
Dari hasil rekaman CCTV, sudah menjelaskan tersangka utama dari kasus pembunuhan pada korban nyonya Clara adalah suaminya sendiri yaitu Dokter Alan.
Polisi langsung membekuk dokter Alan dan di giring langsung ke mobil tahanan yang semulanya di sediakan untuk dokter Sindy kini beralih untuk dirinya.
Sebelum ia dikeluarkan dari ruang sidang, dokter Sindy menghampirinya.
"Dokter Alan, selamat atas kebodohanmu yang telah menggali kuburanmu sendiri. Jika beberapa tahun yang lalu kamu menyimpan aibmu serapat mungkin, tapi kali ini baunya sudah terlalu tajam hingga terendus juga oleh hukum.
Orang sepertiku yang hanya memperjuangkan kebenaran, namun dianggap salah oleh orang lain karena tidak didukung oleh nama besar keluarga maupun koneksi, tapi tidak dengan kebenaran itu sendiri Tuan Alan karena sejatinya, kebenaran itu tidak akan pernah kalah." Ucap dokter Sindy lalu tersenyum penuh kemenangan.
Dokter Alan hanya menatap wajah cantik Sindy dan Farel dengan penuh amarah. Hatinya begitu sakit melihat Farel yang masih hidup dan ditemukan kembali oleh tim penyelamat yang dilakukan oleh anak buahnya sendiri.
Dokter Alan kembali diseret keluar dari ruang sidang pengadilan tinggi negeri untuk dibawa ke lapas penjara Jakarta timur.
Setelah mengatakan unek-uneknya kepada dokter Alan, Sindy lalu memeluk suaminya dengan sangat erat.
"Alhamdulillah terimakasih sayang, akhirnya kamu bisa pulang kembali untuk kami." Ucap Sindy dalam pelukan suaminya.
"Sekarang kita pulang ke rumah kita untuk bertemu anak-anak." Farel menggendong istrinya membawa ke mobil yang sudah menunggu mereka.
Wajah Sindy ditutup dengan jas milik Farel agar tidak diambil gambarnya dari para pemburu berita yang sudah menunggu mereka di luar gedung pengadilan negeri Jakarta Selatan.
Kilatan kamera dengan berbagai mikropon milik para wartawan sudah mengarah ke arah Farel yang siap dengan segala macam pertanyaan yang di ajukan kepada pasangan yang saat ini menjadi pusat berita yang paling sensasional.
"Tuan Farel, bagaimana anda bisa selamat dari maut setelah pesawat jet milik pribadi anda jatuh beberapa bulan yang lalu di Jerman?"
__ADS_1
"dokter Sindy, apa tanggapan anda mengenai kasus pembunuhan yang saat ini anda hadapi ternyata suami dari korban sendiri?"
"Tuan Farel, bagaimana dokter Sindy bisa bebas dari tuduhan atas pembunuhan tersebut?"
"Dokter Sindy, tolong berikan staitmen sedikit untuk kami dari kasus yang anda hadapi ini!"
"Mohon maaf, anda bisa bicara dengan saya teman-teman wartawan karena saya pengacara keluarga Tuan Farel Alfarizi atas kasus pembunuhan ini dan selamatnya tuan Farel dari kecelakaan maut yang dialaminya beberapa bulan belakangan ini hingga ia kembali pulih dan bisa menyelamatkan istrinya dokter Sindy dari jeratan hukum." Tukas pengacara Defa pada awak media.
Sindy dibaringkan suaminya di mobil, agar keadaan tubuh istrinya yang saat sedang hamil bisa sedikit rileks karena menghadapi sidang terakhir yang cukup menyita hati dan pikirannya hingga setress.
Mobil itu kembali bergerak membawa mereka ke mansion milik mereka di daerah Bogor Jawa Barat. Kedua anak mereka sudah menunggu di teras untuk menyambut pasangan ini.
Area mansion sudah disterilkan dari para wartawan dan orang luar karena Farel tidak ingin momen kebahagiaannya diganggu oleh orang lain kecuali pelayannya dan asisten pribadinya Rendy.
Setibanya di mansion, keduanya turun dan kedua anak mereka menghampiri orangtuanya dengan membawa kalung bunga yang dibuat sendiri oleh Kaysan untuk kedua orangtuanya.
"Mama...mama... papa...papa!" Panggil bayi itu yang sekarang ini berusia satu tahun.
"Selamat datang papa dan mama!" Ucap Kaysan sambil menangis haru seraya mengalungkan bunga pada papanya Farel.
"Terimakasih sayang!" Farel menggendong putranya yang sudah lebih tinggi setelah tiga bulan tidak berjumpa dengannya.
Sementara Sindy menggendong putrinya Afta yang saat ini memeluknya sangat erat. Pasangan ini mencium kedua anak mereka secara bergantian.
Farel menggendong putrinya yang sempat menolak dirinya. Keduanya masuk ke kedalam mansion.
__ADS_1
"Selamat datang kembali Tuan dan nona Sindy." Ucap para pelayan serentak dengan tangis haru melihat pasangan ini kembali berkumpul dengan anak-anaknya.
"Terimakasih untuk kalian semua yang telah menjaga kedua anak kami dengan sangat baik. Mohon maaf sudah menyusahkan kalian selama saya berada di sel tahanan selama tiga bulan ini." Ucap Sindy kepada para pelayannya.
"Itu sudah tugas kami nona Sindy. Kami sangat yakin bahwa anda tidak bersalah, makanya kami tetap bertanggungjawab pada tugas kami walaupun anda dan Tuan Farel tidak berada di rumah apa lagi tidak mengawasi anak-anak secara langsung." Ucap bibi Lia, kepala pelayan Sindy.
"Terimakasih atas kesetiaan kalian kepada kami, saya tidak akan melupakan jasa baik kalian ini karena kalian memperlakukan kami seperti saudara kalian." Ujar Farel sedikit menekan perasaan harunya.
"Sama-sama Tuan Farel, kalau begitu silahkan makan dulu karena kami sudah menyiapkan makan siang untuk kalian." Ucap bibi Lia.
Farel mengajak keluarganya makan bersama. Canda tawa kembali terdengar di atas meja makan itu. Kebahagiaan kembali hadir ditengah mereka, setelah tiga bulan lebih menerima ujian yang bertubi-tubi kepada keluarga mereka.
"Mama, mengapa lama sekali menjemput papa di Jerman?" Tanya Kaysan yang tidak mengetahui jika mamanya sedang menjalani sidang perkara kasus pembunuhan terhadap nyonya Clara.
Farel yang mengerti pertanyaan putra sulungnya langsung menjawab pertanyaan itu karena Sindy nampak bingung dengan menjawab pertanyaan putranya.
"Maaf sayang, papa mengalami cedera pada kaki papa ketika mengalami kecelakaan pesawat, jadi harus menjalani perawatan hingga benar-benar kuat lagi agar bisa pulang kembali ke Indonesia menemui Kaysan dan baby Afta.
Itulah sebabnya mengapa mama sangat lama di Jerman karena harus menemani papa di rumah sakit karena papa tidak bisa melakukan apapun kecuali dibantu mama." Ucap Farel membohongi putranya Kaysan.
Sindy bernafas lega, karena pertanyaan putranya telah dijawab oleh suaminya.
"Papa, selama papa belum ditemukan keberadaan pesawat papa yang jatuh di Jerman, kami berdua dibawa paksa oleh Oma dan Opa selama satu minggu berada di mansion opa yang di Jakarta.
Ade Afta hampir meninggal gara-gara tidak biasa meminum susu formula dan mengalami diare setiap saat. Di saat Ade Afta sakit, Oma dan Opa tidak berada di rumah. Beruntung mama datang tepat waktu dan bisa membawa Ade Afta ke rumah sakit." Kaysan menceritakan secara gamblang kronologi kejadian adenya yang hampir meninggal karena dipisahkan dari mamanya ketika masih dalam keadaan menyusui.
__ADS_1
"Benar seperti itu sayang?" Tanya Farel menatap lekat wajah istrinya.
Sindy menarik nafasnya lembut sebelum menjawab pertanyaan suaminya.