Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
31. PART 31


__ADS_3

Siang itu Tuan Gustaf dan beberapa rekan sesama wartawan mengunjungi rumah sakit milik dokter Sindy. Dokter Sindy yang sudah siap menerima tamu istimewanya itu di ruang pertemuan yang biasa digunakan untuk meeting bersama para staffnya.


"Terimakasih dokter Sindy, untuk penyambutannya, kami merasa sangat terhormat mendapatkan kesempatan berharga ini untuk bisa melakukan wawancara dengan mantan model papan atas yang beralih profesi menjadi seorang dokter spesialis kandungan." Ujar Tuan Gustaf.


"Saya yang harus berterimakasih kepada anda tuan Gustaf karena mau datang ke rumah sakit saya yang sangat kecil ini." Sambung Sindy yang tetap terlihat merendah.


"Bisa kami memulai dengan wawancara eksklusif dengan Anda dokter Sindy, karena kamera sebentar lagi akan hidup." Pinta Tuan Gustaf.


"Silahkan Tuan Gustaf!"


"Baik terimakasih!"


"Saya pribadi mengenal anda saat menjadi model dan melakukan berbagai show ke berbagai negara Eropa, anda juga mendapatkan tawaran dari menjadi model iklan tiap produk dan pasti baju yang menjadi tren jika anda yang memakainya.


Pertanyaan saya adalah, dari profesi seorang model lalu beralih menjadi seorang dokter, bagaimana anda bisa berubah dalam satu waktu dan tidak butuh bertahun-tahun langsung melejit namanya seantero media." Tuan Gustaf mulai mengorek informasi tentang latar belakang pendidikan Sindy sebelum terjun menjadi seorang model.


"Baik!"


"Sebelum saya berangkat ke Paris Perancis untuk memilih menjadi seorang model, saya baru menyelesaikan pendidikan kedokteran saya untuk mengambil spesialis kandungan.


Karena saya merasa masih sangat muda saat itu dan ingin mengejar mimpi saya menjadi seorang model saya meninggalkan niat mulia saya sebagai seorang dokter dan beralih menjadi seorang model, jadi intinya saya ingin memuaskan diri saya dengan menunjukkan kemampuan saya untuk bisa menjadi seorang model profesional." Ujar Sindy.


"Mengapa hanya sebentar menjadi seorang model, sedangkan anda ingin lebih banyak merasakan pengelaman seorang model?"


"Saat itu saya diberikan pilihan oleh calon suami saya. Menjadi seorang model hanya memuaskan diri sendiri atau menjadi seorang dokter akan lebih memuaskan batin karena menyelamatkan seorang ibu yang akan melahirkan bayinya. Itu yang menjadi pertimbangan saya." Ucap dokter Sindy.


"Jadi anda merelakan impian anda sebagai seorang model dengan memilih dokter spesialis kandungan yang menjadi impian anda selanjutnya?" Tanya Tuan Gustaf.


"Ya, seperti itulah perjalanan karier saya. Suami saya membangun rumah sakit itu untuk saya bisa mengabdi kepada masyarakat dan dalam waktu tiga bulan, animo masyarakat begitu banyak hingga kami cukup kewalahan menangani pasien yang memiliki tingkat kelahiran begitu tinggi di tiga bulan pertama." Imbuhnya.


"Bagaimana dengan pasien yang bermasalah itu, apakah anda tidak takut jika salah mengambil tindakan yang menyebabkan kematian kepada pasien?"


"Apa yang saya lakukan berdasarkan sumpah jabatan saya sebagai dokter dalam melayani para pasien dengan sebaik mungkin dengan ilmu yang saya miliki, tapi jika tidak bisa menyelamatkan mereka, itu adalah ajal dan kondisi pasien yang tidak bisa lagi bertahan dengan semuanya yang kami lakukan sesuai dengan persetujuan kedua belah pihak, yaitu wali dari pasien dan kami sebagai dokter sekaligus saya sebagai pemilik rumah sakit ini, yang memiliki wewenang langsung jika ada permasalahan yang tiba-tiba terjadi di luar dari kapasitas kami sebagai ahli medis khususnya dalam menangani kasus kelahiran yang bermasalah.


Hanya saja kami tetap berusaha yang terbaik untuk pasien sebelum menyerah begitu saja pada kepasrahan pasien." Ucap dokter Sindy.

__ADS_1


"Terimakasih dokter Sindy, kami rasa sudah cukup mendapatkan banyak informasi dari anda.


Apa yang anda sampaikan kepada saya dan teman-teman wartawan, tentang keberanian anda yang mengambil resiko untuk bisa menyelamatkan pasien yang bermasalah patut diacungi jempol. Anda tidak segan untuk bertindak sekalipun anda bisa di tuntut jika melakukan sedikit kesalahan yang bisa membuat pasien meninggal." Ucap Tuan Gustaf.


Setelah melakukan wawancara dengan wartawan asing tersebut, akhirnya dokter Sindy mengundang para wartawan untuk makan siang bersama di mansionnya.


Tamu dari dokter Sindy di jemput oleh pelayan menuju mansionnya. Sindya mengkonfirmasi terlebih dahulu kepada suaminya agar ikut bergabung makan siang dengannya di siang hari itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


"Tuan Farel, saya sangat iri dengan anda sebagai suami dari dokter Sindy. Anda memiliki istri yang bukan hanya memiliki wajah yang cantik tapi juga kecerdasan yang dimiliki oleh Dokter Sindy termasuk wanita yang multi talenta. Ia bisa mengusai dunia fashion dan juga kesehatan, mungkin masih banyak lagi bakat yang belum saya ketahui." Ujar Tuan Gustaf.


"Terimakasih atas pujiannya Tuan Gustaf. Memiliki wanita ini adalah anugerah terindah yang pernah saya miliki. Satu hal yang paling saya takutkan dari Sindy adalah saat saya membuatnya marah, karena ia bisa kabur kapan saja dari saya." Farel menatap wajah cantik istrinya yang sudah bersemu merah karena sangat malu ketika Farel membuka kekurangannya di depan teman-teman wartawan.


"Serius?" Tanya Tuan Gustaf tak percaya.


"Tentu!" Dia bisa jadi model karena melarikan diri dari saya. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, ketika saya mengikatnya dengan pernikahan. Jika saya hanya mengikatnya dengan sebuah komitmen, itu tidak akan merubah pendiriannya, ia bisa kabur lagi dari saya, kapanpun dia mau." Ucap Farel secara mendetail.


Tuan Gustaf menatap wajah dokter Sindy, seakan ingin mencari kebenaran dari pengakuan suaminya mantan model cantik ini.


Farel tersenyum puas bisa membuat Sindy malu di depan teman-teman wartawan yang sering ikuti perjalanan karier Sindy di dunia modelling.


"Jika saya tahu rahasia dokter Sindy yang bisa diikat dengan pernikahan, mungkin saya akan lebih dulu mendapatkan dirinya saat itu." Kini gantian Tuan Gustaf membuat Farel menahan geram.


"Kurangajar!" Kamu kira wanitaku gampangan apa." Gerutu Farel membatin.


Melihat keadaan yang kurang kondusif saat makan siang ini, Sindy mengalihkan ketegangan diantara keduanya.


"Apakah anda masih ada urusan lain, selain mewawancarai saya Tuan Gustaf?" Tanya Sindy.


"Tujuan kami ke Jakarta hanya ingin mewawancarai anda dokter Sindy, setelah ini kami akan langsung pulang ke negara kami masing-masing." Ucap Tuan Gustaf.


"Semoga informasi yang anda dapatkan dari saya, memuaskan anda Tuan Gustaf, jika masih ada pertanyaan untuk melengkapi artikel anda, silahkan anda menghubungi nomor kontak saya." Ucap Sindy.


"Terimakasih dokter Sindy!"

__ADS_1


Ketegangan akhirnya mencair. Mereka menyelesaikan makan siangnya tanpa ada lagi yang membuka suara. Hanya dentingan bunyi sendok dan garpu yang terdengar di atas meja makan walaupun kedengarannya sangat lembut.


"Tuan Farel terimakasih sudah menjamu kami makan siang di sini. Pekerjaan kami juga dimudahkan oleh dokter Sindy. Dan bonusnya kami juga bisa makan siang di sini. Kami mohon pamit karena sore ini kami harus kembali ke negara kami masing-masing." Ujar Tuan Gustaf lalu menyalami dokter Sindy dan Tuan Farel.


Sindy dan Farel melepaskan kepergian Tuan Gustaf dan rekannya. Keduanya kembali lagi ke kamar karena ingin melepaskan kepenatan mereka saat ini.


"Sayang!"


"Apakah dulu kamu pernah menyukai Tuan Gustaf?" Tanya Farel penasaran.


"Apakah aku harus menjawabnya?" Sindy balik bertanya.


"Harus sayang!"


"Kamu mau aku berkata jujur?" Tanya Sindy.


"Itu lebih baik." Ujar Farel.


"Saat itu, ketika aku ingin menghilangkan diriku ke Paris Perancis, aku pikir aku sudah bebas dan membangun karirku tanpa memikirkan masala laluku yang buram.


Tapi setelah aku ingin memejamkan mataku, ada wajah seseorang yang sangat mengangguku dan aku tidak bisa menepiskan rasa rinduku padanya.


Yang aku pikirkan saat itu adalah hidupku sendiri, tapi orang itu enggan untuk pergi dari pikiranku. Aku sangat merindukannya saat itu, namun sayangnya aku begitu takut untuk bermimpi bertemu dengannya apa lagi berani untuk mencintainya.


Mimpiku seakan bukan milikku lagi saat itu karena aku selalu mengejar hal yang mustahil, menunggu keberuntungan yang sia-sia. aku selalu melakukan rencanaku dengan semua yang pernah aku impikan. Semua orang menengadahkan wajahnya ke arah matahari senja, namun aku hanya bisa menatap hujan di malam hari dalam kesendirianku dan merasakannya pahitnya kesepian." Ujar Sindy dengan menarik nafasnya berat.


"Apakah dia bajingan itu ataukah Tuan Gustaf Sindy?" Tanya Farel yang sudah menahan rasa cemburunya.


"Kamu lelaki itu Farel yang sudah membuat hatiku selalu merindukanmu sayang, tanpa aku sadari aku telah jatuh cinta padamu." Ucap Sindy dengan menatap dalam mata suaminya.


Farel tercengang mendengar penuturan istrinya yang ternyata sangat mencintainya seperti ia mencintai Sindy saat itu dan selamanya.


Farel yang sejak pagi sudah merindukan istrinya itu, lalu memeluk wanitanya sangat erat.


"Terimakasih Sindy, aku sangat bahagia mendengar kata-kata cinta tulus padaku. Ternyata kamu sangat romantis." Ujar Farel.

__ADS_1


Farel yang sudah kangen berat dengan tubuh istrinya, mulai melancarkan cum**an panas pada istrinya. Pagutan bibir mulai menyatu dengan hisapan dan saling mengecap bahkan dua tangan Rei yang sudah sibuk meremas dan mencapai bagian tulang paha istrinya.


__ADS_2