Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
57. PART 57


__ADS_3

Dokter Amanda menyeka air matanya yang sempat menetes dipipi mulusnya. Gadis itu tidak bisa menahan kesedihannya menyaksikan lelaki pujaannya kini harus bersanding dengan sahabatnya sendiri.


"Dokter Amanda!" ketahuilah, dunia belum kiamat untuk mendapatkan satu lelaki yang belum tentu pernah mencintaimu. Mengharapkan seseorang dengan mencintainya dalam diam itu sangat menyakitkan.


Lepaskan apa yang pernah kamu impikan dan membuat mimpi baru untuk menemukan kembali pangeran impianmu."


Dokter Sindy mencoba menguatkan perasaan sahabatnya yang saat ini masih syok dengan pertunangan dadakan dari dua orang yang sangat ia cintai sekaligus sangat menyayangkan keduanya harus terikat satu sama lain yang belum tentu dokter Alea mencintai Rendy.


Farel yang ingin cepat pulang, mencari istrinya yang tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


Ketika ia melangkah mendekati balkon ternyata dua sahabat ini saling berpelukan.


"Ada apa dengan keduanya, hingga berpelukan begitu?" Apakah ada kesedihan lain yang dirasakan oleh mereka yang tidak aku ketahui?"


Gumam Farel yang melihat istrinya ikut meneteskan air matanya.


"Sayang!"


Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata kamu di sini. Sudah selesai ngobrolnya?" Apakah kita bisa pulang sekarang?"


Farel menghentikan obrolan kedua sahabat itu yang masih larut dalam kesedihan mereka.


Sindy dan Amanda menguraikan pelukan mereka lalu bersikap seolah tak terjadi apa-apa pada mereka.


"Iya sayang, tunggu sebentar!"


Sindy pamit pulang duluan pada sahabatnya dokter Amanda lalu menghampiri suaminya.


"Sayang, mengapa nggak sabaran banget sih? nggak enak tahu sama dokter Amanda." Ujar Sindy ketika mereka sudah berada di mobil.


"Aku sudah bilang, lagi kita mau berangkat ke apartemen dokter Alea, aku tidak bisa menunggu lama untuk bisa bersama denganmu sayang, karena hari ini aku tidak bisa fokus pada acara tadi dengan melihat wajah cantikmu dengan kehamilanmu yang makin se*si itu." Ujar Farel nakal pada istrinya.


Sindy merotasi mata malas karena suaminya yang sudah tidak sabar ingin bercinta dengannya.


Alih-alih mau langsung pulang ke Bogor, Farel malah menuju ke apartemennya yang ada di Jakarta yang tidak jauh dari apartemen milik asistennya Rendy.

__ADS_1


Asisten mewah yang pernah menjadi tempat tinggalnya Farel saat dirinya masih bujang itu, tetap terawat dan masih sangat bersih karena dua hari sekali pelayannya Farel selalu datang untuk membersihkan kamar apartemennya itu.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Setelah berkumur Farel mengangkat tubuh istrinya masuk ke dalam bathtub, kemudian keduanya kembali mandi bersama. Sentuhan kecil disepanjang mandi malam bersama yang sangat menyenangkan, mereka anggap sebagai pemanasan seru dan menggairahkan.


Sesekali Sindy mendesis manja lalu disisi yang lain Farel lah yang mengerang, semua itu dilakukan dalam senyum hangat hingga mampu menghangatkan rasa dingin akibat air yang merendam tubuh keduanya di dalam bathtub.


"Sebaiknya kita akhiri saja pemanasan ini sayang karena aku sangat menginginkanmu malam ini, kau selalu menyuguhkan makan malam spesial dengan tubuh se*simu walaupun saat ini kamu sedang hamil," ucap Farel dengan suara berat menahan keinginannya untuk cepat menjamah tubuh istrinya.


Farel mulai sulit mengendalikan dirinya. Sindy tersenyum suka, lalu mengangguk dengan wajah memelas dengan tatapan menggoda.


"Rasanya aku ingin menggigit setiap inci tubuhmu sayang."


"Farel!"


Gumam Sindy dengan suara lenguhan nikmat yang sudah tidak mampu menahan gairahnya.


Setelah selesai keduanya saling membantu mengeringkan tubuh, kemudian Farel kembali mengangkat tubuh istrinya menuju tempat tidur untuk memulai permainan panas nan menggoda. Setibanya di atas kasur yang berukuran king size itu, Farel langsung menarik tangan kanan istrinya, lalu mendekatkan wajah istrinya.


Farel mulai melancarkan ciuman panas itu kembali, Farel menyerang bagian tubuh istrinya yang sangat ia sukai bermain di atas dada istrinya dengan dua gundukan kembar yang menyembul menggoda dirinya untuk memainkan dua buah benda kenyal itu.


"Sayang buka dulu pintunya," pinta Sindy yang merasa terganggu suara bel tersebut.


"Biarkan saja, sampai orang itu bosan menganggu kita." Tukas Farel cuek.


"Tapi sudah nggak asyik permainan kita, sayang" Rengek Sindy.


Bel itu kembali terdengar kali ini Sindy meminta suaminya untuk membuka pintu kamarnya, Farel dengan kesal menghampiri pintu itu, tapi Sindy berteriak,


"Sayang, tubuhmu!"


"Ya ampun kenapa sampai lupa, sial sudah malam begini masih ada orang menganggu acara percintaan ku," ucap Farel panik kemudian mengambil baju bathtub lalu mengenakannya sambil melangkah untuk membuka pintu kamar apartemennya.


Ketika pintu dibuka ternyata yang datang adalah pelayannya.

__ADS_1


"Permisi Tuan Farel, maaf saya ingin mengambil dompet saya tadi ketinggalan di dapur." Ujar pelayan Alfian.


"Cepat ambil barang mu lalu cepat pulang!"


Farel sangat gusar dengan kedatangan pelayannya yang tidak tahu waktu.


"Baik Tuan Farrel, permisi!"


Pelayan itu berjalan tergopoh-gopoh sambil mencari benda miliknya yang ditinggalkannya di dapur.


Setelah kepergian pelayannya Farrel menemui lagi istrinya, namun sayang, miliknya malah sudah tidur dan tak bereaksi lagi.


"Sial!"


Sindy yang sudah tidak tahan karena hasratnya yang saat ini sedang memuncak malah kecewa melihat milik suaminya sudah tidak bisa diajak kompromi.


Namun Farel tidak ingin melihat istrinya kecewa, mereka mulai mengawali dengan suatu pemanasan awal hingga hasratnya kembali memuncak.


Birahi keduanya nampak terbakar kembali, saling memberikan kehangatan dan menyongsong tubuh mereka dengan menyatukan kedua milik mereka. Mengikuti irama permainan dengan saling memacu tubuh mereka.


Lenguhan dan erangan erotis sebagai penyeimbang memberi semangat mereka untuk melakukannya lebih.


Farel seakan tidak pernah bosan menggempur pertahanan milik istrinya hingga keduanya sama-sama mencapai puncak kenikmatan dan sama-sama melenguh panjang lalu Farrel menjatuhkan tubuhnya ke samping setelah menyiramkan benihnya untuk menguatkan kehidupan bayinya di dalam rahim istrinya.


Peluh yang mengalir ditubuh keduanya dibiarkan terbenam kembali ke dalam pori-pori mereka hingga keduanya merasakan kedinginan lalu menarik selimut dan menutupi tubuh mereka.


Farel mengecup bibir istrinya dan juga perut Sindy yang makin membesar.


Keduanya sudah mengusai nafas mereka yang sempat terengah-engah setelah mencapai finis kenikmatan duniawi namun berpahala itu.


Keduanya tidur saling berhadapan dengan menatap wajah mereka satu sama lain. Saling mengelus pipi dan tersenyum penuh arti.


"Sayang?" Mengapa sampai saat ini kamu tidak bosan padaku, padahal sebelumnya kamu getol mencari wanita manapun untuk melayanimu?"


Sindy mencoba mengusik masalalu suaminya. Farel menarik nafas panjang lalu menjawab pertanyaan istrinya.

__ADS_1


"Suatu yang didapatkan dengan cara yang haram tidak akan menemukan kepuasan batin pada pasangan yang haram baginya.


Makanya ketika menikahimu aku merasakan sangat jauh berbeda melakukan dengan pasangan halal daripada dengan wanita yang setiap saat datang menghangatkan ranjang ku dengan hanya memberiku kebahagiaan semu sebelum aku menikah." Ucap Farel.


__ADS_2