
Ponsel Luna berdering, ibu dari Farel ini menatap nomor kontak yang tidak ia kenal. Karena takut itu sangat penting, Luna segera mengangkatnya dan mulai menyapa orang yang menghubunginya.
"Luna, ini aku Farel!"
Degg..!" Luna tersentak mendengar suara dan nama orang itu.
Dadanya berdegup kencang ketika mendengar suara ayah dari putranya Farel.
"Iya Tuan Farel, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Luna gugup.
"Boleh aku bertemu denganmu di apartemen milikmu?"
"Apa?" Luna kaget mendengar permintaan Farel yang ingin menemuinya di apartemen miliknya.
"Silahkan Tuan!" Ujar Luna kegirangan lalu memberitahu nama apartemen dan nomor kamarnya.
Ia pun segera merapikan dirinya dan mengganti baju yang lebih layak untuk menyambut tamu spesialnya.
"Apakah dia berubah pikiran sekarang?" Apakah pertengkarannya dengan dokter Sindy membuat dirinya merindukan aku?" Gumam Luna berbicara di depan kaca riasnya seraya menambahkan warna merah pada bibirnya.
Ting..tong!"
Luna segera menghampiri pintu dan melihat di kamera CCTV ternyata tuan Farel sudah datang dengan membawa buket bunga mawar segar untuknya.
__ADS_1
Luna makin gugup kerena ia tidak tahu cara menghadapi Farrel yang sangat tampan malam ini.
Pintu apartemen itu di buka dan Luna menyapa Farel dengan senyum yang sangat menawan.
"Selamat malam Luna!"
"Selamat malam Tuan Farel balas Luna.
"Ini untukmu!"
Farel menyerahkan buket bunga itu untuk Luna.
"Terimakasih Tuan Farel, bunga ini sangat cantik. Silahkan duduk!"
"Mau minum apa Tuan?"
"Tidak usah repot-repot Luna, karena saya hanya sebentar saja di sini." Cegah Farrel yang tidak ingin minum apapun yang di siapkan Luna walau itu hanya air putih.
"Aku tidak akan meracuni anda Tuan Farel, ini hanya air putih saja."
Luna kembali duduk di depan Farel dan siap mendengarkan perkataan lelaki di masalalunya ini.
"Begini Luna, kedatangan saya kemari, untuk meminta sesuatu kepadamu, saya harap kamu dengar baik-baik perkataanku dan tolong jangan menyela pembicaraanku sebelum aku menyelesaikan perkataanku." Ucap Farel tegas.
__ADS_1
"Silahkan Tuan! saya akan mendengarkan Anda."
"Luna, keadaan rumah tanggaku saat ini berada di ambang kehancuran sejak pertemuan kita yang tidak sengaja di sekolah anak-anak kita. Sindy tidak ingin aku berurusan denganmu, apapun alasannya walaupun itu menyangkut Farel putraku.
Sekarang aku mohon padamu, demi keutuhan keluargaku, ku harap kamu mau kembali ke Amerika dan hidup di sana bersama putraku, aku akan membiayai hidup kalian sampai Farel mendapatkan pekerjaan dan aku harap kamu mau membuka hatimu untuk laki-laki lain, dengan begitu kekuargaku tidak akan hancur." Ucap Farel setengah memohon kepada Luna.
Luna sangat kecewa dengan pernyataan Farel yang tidak menginginkan dirinya dan putranya berada di Jakarta.
"Apakah aku harus ke luar negeri, agar istrimu puas tuan Farel?"
"Luna, sejak awal pertemuan kita bukan sebagai kekasih tapi hanya sebagai...?
"Pelac**r dan pelanggan." Timpal Luna.
"Maaf Luna, aku tidak bermaksud menghinamu, tapi aku hanya ingin menjaga keutuhan keluargaku." Ucap Farel memelas pada Luna.
"Baiklah!" Jika itu maumu, lagi pula putraku Farel juga memintaku untuk kembali lagi ke LA karena ia tidak betah tinggal di sini, namun ada syaratnya tuan Farel karena semuanya tidak ada yang gratis di dunia ini kecuali bernafas." Ujar Luna lalu menghampiri Farel dan duduk di sebelah Farel dengan gestur tubuh yang menggoda.
"Apa yang kamu inginkan Luna?"
"Bercintalah denganku malam ini karena aku tidak pernah tersentuh oleh lelaki lain selain dirimu tuan Farel." Luna mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir Farel.
Tidak begitu lama,
__ADS_1