
Mendengar perkataan suster yang menyatakan putrinya tidak bisa bertahan lagi, membuat nyonya Alya makin syok.
Ia pun langsung menghubungi anak menantunya Sindy agar bisa datang ke Sidney Australia. Tidak tanggung-tanggung, wanita berusia enam puluhan ini melakukan panggilan video call.
Farel yang masih berada di mansion bersama istrinya terperanjat menatap benda pipih yang sudah ada gambar ibunya yang sedang bersusah hati.
Farel yang belum mengerti dengan kejadian sebenarnya, langsung gemetar dengan perasaan bahwa ia sudah kehilangan adik kandungnya yang bungsu.
"Bunda!"
Ucap Farel dengan suara tercekat.
"Farel, mana istrimu nak?"
Sindy bergegas bangkit dengan posisi duduk lebih rapat ke tubuh suaminya ketika mendengar namanya disebut oleh mertuanya.
"Iya bunda!" Aku di sini.
"Sindy, bunda mohon maaf telah menyakitimu selama ini sayang. Saat ini bunda sangat membutuhkanmu sebagai seorang ibu yang tidak ingin kehilangan putrinya.
Bunda mohon tolonglah putriku yang saat ini sedang kritis.
"Bunda, Sindy tidak bisa terbang ke Sidney dalam keadaan hamil besar."
Farel sedikit menolak permohonan ibunya yang terlalu memaksakan kehendaknya pada istrinya yang saat ini sedang hamil tua.
"Baik bunda Sindy dan Farel akan ke Sidney sekarang."
Ujar Sindy menyenangkan hati ibu mertuanya.
"Terimakasih sayang atas pengorbananmu."
Ucap Nyonya Alya seraya memegang dadanya yang hampir mati rasa karena harus merendahkan dirinya didepan menantunya yang tak pernah dianggap oleh dirinya.
"Kamu apa-apaan sayang. Kondisimu juga sedang hamil besar, mengapa kamu sangat keras kepala?"
Farel masih melarang istrinya berangkat ke Sidney.
"Kapan lagi aku bisa meraih ridho ibumu kalau bukan ini saatnya?"
Sindy berkilah untuk tetap berangkat ke Sidney.
__ADS_1
"Aku tahu, kamu ingin mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan cinta bunda. Tapi keadaanmu yang sangat riskan saat ini Sindy."
"Aku seorang dokter spesialis anak, aku lebih paham dengan tubuhku saat ini melebihi dirimu yang terlalu berlebihan memperlakukan aku seperti aku ini sedang sakit keras.
Pikirkanlah ibumu yang saat ini lebih membutuhkan aku untuk adikmu tercinta, jika sesuatu terjadi padanya, aku tidak akan bisa memaafkan diriku."
Sindy membawa baju seadanya dengan milik suaminya.
"Baik, kalau begitu kita berangkat semua ke Australia. Aku tidak ingin meninggalkan anak-anak."
Farel akhirnya mengalah dengan keinginan istrinya yang tidak mau mendengarkan nasehatnya.
"Jika terjadi sesuatu pada dirimu dan bayi kita, aku yang tidak akan memaafkanmu."
Ujar Farel lalu menggendong baby Afta.
"Mama, kita mau ke mana?"
Tanya Kaysan saat orangtuanya sudah siap berangkat ke bandara.
"Kita mau ke Sidney Australia sayang."
"Wah, apakah kita akan melihat kanguru?" Binatang berkantung itu. Ok let's go mama, papa. Kaysan akan senang bisa melihat binatang kanguru dari dekat."
Imbuh Kaysan kegirangan seraya mengangkat kedua tangannya. Afta yang tidak mengerti mengikuti gaya kakaknya yang sedang bahagia saat ini.
Farel dan Sindy cekikikan melihat kedua anak mereka saling berceloteh tentang liburan dadakan mereka yang tidak akan mungkin terwujud karena Sindy harus menolong adik iparnya.
Beruntunglah dokter Sindy memiliki kartu ijin untuk mendapat panggilan darurat jika ada rumah sakit yang membutuhkan dirinya untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil dengan kasus tertentu yang tidak bisa ditangani oleh dokter di rumah sakit tersebut dan itu berlaku untuk seluruh negara.
🌷🌷🌷🌷🌷
Setibanya di rumah sakit yang terkenal di Sidney Australia, Sindy langsung memakai atributnya sebagai dokter. Tapi sebelum ia menemui direktur rumah sakit tersebut untuk melakukan prosedur ijin operasional di rumah sakit tersebut, Sindy menemui kedua mertuanya terlebih dahulu bersama farel dan kedua anaknya.
Nyonya Alya langsung berlari memeluk Sindy yang berusaha datang ke Sidney demi dirinya.
"Alhamdulillah, terimakasih sayang. Akhirnya kamu datang juga."
Nyonya Alya yang tidak lagi memperlihatkan taringnya pada menantunya itu.
"Mohon doanya bunda, agar Sindy bisa menyelamatkan nyawa adik ipar dan bayinya."
__ADS_1
Sindy mencium tangan ibu dan ayah mertuanya itu dengan takzim. Sementara adik iparnya Reni sangat senang bisa bertemu dengan kakak iparnya ini yang namanya sangat fenomenal sampai saat ini karena nama Sindy sudah mendunia.
"Kakak ipar!"
Reni melakukan cipika cipiki dengan kakak iparnya ini.
Setelah berbasa-basi dengan keluarga suaminya, dokter Sindy kembali menjadi dokter spesialis kandungan yang profesional. Reza yang mereka suami dari Resty mengagumi sosok kakak iparnya ini.
"Abang Farel, kamu beruntung memilikinya karena tidak semua laki-laki seberuntung Abang. Mendapatkan kakak ipar seorang mantan model terkenal dan berkecimpung di dunia kesehatan dan tidak tanggung-tanggung, dokter spesialis kandungan yang sudah mendunia namanya kini.
Aku heran dengan sikap bunda yang menolak menerima wanita sempurna itu."
Reza memuji istri Abang iparnya ini yang langsung di dengar oleh Farel. Ayah dua anak ini merasa sangat senang mendapatkan pujian dari adik iparnya ini, walaupun saat ini dirinya sedang menghadapi masalah istrinya yang masih kritis di ruang ICU.
"Terimakasih Reza, semoga kakak ipar mu bisa menyelamatkan Resty dan keponakanku. Calon baby aku juga laki-laki, semoga kelak mereka bersahabat."
Farel menguatkan hati adik iparnya ini agar tidak terlalu tegang menghadapi ujian dari Allah untuk mereka.
"Dokter Sindy, apa kabar!"
Sapa dokter Edward ketika melihat dokter yang sempat viral beberapa tahun yang lalu.
Sindy menyalami tim dokter yang menangani kasus penyakit yang diderita adik iparnya itu.
"Sangat baik!" Seperti yang kalian lihat."
Sindy cepat meleburkan dirinya setiap kali berkunjung di tempat yang baru ia datangi.
"Ternyata kamu adalah kakak iparnya pasien kami Resty. Saya baru tahu ketika suami pasien menceritakan tentang anda dan saya berpikir apa salahnya bekerjasama dengan anda sebagai dokter spesialis kandungan yang sudah memiliki jam terbang yang cukup tinggi dalam menangani pasien yang memiliki kasus penyakit yang sangat kronis dan salah satunya adik ipar anda, nyonya Resty."
Tim dokter Edward menyambut baik kedatangan dokter Sindy yang ingin membantu mereka.
Tanpa banyak basa-basi karena waktu untuk Resty sangat terbatas untuk mampu bertahan dalam kondisinya saat ini, dokter Sindy menggelar meeting mendadak guna membahas apa saja yang harus mereka lakukan untuk menyelamatkan jiwanya Resty.
Setelah mendengarkan penjelasan dokter Edward dengan memperlihatkan hasil CT scan milik istrinya Reza itu, dokter Sindy menyarankan untuk segera melakukan operasi sesar pada Resty saat itu juga karena kehidupan Resty hanya mampu bertahan sekitar 30%.
"Tidak perlu ada yang ditunda lagi dokter Edward karena kita harus segera menyelamatkan adik iparku. Biarkan saja bagaimana hasil akhirnya, lebih kita mencobanya dari pada terus berpikir jalan yang terbaik untuk kita menindak lanjuti keadaannya yang makin hari makin drop.
"Siap!"
Para tim dokter antusias menyambut saran Sindy setelah diarahkan langsung oleh Sindy dalam penanganannya yang lebih simpel namun penuh dramatis itu.
__ADS_1