Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
35. PART 35


__ADS_3

Di belahan bumi Jerman, di mana kota ini sedang sunyi senyap karena para penghuninya sudah terlelap dalam mimpi indah mereka, walaupun sebagian dari mereka ada yang masih beraktivitas di tempat-tempat hiburan malam untuk mencari kesenangan sesaat.


Malam itu, di apartemen mewah milik Farel. Sosok tampan suami dari Sindy ini sedang membuka video kiriman dari istrinya.


Farel terperanjat dari duduknya, menatap wajah cantik dengan tubuh polos melakukan gerakan-gerakan erotis yang mengugah gairah birahinya.


Bagaimana tidak, Sindy memperlihatkan semua tempat-tempat sensitifnya secara menantang yang di awali dengan memakai lengerie se*si dan membukanya secara perlahan dengan liukan tubuh yang sangat menggairahkan.


Farel meremas selimutnya dengan kuat karena tidak bisa mengusai gejolak libidonya yang sudah mencapai ubun-ubunnya.


"Sindy, mengapa kamu begitu kejam sayang? menyiksaku di sini dengan video ini. Aku bukannya terhibur tapi hampir mati dibuat olehmu. Aku tahu kamu tidak ingin aku meninggalkanmu lebih lama di sana, tapi aku harus kerja sayang, aku mohon pengertianmu Sindy." Gumamnya dengan tidak tertahankan.


Farel bukannya tidur, ia malah menelepon lagi ibu dari anak-anaknya ini.


"Kalau seperti ini, aku tidak bisa tidur." Ucap Farel kesal.


Sindy yang baru mau mandi di kejutkan dengan deringan telepon dari suaminya. Ia meraih ponsel itu dengan tubuh yang hanya terbalut handuk.


"Hallo sayang!" Sapa Sindy yang sudah tahu apa yang akan suaminya katakan padanya.


"Kamu harus bertanggung jawab untuk video kirimanmu itu, sayang. Karena saat ini aku sangat pusing dan hampir gila karena tidak ada partner ranjangku." Ucap Farel kesal.


"Apa yang harus aku lakukan sayang?" Tanya Sindy dengan nafas yang sudah memburu karena mendengar suara berat suaminya yang sedang menginginkannya.


"Lakukan sesuatu agar aku bisa terbebas dari belenggu birahiku." Pinta Farel dengan penuh pengharapan.


"Baiklah, kalau begitu kita video call." Ucap Sindy lalu beralih dengan panggilan secara visual itu.


Farel makin meriang melihat Sindy sudah berada di dalam bathtub dengan tubuh polosnya. Farel mulai dengan aksinya dengan bersolo ria melihat tubuh istrinya yang menggodanya.


Keduanya sama-sama bicara hal-hal yang terdengar vu*gar yang mampu membangkitkan hasrat mereka untuk cepat melakukan pelepasan. Farel merasa lega karena ia sudah menuntaskan hasratnya setelah mencapai kenikmatan semu itu tanpa lawannya.


Sindy tersenyum puas karena sudah berhasil mengerjai suaminya.


"Cepatlah pulang sayang, atau aku akan terus menghukummu!" Ancam Sindy.


"Kamu memang istriku yang sangat nakal karena terlalu berani menggodaku. Kita lihat saja nanti, hukuman apa yang akan kamu terima!" Farel balik mengancam istrinya.


"Siapa takut!" Sindy menarik sudut bibirnya dengan menantang balik suaminya.


"Ok, kita lihat saja nanti!" Bye baby. Thank you, i love you so much my wife." Farel mengakhiri pembicaraannya dengan istrinya lalu kembali ke tempat tidur.

__ADS_1


Sindy meneruskan mandinya karena ia sudah terlambat mau mengantarkan Kaysan ke sekolahnya terlebih dahulu sebelum ke rumah sakit.


Kaysan dan Afta sudah rapi. Sindy mengajak kedua anaknya untuk sarapan terlebih dahulu. Kaysan sudah belajar makan sendiri dan tidak pernah disuap lagi. Sementara Sindy harus menyuapkan sereal untuk baby Afta yang baru belajar makan selain mendapatkan ASI darinya.


"Kaysan cepat sayang, kamu sudah terlambat." Ucap Sindy sambil merapikan bayinya.


"Ade Afta ikut juga mama, antar Kaysan ke sekolah?" Tanya Kaysan yang melihat mamanya memasang seat belt pada tubuh bayinya di seat car untuk baby.


"Iya sayang, adikmu butuh hiburan karena dia juga bosan ada di kamar terus." Ucap Sindy lalu mengendarai mobilnya.


Sindy tidak mau melibatkan pelayannya untuk urusan kedua anaknya kecuali dia bekerja. Lain halnya kalau dia sudah berada di rumah, keduanya menjadi tanggung jawabnya walaupun memiliki banyak pelayan.


Ia ingin anak-anaknya tumbuh dengan baik dibawah perawatan dan pengawasannya karena itu adalah bagian dari kasih sayangnya yang ia curahkan sepenuhnya untuk buah hatinya.


Tiba di sekolah, dua guru taman kanak-kanak itu menyambut Kaysan yang sangat semangat pagi itu. Sindy menggendong baby Afta mengantar putra sulungnya sampai ke dalam gerbang.


Seperti biasa kedatangan Sindy seperti selebriti Hollywood yang sudah siap di bidik oleh berbagai kamera amatir yang ada di sekolah Kaysan.


Sebenarnya ibu-ibu muda itu ingin sekali foto dengan mantan model itu, namun mereka tahu diri, jika dokter Sindy sangat sibuk setiap harinya. Jadi mereka segan untuk meminta foto bareng.


Sindy mengecup pipi putra sulungnya lalu kembali ke mobilnya menuju rumah sakit bersama baby Afta.


Di rumah sakit, pelayannya sudah menunggu baby Afta untuk dibawa pulang, jika Sindy mulai berkutat dengan para pasiennya.


"Hati-hati ya bibi, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku karena ponselku selalu aku bawa," ucap Sindy lalu melepaskan buah hatinya pulang kembali ke mansionnya.


Sindy menemui beberapa dokter dan meminta mereka meeting mendadak hari ini karena ada yang ingin ia bahas.


Dokter Kartika menyampaikan ke group WhatsApp untuk mengumpulkan teman-temannya yang tidak sedang bertugas menangani pasien.


Dalam setengah jam, semua bawahnya sudah berada di ruang meeting. Mereka sudah bersiap mendengarkan bos mereka ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka.


"Assalamualaikum, selamat pagi semuanya teman-temanku sekalian!" Sapa Sindy ramah.


"Pagi dokter Sindy!" Ucap mereka serentak.


"Mohon maaf, saya melakukan meeting mendadak pagi ini karena saya ingin pamit kepada kalian untuk ijin cuti selama seminggu." Ucap Sindy.


"Apakah ada masalah atau undangan dari luar negeri dokter?" Tanya dokter Lea.


"Tidak, ini hanya urusan pribadi. Saya mohon selama saya pergi kalian tetap setia melayani para pasien kita dengan baik. Jangan ada yang tebang pilih. Lakukan dengan baik sesuai dengan arahan saya dan apa yang sudah kalian pelajari dari saya. Untuk tiga hari ini sebelum saya berangkat, saya akan mengawasi kinerja kalian secara langsung agar saya mengetahui progres kalian dalam meningkatkan kualitas kalian sebagai dokter yang profesional. Jika ada yang hebat dalam melaksanakannya seperti yang sudah saya ajarkan, maka akan mendapatkan bonus tiga lipat dari biasanya dan mendapatkan hadiah mobil mewah dari saya sendiri." Ucap dokter Sindy untuk mensupport para tenaga medis yang akan membantunya selama ia tinggalkan cuti ke Jerman.

__ADS_1


Mendengar janji yang di berikan Sindy berupa tiga kali lipat bonus dan mobil mewah, semuanya bertepuk tangan menyambut kabar gembira ini. Sindy hanya tersenyum melihat tingkah para karyawannya.


"Terimakasih dokter Sindy, kami akan melakukan yang terbaik agar tidak mengecewakan anda." Ucap salah satu dari mereka.


"Kalau begitu, meeting ini saya tutup dan kita kembali ke tugas kita masing-masing. Tolong kerja samanya, jangan ada yang saling menonjol diantara kalian. Tetap percaya diri dalam melayani para pasien dengan penuh ketulusan. Lakukan dengan hati karena sentuhan ketulusan lebih menyembuhkan mereka dari pada obat atau pelayanan yang hanya mengandalkan otak dan otot." Ucap dokter Sindy memperingatkan para rekan Dokter.


"Baik, dokter Sindy, kami siap menjalani amanah yang anda berikan." Ucap dokter Kartika mewakili teman-temannya.


Sindy meninggalkan ruang meeting terlebih dulu lalu mengunjungi beberapa pasien yang membutuhkan perhatiannya.


🌷🌷🌷🌷🌷


Tiga hari yang tersisa menjelang pengambilan cutinya, Sindy mengawasi langsung tiga orang dokter spesialis kandungan yang sedang menangani pasien bermasalah dengan kehamilannya.


Ada sekitar tiga orang pasien yang bermasalah dengan kandungannya yang menderita penyakit kronis yang harus mereka tangani. Tiga orang pasien itu sudah sebulan ini di rawat di rumah sakit milik Sindy.


Ketika sudah waktunya, pasien itu melakukan operasi sesar. Sindy memperhatikan tiga orang dokter sedang mengangkat kista yang bermuara pada ovarium ibu hamil itu bersama dengan bayi yang harus mereka keluarkan.


Jika tidak hati-hati, nyawa keduanya akan dipertaruhkan. Nafas Sindy hampir berhenti ketika menyaksikan adegan menegangkan saat dokter Kartika mengangkat bayi itu lalu kista secara bersamaan.


Dan ternyata dokter Kartika berhasil melakukannya. Tim dokter tersenyum dengan lega dan dokter Sindy baru bisa menghembuskan nafasnya dengan lembut.


Ibu si bayi juga bisa selamat dalam operasi sesar itu. Proses selanjutnya dilakukan dengan mudah hingga pasien di pindahkan lagi ke kamar inapnya.


Dokter Sindy memberikan selamat kepada dokter Kartika yang telah berhasil melakukan operasi kepada pasien yang bermasalah itu.


Bukan hanya kista yang diderita oleh pasien itu, melainkan pasien juga mengalami asma. Hal itu yang membuat mereka menjadi tegang.


"Selamat dokter Kartika, saya sangat bangga pada anda karena sudah melakukan hal yang terbaik yang anda bisa lakukan tanpa membuat kesalahan sedikitpun." Ucap Sindy seraya menjabat tangan dokter Kartika.


"Terimakasih dokter Sindy, walaupun ini tantangan terberat dalam karir saya sebagai dokter, namun saya harus melewati tantangan ini dengan bekal ilmu yang anda sudah berikan kepada kami. Walaupun sangat menegangkan namun saya yakin saya bisa," ucap dokter Kartika.


"Kalau begitu, bonus dan mobil mewah anda akan segera saya berikan. Sekarang saya tidak perlu memikirkan pasien di rumah sakit ini, karena anda sudah bisa saya andalkan. Besok saya harus meninggalkan tanah air, menyusul suami saya yang saat ini sedang berada di Jerman karena suatu urusan." Ujar dokter Sindy yang puas dengan hasil kerja dokter Sindy.


"Terimakasih dokter Sindy untuk bonus dan yang lainnya." Imbuh dokter Kartika semangat.


"Kalau begitu saya pamit pulang duluan, karena harus berangkat ke Jerman besok pagi dengan anak-anak."


"Selamat jalan dokter Sindy, semoga selamat sampai tujuan dan selalu sehat." Dokter Kartika memberikan doa terbaiknya untuk bosnya tersebut.


Teman-teman Sindy mengantarkan Sindy sampai ke lobby rumah sakit.

__ADS_1


"Cepat kembali dokter Sindy, kami pasti merindukanmu." Ucap dokter Lea sambil melambaikan tangannya ke dokter Sindy.


__ADS_2