteriak kepada penjual makanan ringan itu, bahwa ia mengenali gadis yang sudah belanja banyak makanan ringan di tempat ini.
"Teteh Hani, tadi itu dokter Sindy yang belanja di tempat teteh." Ucap tukang parkir itu.
"Apa?" Dokter Sindy yang lagi viral itu?" Astaga kenapa kita tidak bisa mengenalinya. Aduh jadi nyesal atuh nya." Ucap teteh Hani dengan logat Sunda yang kental.
Setibanya di mansion miliknya, Sindy membagikan makanan yang dibelinya untuk semua pelayannya.
Bibi Ani yang diminta Sindy untuk membagikan makanan itu.
"Terimakasih ya non, sudah membawa oleh-oleh untuk kami." Ucap bibi Ani santun.
Sindy tersenyum dan mengangguk senang karena sangat bahagia bisa menyenangkan hati para pelayannya.
Farel sangat suka dengan kepribadian Sindy yang sangat loyal kepada siapa saja. Istrinya tidak pernah menunjukkan kekuasaannya di dalam mansion itu sebagai pemiliknya.
Itulah sebabnya mengapa Sindy sangat dihormati oleh semua pelayannya bukan karena ia istrinya Farel, tapi sifat Sindy yang begitu ramah pada semua pelayannya itu yang membuat pelayannya tidak pernah mengeluhkan kepribadian Sindy.
"Aku sangat senang dengan dokter Sindy. Lihatlah, jika ia jalan-jalan selalu ingat kita. Ia juga tidak pernah tebang pilih dengan siapa pelayan yang paling ia sukai karena semuanya mendapatkan hak yang sama darinya." Ucap Ria.
"Aku sudah lama bekerja sebagai pelayan, tapi baru kali ini, aku merasa sangat betah bekerja di sini karena perlakuan pasangan itu sangat berbeda dengan para majikan aku sebelumnya." Ucap Wati.
Dikamar, Sindy sedang berbaring tanpa ingin tidur. Suaminya memeluk tubuhnya tanpa ada rasa bosan.
"Jangan ajak main lagi sayang! saat ini aku sangat lelah." Ucap Sindy membuat Farel menahan tangannya yang sudah menyusup ke tempat yang ingin ia gapai.
Baiklah kalau begitu kita tidur saja supaya nanti bisa segar lagi dan malamnya bercinta lagi.
"Apakah dipikirannya hanya ada percintaan?" Gumam Sindy kesal.
🌷🌷🌷🌷🌷
Dua bulan kemudian, Sindy di undang oleh almamater kampusnya untuk hadir di seminar yang diadakan oleh BEM sebagai Nara sumber di seminar tersebut.
Acara yang di adakan di kampus itu cukup meriah karena menyambut kedatangan Sindy yang saat ini namanya sedang booming dan wajahnya yang hampir menghiasi semua media.
Wartawan luar negeri yang mengetahui jika Sindy yang merupakan mantan model papan atas itu, yang pernah terkenal di negara Eropa, berbondong-bondong datang ingin melakukan wawancara di hari yang sama.
Tapi mereka ikut hadir di seminar yang diadakan di kampus itu setelah meminta ijin kepada pihak kampus dengan pengawalan ketat dari pihak kampus dan juga beberapa polisi yang di minta oleh pihak kampus untuk mengawasi jalannya acara seminar.
__ADS_1
Sindy datang memenuhi undangan seminar itu. Suaminya Farel tidak bisa mendampinginya karena ada ada meeting pagi itu.
Sindy turun dari mobilnya dan langsung di sambut oleh para profesor dari mulai rektor hingga KAPRODI setiap fakultas kedokteran universitas ternama yang ada di ibukota Indonesia itu.
Ada perbincangan diantara mereka dan Sindy menanggapinya dengan tetap rendah hati, karena para dosennya itu juga terjun langsung mengabdi di beberapa rumah sakit yang ada di Jakarta dengan keahlian mereka masing-masing.
Seminar yang bertema tentang, "Selamatkan dua jiwa sebagai penerus bangsa"
Sindy sudah mengambil tempat untuk ia duduki dan acara seminar itu pun di buka. Tapi ada yang membuat ia syok diantara para tamu undangan itu yang akan menjadi partner diskusinya dalam seminar itu adalah dokter yang sangat ia benci dan ia juga masih menyimpan dendam pada dokter tersebut.
"Dokter Alan?" Gumamnya lirih. Tahu kalau dia juga di undang dalam seminar ini, saya tidak akan menghadiri seminar ini. Harusnya saya menanyakan dulu pada panitia acara, sebelum menerima undangan mereka." Gumamnya membatin.
Dokter Alan yang sudah mengetahui bahwa nara sumber utama acara seminar ini adalah dokter Sindy, ia pun sangat senang karena bertemu lagi dengan gadis impiannya itu.
"Selamat pagi dokter Sindy!" Sapa dokter Alan dengan gayanya yang pongah.
"Pagi!" Balas dokter Sindy tanpa melihat wajah dokter Alan dengan pura-pura menghubungi seseorang dengan ponselnya.
Merasa dicuekin oleh Sindy, dokter Alan sangat malu di hadapan para profesornya. Dokter Alan merupakan salah satu alumni kampus kedokteran tersebut, hanya ia lebih dulu tamat, baru setahun kemudian, Sindy kuliah di tempat yang sama dengannya.
Karena sama-sama memiliki prestasi di dunia kedokteran, maka keduanya diundang dan duduk bersama di ruang seminar itu.
Acara pun di mulai dengan mengawali acara sambutan yang diberikan oleh beberapa profesor kampus itu untuk memberikan beberapa pesan dan kesannya pada dua mahasiswa terbaik mereka, yang sudah memiliki nama di hati masyarakat khususnya dokter Sindy, yang saat ini sedang naik daun, atas kepopulerannya di hati masyarakat Indonesia, yang sudah menyelamatkan hidup banyak wanita dalam melakukan persalinan yang dalam tanda kutip bermasalah pada kehamilan mereka.
"Acara sambutan pertama kami undang bapak Prof. Dr. Munir, SpOG. Kepadanya kami persilahkan untuk waktu dan tempatnya!" Ucap MC acara tersebut.
"Assalamualaikum Wt. Wb.
Salam sejahtera untuk kita semua karena pada hari ini, kami kedatangan tamu istimewa khususnya dokter Sindy yang sudah mengharumkan nama kampus ini, hingga dari berbagai negara datang dan belajar di kampus ini.
Kita patut bersyukur dan berbangga hati kepada beliau, yang sudah memajukan ilmu kedokteran dengan kecerdasan yang ia miliki, yang tidak bisa ditanggulangi oleh kami sebagai dokter seniornya dan juga profesornya dalam menangani berbagai kasus penyakit pada ibu hamil namun dokter Sindy mampu mengatasinya dengan mudah.
Yang membuat kami penasaran adalah bagaimana beliau ini menemukan titik permasalahannya kasus pada ibu hamil, dalam waktu singkat, yang biasanya dokter seperti saya ini yang hanya mengangkat tangan pada suami atau keluarga pasien, dengan memberikan mereka pilihan, anak atau ibunya yang harus kami selamatkan.
Dan kami selalu bisa menyelamatkan bayinya tapi tidak bisa menyelamatkan ibu dari si bayi itu. Hal ini membuat pukulan berat bagi kami sebagai dokter seniornya, yang harus lebih bisa mengatasi masalah pasien namun kami sulit untuk melakukannya karena keterbatasan ilmu.
Tapi dokter Sindy hanya sebagai mantan mahasiswa kami dengan banyak belajar dengan materi kurikulum yang sama dari dosen yang sama, tapi beliau bisa melalui itu semua dengan mudah. Makanya beberapa kampus di negara luar banyak yang menanyakan kepada saya tentang dokter Sindy ini, atas keberhasilannya dan ingin mengundang beliau untuk acara yang sama yang akan diadakan di kampus kedokteran yang ada di luar negeri.
Nah, sebelum di undang oleh orang luar negeri, kami dulu nih yang menjadi kampus pertama yang mengundang beliau sebagai narasumber kami, agar bisa memberikan ilmunya pada para profesornya ini dan juga adik-adiknya yang ada di kampus ini, yang sebentar lagi akan terjun langsung ke masyarakat dalam mengembangkan tugas mereka, sebagai pelayan masyarakat khususnya dokter spesialis kandungan.
Demikian penyampaian dari saya, mohon maaf atas kekhilafan kata dalam sambutan saya tadi, terimakasih. Waalaikumuslam Wt. Wb." Dokter Munir mengakhiri sambutannya pada acara seminar tersebut.
__ADS_1
Pembacaan acara selanjutnya oleh MC.
"Untuk acara selanjutnya, adalah acara inti yaitu kami mengundang dokter spesialis kandungan yaitu dokter Sin