
Peresmian rumah sakit bersalin ibu dan anak milik Sindy, berlangsung meriah. Sindy menggunting pita dan melepaskan balon udara yang menandakan operasional rumah sakit mereka yang sudah siap dibuka untuk umum.
Tepuk tangan meriah terdengar di depan halaman rumah sakit itu. Ketampanan Farel dan kecantikan Sindy yang kontras membuat diantara para karyawannya sangat kagum melihat paras dan kekompakan keduanya.
"Pasangan yang serasi bukan?" Keduanya idola aku banget." Ucap salah satu perawat yang berada di deretan paling belakang dengan temannya.
"Nyonya Sindy, silahkan memberikan pidato pertama anda! sebagai direktur utama rumah sakit ini dan sekaligus pemilik rumah sakit KAYSAN." Pinta MC acara tersebut kepada Sindy.
Sindy melangkah naik ke podium dengan sangat anggun. Ia menatap semua karyawannya dan para tamu undangan lainnya yang hadir hari ini, sebelum melanjutkan sambutannya.
Sesaat ia mengendalikan perasaannya yang sempat gugup dengan menarik nafasnya dengan halus. Semua menantikan pidato pertama dari wanita cantik ini dengan menatap wajahnya dengan perasaan kagum di hati mereka masing-masing.
Sindy memakai blazer pink dipadukan stelan celana kulot warna senada. Bentuk tubuh ideal yang tetap terlihat seperti model membuat para perawat dan dokter lainnya merasa potongan Sindy bukanlah seorang dokter melainkan seorang model papan atas.
Sindy mulai membuka sambutannya dengan bacaan basmalah dan memberikan salam pembuka dan memperkenalkan dirinya kepada para tamu istimewanya hari ini.
"Assalamualaikum Wt. Wb.
Selamat pagi dan selamat sejahtera untuk kita semua.
Perkembangan meningkatnya kebutuhan pelayanan dunia kesehatan yang semakin berkualitas, cepat, tepat, dan akurat. Mendorong institusi kesehatan untuk berbenah diri terutama meningkatkan kualitas pelayanan, meningkatkan keberadaan alat-alat medis yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan memberikan fasilitas pelayanan yang baik, sehingga kenyamanan terhadap pasien semakin terjaga.
Rumah Sakit bersalin ibu dan anak ini yang diberi nama Kaysan nama dari putra kami sendiri. Kota Bogor yang baru awal, di mulai hari ini akan menemani masyarakat kota Bogor dan sekitarnya dalam memberikan pelayanan di bidang kesehatan dan juga dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat diluar kota Bogor yang beredar di perbatasan.
Komitmen RS bersalin ibu dan anak ini yaitu RS. KAYSAN kota Bogor untuk selalu meningkatkan pelayanan dari waktu ke waktu akan terus ditingkatkan, sehingga memuaskan masyarakat yang menggunakan jasa pelayanan rumah sakit bersalin ibu dan anak ini. Karena bagaimanapun rumah sakit dan masyarakat dua sisi mata uang yang selalu menyatu satu sama lain.
Dalam memberikan pelayanan kami berpegang pada visi, misi, tujuan, program, dan motto yang telah kami tetapkan bersama. Ini merupakan komitmen pokok yang kami pegang untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan sehingga kepuasan pasien semakin meningkat yang bermuara pada meningkatnya kepercayaan masyarakat kota Bogor dan sekitarnya terhadap Rumah Sakit KAYSAN kota. Bogor.
Kami berterima kasih atas kepercayaan Anda yang akan menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit bersalin ibu dan Anak ini mulai hari ini akan beroperasi.
Bagi teman-teman sejawat saya agar tetap mengutamakan kepentingan pasien dalam pelayanan dan mengesampingkan kepentingan pribadi jika ada keluhan maupun umpatan yang bila mana dalam tugasnya akan mendapat serangan yang akan ditimpakan pada kita dari keluarga pasien dikemudian hari nanti sejalannya waktu. Tetap semangat dan optimis dalam membangun rumah sakit ini. Mohon kerjasamanya dan selalu tetap berdoa setiap mengawali tugas anda karena kemampuan kita yang terbatas ini, akan dimudahkan oleh Allah ketika menjalani tugas mulia ini.
__ADS_1
Kritik dan saran anda untuk perbaikan pelayanan rumah sakit kedepan sangat dibutuhkan. Semoga profil singkat ini dapat memberikan informasi yang berguna bagi masyarakat, khususnya yang menggunakan jasa pelayanan Rumah Sakit Bersalin ibu dan anak kota Bogor, karena “Kami Melayani Dengan Hati”. Terima kasih.
Wassalamu’alaikum. Wr. Wb.
Tepuk tangan kembali terdengar ketika Sindy menyelesaikan pidatonya yang begitu hebat. Farel melihat dan mendengar pidato Sindy begitu kagum karena istrinya ini mampu menghipnotis dirinya dan para karyawan serta tamu undangan, yang memperhatikan gaya bicara dan gestur tubuhnya yang mempesona, membuat suasana sebelumnya tampak hening dan khusu saat mendengar Sindy berpidato untuk pertama kalinya yang di dengar oleh suaminya.
Pidato pertamanya, bukanlah hal yang sulit untuk Sindy karena dirinya sudah sering melakukan itu di setiap Iven di setiap acara yang diadakan di kampusnya. Sindy yang pernah menjadi ketua BEM di kampusnya merasa hal itu sudah biasa baginya berbicara di depan podium.
Decak kagum dari mereka masih terdengar kala Sindy menghampiri lagi tempat duduknya dan duduk di sebelah suami tercinta.
Mungkin sebagian orang tidak menyangka bahwa Sindy adalah mantan model terkenal di luar negeri. Tapi ada juga yang menganggap Sindy lebih pantas menjadi seorang model ketimbang menjadi seorang dokter.
Karena nama yang disandangnya saat ini sudah ada dua gelar di antara nama itu, mau tidak mau mereka menerima bahwa kecerdasan Sindy dengan tubuh yang profesional seorang model patut diacungi jempol.
Acara peresmian rumah sakitnya hari ini berjalan dengan lancar. Sindy menyapa satu persatu karyawannya terutama para dokter yang bertugas mendampinginya.
"Perkenalkan saya dokter Kartika." Ucap dokter cantik itu pada Sindy yang kebetulan satu alumni dengan Sindy.
"Mohon kerjasamanya dokter." Ucap Sindy menyalami satu persatu diantara para dokter spesialis kandungan dan dokter spesialis anak.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
"Sayang kamu sangat hebat hari ini, jiwa kepemimpinanmu terlihat jelas olehku baru hari ini. Aku tadi hampir tidak percaya bahwa kamu adalah istriku Sindy, bicara dengan anggun dan lugas dan bernampilan begitu elegan hingga semua mata tertuju padamu dan itu membuatku sangat bangga padamu sekaligus sangat bahagia memilikimu." Farel mengecup bibir istrinya yang sedari tadi membuatnya sangat rindu.
"Sayang, itu bukan hal yang baru buatku." Ucap Sindy tetap merendah di depan suaminya.
"Aku kan baru lihat sayang penampilan pertamamu hari ini. Jadi, buat aku itu sangat amazing sayang." Farel melingkarkan tangannya ke pinggang Sindy.
"Walaupun sudah terbiasa, tapi hari ini adrenalinku cukup terpacu ketika bicara di depan para pejabat daerah. Di tambah lagi dengan rektor dan wakil rektor kampus aku yang di undang olehmu juga hari ini, hampir membuatku mati berdiri di podium tadi." Sindy mengeluhkan momen pentingnya hari ini pada suaminya.
"Apakah kamu tidak gugup ketika berlenggak lenggok di atas catwalk dengan penampilan yang lebih memukau dari pada hari ini? di hadiri oleh hampir semua para pejabat dunia yang menyaksikan acara show yang diadakan oleh agensimu." Farel sedikit protes pada ibu dari putranya ini.
__ADS_1
"Kalau di atas catwalk, aku tampil bersama dengan teman-teman model lainnya, jadi aku tetap percaya diri. Apa lagi setiap kali tampil wajah kita tampak datar dan tidak boleh senyum dan melihat audience tapi hari ini aku harus pasang mata, telinga dan ekspresi wajah, dan harus mengumbar senyum untuk memberikan kesan pertama yang terbaik yang aku bisa berikan hari ini. Tujuan utamanya sih, menjaga nama baik kamu sayang karena peran penting kamu dalam kesuksesan acara di peresmian rumah sakit kita hari ini." Ucap Sindy.
"Alhamdulillah terimakasih sayang, kamu sudah melakukan yang terbaik untukku hari ini." Farel mengangkat tubuh istrinya yang sudah mengenakan lengerie se*sinya malam ini ke atas kasur king size itu.
"Terimakasih suamiku untuk segalanya yang kamu lakukan untukku, tanpamu aku tidak bisa apa-apa. Hanya saja ada yang kurang hari ini karena ketidak kehadiran orangtuamu hari ini menjadi pertanyaan besar bagi mereka. Mengapa kamu tidak mengundang mereka sayang?" Tanya Sindy sambil mengusap pipi suaminya.
"Aku sudah mengundang mereka Sindy, mereka tidak ingin datang karena alasan rumah sakit itu milik kamu." Ujar Farel sedih.
"Apakah mereka tidak ingin bertemu dengan Kaysan?"
"Entahlah sayang, aku sudah mengirim foto-foto Kaysan kepada mereka, namun sedikitpun mereka tidak bergeming. Mereka menganggap kalian berdua tidak ada dan itu membuatku sangat sakit. Lebih baik aku tidak peduli dengan mereka, jika mereka mengabaikan keluarga kecilku." Farel berubah menjadi sedih.
"Maafkan aku Farel, telah merebut kamu dari mereka." Ujar Sindy yang tak enak hati.
"Hei sayang, kamu tidak salah, pernikahan kita tidak ada yang salah, Allah sudah menentukan jodohku adalah kamu, sekuat apapun mereka ingin memisahkan kita, tetap saja kita dipertemukan kembali oleh Allah. Apakah mereka mau melawan apa yang sudah Allah kehendaki?" Imbuh Farel.
Sindy tidak lagi melanjutkan kata-katanya, karena semua yang dikatakan oleh suaminya benar adanya. Sejauh mana dia melarikan diri dan bersembunyi dari suaminya, Allah yang akan mempertemukan mereka kembali.
Namun hati Sindy tetap berharap suatu saat nanti dirinya akan mendapatkan restu dari kedua mertuanya karena kebahagiaannya tidak akan lengkap, jika kedua orang tua Farel belum mau mengakuinya sebagai menantu mereka.
"Jika mereka tidak menyukaiku, setidaknya mereka mengakui keberadaan KAYSAN, putraku." Ucap Sindy membatin.
Farel tidak ambil pusing dengan keluarganya. Di atas ranjang empuk mereka, Farel sudah mengajak istrinya bertempur untuk mendapat kenikmatan surga dunia itu sebelum berangkat tidur, melepaskan lelah mereka.
Walaupun malam semakin larut keduanya tidak berhenti mengulangi percintaan panas mereka. Farel tetap menghajar istrinya dengan kenikmatan berulang kali, walaupun Sindy sudah menyerah namun suaminya tetap bekerja sendiri memberikan lagi sentuhan-sentuhan lembut pada bagian sensitif milik Sindy sampai dirinya sendiri lelah dengan posisi Farel yang tidur diantara kedua paha istrinya dalam keadaan polos.
Di tempat yang berbeda, dokter Alan yang sudah mengetahui jika Sindy saat ini sudah memiliki rumah sakit sendiri. Walaupun rumah sakit itu berada di kota Bogor, namun dokter Alan yang saat ini sangat merindukan mantan kekasihnya ini berupaya memisahkan Sindy dengan Farel.
Dia masih yakin jika dokter Sindy masih mencintainya sama seperti dulu.
"Sindy, jika waktu bisa mengulang kembali. Aku akan memperbaiki kesalahanku padamu sayang. Ternyata setelah kita berpisah, aku baru menyadari bahwa aku lebih mencintaimu daripada istriku Clara.
__ADS_1
Sekarang ini, setelah melihatmu bersama si playboy tengik itu, aku malah tidak rela kamu bersamanya." Ucap Dokter Alan yang sangat menyesali perbuatannya pada Sindy.
Penyesalan selalu datang terlambat ketika apa yang pernah kita sia-siakan malah balik menyiksa kita.