
"Apakah kamu yang bernama Sindy?" Tanya Nyonya Aliya dengan wajah angkuh.
"Iya Nyonya." Ucap Sindy ramah.
"Aku bundanya Farel dan kamu, apakah kamu wanita simpanan putraku Farel?" Sindir Nyonya Alya sarkas.
"Silahkan masuk Nyonya!" Sindy meremas dress-nya dengan kuat karena terlalu gugup menghadapi ibunda Farel yang menatapnya dengan tatapan mata membunuh.
"Maaf Nyonya, saya dan Farel sudah menikah secara sah." Jawab Sindy dengan tetap bersikap tenang.
"Saya dengar kamu seorang dokter. Kamu punya masa depan yang menjanjikan, kalau kamu mau, saya akan memberikanmu modal, untuk membuka klinik sendiri, dengan begitu kamu akan hidup tenang, tapi untuk dapat semuanya itu, kamu harus meninggalkan Farel putraku, karena kamu tidak pantas untuknya. Bagaimana dengan tawaranku?" Nyonya Alya duduk di sofa dengan memangku salah satu kakinya.
"Saya tidak butuh itu nyonya, saya hanya ingin berada disisi suami saya." Ujar Sindy dengan percaya diri.
"Kau, siapa kamu, hingga ingin bertahan disisi putraku?" Bukankah kamu tahu kalau putraku tidak betah dengan satu wanita dalam hidupnya, jadi tidak ada wanita yang ia pertahankan selama dua hari, paling semalam saja di ranjangnya setelah itu dia akan menendang wanita itu seperti tong sampah." Ujar Nyonya Alya.
"Alhamdulillah prinsip itu tidak berlaku pada saya nyonya." Ucap Sindy.
"Apakah kamu sudah menggunakan cara mistis yang bisa memikat putraku?"
"Itu hanya terjadi pada perempuan putus asa yang cintanya ditolak berkali-kali oleh lelaki dan saya tidak perlu menggunakan permainan kotor itu untuk menjerat putra anda Nyonya." Ujar Sindy.
"Kelihatan kamu sangat percaya diri, tapi kamu hanya seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti asuhan dengan mendapatkan donasi dari para dermawan yang berhati mulia." Ucap Nyonya Aliya dengan menghina Sindy.
"Saya masih beruntung Nyonya karena saya bukan anak dari hasil hubungan zina dari seorang wanita yang tidur dengan banyaknya lelaki dan meninggalkan bayi mereka hanya untuk menyelamatkan aib keluarganya.
Jika saya seorang gadis yatim-piatu, itu bukan keinginan saya yang harus kehilangan kedua orangtua saat masih kecil. Jika bisa memilih, saya ingin mendapatkan kehidupan yang lebih beruntung dari anak-anak anda yang memiliki orangtua lengkap. Sayangnya nasib saya tidak semujur itu, hingga saya harus berjuang keras untuk bisa bertahan di panti asuhan itu hingga saya mampu menghidupi diri saya sendiri dengan kemampuan kecerdasan yang saya miliki yang belum tentu bisa diraih oleh anak-anak yang memiliki orangtua yang masih lengkap.
Tuhan memiliki caraNya tersendiri dalam melindungi dan merawat hambaNya yang lemah untuk mampu bangkit dari setiap ujian yang Dia timpakan kepada hambaNya.
Menjadi seorang yatim-piatu bukanlah dosa nyonya." Sindy makin menyudutkan ibu mertuanya dengan kata-kata yang membuat nyonya Alya sangat murka.
"Untuk itukah, gadis cerdas sepertimu bisa mendapatkan putraku dengan mulut besarmu itu?" Sindir Nyonya Alya yang masih belum menyerah.
"Anda yang sudah memaksa saya bersikeras seperti itu kepadamu Nyonya. Aku memang gadis yatim-piatu bukan berarti anda datang ke sini seenaknya menghinaku di rumah suamiku sekalipun anda adalah mertuaku sendiri. Aku bukan perempuan lemah yang bisa kamu tindas karena kamu memiliki derajat yang lebih tinggi dariku berdasarkan tingkat sosialmu itu." Sindy menghardik ibu mertuanya yang tidak berhenti membully dirinya.
"Ha...ha..ha!" Sindy..Sindy, kamu tahu, jika aku memiliki rahasia hidupmu yang saat ini akan membuat nyalimu bisa menciut seketika?" Apakah kamu mau skandalmu dengan dokter Alan akan dimuat di semua media?" Ancam Nyonya Alya tanpa basa-basi lagi pada Sindy, yang dianggap sebagai menantu kurangajar ini.
Degg...
Mendengar itu Sindy langsung diam seribu bahasa. Jantungnya seketika ingin berhenti pada tempatnya. Pandangannya terasa kabur dengan keringat mulai muncul tipis di pelipisnya yang mulus itu.
__ADS_1
Tubuh Sindy langsung terhuyung ke belakang sambil memegang ujung sofa ketika masalalunya di ungkit kembali.
"Bagaimana, masih mau membantah kata-kataku?" Jika kamu tidak ingin reputasi putraku tercoreng dengan masa lalumu, sebaiknya tinggalkan putraku. Permisi." Nyonya Alya mengeluarkan selembar cek kosong untuk Sindy menaruhnya di atas meja ruang tamu.
Iapun melangkah keluar meninggalkan Sindy dengan tubuh gemetar dan wajah yang begitu pucat.
Sindy menutup lagi pintu kamar apartemennya dengan cepat. Ia jatuh terkulai dibalik pintu itu sambil menangis pilu.
"Cih, gadis tidak tahu malu, merasa dirinya paling terhormat dengan menyandang profesi dokter, tapi dibalik semua itu kamu tidak lebih dari seorang perempuan munafik yang memanfaatkan putraku demi ambisimu." Nyonya Alya membawa mobilnya meninggalkan apartemen menuju hotelnya.
"Dari mana bundanya Farel tahu tentang masa laluku?" Apakah Farel yang mengatakannya?" Jika benar mengapa dia tega mengungkap aibku pada keluarganya." Sindy menangis tersedu-sedu, hatinya yang sudah sembuh kini kembali terkoyak.
Ia kemudian bangkit menuju tempat tidur dengan langkah gontai. Persendiannya seakan hampir terlepas dari tubuhnya. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur dan menangis di atas bantal menumpahkan kekecewaannya pada hidupnya yang terasa tidak adil.
"Tidak bolehkah aku bahagia?" Mengapa kesialan selalu menimpaku?" Sindy terisak hingga ia terlelap.
Di Italia, Farrel menyelesaikan bisnisnya dengan sangat cepat. Dia merasa tidak tenang dan ingin cepat pulang kembali ke Paris Perancis.
Ia melihat jam di pergelangan tangannya. Farel menghubungi istrinya karena sejak tiba di Italia, dia sibuk dengan urusannya hingga lupa menghubungi istrinya.
"Sindy, ada apa ini, mengapa pikiranku dari kemarin selalu tertuju padamu." Ucap Farel seraya menekan kontak Sindy.
"Sayang, ada apa denganmu?" Semoga kamu baik-baik saja di sana." Ucap Farel yang saat ini sudah berada kembali di dalam pesawatnya.
Farel mencoba memejamkan matanya agar lebih segar kalau sudah sampai Paris Perancis.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Sindy melakukan perjalanan menuju Amsterdam Belanda dengan menggunakan kereta api. Dalam waktu tiga jam, keretanya sudah tiba di negara kincir angin tersebut.
Ia pun menuju ke hotel untuk beristirahat. Untuk membayar semua akomodasinya, ia menggunakan debit card-nya sendiri. Sedangkan black card milik suaminya ia kembalikan dan meletakkannya di atas tempat tidur.
🌷🌷🌷🌷🌷
Farel yang baru tiba di apartemennya tidak memencet bel, ia langsung masuk ke apartemennya itu dengan memanggil nama istrinya Sindy.
"Sindy.... Sindy... Sindy!" Di sini juga tidak ada, di mana kamu sayang?" Farel makin kesal.
Ia mencari istrinya di semua sudut ruangan, namun tidak menemukan Sindy. Ketika ia ingin merebahkan tubuhnya ia melihat sepucuk kertas dan black card miliknya. Ia kemudian membacanya tulisan itu.
..."Tolong jangan mencariku, aku ingin hidup tenang, terimakasih sudah mengungkapkan aibku, ku harap kamu bisa bahagia dengan gadis yang sederajat denganmu, terimakasih sudah mencintaiku, selamat tinggal Farel. Tolong lupakan aku."...
__ADS_1
"Ada apa dengan Sindy, mengapa tiba-tiba dia menuduhku telah membongkar aibnya?" Siapa yang telah menemuinya dan membicarakan hal keji itu padanya." Farel menyimpan surat sindy ke dalam dompetnya.
Ia mencari istrinya di apartemen milik Sindy sebelumnya, yang satu lantai dibawahnya. Di sana pun ia tidak menemukan Sindy.
"Sindy, di mana kamu sayang....?" Teriak Farel putus asa. Kamu selalu mengambil keputusan sendiri jika memiliki masalah, kenapa tidak menungguku dan kita menyelesaikan ini bersama. Pasti ada yang menemuinya dan mengancamnya, aku harus mencari tahunya.
Farel menyalakan ponselnya dan melihat CCTV yang ada di semua ruangannya yang tersambung langsung dengan ponselnya.
"Kenapa aku bisa melupakan ini. Sial!" Farel menatap ponselnya dengan sangat syok ketika melihat orang yang ada di dalam layar ponselnya ternyata bundanya sendiri yang menemui Sindy dan mengancam Sindy.
"Astaga bunda, mengapa bunda tega melakukan ini padaku?" Mengapa membuat wanitaku menangis? Sindy...!" Farel berteriak sekencang mungkin dengan menatap foto Sindy yang tergantung di dinding kamar apartemen milik Sindy.
Farel menghubungi bundanya, ia sengaja tidak ingin langsung menanyakan perihal Sindy pada ibu yang telah melahirkannya itu, ia hanya ingin mengetahui di mana hotel yang saat ini ibunya sedang menginap.
Biasanya Nyonya Alya kalau berada di Paris Perancis, tidak ingin buru-buru pulang, ia selalu mencari tahu fashion baju terbaru yang saat ini sedang trend.
Ia tidak tahu jika model yang saat ini sedang mengiklankan baju-baju itu adalah menantunya sendiri.
"Hallo bunda!" Sapa Farel yang kelihatan tenang.
"Hallo sayang, kamu lagi di mana, bunda sedang ada di Paris lho." Ujar Nyonya Alya.
"Aku ingin bertemu dengan bunda, kebetulan aku baru dari Italia, kita akan bertemu sebentar lagi karena Farel baru turun dari pesawat." Ucap Farel membohongi bundanya.
"Oh, berarti kamu belum bertemu dengan istrimu?" Tanya Nyonya Aliya hati-hati.
"Nanti saja, aku mau kepingin ketemu bunda dulu, jika bunda mau aku ingin memperkenalkan istriku pada bunda." Ucap Farel.
"Baiklah bunda tunggu kamu di hotel yang biasa bunda nginap. Bunda juga ingin bicara banyak denganmu." Ujar Nyonya Aliya lalu mengakhiri sambungannya dengan putranya Farel.
Setelah menutup telponnya, ia kembali melihat katalog baju terbaru di musim ini. Betapa kagetnya Nyonya Alya, ternyata model itu adalah menantunya sendiri.
"Astaga, bukankah ini Sindy?" Wanita munafik itu, dia itu model atau dokter sih?" Tanyanya bermonolog.
Di sisi lain, Farel yang sudah rapi setelah membersihkan dirinya, ia kelihatan kembali segar. Ia kemudian membawa mobilnya menemui bundanya.
Tidak butuh waktu lama ia sudah bertemu dengan bundanya dan dengan tenang, ia menunjukkan surat dari istrinya pada ibunya tersebut. Ia ingin bundanya menjelaskan perbuatannya pada istrinya sehingga Sindy pergi lagi dari hidupnya.
"Bunda, aku harap bunda bisa jelaskan ini semua padaku, mengapa bunda dengan tega menghancurkan hati istriku, apa salahnya ia pada bunda?" Tanya Farel dengan menatap wajah ibunya.
Di Amsterdam Belanda, Sindy belum mengambil keputusan untuk bekerja lagi, ia hanya ingin menenangkan dirinya karena saat ini ia tidak bisa berpikir.
__ADS_1