Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
33. PART 33


__ADS_3

Setiap pertemuan pasti ada perpisahan, setiap perpisahan akan


meninggalkan kenangan. Kesan dan pesan akan terucap mengiringi perpisahan itu sendiri. Tidak ada perpisahan yang indah, jika ingin memilih, mungkin lebih baik tetap bersama dengan jalan apapun, namun kita tidak bisa menolak permainan takdir yang mengharuskan kita untuk menjalaninya.


Pagi itu, Sindy dan kedua anaknya melepaskan kepergian suaminya ke Jerman.


Sindy yang dari semalam tidak bisa berhenti menangis karena harus berpisah dengan Farel selama satu bulan.


"Sayang!" Satu bulan hanya sebentar, kenapa kamu sangat sedih, hmm?" Farel menatap wajah sembab istrinya yang begitu takut akan kehilangannya.


"Entahlah sayang. Aku merasa saat ini tidak tenang merasa ada sesuatu yang membuatku begitu takut ditinggalkan olehmu." Ucap Sindy sambil terisak.


"Mengapa seperti itu, kalau kamu takut jika berpisah terlalu lama, ayo kita berangkat ke Jerman bersama-sama!" Ucap Farel.


Kali ini sindy nampak berpikir keras, jika dia ikut suaminya selama sebulan, maka tanggungjawab pada rumah sakitnya akan kacau tapi di tinggal lama oleh suaminya, dia pun tidak rela.


Di sinilah Sindy merasa sangat dilema. Ia lalu memutuskan untuk tidak ikut bersama suaminya ke Jerman dan memilih mengabdikan dirinya di rumah sakit miliknya.


"Nanti seminggu sekali kami akan mengunjungimu sayang," ucap Sindy menghibur dirinya dan juga suaminya.


"Benarkah kamu akan mengunjungiku?" Tanya Farel untuk meyakinkan dirinya bahwa istrinya serius akan mengunjunginya nanti.


"Hmm!" Sindy merapikan lagi dasi suaminya lalu mengantarkan suaminya sampai depan pintu utama mansion.


Farel menggendong putrinya Afta dan jagoannya Kaysan.


"Kaysan, ayah mau berangkat ke luar negeri, selama ayah pergi kamu yang harus melindungi mama dan dede Afta." Farel memberi amanat pertamanya untuk putranya tercinta.


Farel mengecup pipi putra dan putrinya lalu mengecup bibir istrinya.


"Semoga ada kabar baik yang akan aku terima setelah kepulangan aku dari Jerman." Farel membisikkan kata-kata manis itu pada istrinya yang hanya termangu mendengar ucapan suaminya.


"Aaamiin, insya Allah sayang." Ucap Sindy sambil tersenyum kecut dengan matanya yang kembali berkaca-kaca.


"Sayang jangan nangis dong!" Ada anak-anak yang akan menemani kesepianmu." Ujar Farel menenangkan istrinya.


"Iya sayang!" Sindy mengusap air matanya hingga kering supaya suaminya tidak sedih melihatnya seperti ini.


"Bye papa!" Cepat pulang ya!" Kaysan melambaikan tangannya ke arah mobil papanya yang sudah meninggalkan mansionnya menuju bandara.


Sindy meminta pelayannya untuk menemani anak-anaknya bermain.


Ia lalu menuju ke kamarnya dengan kembali menangis.


"Ada apa ya denganku, kenapa aku tidak bisa menghentikan air mataku." Ucap Sindy kesal.


Tidak lama bunyi ponselnya berdering berkali-kali. Sindy menenangkan dirinya sesaat sebelum menerima panggilan dari rumah sakit.


"Hallo!"


"Hallo Bu dokter Sindy, tolong segera ke rumah sakit karena ada pasien yang baru melahirkan malah mengalami kejang-kejang." Ucap dokter Alea kepada bosnya itu.


"Baik, saya akan segera ke sana." Sindy mencuci lagi wajahnya dan berdandan sebentar untuk menyamarkan mata dan pipinya agar tidak terlihat baru habis menangis.

__ADS_1


Sindy pamit kepada putranya Kaysan dan mengecup pipi putrinya lalu dengan mobilnya ia meluncur ke rumah sakit miliknya melalui pintu belakang rumah sakit yang satu area dengan mansion miliknya.


"Terimakasih suamiku, kamu membangun rumah sakit yang dekat dengan rumah kita sehingga aku tidak perlu bersaing dengan kendaraan lain untuk mencapai tempat kerja maupun ketika pulang ke mansion. Kamu memang hebat sayang, mempersiapkan segalanya untukku agar aku tetap nyaman mengurus anak-anak dan rumah sakit." Sindy bermonolog.


Satpam membuka pintu pagar gerbang belakang rumah sakit.


Sindy membiarkan mobilnya terparkir di dalam gerbang taman belakang dan tidak ingin memasuki mobilnya ke lahan parkir depan rumah sakit, agar dia mudah kabur jika sudah selesai di rumah sakit.


🌷🌷🌷🌷🌷


"Apa yang terjadi dokter, mengapa pasien Nyonya Erna mengalami kejang-kejang?" Tanya dokter Sindy pada dokter Alea yang menangani pasien tersebut.


"Saya juga sudah berusaha mencari pemicunya dokter tapi belum berhasil. Sudah di kasih obat penenang tapi masih begitu lagi." Dokter Alea menjelaskan secara mendetail.


"Baiklah, akan aku lihat kondisi pasien." Dokter Sindy masuk ke kamar pasien lalu melihat keadaan pasien dengan seksama.


Ia meminta suster menggantikan infus yang sesuai dengan sakitnya pasien beserta obat yang akan di suntikkan ke cairan infus tersebut.


Setelah memberikan suntikan kepada pasien, akhirnya nyonya Erna kembali tenang. Suster dan dokter Alea merasa sangat bersyukur karena dokter Sindy menangani pasiennya dengan mudah.


"Di mana suami pasien, suster?" Tanya dokter Sindy yang tidak melihat keluarga pasien.


"Tadi di sini dokter, mungkin lagi menghubungi keluarganya karena tadi saya melihat Tuan Rendra berjalan ke arah taman." Ucap suster Yuni sambil melihat ke luar jendela.


"Oh itu orangnya dokter Sindy." Ucap suster Yuni sambil menunjukkan jarinya ke arah suami pasien.


"Minta dia menghadap ke kantor saya!" Ucap dokter Sindy lalu kembali ke ruang kerjanya.


Dokter Sindy, menatap foto keluarganya di atas meja kerjanya. Ia memperhatikan senyum suaminya yang begitu tampan.


"Aku sangat merindukanmu sayang." Ucap Sindy lalu mengalihkan perhatiannya ke layar laptopnya.


Tok...tok!"


"Silakan masuk!" Seru dokter Sindy dari dalam.


Suami pasien Nyonya Erna masuk menemui dokter Sindy yang saat ini, namanya tetap berjaya di setiap layar media.


"Selamat siang Dokter Sindy!" Sapa Tuan Rendra.


Sindy menatap wajah suami dari pasiennya. Tuan Rendra menatap wajah cantik dokter Sindy tanpa berkedip.


Tuan Rendra adalah pengusaha batu bara yang sangat kaya raya. Saat ini ia memiliki tiga orang istri dan istri ketiganya adalah Nyonya Erna yang baru berusia tujuh belas tahun. Dua istrinya tidak bisa memberinya keturunan, hanya Erna yang bisa memberikannya keturunan.


"Silahkan duduk Tuan Rendra!"


"Terimakasih dokter!


"Maaf Tuan Rendra, saya ingin bicara serius dengan Anda mengenai istri anda, Nyonya Erna.


"Saya hanya ingin menanyakan beberapa hal sifatnya pribadi kepada anda."


"Silahkan dokter!"

__ADS_1


"Begini, keadaan pasien saat ini kurang begitu baik, karena pasien sedang mengalami kejang-kejang yang terus menerus. Yang ingin saya tanyakan, berapa usia nyonya Erna ketika anda menikahinya?" Tanya dokter Sindy yang merasa curiga dengan usia Erna yang masih begitu muda tapi di samarkan menjadi 17 tahun.


"Apakah ada hubungannya dokter?" Tanya Tuan Rendra sambil menelan salivanya dengan kasar.


"Tentu saja ada hubungan dengan sakitnya beliau, jika anda tidak keberatan tolong beritahu kami agar kami bisa berusaha mengobatinya, jika anda menyembunyikan sesuatu dari kami, saya meminta anda untuk membawa nyonya Erna ke rumah sakit lain." Ucap dokter Sindy dengan sedikit ancaman.


Tuan Rendra menarik nafasnya panjang lalu menghembuskannya dengan kasar sebelum menjawab pertanyaan dokter Sindy.


"Saya menikahinya ketika usianya masih tiga belas tahun. Karena tubuhnya sangat bongsor, ia tidak kelihatan seperti usianya makanya saya meminangnya dan menikahinya secara sirih karena kedua istri saya tidak mengijinkan saya untuk menikah lagi." Ujar Tuan Rendra.


"Astaga!" Ucap dokter Sindy yang menyesali perbuatan Tuan Rendra yang menikahi Erna yang masih di bawah umur.


"Sepertinya anda menggaulinya terlebih dahulu sebelum anda menikahinya. Sudah dua kali dia melakukan aborsi atas perintah anda. Dan anda tidak menikahinya secara sirih melainkan anda menjadikan dia istri simpanan." Ucap dokter Sindy secara gamblang.


Di dalam pesawat jet pribadi miliknya, Farel hanya menatap foto keluarga kecilnya di dalam ponselnya. Ia merasakan kerinduannya lebih cepat sebelum menginjak kota Hamburg Jerman.


"Sayang, papa akan segera pulang menemui kalian. Papa tidak akan lama sayang karena papa juga tidak ingin berjauhan dengan kalian terlalu lama." Gumam Farel lirih.


"Permisi Tuan, apakah anda ingin makan atau minum sesuatu?" Tanya seorang pramugari cantik kepada Farel.


"Tuan!" Panggil pramugari itu sekali lagi karena melihat Farel yang masih termangu menatap layar ponselnya.


"Oh iya mbak!" Farel tersentak lalu menatap wajah pramugarinya.


"Maaf Tuan Farel!" Saya hanya ingin menawarkan makanan atau minuman yang mungkin anda butuhkan karena sudah masuk jam makan siang." Ucap Rena.


"No problem, berikan apa yang kalian masak untukku." Ucap Farel sekenanya.


"Anda mau makan nasi Tuan?"


"Iya, nasi, ayam atau daging stik dan minumannya lemon tea saja." Ujar Farel.


"Apakah kamu sudah menyiapkannya semua berkas yang kita butuhkan Rendy?" Tanya Farel kepada asistennya.


"Sudah bos, semuanya sudah saya bawa. Ada juga yang sudah saya masukkan ke dalam file anda. Dan ada beberapa berkas yang harus anda tangani. Ada email yang sudah masuk, yang belum Anda buka." Ucap Rendy yang melaporkan semua tugasnya kepada bosnya Farel.


"Apakah kita bisa mulai kerjakan di pesawat ini, agar tidak membuang waktu." Ucap Farel lalu membuka laptop miliknya.


"Permisi Tuan!" Ucap pramugari yang sudah membawa makanan untuk Rendy dan Farel.


Pramugari menghidangkan makanan untuk kedua pria tampan ini. Farel menyimpan kembali laptopnya karena harus mengisi perutnya yang saat ini memang sudah lapar.


"Sebaiknya kita makan dulu, biar kerjanya lebih nyaman kalau perut sudah kenyang." Ucap Farel lalu menikmati makanannya.


"Bos, mengapa anda tidak mengajak keluarga kecil anda untuk ikut bersama kita ke Jerman?" Sepertinya anda tidak bisa jauh dengan istri anda Tuan." Ucap Rendy di sela-sela menikmati makanannya.


"Aku sudah mengajaknya Rendy, tapi seperti biasa, Sindy masih ragu dengan kemampuan anak buahnya untuk mengatasi masalah pasien. Padahal dia sudah cukup memberikan ilmunya dan menguji sendiri beberapa dokter yang sudah mahir menangani pasiennya.


Ia takut mereka salah dalam bertindak karena itu akan menjatuhkan reputasi rumah sakit yang sudah ia bangun kepercayaan masyarakat selama ini." Ucap Farel memberi alasan.


"Kalau begitu, dokter Sindy akan terus terikat dengan rumah sakit itu, jika dia tidak memberikan kesempatan kepada dokter spesialis kandungan yang sudah ahli dalam menangani pasien. Saya yakin jika dokter Sindy bisa memberi mereka kesempatan dengan cara mengawasi cara kerja anak buahnya, mungkin akan berhasil karena sudah berusaha sebaik mungkin untuk menunjukkan kinerja mereka secara optimal." Ucap Rendy membuat Farel merenung kata-kata asistennya ini.


"Kamu benar juga Rendy. Aku akan mencoba meyakininya lagi untuk mau memberikan kesempatan kepada dokter yang lain untuk berunjuk gigi melalui kemampuan yang mereka miliki, pastinya dengan ilmu yang sudah mereka dapatkan dari istriku. Mereka pasti melakukannya dengan percaya diri." Timpal Farel sambil tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2