Gairah Cinta Sesaat

Gairah Cinta Sesaat
55. PART 55


__ADS_3

"Apakah aku boleh menikahinya?" Tanya asisten Rendy.


Daaurr..


"Apa? maksudmu, kamu mau menikahi dokter Alea?"


Farel sedikit terkesima mendengar ucapan asistennya ini.


"Sejak melihatnya pertama kali bekerja di rumah sakit KAYSAN, aku sudah naksir dokter cantik itu bos, hanya saja gadis selalu memalingkan wajahnya setiap kali bertemu denganku."


Asisten Rendy mengeluhkan sikap dokter Alea ketika masih bekerja di rumah sakit KAYSAN.


"Tenang saja Rendy, setiap gadis selalu menolak cinta lelaki yang dianggapnya angin lalu, tapi saat mereka dalam kesempitan hati, biasanya orang yang mereka suka abaikan menjadi seorang pahlawan dihadapan mereka. Persiapkan dirimu jika kamu ingin melamarnya hari ini atau besok, ku harap secepatnya sebelum perutnya makin membesar."


Farel bernafas lega. Hal yang paling membebankan separuh pikirannya, kini berangsur membaik karena ketulusan hati asistennya yang mau menikahi bawahan istrinya.


"Kalau begitu aku pulang dulu menemui istriku."


"Baik bos!"


Farel mendatangi Sindy yang saat ini sedang berada di ruang prakteknya. Setiap kali kedatangan Farel ke rumah sakit menjadi buah bibir para karyawan rumah sakit maupun pasien yang sedang mengunjungi rumah sakit tersebut.


"Suster, apakah itu Tuan Farel, suaminya dokter Sindy?" Tanya salah satu pasien yang sedang berada di lobby rumah sakit.


"Benar Nyonya!" Suster Leli mengangguk hormat ketika Tuan Farel melintasi di hadapannya.


Langkah tegap dengan penampilan perlente, layaknya seorang ketua mafia, Farel nampak gagah dengan wajah tampan yang hampir mendekati kata sempurna.


Setibanya di ruang kerja istrinya, Sindy nampak kaget melihat Farel yang sudah duduk di bangku pasien yang biasa menjadi tempat konsultasi mereka dengan dokter Sindy.


"Sayang, tumben ke sini di jam seperti ini."


Sindy melayangkan ciumannya di bibir suaminya.


"Apakah aku tidak boleh menemui ibu hamil ini?"


Farel melingkarkan tangannya ke perut besar Sindy, lalu mengecup perut Sindy berkali-kali.


"Sayang, aku belum melihatnya, tolong USG dia, karena aku ingin melihat tampang putraku."


Farel meminta istrinya untuk melakukan USG sendiri karena ingin mengetahui perkembangan bayi mereka di dalam kandungan Sindy.


Farel menggendong tubuh istrinya lalu membaringkan Sindy di brangkar untuk pasien ibu hamil.

__ADS_1


Sindy mengoleskan jeli ke permukaan perutnya dan mulai meletakkan stik USG tersebut sambil memperlihatkan pada suaminya ke layar monitor tiga dimensi tersebut.


"Subhanallah, putraku tampan sekali sayang."


Farel mengagumi sosok mungil yang sedang memperlihatkan dirinya di dalam alam rahim istrinya.


"Dia mirip denganmu Sindy, karena dua anak kita sudah mirip denganku."


Farel mengecup bibi sensual milik istrinya dan mengulumnya sesaat sampai rasa puasnya yang ia dapatkan dengan senam lidah di rongga mulut istrinya.


setelah puas menikmati bibir kenyal itu, Farel membantu istrinya untuk membersihkan lagi jeli di atas permukaan perut Sindy.


"Sayang, aku menemui saat ini karena ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan kepadamu dan semoga ini menjadi solusi yang terbaik untuk kita."


"Solusi untuk dokter Alea?"


Sindy mencoba menebak arah pembicaraan suaminya.


"Apakah kamu ingin menikahinya?"


Jantung Sindy hampir terlepas jika suaminya benar-benar ingin menikahi dokter Alea.


"Aiss!" Bukan seperti itu sayang, coba dengar dulu sayang!" Ini bukan tentang aku tapi asisten Rendy yang siap menikahi dokter Alea. Rupanya Rendy sudah menaruh hati pada dokter sejak lama, hanya saja dokter Alea yang selalu jual mahal didepannya jika dia datang ke rumah sakit ini."


Farel mengecup lagi bibir istrinya dengan sedikit memberikan gigitan pada bibir kenyal itu.


"Auhhgt!" Sakit tahu."


Sindya memukul bahu suaminya yang sudah membuat bibirnya jadi sakit.


"Makanya, jangan merasa di alam mimpi terus, sekarang sampaikan kabar ini kepada dokter Alea secepatnya! karena malam ini kita akan melamarnya untuk Rendy."


"Alhamdulillah, terimakasih sayang. Aku sangat senang mendengar kabar baik ini, semoga dokter Alea mau menerima Rendy."


Sindy sangat berharap dokter Alea mau membuka hatinya untuk asisten suaminya yang sudah mau berkorban untuk gadis malang itu.


"Sayang, bagaimana kalau dokter Alea menolaknya, aku nggak enak melihat Rendy kecewa dengan pengorbanannya."


Sindy tertunduk sedih. Farel menangkup dagu Sindy dan menatap wajah cantik itu dengan intens.


"Hei, kita sedang menolong gadis itu untuk menyelamatkan nama baiknya. Jika dia tidak memiliki cinta untuk asistenku Rendy, itu urusannya. Setidaknya kita sudah berupaya sebisa mungkin untuk menolong gadis itu. Untuk urusan hatinya bukan masalah kita sayang.


Farel cukup kesal dengan istrinya yang terlalu peduli perasaan orang lain yang terlalu berlebihan saat ini.

__ADS_1


"Pikirkan calon bayi kita dan kedua anak kita yang lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang kita. Bantulah orang lain secukupnya, selebihnya biarkan mereka sendiri yang ikhtiar untuk kelangsungan hidup mereka."


Farel menghibur istrinya untuk tidak terlalu terlibat jauh dalam urusan asmara orang lain.


"Kalau begitu, kita langsung ke apartemennya saja tidak perlu memberi tahukan kabar ini kepadanya."


Sindy masih merasa ragu menyampaikan kepada Alea yang belum tentu menerima Rendy menjadi suaminya dan calon ayah untuk anak yang dikandung Alea saat ini.


"Terserah kepadamu sayang, aku hanya memberikan jalan untuk gadis itu. Kalau begitu aku hubungi Rendy untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk acara lamaran."


Farel meninggalkan istrinya dengan satu kecupan manis.


Sindy menghubungi dokter Kartika dan dokter Amanda untuk membahas lamaran Rendy untuk Alea.


Tidak lama kemudian, keduanya sudah berada di kantin rumah sakit KAYSAN yang masih nampak sepi itu. Mereka memesan makanan cemilan dan minuman soda sebagai teman ngobrol.


"Bagaimana menurut kalian jika asisten suamiku Rendy bersedia menikahi dokter Alea untuk menyematkan reputasinya?"


"Uhuk..uhuk!"


Dokter Amanda tersedak hingga minumannya muncrat ketika mendengar nama pria dambaannya akan menikahi rekan kerjanya sendiri.


"Ehhhmm."


Dokter Kartika segera mengusap punggung dokter Amanda.


"Pelan-pelan minumnya dokter Amanda."


Dokter Sindy memperhatikan ada raut kesedihan di wajah dokter Amanda ketika nama Rendy di sebut dalam perbincangan mereka.


"Kamu tidak apa-apa dokter Amanda?"


Sindy mengernyitkan dahinya menatap wajah cantik dokter Amanda yang sedang menyembunyikan rasa kecewanya dari mereka berdua.


"Apakah doktor Alea mau menerima asisten Rendy menjadi suaminya?"


Dokter Kartika sedikit ragu dengan solusi terbaik yang ditawarkan suaminya Sindy pada sahabatnya itu, karena ia sangat mengenal dokter Alea yang selalu memimpikan calon suami yang sangat kaya seperti Tuan Farel.


"Apa salahnya dicoba, toh suatu saat nanti jika mereka tidak cocok, mereka bisa bercerai." Ucap dokter Sindy.


"Yes, setidak aku masih dapat dudanya." Gumam dokter Amanda.


"Saya mohon kalian berdua nanti membantu Alea untuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan kami melamar dokter Alea." Titah dokter Sindy kepada dua sahabatnya ini.

__ADS_1


__ADS_2