
Setelah satu bulan berada di tahanan polres Jakarta Selatan, sidang kasus milik tersangka dokter Sindy di gelar di Tipikor Jakarta Selatan, dengan agenda sidang mendengarkan penjelasan tersangka yang saat itu, di mana dokter Sindy sedang menolong nyonya Clara yang datang kepada Sindy ingin melahirkan di rumah sakit KAYSAN, karena mendapatkan intimidasi dari suaminya yaitu dokter Alan, yang tidak menginginkan bayi nyonya Clara hadir ke dunia karena bayi itu akan membawa aib untuk keluarganya karena cacat secara mental.
Sidang itu di tunda oleh pemimpin sidang yaitu bapak hakim mulia. Sidang akan kembali dilakukan Minggu depan dengan agenda sidang memeriksa para saksi dan juga alat bukti serta hasil laporan forensik pada tubuh jenasah nyonya Clara usai meninggal dunia.
Dokter Sindy dibawa kembali ke sel tahanan polres karena belum ada keputusan sidang.
Dokter Alan yang sebagai pelapor meminta ijin bertemu dengan dokter Sindy di sel tahanannya usai sidang perdana digelar hari itu.
"Dokter Sindy!" Sapa dokter Alan yang saat ini sedang melancarkan aksinya untuk mengambil hati wanita yang pernah menjalin kasih dengan dirinya.
"Ada apa dokter Alan?" Tanya Sindy yang masih bersikap tenang seperti biasanya.
Tidak ada raut ketakutan yang terlihat diwajahnya. Hanya ada rasa rindu yang besar untuk kedua anaknya dan juga suami tercinta.
"Jika kamu ingin berdamai denganku, aku akan mencabut tuntutanku padamu, dengan syarat kita menikah. Sekarang kita sama-sama singel. Kau janda dan aku adalah duda.
Jadi tidak ada keterikatan kita pada pasangan karena mereka sudah di alam kubur." Ucap dokter Alan santai pada Sindy.
"Dokter Alan, saya sama sekali tidak tertarik dengan bujukan mautmu karena kasus ini. Saya sangat yakin karena saya tidak bersalah atas meninggalnya nyonya Clara karena hati kecilku mengatakan bahwa tersangka utamanya dalam kasus ini adalah anda sendiri dokter Alan." Ucap Sindy sarkas pada dokter Alan.
"Mana mungkin aku membunuh istriku sendiri dokter Sindy, walaupun ku akui, bahwa ada pertengkaran diantara kami karena status bayi yang dikandungnya saat itu.
Aku sangat kaget anda yang begitu cerdas termakan dengan tangisan istri saya yang mengatakan bayinya cacat dan aku tidak mau menerima bayi itu karena aib.
Apakah setelah bayi itu lahir, apakah kamu memeriksanya lagi? Apakah ada kecacatan yang ditemukan kepada tubuhnya?" Tanya dokter Alan yang memancing reaksi Sindy yang tidak melakukan pengujian pemeriksaan kembali pada tubuh bayi mungil itu, usai persalinannya.
__ADS_1
Karena disaat itu dirinya sendiri sedang tertekan dengan kondisi putrinya yang hampir kehilangan nyawanya.
"Apa maksud dengan bayimu tidak cacat?" Tanya dokter Sindy.
"Sindy.... Sindy, ternyata kamu masih saja naif seperti biasanya. Kamu tahu apa yang disembunyikan Clara darimu?" Dia kabur dariku bukan karena bayi itu cacat, melainkan dia ingin menyelamatkan bayinya yang merupakan hasil perselingkuhannya dengan pria simpanannya.
Dia ingin mengikat diriku yang saat itu ingin sekali menceraikannya. Aku berusaha membebaskan diriku darinya karena aku sangat menyesal karena melakukan kesalahan padamu.
Untuk mendapatkan lagi dirimu, aku harus memperjuangkan kembali cinta kita yang pernah aku sia-siakan karena ketakutan aku pada reputasi keluargaku.
Aku ingin kita bersatu lagi Sindy karena status kita saat ini yang memungkinkan kita bisa menikah. Aku akan menerima kedua anakmu dan juga calon anakmu yang saat ini sedang kamu kandung." Ucap dokter Alan membuat Sindy makin muak dengan lelaki yang pernah ia cintai ini.
Alih-alih untuk mendapat jawaban yang menyenangkan hati dokter Alan, Sindy malah meludahi wajah dokter Alan sebagai luapan kekesalannya yang selama ini ia pendam sakit hatinya terhadap pria bren*sek yang telah menghancurkan hidupnya.
Dan kau seperti hantu yang terus membayangi hidupku ke manapun aku berada." Ujar Sindy dengan mata menyalang menatap tajam wajah pria menjijikkan yang ada dihadapannya saat ini.
Dokter Alan mengusap wajahnya dari liur Sindy tanpa merasa jijik dan terhina sedikitpun atas perlakuan Sindy kepadanya dengan senyum nakal yang diperlihatkannya kepada Sindy.
"Jangan pernah bermimpi untuk menikahiku dokter Alan. Apa lagi merayu diriku dengan menerima anak-anakku. Manusia berhati iblis sepertimu, yang tega membuang anak kandungmu sendiri demi menyelamatkan reputasimu saat itu dan sekarang mengapa tiba-tiba berusaha mencintai anak-anakku demi diriku... heh!" Dokter Sindy tersenyum sinis setelah menyampaikan rasa kebenciannya terhadap dokter Alan.
"Apakah kamu rela melahirkan bayimu itu di dalam penjara? apakah kamu tidak takut jika kedua anakmu di luar sana akan diambil alih oleh mertuamu, ketika kamu menghabiskan hidupmu di penjara nanti?" Tanya dokter Alan untuk menakuti Sindy dengan memanfaatkan kelemahan Sindy pada nasib kedua anaknya tanpa dirinya.
"Sekalipun aku harus membusuk di penjara dan kedua anakku akan dibawa oleh mertuaku, aku dengan sangat ikhlas menerimanya daripada aku harus bertekuk lutut di hadapan bajingan sepertimu.
Jangan terlalu yakin dengan kebebasanmu dokter Alan, apapun tuduhanmu padaku, insya Allah, Allah yang akan mengungkapkan semua rahasia busukmu karena telah mendholimi diriku." Ucap Sindy lalu meminta penjaga untuk membawanya kembali ke sel tahanan.
__ADS_1
Dokter Alan mengepalkan kedua tangannya, menahan amarahnya karena tidak berhasil memperdayai Sindy.
"Sialan, dasar wanita murahan!" Aku sudah mengotori tanganku untuk membunuh Clara demi untuk mendapatkan lagi dirinya, tapi hatinya begitu kokoh, hingga ancaman apapun yang dialaminya saat ini tidak mempengaruhi keyakinannya sama sekali.
Tapi, satu hal itu yang membuatku makin ingin memilikimu dokter Sindy. aku akan melakukan segala cara agar aku bisa memilikimu lagi, sayang." Ucap dokter Alan lalu mengendarai lagi mobilnya menuju rumah sakit miliknya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Di Hamburg Jerman.
Tuan Farel yang berhasil ditemukan oleh anggota mafianya sendiri, yang saat itu menyisiri pantai untuk menemukan tuan Farrel yang saat itu sedang mengalami patah tulang pada kaki kanannya.
Ketika melihat ada speed boat yang melewati pesisir pantai dengan kecepatan rata-rata, Tuan Farel membakar sampah dari dedaunan kering untuk menciptakan asap yang bisa memberikannya sinyal pada orang yang ada di speed boat itu, bahwa ada dirinya di dalam hutan itu.
Kakinya yang sakit menghalangi dirinya untuk bebas bergerak. Hanya satu-satunya jalan agar dirinya bisa ditemukan adalah membakar sampah tanpa merusak ekosistem alam yang ada di hutan belantara itu.
Tuan Farel yang saat itu, bisa bertahan hidup dengan makan buah-buahan dan binatang rusa yang terdapat di dalam hutan tersebut. Ia menjebak rusa dengan menggali lubang agar rusa bisa masuk dalam jebakannya.
Farel yang sudah biasa menjalani kehidupan yang keras selama menjadi mafia membuat ia mampu bertahan di hutan tersebut selama tiga bulan dengan keadaan yang sangat memprihatikan.
Kini dirinya sudah berada di salah satu rumah sakit yang ada di kota kecil di Jerman. Farel menolak untuk dibawa pulang ke Hamburg Jerman karena ada permainan orang-orang perusahaannya yang telah menjebak dirinya dengan melakukan human eror pada pesawat jet pribadi miliknya karena perusahaan saingannya yang ingin mengambil alih perusahaannya yang saat sedang maju pesat atas kerja keras para staffnya.
Ia ingin memulihkan kondisi fisiknya terlebih dahulu dan meminta asistennya Rendy untuk tidak menyiarkan kepada wartawan atau siapapun kini atas dirinya yang sudah selamat dari maut.
Tujuan utamanya saat ini adalah ingin bertemu dengan sang istri tercinta dan juga kedua anak-anaknya. Rendy tidak memberi tahukan keadaan Sindy yang saat ini sedang tersandung kasus sebagai tersangka pembunuhan nyonya Clara yang tidak lain adalah istri dari dokter Alan.
__ADS_1