Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
49. PART 49


__ADS_3

"Sebaiknya habiskan makammu dulu sayang!" Nanti aku akan ceritakan semuanya padamu." Ucap Sindy tetap bersikap tenang.


"Mama, oleh-oleh untuk Kaysan mana dari Jerman?" Tanya Kaysan yang merasa orangtuanya baru saja menghabiskan waktu berdua di Jerman.


"Maaf sayang, oleh-oleh untuk kalian ketinggalan di pesawat, Nanti papa akan meminta tolong paman Rendy membawakan untukmu." Ucap Farel yang nggak ingin melihat putranya kecewa.


"Ok, Kaysan main dulu ya mama." Kaysan sudah berlari ke taman karena ingin naik di atas rumah pohon miliknya.


"Afta juga," ucap Afta yang ingin mengikuti abangnya bermain.


"Bibi Lia!" Tolong awasi anak-anak" Pinta Sindy.


"Baik Nona Sindy."


Keduanya memilih istirahat karena masih merasa sangat lelah.


Di kamar, Farel membantu Sindy untuk merebahkan tubuh hamil ini. Farel juga ikut berbaring sambil mengusap perut sindy yang saat ini sudah berusia lima bulan.


"Sayang!" Apa yang terjadi di sini ketika aku mengalami kecelakaan pesawat?" Farel ingin mengetahui sesuatu yang terlewatkan oleh dirinya, selama ia dinyatakan hilang usai pesawat itu jatuh.


"Saat itu aku tidak tahu jika kamu mengalami kecelakaan pesawat, justru aku mengetahuinya dari para wartawan yang datang ke rumah sakit kita, untuk mengetahui kejelasan berita bahwa pesawatmu hilang kontak dengan lalu lintas udara setempat.

__ADS_1


Disaat yang sama, bundamu datang mengambil anak-anak di mansion tanpa sepengetahuan aku." Ucap Sindy.


"Mengapa tiba-tiba bunda mengambil anak-anak? apa alasannya sayang?"


"Karena mereka menganggap kamu sudah tewas dalam kecelakaan pesawat itu dan aku tidak memiliki hak lagi untuk mengasuh anak-anak." Sindy mengatakan semua kebenaran yang terjadi pada dirinya dan anak-anaknya selama suaminya belum ditemukan.


Farel yang mendengar semua cerita Sindy, termasuk permainan kotor yang dilakukan oleh dokter Alan yang sengaja menjebak istrinya agar dokter itu bisa memiliki lagi Sindy, jika dirinya sudah meninggal.


"Breng**ek semuanya!" Bagaimana kalau aku benar-benar tewas?" Apa yang akan terjadi pada nasib keluargaku?" Farel menangis sambil memeluk tubuh istrinya yang sedikit lebih kurus karena berada di sel tahanan.


"Sudahlah sayang, semua sudah berlalu, yang penting saat ini kita bisa berkumpul lagi. Jangan pernah tinggalkan kami lagi, karena kamu sudah tahu alasannya bagaimana jika tidak kamu, kehidupanku benar-benar ditindas." Ucap Sindy menghibur suaminya.


"Dengar sayang!" Sekalipun kamu tidak ada untuk kami disaat kami sangat membutuhkan kehadiranmu ditengah kemelut hidup yang aku rasakan, aku yakin kekuatan Allah yang akan melindungi diriku dari semua terpaan fitnah yang dilancarkan manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab itu, yang mencoba mengusik hidupku."


"Di saat aku merasa sangat tidak berdaya, aku meminta petunjuk Allah agar aku tidak merasa sendiri di dunia ini untuk melawan kezholiman dokter Alan.


Di saat itu, aku ingat cerita yang pernah aku dengar, ketika aku masih ikut pengajian saat aku kuliah dulu. Yang mana Rosulullah ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat dicintainya yang menjadi kekuatan dirinya dalam berdakwah, yaitu sang istri tercinta dan paman yang selalu mendukungnya dalam dakwah agama Islam saat itu, bagaimana pamannya sendiri tega memfitnahnya dengan menyebutkan dirinya pembohong, gila bahkan dituduh sebagai penyihir.


Tapi disaat itu Allah ingin menghibur kekasihnya dengan mengundangnya langsung ke Sidratul Muntaha untuk menerima hadiah berupa sholat lima waktu.


Intinya, Allah hanya mau katakan, apapun kesulitan yang kalian alami, datanglah kepadaKu dengan mendirikan sholat, karena dalam sholat itu, apa pun yang kalian pinta akan Aku kabulkan dan tidak ada kekuatan dan solusi terbaik di dunia ini selain yang datang langsung dari Aku. Jadi kita tidak boleh mengandalkan manusia jika kita adalah hamba yang selalu taat padaNya yang mengandalkan Allah dalam segala hal, apapun itu karena semua orang siap bahagia, tapi tidak semua orang siap kehilangan." Ucap Sindy.

__ADS_1


"Baiklah sayang, kalau begitu kita akan memulai kembali kehidupan kita pasca semua ujian yang telah kita lewati," ujar Farel.


Tapi dalam hatinya, Farel masih sangat kesal kepada kedua orangtuanya yang telah memisahkan kedua anaknya dengan istrinya yang menyebabkan putri kita kecilnya hampir meninggal.


"Terimakasih ya Allah, atas karunia-Mu, jika Engkau tidak melindungi keluargaku, aku tidak tahu apa yang terjadi kepada diriku nanti tanpa mereka." Gumam Farel dalam diamnya.


🌷🌷🌷🌷


Dua hari melepaskan kelelahan mereka, kini Sindy sudah tidak sabar bertemu dengan teman-temannya di rumah sakit miliknya. Di pagi yang cerah itu, dengan diantar oleh suaminya, Sindy berangkat dengan membawa sejuta kebahagiaan dan juga kerinduan kepada para staffnya yang selama ini sudah sangat setia berada di rumah sakit miliknya dengan tetap bekerja walaupun sepi dengan pasien yang belum bersedia datang lagi ke rumah sakitnya karena insiden beberapa bulan yang lalu yang terjadi di rumah sakit miliknya.


Spanduk besar yang bertuliskan selamat atas kebebasanku dokter Sindy!" Terpampang di depan halaman rumah sakit dengan berbagai rangkaian bunga yang dikirim oleh beberapa relasi dari berbagai perusahaan maupun instansi.


Wartawan yang ingin meliput kedatangan Sindy yang saat ini kembali lagi ke rumah sakit miliknya.


"Apa kabar dokter Sindy!" Sapa para wartawan.


"Alhamdulillah sangat baik, tapi saya mohon maaf tidak bisa melakukan sesi wawancara dengan kalian karena baik buruknya saya lakukan kalian seenaknya menjatuhkan dan memperbaiki lagi nama baik saya sesuai dengan apa yang kalian lihat tanpa kalian sendiri rasakan bagaimana sakitnya saya harus melewati semua alur kehidupan yang sangat menyakitkan untuk saya, dan mulai hari ini saya melarang kalian untuk tidak lagi mengunjungi rumah sakit saya dengan alasan apapun karena saya sangat kecewa dengan cara kerja kalian yang mengekspos berita tanpa hati nurani, asal laris dipasaran tanpa mau tahu bagaimana imbas dari berita yang kalian angkat ke media yang berdampak langsung dengan reputasi keluarga saya." Ucap Sindy sinis lalu masuk ke dalam rumah sakitnya di mana teman-temannya sudah menunggunya.


Keluhan wartawan atas sikap Sindy yang dinilai terlalu arogan kepada mereka.


"Yah, nggak dapat berita deh, jika staitmen barusan yang dikatakannya kita muat ke media, ini sama halnya kita mencoreng nama baik profesi kita sebagai wartawan." Ucap salah satu wartawan tabloid.

__ADS_1


Farel merasa sangat lega mendengar penolakan istrinya yang sangat tegas dalam menghadapi wartawan.


"Sindy, kamu makin membuatku kagum pada kepribadianmu yang tidak takut dengan apapun di dunia ini, karena keyakinanmu hanya bertumpu pada nilai kebenaran atas kekuatan Allah yang jadi andalan dalam hidupmu." Gumam Farel membatin.


__ADS_2