Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
38. PART 38


__ADS_3

Keadaan Sindy yang sudah lebih baik saat ini, membuat suaminya sedikit bernafas lega. Keluarga itu kembali lagi ke tanah air, walaupun sang suami hanya mengantarkan dirinya, lalu kembali lagi ke Jerman, untuk merampungkan urusan bisnisnya yang sedikit lagi akan selesai.


"Apakah kamu harus langsung balik lagi ke Jerman dan tidak menginap semalam saja?" Tanya Sindy seakan sangat kecewa kepada suaminya yang mengantar dirinya hanya sampai di mobil.


"Maaf sayang! waktuku hanya tersisa satu minggu saja di sana dan aku akan segera pulang ke Jakarta, berada bersama kedua anak-anak kita dan calon baby." Ucap Farel meyakinkan istrinya yang saat ini sedang butuh perhatian darinya.


"Baiklah!" Aku akan menyibukkan diriku untuk tidak terlalu mengingatmu." Ujar Sindy.


"Tapi jangan sampai kelelahan sayang, usia kandunganmu baru berjalan dua bulan." Ucap Farel.


Keduanya saling berpelukan, namun hati Sindy makin tidak karuan. Ingin rasanya dia mengatakan bahwa "Jangan pergi lagi sayang, tetaplah disampingku karena aku lebih membutuhkanmu saat ini." Batin Sindy mulai bergejolak, namun ia harus menahannya karena urusan bisnis itu memang perlu penanganan khusus oleh suaminya sendiri dan tidak bisa diwakili oleh asistennya Rendy.


Perusahaan milik Farel yang ada di negara itu tidak berdiri sendiri, ada perusahaan lain yang menguatkan perusahaan induk itu untuk tetap berjalan sampai saat ini. Sebagai pemiliknya, Farel yang harus berkecimpung di dalamnya jika permasalahannya saat ini membutuh dirinya untuk menyelesaikan secepatnya.


Sindy mulai lagi aktivitasnya sebagai dokter. Sudah dua hari ini ia tidak mendapatkan kabar dari suaminya yang harusnya sudah tiba di Hamburg Jerman.


"Tumben ko belum telepon aku?" Tanyanya membatin.


"Selamat datang kembali ke tanah air dokter Sindy!" Dan selamat juga atas kehamilannya ketiganya!" Ujar dokter Lea yang menyambut Sindy di pintu masuk lobby rumah sakit.


Satu persatu karyawannya mengucapkan selamat kepadanya, Sindy tersenyum manis setelah hampir dua Minggu ia meninggalkan rumah sakit mengunjungi suaminya di Hamburg Jerman.


Sindy yang saat ini membawa oleh-oleh untuk semua karyawannya yang ada di rumah sakit itu tanpa terkecuali.


Semuanya menerima bingkisan oleh-oleh dari dokter Sindy dengan senang hati.


Oleh-oleh yang berupa jam tangan mewah dan makanan khas Jerman dinikmati mereka pagi itu.


"Enak ya jadi dokter Sindy, punya pesawat pribadi, jadi bawa oleh-oleh yang banyak tidak perlu ketakutan kelebihan muatan." Ujar dokter Lea.


"Makanya cari suami yang tajir seperti Bu dokter Sindy. Jadi nggak kelimpungan loe mikirin ongkos tambahan jika berlibur ke luar negeri." Timpal dokter Alfi kepada rekan kerjanya ini.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu kita kembali bekerja lagi, kasihan Dokter Sindy masih lelah, habis melakukan perjalanan jauh." Timpal dokter Kartika.


Di Jerman, pesawat jet pribadi milik Farel belum tiba juga di bandara Hamburg Jerman. Keadaan ini membuat perusahaan di sana menelusuri informasi ke bandara yaitu ATCer.


Pemandu lalu lintas udara atau Air Traffic Controller, ATCer atau Pemandu lalu lintas Penerbangan adalah merupakan profesi pekerjaan yang umumnya berfungsi memberikan layanan pemanduan lalu lintas di udara terutama terhadap lalu lintas  penerbangan pesawat udara, seperti pesawat terbang, helikopter dan pesawat lainnya.


Setelah ditelusuri ternyata pesawat itu telah lost kontak dengan menara ATC.


Mendengar informasi itu, perusahaan milik Farel yang ada di Hamburg Jerman menghubungi perusahaan milik Farel yang ada di Indonesia.


Asisten Rendy yang kebetulan tidak ikut menemani bosnya pulang ke tanah air kemarin begitu panik mendengar kabar ini.


"Apa yang harus aku lakukan untuk memberi tahu kabar ini kepada istrinya si bos yang saat ini sedang hamil muda?" Gumam asisten Rendy sambil mengepalkan kedua tangannya menahan kesedihannya.


Sambil menunggu informasi lanjutan dari pihak bandara, asisten Rendy meminta tim penyelamat yang ada di bandara Hamburg Jerman untuk mencari tempat terakhir jatuhnya pesawat jet milik pribadi Tuan Farel saat kehilangan kontak dengan menara ATC tersebut.


🌷🌷🌷🌷🌷


Sudah beberapa kali ia menghubungi Farel, namun tidak sekalipun suaminya mengangkat ponselnya. Dan ponsel Farel tidak aktif.


Sindy mencoba menghubungi asisten suaminya Rendy. Ternyata Rendy juga tidak ingin menjawab sambungan telepon dari istri bosnya itu.


"Apa yang harus aku jawab, jika pada akhirnya ia akan syok dengan jeritan tangis yang sangat histeris nanti yang aku akan dengar darinya." Ujar Rendy lirih.


"Ada apa dengan mereka berdua? sesibuk itukah hingga keduanya mengabaikan telepon dariku?" Ucap Sindy yang sangat kesal dengan suaminya dan Rendy asisten suaminya itu.


"Dokter Sindy, ada pasien yang membutuhkan bantuan anda. Dia tidak mau kami tangani karena dia ingin anda sendiri yang menanganinya." Ucap dokter Lea.


"Baiklah!" Saya segera ke sana." Ucap Sindy lalu memakai lagi jas putihnya untuk menangani pasiennya yang baru datang itu.


Sindy masuk ke ruang bersalin dan betapa terkejutnya dia ternyata pasiennya adalah Clara istri dari dokter Alan, lelaki yang sangat ia benci seumur hidupnya.

__ADS_1


"Nyonya Clara!" Sapa Sindy dengan wajah yang sangat heran.


"Dokter Sindy, tolong selamatkan bayiku, aku tidak mau suamiku membuang bayi ini." Ucap Clara sambil terisak.


Sindy meminta dua rekannya untuk meninggalkan ia dan Clara yang saat ini sedang memiliki masalah dengan dokter Alan.


"Apa yang terjadi Nyonya Clara, sampai dia ingin membuang anak kalian, bukankah selama ini, kalian belum dikaruniai keturunan dan mengapa sudah mendapatkannya malah ingin membuangnya?" Tanya Sindy hati-hati.


"Karena aku mengandung anak cacat dan dia tidak menginginkannya dokter Sindy. Dia tidak mau memiliki anak cacat karena itu aib baginya." Ucap Clara sambil terisak.


"Apakah dia mengetahui kalau kamu mendatangi rumah sakitku dan ingin melahirkan di sini?" Tanya dokter Sindy.


"Justru itu masalahnya, aku kabur dari dia Sindy karena aku tidak mau anakku dibuang olehnya." Ujar Nyonya Clara sambil memohon untuk tidak memberi tahukan suaminya di mana keberadaannya saat ini.


"Berapa bulan kandunganmu saat ini Nyonya Clara?"


"Sekitar sembilan bulan dan aku belum mengalami kontraksi."


"Berarti kamu ingin menginap di sini?" dan tidak ingin dia sampai tahu?"


Clara hanya mengangguk lalu menggenggam tangan Sindy.


"Sindy, aku tahu kamu pernah mencintainya dan kalian pernah berhubungan. Dia mengatakan itu padaku. Dia selalu memujamu sampai sekarang ini. Dia menyesal meninggalkanmu demi aku." Ucap nyonya Clara membuat Sindy merasa sangat murka.


"Sialan!" Ternyata bajingan itu mempunyai nyali juga mengakui semuanya kepada istrinya." Sindy mendengus kesal.


"Terimakasih Sindy, kamu meninggalkannya demi aku." Ucap Nyonya Clara.


Sindy menarik tangannya dan meninggalkan Clara.


"Tolong pindahkan Nyonya Clara di ruang inap, karena dia belum mengalami kontraksi dan urusan dia biar aku yang tangani." Ucap dokter Sindy pada dua suster dan dokter Lea, lalu ia kembali ke ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2