
Seiring berjalannya waktu, tidak terasa Sindy sudah melahirkan bayinya yang berjenis kelamin laki-laki. Kebahagiaannya kali ini tidak hanya dirasakan oleh mereka berdua, tapi kehadiran keluarga besar suaminya di mansion miliknya menyambut kedatangan putra ke tiga Farel Alfarizi.
"Nggak terasa cucu kita makin banyak ya ayah." Ujar Nyonya Alya sambil menggendong cucunya yang ke sembilan itu.
Wajah cucunya yang lebih mirip dengan kakeknya Tuan Rassya membuat nyonya Alya makin sayang dengan cucunya yang baru hadir ke dunia ini.
"Bunda, kali ini Sindy ingin bunda yang memberikan nama untuk putra bungsunya kami."
Sindy menatap wajah nyonya Alya yang merasa sangat terharu karena mendapatkan kesempatan memberikan nama untuk cucunya dari putranya Farel.
"Benarkah, bunda boleh memberikan nama untuk cucu tampan bunda yang ini?"
Tuan Rasya juga ikut berpartisipasi dalam menyumbang nama untuk cucunya.
Farel meraih tangan istrinya lalu membawanya ke kamar.
"Apa yang kamu katakan kepada bunda?" Siapa bilang itu putra bungsu kita?" Aku masih ingin memiliki satu putri lagi agar bidadari kecilku itu memiliki teman bermainnya. Apa lagi seorang cewek pasti senang bergosip kalau lagi ngumpul bareng."
Farel protes dengan pernyataan istrinya.
"Kamu ini apa-apaan sih sayang, aku baru habis melahirkan malah minta hamil lagi, kamu kira hamil itu gampang?"
Sindy menekuk wajahnya karena kesal dengan Farel yang selalu mengharapkan ia hamil kembali. Padahal Farrel sangat tahu jarak kehamilan dengan putri keduanya hanya satu tahun.
"Yah, nggak harus sekarang sayang bisa nanti-nanti. Lagian aku ingin di hari tua kita nanti, ada yang menemani kita sehingga kita tidak merasakan kesepian."
Farel memberikan pengertian kepada istrinya yang sudah keburu ngambek.
Sindy tersenyum menanggapi perkataan suaminya yang cukup masuk akal bahwa dia tidak begitu egois untuk hamil lagi dalam waktu dekat. Masalahnya di kehamilan ketiganya banyak masalah yang dihadapi oleh Sindy yang saat itu harus kehilangan Farel dan juga tudingan yang dilancarkan oleh dokter Alan untuk menjebak dirinya hingga berada di sel tahanan hingga tiga bulan lamanya.
Tiga bulan bukan waktu yang sedikit karena sehari di sel tahanan itu seakan menyiksa dirinya bertahun tahun.
Farel memeluk badan Sindy yang makin bengkak sana sini pasca melahirkan. Walaupun begitu Farel sedikitpun tidak mempersalahkan penampilan istrinya saat ini karena Sindy terlihat lucu kalau lagi gendut.
Selang seminggu kemudian, Farel mengadakan acara aqiqah untuk putra bungsunya. Banyak sekali kolega bisnis Farel yang hadir saat itu. Ada juga relasi perusahaan yang dimilikinya di luar negeri turut hadir meramaikan suasana kebahagiaan dengan khas agama yang kental dengan budaya Arab.
Tibanya makan siang prasmanan yang menyediakan nasi kebuli atau makanan nuansa Turki yang lebih diutamakan sebagai menu Aqiqah hari itu yang lebih dominan dengan masakan daging kambing. Dari gulai, sate, kambing panggang dan masih banyak jenis masakan lain yang diolah langsung oleh chef ternama tanah air.
__ADS_1
Hal yang tidak terduga terjadi siang itu dimana para dokter spesialis rumah sakit KAYSAN diundang untuk membantu Sindy dalam melayani tamu-tamunya.
"UPS!" Maaf Tuan, saya telah mengotori baju anda, biar nanti saya yang bersihkan." Ucap dokter Kartika gugup karena menumpahkan sedikit bumbu kare ke baju Koko putih milik sepupu Farel yang Farhan.
"Tidak apa Nona....!" Boleh kita kenalan nona...?"
Farhan bukannya marah tapi ia lebih terpesona dengan kecantikan gadis yang dihadapannya ini yang saat ini memakai baju putih dengan kerudung pink yang hanya menutupi sebagian rambutnya.
"Nama saya Kartika." Ujar Kartika malu-malu.
"Apakah profesimu seorang dokter?"
Tebak Farhan karena ia tahu para pelayan tamu dadakan itu adalah karyawan dari istri sepupunya.
"Iya Tuan...?"
Gantian Kartika yang ingin mengetahui nama pria tampan yang ada dihadapannya.
"Farhan, aku sepupunya Farel, tapi aku tidak tinggal di sini. Aku menetap di kampung halamanku Istambul Turki."
Farhan menjelaskan keberadaannya pada dokter Kartika, padahal Kartika sama sekali tidak bertanya.
"Ehm..ehm!"
Ada yang kesem-sem nih."
Farel pura-pura batuk menggoda adik sepupunya ketika Farhan tak melepaskan tatapannya pada dokter Kartika.
"Emang hanya kamu yang bisa memiliki istri seorang dokter." Seloroh Farhan menimpali godaan sepupunya Farel.
Dokter Kartika meremas baju gamisnya dengan wajah bersemu merah ketika ia menjadi target utama wanita yang saat ini menjadi bagian impian Tuan Farhan.
"Nona Kartika tolong antarkan sepupuku ke ruang ganti. Di sana banyak baju baru yang sesuai dengan ukuran pemilik tubuh."
Farel sengaja memberikan kesempatan untuk keduanya saling berkenalan satu sama lain.
"Mari ikuti saya Tuan Farhan."
__ADS_1
Dokter Kartika menyamakan langkah Farhan menuju ruang ganti yang ada di lantai bawah khusus untuk para tamu.
Farel memang sengaja menyediakan ruang khusus seperti satu konter baju dalam berbagai model dan ukuran dan juga sesuai jender masing-masing.
"Silahkan Tuan!"
Kartika hendak meninggalkan Farhan di kamar ganti tersebut, namun lengannya dicekal oleh tangan Farhan.
"Anda yang telah membuat noda baju Koko milik
"Anda yang telah membuat noda baju Koko milik saya, jadi anda juga yang harus memilih baju yang sesuai dengan selera saya."
Dokter Kartika sebenarnya enggan berada di ruang ganti itu bersama dengan Farhan, namun lelaki itu ngotot agar Kartika yang memilih baju untuknya.
"Aduh, ada-ada saja nih cowok, apa maksudnya dia meminta aku memiliki baju untuknya."
Kartika berdiri di depan baju Koko yang banyak sekali model dan coraknya yang sangat bagus.
Kartika mengambil salah satu baju Koko dengan warna yang sama yang dipakai oleh Farhan. Ia juga bingung harus memilih baju Koko yang mana yang cocok untuk pria tampan ini.
"Sepertinya dia ingin yang putih deh, kelihatannya orangnya sangat simpel jadi pakaiannya juga pasti ingin warna yang natural." Gumam dokter Kartika dalam diamnya.
"Apakah anda mau yang ini Tuan?"
Dokter Kartika segera menyerahkan baju pilihannya pada Farhan yang dari tadi memperhatikan cara dokter Kartika memilih baju yang sesuai dengan style-nya.
Farhan tersenyum seraya memegang tangan dingin milik dokter Kartika.
"Ternyata kamu pantas juga menjadi seorang istri karena tahu selera calon suami."
Farhan makin menggoda dokter Kartika. Wajah dokter Kartika sudah mirip dengan kepiting rebus ketika godaan kecil yang dilontarkan oleh Farhan sangat membuat dirinya berbunga-bunga saat ini.
"Anda pintar sekali gombal Tuan, sampai saya tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang bohong."
Sindir dokter Kartika pada sepupu Farel ini.
"Saat ini aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama dan itu adalah kamu Kartika. Dari tadi aku sudah memperhatikan dirimu dan aku sengaja membuatmu menabrak tubuhku agar aku punya alasan berkenalan denganmu."
__ADS_1
Farhan berusaha bersikap jujur pada dokter Kartika.