Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
42. PART 42


__ADS_3

Disaat dokter Amanda sedang berjuang menyelamatkan baby Afta dari masa kritisnya, di saat yang sama dokter Sindy sedang melakukan upaya untuk menyelamatkan nyawa Nyonya Clara yang tiba-tiba mengalami serangan jantung.


Dokter Amanda menangis selama menangani pasiennya yang tidak lain adalah putri dari seorang yang sangat ia cintai yang merupakan pemilik rumah sakit ini.


Rekan dokter Amanda yaitu dokter Rahayu meminta kepada dokter Amanda untuk mengkonfirmasi hal ini pada orangtuanya si bayi, yaitu dokter Sindy.


"Dokter Amanda, sebaiknya kita harus memberi tahukan keadaan baby Afta yang sudah sulit ditangani oleh kita kepada dokter Sindy, ibu kandungnya si baby dari pada kamu nanti disalahkan." Ucap dokter Rahayu.


"Aku masih bisa Dokter Ayu, tidakkah kamu lihat saat ini semua orang lagi dalam keadaan tegang, jika kamu menambahkan masalah itu, sama saja kita akan mendapati pasien berikutnya adalah dokter Sindy sendiri.


Dia sedang hamil muda dan saat ini sedang sedih karena kehilangan suaminya yang belum jelas keberadaannya. Apakah kamu mau dokter Sindy juga ikutan mati?" Dokter Amanda membentak dokter Rahayu yang dianggapnya terlalu cengeng.


"Baiklah dokter Amanda, lakukanlah apa yang kamu bisa kamu lakukan, aku menyerah dan melepaskan diriku dari prinsip bodohmu itu." Ucap dokter Ayu lalu meninggalkan ruang NIKU.


"Dokter Sindy! tensi darah pasien makin menurun dan detak jantungnya makin melemah." Dokter Kartika melaporkan keadaan pasien Nyonya Clara pada dokter Sindy.


"Siapkan alat kejut jantung!" Titah dokter Sindy kepada timnya.


"Nyonya Clara!" Aku tahu kamu masih mendengarkan aku, Jika kamu mati, maka putramu akan dibuang oleh suamimu si dokter Alan itu, kamu mau bertahan hidup demi anakmu atau mau menyerah begitu saja, terserah padamu karena aku tidak akan menolongmu." Dokter Sindy membisikkan sesuatu kepada pasiennya yang saat ini sedang kritis.


Dokter Sindy memacu kembali jantung Nyonya Clara dengan alat kejut jantung.Alat pacu jantung atau defribrilator adalah alat untuk mengatasi gangguan irama jantung atau Aritmia yang dapat mengancam jiwa. Alat ini akan ditempelkan pada dada atau area perut pasien untuk membantu pasien mengontrol ritme jantung yang tak normal.


Setelah beberapa kali memacu jantung Nyonya Clara akhirnya keadaan jantung Nyonya Clara berangsur membaik.


"Dokter Sindy!" Jantungnya sudah kembali normal." Ucap dokter Kartika.


"Alhamdulillah" Ucap syukur Sindy atas kebesaran Allah yang telah menyelamatkan Nyonya Clara dari kematian.


Tolong rapikan pasien dan pindahkan ke kamar ICU." Titah dokter Sindy.


Tok.. tok


Cek..lek..


Dokter Rahayu mendekati dokter Sindy, yang baru saja keluar dari kamar bersalin dengan melepaskan penutup kepalanya.


"Dokter Sindy!" Segera ikut saya ke ruang NIKU, baby Afta....?" Dokter Rahayu belum menyelesaikan perkataannya, namun Sindy sudah berlari menghampiri putrinya dalam keadaan panik.


"Apa yang terjadi dokter Amanda pada putriku?" Tanya dokter Sindy yang sudah mendekati putrinya.

__ADS_1


"Dokter Amanda menceritakan keadaan baby Afta kepada dokter Sindy.


Sindy membuka sedikit bajunya lalu memberikan ASI kepada putrinya yang sudah bernafas satu persatu.


Ternyata baby Afta merespon ibunya, ia menyedot pu*ing Sindy dengan mulut kecilnya.


Dokter Sindy dan dokter Amanda memperhatikan wajah Afta yang berangsur memerah seakan aliran darahnya kembali mengalir ke seluruh tubuh.


Decak kagum dokter Amanda pada sosok Dokter Sindy, yang menurutnya sangat hebat dalam melewati suasana yang mencekam, yang hampir membuat dirinya tadi mati lemas karena tidak mampu menangani pasiennya yang istimewa ini.


"Ya Allah, dokter Sindy!" Aku tadi hampir pingsan karena sudah kuatir dengan keadaan baby Afta, tapi anda memiliki intuisi seorang ibu, yang mampu menyelamatkan bayi anda tanpa mendengar semua penjelasan saya." Ucap dokter Amanda yang menangis haru.


"Ada Allah yang akan menentukan siapa saja yang Dia kehendaki untuk tetap bertahan di atas bumiNya. Dengan ketulusan kasihNya tanah yang kering pun akan kembali subur jika tersentuh dengan tetesan hujan. Begitu pula seorang bayi yang saat ini mendambakan sentuhan kasih sayang seorang ibu melalui ASI miliknya yang mampu membuatnya kembali hidup atas izin Tuhannya." Ujar dokter Sindy pada rekan dokternya.


"Sayang!" Kamu kangen sama mama sayang?" Tanya dokter Sindy yang melihat putrinya sedang mengerjapkan matanya dan melepaskan pu*ing ibunya dari mulut kecilnya.


Bayi tujuh bulan ini, tersenyum pada ibunya seakan mengatakan, "Aku tidak akan meninggalkanmu mama karena ketulusan cintamu padaku" itulah bahasa kalbu seorang bayi pada ibunya melalui ekspresi wajahnya.


Dokter Amanda dan dokter Rahayu menangis haru melihat adegan yang sangat menyentuh itu.


Tidak lama kemudian, suara ocehan baby Afta yang menyebutkan kata pertamanya yaitu mama.


"Baby memanggil mama...sudah bisa panggil mama sayang?" Ikatan batin antara ibu dan anak ini yang sedang berkomunikasi dengan keterbatasan usia putrinya.


"Baby Afta lapar? ingin di susui mama?" Dokter Sindy mengajak putrinya mengobrol.


"Hmm!" Afta kembali menyusu pada ibunya.


Dokter Sindy mengecup pipi putrinya yang selamat dari kematian.


"Dokter Sindy!" Apakah kami boleh istirahat sebentar?" Dokter Amanda meminta ijin bosnya untuk melepaskan ketegangan yang sempat membuat dirinya pingsan.


"Silahkan dokter!" Ujar dokter Sindy.


Dua orang suster mengantarkan makanan untuk Sindy karena sejak menangani persalinan nyonya Clara, yang disertai menghadapi pasien itu dengan segala permasalahannya, membuat dokter Sindy belum menyentuh makanannya sama sekali termasuk belum membasahi tenggorokannya dengan air putih.


"Dokter Sindy!" Tolong diminum teh herbalnya!" Dan ini makanan anda, tolong di makan dulu ya dokter, karena baby Afta sangat membutuhkan ASI anda." Ucap Suster Ela.


"Terimakasih suster Ela!" Ucap Sindy lalu meletakkan bayinya ke dalam boks tempat tidur bayi.

__ADS_1


"Dengan senang hati dokter Sindy!" Ucap suster Ela lalu meninggalkan ruang NIKU tersebut.


Sindy menghabiskan makanannya dan memilih untuk menunggu sendiri putrinya yang masih membutuhkan dirinya.


Di kantin rumah sakit. Beberapa orang dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis anak sedang membahas kedua pasien yang paling fenomenal hari ini.


Dokter Amanda yang memulai acara perbincangan itu.


"Tahu nggak sih kalian teman-temanku, hari ini, ada hal yang menegangkan sekaligus menakjubkan yang terjadi pada pasien baby Afta yang merupakan putri dari bos kita sendiri." Ujar dokter Amanda dengan ekspresi wajah misterius.


"Ada apa dokter Amanda?" Tanya dokter Alea penasaran.


"Tadi tuh ya....?" Dokter Rahayu yang ingin menimpali cerita dokter Amanda di cegah oleh dokter Amanda.


"Dokter Rahayu, bukan wewenang anda yang menceritakan hal itu pada teman-teman kita karena anda tadi sudah melepaskan diri dari tanggung jawab Anda yang menolak untuk menolong bayi malang itu?" Ucap dokter Amanda dengan sangat kesal.


"Lho ko jadi pada ribut sih." Tegur dokter Kartika yang melihat perdebatan antara temannya.


"Sekarang, Tolong dokter Amanda selesaikan ceritamu karena kami penasaran ingin mengetahuinya!" Pinta dokter Alea.


Dokter Amanda memulai lagi cerita nya ketika semuanya nampak tenang menatap wajahnya menunggu dokter muda ini bercerita.


"Tadi aku sudah sangat putus asa ketika menangani baby Afta yang sudah hampir kehilangan nyawanya. Bayi itu hanya bernafas dengan tersendat-sendat. Aku sudah menangis ketakutan karena membayangkan bagaimana perasaannya dokter Sindy jika dia harus kehilangan dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya.


Tidak lama kemudian, dokter Sindy datang menemui putrinya dan aku mengutarakan semua permasalahan bayinya, tapi dengan telaten dokter Sindy langsung menyusui putrinya. Dan anehnya respon bayinya itu yang membuatku takjub, bayi malang itu menyedot pu*ng ibunya dan seketika tubuh pucatnya kembali berwarna, aliran darahnya kembali lancar, aku tidak tahu magic apa yang digunakan dokter Sindy hingga ia mampu menyelamatkan bayinya tanpa bantuan tenaga medis sepertiku." Ucap dokter Amanda yang menceritakan peristiwa yang dialaminya tadi di ruang NIKU.


"Itu karena aku juga yang ikut andil, yang langsung memanggil dokter Sindy untuk melihat putrinya. Coba kalau di diamkan karena takut menganggu dokter Sindy, apa selamat itu bayi di tanganmu?" Ujar dokter Rahayu sengit.


"Masalahnya, dokter Sindy sendiri sedang menangani pasien yang sedang kritis." Ujar dokter Amanda tidak mau kalah.


"Sekarang kamu pilih nyawa anakmu atau nyawa pasien. Jika pasien mungkin penyesalan dokter Sindy tidak seberapa karena keterbatasan kemampuannya sebagai manusia. Tapi, bagaimana dengan nyawa putrinya, jika hilang di tangan kita, dokter Sindy akan menyesal seumur hidupnya." Ucap dokter Rahayu membela diri atas tindakannya.


Semuanya nampak merenung, tidak ada yang salah diantara kedua dokter spesialis anak ini yang sedang berdebat. Mereka juga tidak ingin memenangkan satu sama lain dan lebih fokus memikirkan keadaan bos mereka yang sedang dilanda masalah yang datang padanya secara beruntun.


"Baiklah, kita kembali ke tugas kita masing-masing dan kalian berdua ayo bersalaman dan saling meminta maaf, jika tidak kalian akan mendapatkan masalah dari dokter Sindy." Titah dokter Kartika pada kedua teman sejawatnya ini.


Dengan berat hati, dokter Amanda dan dokter Rahayu saling meminta maaf dan berpelukan. Semuanya bersorak melihat adegan itu.


Mereka kembali ke tugas mereka masing-masing. Dokter Kartika menemui dokter Sindy yang sedang berada di ruang NIKU menemani bayinya. Sementara dokter Alea memeriksa kembali kondisi pasiennya yang bernama nyonya Clara yang belum sadar dari komanya.

__ADS_1


__ADS_2