Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
32. PART 32


__ADS_3

Waktu berlari begitu cepat tidak terasa pernikahan Sindy dan Farel sudah memasuki usia lima tahun. Sindy yang baru melahirkan anak keduanya yang saat ini sudah berusia enam bulan. Farel makin semangat mencari nafkah untuk masa depan kedua anaknya.


Kehidupan keluarga ini makin harmonis. Di tambah lagi dengan perusahaan Farel dan kemajuan rumah sakit KAYSAN makin pesat, hal ini membuat rumah sakit yang dikelola oleh dokter Sindy menerima pasien lebih dibatasi karena rumah sakit lain sudah melayangkan surat teguran halus untuk memberi tahu istri Farel ini, agar tidak serakah menerima pasien di rumah sakitnya.


Karena merasa sangat terancam dengan teguran itu, Sindy meminta pihak admistrasi dan Humas bekerjasama untuk membuat kebijakan baru untuk rumah sakitnya dalam menerima pasien yang hanya berdomisli di wilayah Bogor saja, kecuali pasien yang bermasalah dengan kandungannya dan meminta pertolongan dokter Sindy untuk ditangani lebih baik di rumah sakit miliknya.


Kehidupan pernikahan mereka berjalan dengan baik. Baik di usaha mereka masing-masing maupun dalam membesarkan kedua anak mereka.


Anak pertamanya Kaysan sudah memasuki usia sekolah dini. Farel dan Sindy menyempatkan diri untuk mengantarkan putra mereka itu ke sekolah. Entah Sindy yang mengantar dan Farel yang menjemput putranya. Semuanya melakukan dengan baik dan tidak ada keluhan diantaranya walaupun memiliki setumpuk kesibukan.


Tapi di saat lagi hangat-hangatnya kemesraan mereka, Farel harus berangkat ke luar negeri untuk waktu yang cukup lama karena mengurus perusahaannya di sana yang harus ia tangani langsung permasalahannya.


"Sayang, seminggu lagi aku akan berangkat ke Jerman karena ada urusan penting di sana." Ucap Farel saat keduanya sedang bersantai menemani anak-anaknya.


"Apakah sangat mendesak?" Tanya Sindy yang tidak rela suaminya meninggalkannya, setelah sekian lama tidak pernah berpisah kecuali urusan pekerjaan mereka yang masih berada di Jakarta dan Bogor.


"Mungkin waktunya sangat lama." Ucap Farel dengan berat hati.


"Apa kamu ambil cuti saja sayang biar kita berangkat bersama ke Jerman." Pinta Farel.


"Kalau untuk satu bulan cutinya, itu terlalu lama sayang. Kamu tahu sendiri, rumah sakit sangat membutuhkan aku. Walaupun mereka sudah aku latih dalam menangani pasien bermasalah. Tapi, kebanyakan dari mereka ingin mendapatkan penanganan dariku dan aku tidak tega untuk menolaknya." Ucap Sindy sedih.


"Lantas aku harus bagaimana Sindy, kamu sepertinya tidak rela aku jauh darimu dan sekarang kamu tidak bisa meninggalkan pekerjaanmu dalam waktu yang lama." Farel mengeluh atas sikap istrinya.


"Baiklah, tidak apa kamu boleh ke Jerman, tapi setiap hari kamu harus menelpon kami dengan video call, bagaimana, hmm!" Sindy meminta pendapat suaminya.


"Tanpa kamu pinta pun, aku akan melakukannya setiap waktu." Farel mengecup bibir istrinya.


Sindy mengalungkan tangannya ke leher suaminya dengan posisi duduk saling berhadapan.


"Sebelum aku berangkat dalam waktu satu Minggu ini, kita akan bercinta setiap hari dan setiap saat. Siapa tahu ketika aku pulang, kamu akan hamil lagi." Ucap Farel menggoda istrinya.


"Apakah kamu tidak pusing mengurus mereka bertiga nantinya?" Tanya Sindy.


"Setiap anakku yang lahir dari rahimmu adalah keberkahan untuk ku, melihat wajah mereka saja, kelelahan yang kurasakan langsung lenyap seketika, jadi aku tidak akan pernah merasa keberatan mengurus mereka, mau tiga, tujuh sampai sepuluh pun aku sanggup sayang, asalkan selalu bersama denganmu setiap waktu." Farel menggendong tubuh istrinya.


"Sayang, tunggu dulu!" Itu Kaysan belum tidur. Sedangkan baby Afta masih mengoceh." Ucap Sindy sambil menunjuk kedua anak mereka yang belum tidur.


"Kalau begitu, kita bagi tugas. Kamu menyusui baby Afta dan aku akan menidurkan Kaysan." Titah Farel kepada istrinya.


"Ok, siapa takut."


Sindy menggendong putrinya untuk disusuinya, sementara Farel, membantu Kaysan membereskan mainannya ke dalam boks.


"Papa, Kaysan masih mau main." Kaysan merengek manja.


"Ini sudah malam sayang, besok kamu harus sekolah." Ucap Farel.


"Itu baru jam delapan malam papa, masih sore." Kaysan protes pada papanya yang memaksanya tidur di awal waktu.

__ADS_1


"Kalau mau pintar seperti papa dan mama, Kaysan harus banyak tidur." Ucap Farel merayu putranya.


"Kata mama, kalau mau pintar itu harus belajar yang rajin, bukan tidur papa." Lagi-lagi, Kaysan kritik saran papanya yang berlawanan dengan saran saran mamanya.


"Belajar itu penting tapi harus didukung dengan otak yang sehat. Otak kamu bisa sehat jika kamu selalu tidur di awal waktu selesai sholat isya." Ucap Farel tidak mau kalah.


"Ah papa!" Selalu saja merusak kesenangan Kaysan." Kaysan merengut lalu masuk ke kamarnya.


"Emang enak diprotes sama anak sendiri." Sindy menggoda suaminya.


"Awas saja setelah ini, kamu akan saya hukum sayang karena telah meledek aku." Farel menarik sudut bibirnya, membuat Sindy melotot kesal.


Ketika melihat putranya sudah tidur, Farel merasa lega, karena Kaysan sangat cepat terlelap usai meminum susunya sebelum tidur.


Farel menuju kamarnya. Ia melihat putri dan istrinya juga sudah tidur. Farel memindahkan bayinya ke dalam tempat tidur bayi.


Ia masuk dalam selimutnya dengan tubuh yang sudah polos. Farel sudah tahu istrinya saat ini pura-pura tidur.


Ia mengecup pangkal paha istrinya yang sudah tidak mengenakan pakaian dalam. Sindy menahan rasa geli pada pahanya ketika suaminya menyentuh setiap jengkal tubuh bagian bawah perutnya.


Farel makin melebarkan paha Sindy, mencari tempat rahasia yang membuat istrinya bisa bangun seketika.


Benar saja, ketika lidah Farel masuk ke dalam lembah sempit itu, lenguhan Sindy, akhirnya terdengar lirih oleh suaminya.


Farel tertawa dalam hatinya karena berhasil membangunkan istrinya yang pura-pura tidur mengelabuinya.


"Sudah sayang!" Titah Sindy menjauhkan miliknya dari wajah suaminya yang sudah lama menyiksanya dengan kenikmatan.


"Makanya jangan coba-coba mengelabui suamimu ini sayang. Aku akan memberikan hukuman yang lebih berat dari pada ini." Ucap Farel yang sudah menghimpit tubuh polos itu dari atas.


Farel mulai mengayunkan miliknya ke dalam milik istrinya dengan merasakan cengkraman sempit itu begitu ketat menyedot miliknya dibawah sana.


"Akhhh!" Farel mendiamkannya sesaat merasakan cengkraman yang nikmat lalu kembali memacu tubuh indah istrinya berkali-kali hingga tubuh Farel tumbang di atas tubuh polos yang sudah dibanjiri peluh keduanya.


Permainan itu terus berulang hingga dini hari.


"Sayang, aku takut besok tidak bisa berangkat kerja karena pinggangku sepertinya sakit." Ucap Sindy dengan posisi tubuhnya tetep berada di atas tubuh kekar itu.


"Aku tidak akan masuk kerja juga, hingga menjelang keberangkatanku, karena ingin bercinta setiap saat denganmu sayang. Satu bulan terlalu lama untuk berpisah denganmu, sebagai gantinya kita di kamar saja." Ucap Farel dengan santai.


"Tapi aku harus...?" Sindy tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Farel langsung melu**t lagi bibir itu dengan gemas.


"Aku tidak butuh alasanmu sayang, ini perintah bukan permintaan." Ucap Farel tegas membuat Sindy menelan salivanya dengan kasar.


Iapun mengangguk, menyanggupi permintaan suaminya karena tidak ingin dilaknat malaikat.


Permainan panas itu kembali terjadi, Sindy begitu menikmati sentuhan dari suaminya.


Begitulah cara Farel yang pintar menyenangkan hati istrinya.

__ADS_1


Keesokan harinya, Giliran Sindy yang mengantar putranya ke sekolah. Farel yang tidak ingin berangkat ke perusahaannya menemani baby Afta ketika istrinya sedang mengantar putra sulungnya ke sekolah.


"Selamat pagi Kaysan!" Sapa dua orang guru Kaysan, menyambut putranya Sindy.


"Pagi Bu Nia, ibu Mardia!" Balas Kaysan.


Kaysan menyalami kedua gurunya lalu bergabung dengan teman-temannya.


Sindy tidak langsung pulang, ia ingin bicara sebentar dengan kedua guru Kaysan yang merupakan wali kelas dan guru pendamping Kaysan saat ini.


"Maaf Bu Nia!" Bagaimana perkembangan Kaysan di sekolah secara kognitif?" Tanya Sindy.


"Kaysan sudah mulai aktif mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya. Belajar dengan mengamati dan mendengarkan instruksi. Dapat mengatur benda berdasarkan ukuran dan bentuknya." Ujar ibu Nia yang memberi tahu perkembangan siswanya Kaysan pada walinya.


"Apakah ada kendala lain, selama dalam proses pembelajarannya Bu Nia?"


"Kaysan mudah beradaptasi dengan lingkungan kelasnya, bisa bersosialisasi dengan sesama temannya dan mengatakan hal-hal yang dianggapnya butuh penjelasan yang lebih mendetail." Lanjut ibu guru Nia.


"Baiklah, kalau by saya permisi Bu guru Nia, terimakasih untuk informasinya. Selamat mengajar!" Ucap Sindy lalu meninggalkan sekolah Kaysan.


"Dokter Sindy!" Sapa salah satu wali murid dari teman Kaysan.


"Ada apa ibunya Siren?" Tanya Sindy yang paling malas berhadapan dengan Nyonya Ruby.


"Maaf lho dokter Sindy, menganggu waktunya. Aku dengar anda bukan hanya seorang dokter tapi anda pernah menjadi model majalah dewasa yang terkenal di negara Eropa?" Tanya Nyonya Ruby dengan nada sinis.


Mendengar perkataan Nyonya Ruby, Sindy yang sudah memencet tombol kontak mobilnya, mengunci lagi mobil itu dan menghampiri Nyonya Ruby dengan wajah masam.


"Dari mana anda mendapatkan informasi itu?" Apakah anda punya bukti dengan perkataan anda barusan tadi nyonya Ruby?" Tanya dokter Sindy yang sangat kesal.


"Hanya mendengarkan saja tanpa melihat kebenarannya sih." Ucap Nyonya Ruby dengan menarik sudut bibirnya.


"Jika tidak ada bukti yang bisa anda mempertanggungjawabkan kepada saya, maka saya bisa menuntut anda dengan pasal pencemaran nama baik dan anda bisa diproses secara hukum." Ancam Sindy sengit membuat nyonya Ruby terbelalak ketakutan.


"Maaf Dokter Sindy, saya hanya bercanda ko!" Ucap Nyonya Ruby ketakutan.


"Hati-hati dengan candaan anda, mulutmu, harimaumu!" Ucap Sindy lalu kembali ke mobilnya.


"Bre*gsek!" Pagi-pagi ada saja nyinyiran dari nenek sihir seperti dia." Gerutu Sindy yang sudah menjalankan mobilnya menuju mansionnya.


Setibanya di mansion, Sindy berlari ke kamarnya dan ingin menangis dan mengadukan sakit hatinya kepada sang suami.


"Hei, ada apa sayang, mengapa tiba-tiba kamu menangis?" Tanya Farel bingung.


"Ada yang memfitnahku kalau aku pernah menjadi model majalah dewasa yang terkenal di Eropa." Ujar Sindy sambil terisak.


"Kurang ajar!" Siapa yang mengatakan itu padamu sayang?' Tanya Farel geram pada orang yang tega memfitnah istrinya.


"Nyonya Ruby salah satu wali murid teman sekelas Kaysan." Ujar Sindy.

__ADS_1


__ADS_2