
Di Hamburg Jerman, Farel sudah berada di perusahaan miliknya. Tidak tanggung-tanggung, ayah dari dua anak ini, langsung menyelesaikan permasalahannya.
Hari itu Farel yang terlalu sibuk tidak ingat dengan hari jadinya sendiri. Ia lebih fokus menyelesaikan pekerjaannya karena ingin pulang lebih awal ke Indonesia karena tidak kuat menahan kerinduannya pada keluarga kecilnya.
Pesawat jet milik pribadi suaminya tiba di bandara setempat Hamburg Jerman. Kedatangan Sindy yang tidak mengabari suaminya terlebih dahulu, ingin membuat kejutan untuk suaminya karena Farel hari ini berulang tahun.
Ketika Farel sedang memimpin meeting di perusahaannya, Sindy nekat masuk ke ruang meeting itu dengan dua buah hatinya.
Pintu ruang meeting itu di buka lebar oleh Sindy. Derap langkah kakinya yang di tandai bunyi sepatu high heelsnya terdengar nyaring ditengah senyapnya ruang rapat itu.
Sindy berdiri dengan sangat anggun lalu kembali melangkah menuju suaminya yang berdiri mematung menatap wajah cantik istrinya. Ia merasa saat ini dirinya sedang mimpi karena tidak menyangka Sindy datang dengan cara yang sangat mengejutkan dirinya.
Semua mata tertuju pada wajah cantik istrinya Farel ini. Selama ini mereka hanya melihat gadis ini hanya menghiasi media. Tapi sekarang dokter Sindy benar-benar berada di antara mereka.
"Sindy!" Farel menelan salivanya dengan kasar karena penampilan Sindy yang kembali menjadi seperti seorang model baginya bukan status dokter yang orang sudah banyak tahu wanita yang sudah memiliki dua anak ini.
"Selamat ulang tahun sayang!" Sindy meminta staf Farel membawakan kue ulangtahun yang dibuatnya sendiri dari Indonesia.
"Berdoa dulu sayang, sebelum meniup lilinnya." Ucap Sindy.
Farel membaca doa lalu meniup lilin bersama Kaysan. Kue itu di potong untuk di berikan kepada istrinya dan putranya Kaysan.
Pelukan hangat Sindy untuk sang suami yang masih syok melihat kedatangan Sindy yang tiba-tiba di tengah dirinya sedang memimpin rapat.
"Lakukan tugasmu lagi sayang!" Kami akan tunggu di ruang kerjamu." Ucap Sindy lalu mengajak Kaysan ke ruang kerja suaminya.
"Mohon maaf, rapat kita di jedah sesaat." Ucap Farel lalu melanjutkan lagi presentasinya hingga selesai.
Rapat itu menjadi hambar karena Farel lebih memikirkan istrinya dari pada memikirkan urusan pekerjaannya.
"Tuan Farel, selamat ulang tahun, maaf kami tidak tahu jika hari ini adalah hari yang paling berharga untuk anda." Ucap mikel.
"Tidak masalah karena fokus kita saat ini adalah pekerjaan kita." Ucap Farel.
"Tuan Farel, kalau tidak salah istri anda itu adalah mantan model yang sangat terkenal saat itu khususnya di belahan Eropa. Saya pernah mengikuti show-nya kala itu." Ucap Tuan Andrew.
__ADS_1
"Benar Tuan, itu hanya bagian impiannya, tapi setelah menikah denganku, aku memintanya untuk melakukan hal yang lebih mulia karena basicnya adalah seorang dokter spesialis kandungan." Ujar Farel.
"Tapi dua pekerjaan itu dilakukannya begitu profesional. Jika orang melihat salah satu sisi lain dari dokter Sindy mungkin orang tetap akan percaya dia adalah super star." Ucap Tuan Andrew.
"Terimakasih untuk pujiannya Tuan Andrew." Farel lalu pamit dari ruang meeting ingin menemui keluarganya di ruang kerjanya.
Dengan setengah berlari menuju lift utama, Farel sudah tidak sabar memeluk tubuh istrinya.
"Tunggu kau gadis nakal!" Kamu sudah membuatku kalang-kabut seperti ini karena kehadiranmu yang selalu diluar dari dugaanku. Aku bahkan tidak mempersiapkan diriku atas kedatanganmu.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Farel masuk menemui istrinya yang sedang menidurkan kedua buah hatinya di kamar pribadi milik Farel.
"Sayang, kau....!"
"Sssstttt!" Pelankan suaramu!" mereka baru saja tidur." Ucap Sindy yang tidak ingin anak-anaknya terganggu dengan kedatangan suaminya.
Farel menatap kedua wajah malaikat kecilnya lalu kembali lagi ke istrinya.
Tubuh Sindy dibaringkan di sofa. Serangan demi serangan dilancarkan oleh Farel pada tubuhnya.
Kedua tangannya begitu cepat melucuti pakaian istrinya dan juga dirinya. Bibir keduanya menyatu dalam sekejap. Saling mengecap dan melu**at tanpa tanpa peduli dengan sekitarnya.
Tangan lainnya saling menyentuh tempat-tempat yang menagih janji karena rindu yang telah membelenggu sepuluh hari terakhir setelah terpisah karena tugas.
Tubuh itu sudah saling berayun dengan segala gaya yang sedang mereka ekspresi wajah yang menggairahkan merasakan setiap hentakan yang menghasilkan rasa cinta yang amat nikmat mereka teguk saat itu.
Dinding ketat mencengkram milik yang telah membengkak sang pemilik tubuh karena ingin menuntaskan kerinduannya.
"Akhhhh... Farel!" Erangan erotis yang lolos dari mulut sang istri menjadi penyemangatnya untuk terus menggempur miliknya dibawah sana tanpa kenal ampun.
"Terimalah hukumanmu sayang!" Kamu selalu menantangku bukan. Aku ingin menyiksamu tidak peduli saat ini kamu lelah atau tidak." Farel makin menggila dengan seragannya pada tubuh itu yang sudah mengalir peluh.
Bagai dendam kesumat, Farel tidak berhenti menghentakkan tubuhnya pada milik Sindy hingga Sindy pasrah menerima setiap hentakan itu walaupun ia sudah meraih kenikmatannya.
__ADS_1
Hampir tiga puluh menit, Farel baru menuntaskan hasratnya dengan nafasnya yang masih memburu sambil memeluk tubuh istrinya dari belakang.
"Sindy... Akhhhh!" Tubuh itu di hisap hingga meninggalkan cetakan merah setiap titik dipunggung Sindy.
Farel membawa tubuh itu lalu di pangkuannya sambil melepaskan lelahnya.
"Sekarang sudah puas sayang?" Menerima hukumanmu." Tanya Farel.
"Baru dikit." Ujar Sindy meremehkan suaminya.
"Nantikan hukuman keduanya di apartemen kita sayang." Balas Farel membuat Sindy menyesali perkataannya.
"Aduh bodohnya aku, kenapa sampai salah ucap seperti itu. Nih bibir kebiasaan asal nyeplos." Gumamnya membatin.
*
*
Setelah jam kerja usai, Farel memboyong keluarganya menuju restoran untuk merayakan ulang tahunnya bersama keluarga kecilnya.
"Sayang, terimakasih sudah membuat kejutan yang menyenangkan hari ini. Ini adalah momen yang sangat berharga untukku. Kamu sangat berani menemuiku di tengah orang-orang yang sedang meeting bersamaku dan semuanya adalah pengusaha hebat yang bekerjasama dengan perusahaanku.
Diantara mereka ada yang sangat mengenalmu dan mengetahui profesimu yang sebelumnya. Mereka sangat kagum padamu sayang dan itu membuatku sangat bangga memilikimu." Ucap Farel.
"Aku sengaja melakukan itu untuk memberi tahukan kepada mereka bahwa aku milikmu yang tidak boleh diganggu gugat." Ucap Sindy.
"Benarkah?" Seloroh Farel menggoda istrinya.
"Emang mau aku direbut orang lain?" Sindy balik menantang suaminya.
"Hussstt!" Enak aja." Farel merengut kesal.
Setibanya di restoran yang menyajikan makanan halal yang sudah dipesan Farel sebelumnya.
Sindy memilih menu untuk suaminya dan Kaysan terlebih dahulu baru untuk dirinya. Sementara untuk Afta Sindy hanya memberikan susu formula untuk bayinya itu.
__ADS_1
Keluarga kecil itu menikmati makan malam mereka sambil menatap pemandangan indah di taman restoran yang bernuansa klasik itu.