Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
52. PART 52


__ADS_3

"Dokter Alea!" Ucap dokter Kartika lalu menghampiri sahabatnya itu.


Dokter Alea tidak bisa berbuat apa-apa, selain termangu menatap ketiga temannya yang sudah berjalan ke arah mejanya.


Ketika didekati oleh dokter Sindy, dokter Alea nampak ketakutan. Tangannya begitu dingin saat digenggam oleh dokter Sindy.


"Apa kabar dokter Alea!" Sapa Sindy ramah.


"Ba-baik dokter Sindy!" Alea makin gugup.


"Alhamdulillah kita bisa bertemu di sini. Padahal kami sudah mencari kamu ke mana-mana." Ucap dokter Sindy dengan tetap bersikap tenang.


"Maafkan saya dokter Sindy! saya pergi dari rumah sakit, tanpa ada pesan karena saya....?" Dokter Alea tidak mampu meneruskan kata-katanya karena air matanya sudah keburu menetes di pipinya.


"Tidak apa dokter Alea!" Karena itu adalah hakmu, kami bahkan tidak berhak menghakimi atas tindakanmu yang mau bekerja di rumah sakit yang berbeda. Hanya saja saya sangat kuatir atas kepergianmu tanpa ada pesan dan juga tidak memberikan kabar apapun kepada kami.


Sebelum Alea ingin menceritakan tentang dirinya, dokter Sindy mencegahnya karena mereka berada di tempat umum.


"Dokter Alea, lebih baik kita makan dulu. Tidak apakan kalau kami makan bersamamu di meja ini?" Dokter Sindy menyarankan untuk makan bersama di meja yang sekarang Alea tempati.


"Iya dokter Sindy, tidak apa." Dokter Alea membolehkan ketiga temannya itu bergabung dengannya dalam satu meja untuk makan bersama.


Baik dokter Kartika dan dokter Amanda tidak ingin mengucapkan satu patah katapun karena kondisi Alea yang tidak mungkin bagi mereka banyak mencari tahu tentang keadaan gadis ini.


Keduanya hanya menikmati makanan mereka sesuai dengan yang mereka pesan. Setelah puas menikmati hidangan mereka, dokter Sindy yang membayar semua pesanan teman-temannya.

__ADS_1


"Apakah kamu membawa mobil dokter Alea?" Tanya Sindy.


"Saya tidak membawa mobil dokter Sindy." Ujar Alea.


"Apakah boleh kami mengantarmu ke tempat tinggalmu saat ini?" Tanya dokter Sindy.


"Iya boleh." Ujar Alea singkat.


"Baiklah, ayo kita pergi dari sini!" Titah dokter Sindy lalu mengandeng tangan dokter Alea, agar gadis ini tidak gampang kabur darinya.


Dokter Alea menyebutkan alamatnya yaitu apartemen sederhana yang saat ini ia tempati. Lagi-lagi dalam perjalanan menuju kediaman dokter Alea, diantara mereka hanya diam membisu.


Kesabaran dokter Sindy dalam menghadapi bawahannya nampak begitu tenang dan tidak terkesan arogan. Ia berusaha menempatkan dirinya di posisi Alea, yang mungkin saat ini lebih membutuhkan dukungannya daripada hujatan atau makian pada dokter Alea yang jelas-jelas telah mengkhianatinya.


Setibanya di apartemen milik dokter Lea, Sindy minta ijin untuk mampir. Gadis ini tidak menolak permintaan Sindy.


Dokter Amanda membantu gadis ini untuk menuangkan air putih ke dalam empat gelas tersebut.


"Apakah kamu merasa nyaman tinggal di sini dokter Alea?" Tanya dokter Sindy.


"Saya ingin apartemen yang lebih kecil agar mudah mengurusnya." Ujar Alea.


"Bukankah dokter Alan menyiapkan apartemen mewah untukmu?" Mengapa malah pindah ke sini?" Tanya dokter Amanda yang sudah tidak sabar ingin menyemprot gadis ini yang masih saja tidak kau bicara tentang kebodohannya.


Dokter Sindy menggelengkan kepalanya ke arah dokter Amanda agar tidak terlalu ikut campur tangan dalam urusan pribadi dokter Alea.

__ADS_1


"Dokter Sindy, saya mohon maaf karena sayalah yang memberitahukan keberadaan mendiang nyonya Clara kepada dokter Alan. Bajingan itu mendekati aku hanya untuk memanfaatkan kepolosanku. Ia menjanjikan banyak hal padaku dengan iming-iming akan menikahiku jika ia berhasil menceraikan istrinya.


Dengan menikahiku, maka aku akan mendapatkan segala kemewahan miliknya akan otomatis aku miliki juga. Karena tergiur ingin memiliki rumah sakit miliknya yang akan berganti na atas namaku, aku menuruti kemauannya dengan menyerahkan diriku sepenuh hati padanya, hingga akhirnya aku hamil anaknya saat ini.


Ia berjanji akan menikahiku, jika dokter Sindy akan berhasil mendekam di penjara. Tapi kenyataannya, dia sendiri yang termakan dengan jebakan yang dibuatnya." Ujar dokter Alea sambil menangis sesenggukan.


Ketiga temannya hanya menarik nafas berat menyimak cerita dokter Alea tentang kisah cintanya dengan dokter Alan.


Dokter Sindy yang pernah mengalami kisah cinta yang sama yang di alami oleh dokter Alea sangat merasakan kesakitan yang sama yang saat ini dialami oleh dokter Alea, karena mencintai orang yang sama.


"Ya Tuhan, sejarah kembali berulang dan sekarang menimpa sahabatku sendiri. Terjebak dengan bujuk rayu hingga harus terbuai dalam gairah cinta sesaat dan berakhir menyesatkan." Gumam Sindy dalam diamnya.


"Jadi sekarang apa yang ingin kamu lakukan pada dokter Alan?" Tanya Kartika.


"Aku tidak ingin berurusan dengan bajingan itu lagi. Apartemen yang diberikan kepadaku di ambil alih oleh keluarganya dan mereka mengusirku dan mengancam akan membunuhku dan anakku jika aku masih bekerja di rumah sakit milik dokter Alan. Sekarang hidupku luntang-lantung seperti ini, tidak jelas mau ke mana. Aku hanya mengandalkan uang tabunganku yang tersisa dan tidak tahu harus ke mana dalam keadaan hamil seperti ini." Ucap dokter Alea.


"Kamu jangan merasa cemas seperti itu dokter Alea. Kembalilah ke rumah sakit KAYSAN karena kami sangat membutuhkan tenagamu di sana. Kita akhiri semua permasalahan ini dengan memperbaiki kembali diri kita dengan sesuatu yang bermanfaat.


Cukup menyesali sesaat dan setelah itu lupakan apa yang pernah terjadi dalam hidup kita karena masa depan kita hanya kita yang bisa menentukan bukan orang lain. Hanya kamu yang mampu menolong dirimu sendiri dari kemelut hidupmu dokter Alea dan kami akan mendukungmu juga mendoakan atas kebaikanmu." Ucap dokter Sindy bijak.


Mendengar ucapan dokter Sindy yang menerima dirinya kembali untuk bekerja di rumah sakit KAYSAN, dokter Alea seakan tidak percaya. Ia sangat malu kepada dokter Sindy karena sudah mengkhianati istri Tuan Farel ini hingga membuat ibu dari dua anak ini mendekam di sel tahanan selama tiga bulan dalam keadaan hamil pula.


"Maaf dokter Sindy, saya tidak pantas menerima kebaikan darimu. Saya yang menyebabkan dirimu terjebak dalam permainan kotor dokter Alan padamu. Mana mungkin saya di maafkan begitu saja olehmu." Ucap dokter Alea dengan tangis yang makin menjadi.


Ia makin merasa bertambah bersalah dengan kebijakan dari dokter Sindy yang tidak membencinya sama sekali.

__ADS_1


"Jika aku ikut membencimu dan juga menghakimi dirimu, apakah waktu akan mengembalikan apa yang pernah terjadi?" Aku hanya ingin kamu menebus kesalahanmu dengan tetap mengabdi di rumah sakit KAYSAN tanpa ada penolakan. Ini adalah perintah bukan permintaan." Ucap dokter Sindy lalu bergegas meninggalkan apartemen milik dokter Alea karena sedari tadi, ia sudah menahan air matanya yang hampir meledak.


__ADS_2