Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
24. PART 24


__ADS_3

Sindy membaca semua berkas laporan medis pasien yang saat ini sedang berada di ruang inap VVIP.


"Saya harus melakukan pemeriksaan ulang dokter Kartika, kita tidak bisa menerima dan mempercayai diagnosa dokter yang memeriksa keadaannya dari rumah sakit sebelumnya. Dengan begitu kita bisa menangani sakitnya dan mencoba menolong keadaan pasien saat dengan menyelamatkan bayinya.


"Butuh berapa lama dokter?" Jika kita harus memeriksa ulang riwayat penyakitnya?" Tanya dokter Kartika.


"Lebih baik meneliti ulang dari pada salah dalam mengambil tindakan." Dokter Sindy langsung ke kamar pasien.


Dengan di bantu oleh dua orang dokter, Sindy menyapa pasiennya yang bernama Marini.


"Selamat siang nyonya Rini!"


"Siang dokter Sindy!" Anda lebih cantik jika dilihat secara langsung." Ucap Marini.


"Terimakasih Nyonya, anda juga lebih cantik dari pada saya." Puji Sindy untuk membesarkan hati pasiennya.


"Dokter, jangan ambil nyawa anakku, ijinkan dia hidup dan biarkan aku yang mati!" Marini menggenggam tangan dokter Sindy dengan ucapan permohonan seorang ibu.


"Insya Allah Nyonya, kita sama-sama berupaya untuk menyelamatkan putra anda dengan cara melakukan lagi beberapa tes kesehatan agar saya bisa menyelamatkan kalian berdua." Ujar Sindy meyakini pasiennya.


"Jika aku kehilangan anak ini, maka aku akan diceraikan oleh suamiku dan dia akan memilih perempuan lain yang saat ini sedang dekat dengannya...hiks..hiks!" Marini mengadukan kepedihannya pada dokter Sindy.


Dokter Sindy hanya menarik nafas panjang lalu melakukan beberapa pemeriksaan pada tubuh pasien.


Sekitar satu jam kemudian, hasil yang didapatkan tidak sesuai dengan laporan medis dari berkas rumah sakit sebelumnya.


"Bagaimana dokter Sindy?" Tanya Kartika ketika mereka sudah berada di luar kamar Nyonya Marini.


"Pasien tidak mengalami mag akut, dia hanya sedang setress berkepanjangan hingga sulit untuk menerima makanan yang masuk dalam tubuhnya. Yang perlu di obati oleh kita saat ini adalah jiwanya.


Tolong panggilkan dokter Diana untuk menangani mentalnya terlebih dahulu. Setelah itu kita bisa melakukan operasi sesar. Jika jiwanya labil, kita akan kehilangan keduanya." Ucap dokter Sindy yang sudah berada di ruang kerjanya.


Seminggu kemudian, setelah mendapatkan terapi dari dokter Diana untuk memulihkan lagi kejiwaan pasien. Dokter Sindy meminta timnya untuk mempersiapkan pasien Nyonya Marini untuk melakukan operasi sesar pukul tujuh pagi.


Tangis bayi yang berjenis kelamin laki-laki itu, menggema di kamar operasi tersebut. Dokter Sindy yang berhasil menyelamatkan keduanya mengucapkan syukur yang tiada henti.


Air matanya ikut menetes ketika melihat Nyonya Marini tersenyum padanya.


"Terimakasih dokter, anda sudah menyelamatkan saya dan juga putraku." Ucap Nyonya Marini haru.


"Kita yang sudah menyelamatkan hidupnya atas izin Allah, Nyonya. Jangan bersedih lagi dan rawat buah hatimu tanpa memikirkan rumah tanggamu, kehadiran seorang bayi bisa menyelamatkan pernikahanmu Nyonya Marini." Ujar Sindy.

__ADS_1


Karena keluarga artis yang melahirkan di rumah sakit KAYSAN, lagi-lagi wartawan tetap meminta dokter Sindy menyampaikan keberhasilannya yang telah menyelamatkan Nyonya Marini dan bayinya, yang sebelumnya di tolak oleh rumah sakit yang ada di Jakarta.


Untuk menguatkan hati dokter Sindy dalam melakukan jumpa pers, Farel dengan setia menemani istrinya.


Mereka berdua duduk bersama dengan pasangan yang berbahagia ini dengan bayi dalam gendongannya, melakukan wawancara eksklusif tersebut.


"Dokter Sindy, selamat atas keberhasilan anda menyelamatkan Nyonya Marini dan putranya!" Bagaimana cara anda bisa melakukannya, padahal rumah sakit sudah menyerah untuk melakukan tindakan operasi sesar pada Nyonya Marini.


"Cukup butuh kesabaran, ketelitian, kerja keras dan doa." Ujar Sindy singkat, padat dan jelas.


"Apakah ada yang anda ingin tambahkan dokter Sindy?" Tanya wartawan yang lain.


"Semua bergantung pada pasien yang tidak pantang menyerah pada keadaan, keberaniannya dan keyakinannya yang membuat ia bisa menjalankan operasi sesar hari ini.


Sisanya kami yang menyelesaikannya dan keselamatannya, adalah atas izin Allah. Terimakasih, saya permisi dulu karena masih ada pasien lain yang harus saya tangani." Ucap Sindy lalu memberikan kesempatan pasangan artis ini bersama dengan wartawan.


Farel memeluk pinggang istrinya dan melindungi tubuh itu dari sentuhan tangan wartawan yang ingin menyalami Sindy.


Farel mengangkat satu tangannya, agar para wartawan tidak boleh menyentuh istrinya walaupun itu hanya berjabat tangan.


Itulah cara Farel melindungi ratunya. Baginya Sindy bukan hanya seorang isteri yang perlu ia jaga, namun satu tubuh Sindy seperti ratu yang tidak boleh tersentuh oleh siapapun kecuali dirinya.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


"Selamat Dokter Sindy!" Anda pantas mendapatkan apresiasi dari siapapun yang mengenal anda, karena hal yang sangat rumit, bisa anda buat menjadi mudah dan itu membuatku sangat salut," ujar dokter Kartika usai makan malam di kediaman bosnya ini.


"Itulah mengapa saya meminta untuk melakukan pemeriksaan ulang pada pasien, karena semua hasil diagnosa dokter kadang berbeda dan terdengar mengerikan." Ucap dokter Sindy.


"Bukankah anda dulu magang di rumah sakit tersebut?" Tanya dokter ALea.


"Saya memang magang di rumah sakit itu, tapi hanya berlangsung tiga bulan. Selebihnya saya tidak begitu mengenal banyak dokter disana." Sindy menjawab pertanyaan dokter Lea dengan tenang.


"Mengapa sekarang dokter Alan menjadi kacau dalam menangani pasiennya?" Tanya dokter Riyanti lirih.


"Uhuk..uhuk.." Farel langsung tersedak mendengar nama musuhnya di sebut oleh rekan istrinya.


"Sayang, aku mau lihat Kaysan dulu." Farel pamit pada Sindy dan rekan kerja istrinya.


Sindy hanya mengangguk dan kembali melanjutkan obrolannya dengan teman-temannya.


Farel sangat marah, ketika mendengar nama dokter Alan yang menyebabkan sakitnya Nyonya Marini. Farel juga tidak mengerti mengapa istrinya merahasiakan rumah sakit awal, yang menangani pasien Nyonya Marini.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Sindy masuk ke kamarnya dan mendapati suaminya sedang berbaring dengan satu lengannya menutup matanya.


"Sayang... Apakah kamu sudah tidur?" Sindy mengecup bibir suaminya.


"Apakah teman-temanmu sudah pulang?" Tanya Farel dengan suara datar.


"Maaf sayang, jika aku kelamaan menemani mereka ngobrol." Sindy merasa tidak enak saat suaminya tidak menyukai kedekatannya dengan para rekan dokternya.


"Sindy!"


"Iya sayang!"


"Mengapa kamu merahasiakan kasus Nyonya Marini yang ternyata mantan pasien dokter Alan?" Farel meraih lengan istrinya dengan sangat kasar.


"Aku tidak merahasiakannya, hanya saja belum sempat membicarakan hal ini kepadamu karena aku sedang fokus dengan beberapa pasien yang harus aku tangani hari ini." Ujar Sindy berusaha menghempas tangan Farel dari lengannya.


"Setidaknya kamu bisa menceritakan kepada wartawan, jika rumah sakit bajingan itu yang telah membuat kesalahan sehingga menyebabkan Nyonya Marini menjadi seperti itu." Ujar Farel dengan intonasi suaranya cukup keras di kuping Sindy.


"Pelankan suaramu Farel, nanti Kaysan bisa terbangun!" Ucap Sindy.


"Jawab pertanyaanku! "Mengapa kamu membiarkan bajingan itu lepas tangan dengan tanggung jawabnya, yang telah melakukan kesalahan dengan diagnosanya kepada pasien Nyonya Marini.


"Apakah dengan mengumbar aib bajingan itu, semuanya akan berakhir?" Sindy masuk ke ruang walk in closet namun tangannya di tarik lagi oleh Farel.


"Aku belum selesai bicara dan aku tidak suka kamu meninggalkan aku saat aku sedang bicara hal yang penting denganmu." Ucap Farel kesal.


"Aku tidak ingin membahasnya bahkan tidak ingin menyebutkan namanya didalam rumahku." Ujar Sindy sengit.


"Jika kamu tidak menyukainya, mengapa kamu mau menerima bekas pasiennya?" Tatap mataku Sindy!" Farel merapatkan tubuh istrinya dalam rangkulannya.


"Aku hanya sedang menyelamatkan nyawa nyonya Marini dan bayi dalam kandungannya tanpa harus menelusuri dari mana ia memeriksakan dirinya sebelum datang ke rumah sakit kita." Ujar Sindy yang berusaha bebas dari cengkraman suaminya.


"Tapi, aku tidak ingin, aku menjadi orang yang terakhir mengetahui permasalahan dokter sialan itu yang telah menghancurkan hidupmu." Farel makin berteriak keras kepada Sindy.


"Sekarang kamu mau aku harus bagaimana?" Menolak setiap pasien yang berasal dari rumah sakitnya untuk tidak melakukan persalinan dirumah sakit kita?" Tanya Sindy yang sudah tidak mampu lagi mengatasi kecemburuan Farel kepadanya.


"Ahkk!!"


Farel benar-benar terbakar api cemburu. Hatinya begitu sakit ketika mengenang lagi Sindy yang malang, yang telah menabrak mobilnya hingga membuat spion itu patah.


Bukan mobilnya yang membuat Farel marah saat ini. Tapi kemalangan Sindy yang diaborsi secara paksa oleh dokter Alan.

__ADS_1


Di tambah lagi, dokter Alan hampir memperkosa istrinya, saat dia sudah menemukan tempat persembunyian Sindy kala itu.


"Bagaimana kalau hari itu aku tidak datang tepat waktu, untuk membebaskanmu dari bajingan itu, bagaimana nasibmu Sindy?" Rasanya saat ini aku ingin menggantung lehernya dituang listrik." Seru Farel yang masih merasa gusar.


__ADS_2